
Setelah 3 hari melakukan penyelidikan akhirnya Aryo berhasil menemukan fakta baru yang memperkuat dugaannya dan keluarganya bahwa Nisa memiliki hubungan dengan Rayyan di belakang Shafa.
"Kamu yakin dengan dugaan mu Yo?" Tanya pak Djatmiko. Sebagai orang tua, dia tentu tidak ingin anaknya menjadi wanita simpanan, apalagi oleh pria beristri.
"Aryo yakin pak. Tadinya Aryo sempat ragu, tapi setelah Aryo cari tahu ternyata suami Shafa sudah menyimpan hati pada Nisa sejak di Kairo. Hamzah dan beberapa mahasiswa yang lain pun mengatakan hal yang sama." Ujar Aryo.
"Lalu bagaimana dengan Shafa? Bukannya dia konglomerat pemilik HS Clinic? Apa mungkin suaminya berani bermain api di belakangnya?" Tanya pak Djatmiko untuk memastikan ucapan Aryo.
"Rayyan juga bukan orang sembarangan pak. Dia seorang doktor yang mengajar di kampus terbaik di kota ini. Dia juga putra tunggal dari Luthfi Ar Rayyan, pemilik yayasan pendidikan ternama itu. Selain itu, dia juga pengusaha. Dia pemilik brand pakaian ZR yang sering ibu beli kalau lebaran." Terang Aryo menjelaskan tentang latar belakang Rayyan.
"Dan bapak perlu tahu, pernikahan Shafa dan Rayyan terjadi karena kesalah pahaman. Alias bukan keinginan keduanya. Meskipun sekarang Shafa sedang hamil besar." Imbuhnya lagi.
"Bagaimana dengan orang yang telah mencelakai Nisa Yo?"
"Dia sudah pergi dari rumah Shafa pak sesaat setelah dia mencelakai Nisa. Berarti kan jelas, bahwa Rayyan ada apa-apanya dengan Nisa. Karena setelah kejadian itu, Nisa di pindahkan di toko utamanya. Nisa juga bekerja di toko itu dengan gaji yang cukup besar pak. Jadi apakah semua itu kebetulan saja? Menurut Aryo itu semua bukan kebetulan tetapi sudah di rencanakan" Ujarnya mantap.
Bukti dan keterangan yang di terima Aryo memang cukup membuktikan bahwa antara Nisa dan Rayyan memiliki hubungan yang tak biasa. Meskipun pada kenyataannya semua itu bukanlah keinginan Rayyan pribadi, melainkan keinginan istrinya yang berniat untuk menolong Nisa.
"Adekmu memang g*blok, padahal bapak sudah ingatkan agar mencari suami orang Indonesia yang mapan. Eh, malah ngengkel menikah dengan orang sana dengan alasan ini dan itu." Ujar pak Djatmiko yang semakin geram dengan anak perempuannya itu.
"Jadi apa yang akan kamu lakukan sekarang Yo?"
"Aryo akan menemui Rayyan pak, Aryo akan mencoba menyelesaikan dengan cara kekeluargaan. Kalau memang tidak berhasil, terpaksa kita tempuh jalur hukum." Ujarnya.
Jam makan siang telah tiba, Rayyan segera menutup laptopnya dan bersiap untuk makan siang di kantin. Ia segera menuju kantin khusus staf dan dosen yang berada di lantai 3 gedung tersebut. Pada saat ia keluar dari ruangannya para mahasiswa segera menghindar sedikit menjauh dari Rayyan sambil berbisik-bisik.
"Kalian kenapa?" Tanyanya heran melihat mahasiswa yang tengah berbincang di sekitar ruangannya menjadi sedikit menghindar.
"A..anu Mr... Itu..tu" Salah seorang mahasiswi memberikan kode dengan jari telunjuknya menunjuk ke arah parkiran dosen yang terletak tepat di bagian depan gedung tersebut.
Rayyan menoleh dan langsung terkejut mendapati istrinya sedang menuntun Zafran menuju ke pintu masuk gedung.
"Subhanalloh, Mommy" Gumamnya namun masih bisa terdengar jelas. Beberapa mahasiswa menahan tawa mengingat kejadian 3 bulan lalu saat Shafa berteriak mengancam Rayyan yang sedang berada di dalam ruangan.
"Ayaaaah" Teriak Zafran sambil berlari begitu melihat ayahnya yang sedang menatap ke arahnya.
"Jangan lari Nak" Rayyan segera menghampiri Zafran dan mengangkat tubuh mungilnya yang nampak begitu keren dalam balutan kaos hitam keluaran dalah satu brand ternama dan celana hitam serta sepatu cats putih.
"Mommy kenapa tidak bilang kalau mau kesini?" Rayyan segera menuntun istrinya masuk kedalam ruangannya. Keharmonisan mereka selalu menjadi perbincangan hangat di kampus itu. Bahkan Tak sedikit yang menganggap mereka adalah family goals banget.
"Kita bosan yah dirumah, jadi aku ajak Zafran jalan jalan kesini. Ini aku juga udah buatin makan siang spesial buat ayah." Shafa mengeluarkan dua buah kotak bekal dari dalam tas kain yang di bawanya.
"Kok dua Mom?" Tanyanya saat mendapati 2 kotak di atas meja.
"Yang satu punya Zafran yah, dia katanya mau makan sama Ayah" Jawab Shafa sambil membuka kotak tersebut.
"Bener abang mau makan sama ayah?" Tanya Rayyan sambil memandang wajah lucu putranya.
"Iya!" Jawabnya mantap sambil mengangguk keras.
"Aku maukan cendili mom." Ujarnya sambil turun dari pangkuan Rayyan.
"Ya udah, ayo kita makan!" Ajak Rayyan yang sudah memegang sendok. Ketiganya menikmati makan siangnya bersama-sama. Zafran beberapa kali menyuapkan nasi ke mulut Mommynya dan mengatakan "Aku mau suap adek" membuat ayah dan Mommynya tersenyum bahagia. Sepertinya Zafran dewasa akan sangat menyanyangi adiknya yang belum di ketahui jenis kelaminnya.
__ADS_1
Setelah selesai makan siang, Shafa dan Zafran memutuskan kembali pulang, karena Mommy akan berkunjung ke rumahnya. Pak Madi pun masih setia berada di parkiran menunggu majikannya.
"Hati- hati sayang" Ujarnya mencium pipi Zafran kemudian kening dan perut Shafa.
"Da ayah, Assalamualaikum"
"Waalaikum salam" Rayyan mengantar mereka sampai masuk kedalam mobil. Tak lupa mengingatkan pak Madi agar berhati hati dalam membawa mobil. Rayyan masih sedikit trauma dengan kejadian tiga bulan lalu, yang ternyata adalah bagian dari scenario Allah dalam mempertemukan dirinya dan Zafran. Saat mobil sport putih tersebut telah meninggalkan area gedung, Rayyan segera menuju mushola untuk melaksanakan sholat Dzuhur.
"Cie... Si Mommy datang. Kali ini nggak marah-marah lagi pak?" Goda pak Benny.
"Ha.ha.ha. Pak Ben bisa aja, Oh ya, sudah ada kabar tentang bu Sonya?" Tanya Rayyan sambil membuka sepatunya.
"Belum ada kabar. Saya sudah ke rumahnya tapi keluarganya mengatakan dia sedang liburan" Ujar pak Benny.
"Ya sudahlah kita tunggu saja, semoga bu Sonya lekas kembali"
Setelah selesai melaksanakan Sholat Dzuhur, Rayyan masih ngobrol bersama pak Benny dan beberapa rekan lainnya di dalam mushola. Tiba-tiba handphonenya berdering, panggilan dari Vino.
"Assalamualaikum Vin, ada apa?" Tanyanya to the point. Ia paham betul jika asiatennya tersebut menelfon tentu ada sesuatu yang penting yang hendak di sampaikan.
"Waalaikum salam Mr, ini ada tamu mencari Mr.Ray, beliau menunggu di depan ruangan anda" Ujar Vino.
"Siapa Vin? Mahasiswa bimbingan?" Tanya Rayyan. Karena ia merasa saat ini masih jam istirahat.
"Bukan sir, sepertinya polisi Mr" Ujar Vino setelah sekilas melihat lencana yang di miliki polisi juga ikat pinggangnya.
Polisi?
"Sayang kamu dimana?" Tanyanya segera saat panggilan tersebut di jawab.
"Aku udah nyampe mas, sekarang lagi ngobrol sama Mommy. Ada apa sih?" Balasnya.
"Alhamdulillah" Ia langsung bernafas lega sambil memegang dadanya.
"Mas hanya khawatir. Ya udah kamu lanjutin ngobrolnya. salam buat Mommy ya. Assalamualaikum istriku" Ujarnya sambil menutup panggilan. Ia kini bisa berjalan lebih tenang setelah mengetahui Shafa baik baik saja.
"Mr Ray" Panggil Vino yang sedang duduk di depan ruangan Rayyan.
"Apa anda yang bernama Rayyan?" Tanya pria di sebelah Vino yang vangkit dari duduknya begitu melihat kedatangan Rayyan.
"Benar, Anda mencari saya?" Tanya Rayyan memastikan.
"Iya... Saya ingin bicara hal penting dengan anda pak Rayyan" Ujarnya datar.
"Baiklah, silahkan masuk!" Rayyan mempersilahkan pria tersebut masuk ke dalam ruangannya.
Ternyata ini suami Shafa!!!
"Langsung saja, perkenalkan saya Kompol Aryo Farhanuddin Sudjatmiko, kakak kandung dari Annisa Farhanah" Ujarnya tegas, sambil menatap Rayyan.
Rayyan merasakan ada sesuayu yang mungkin akan kembali mengguncang keluarganya. Terutama saat ia menyebutkan namanya lengkap dengan pangkatnya. Cara seperti itu biasanya di gunakan oleh seseorang yang hendak mengintimidasi lawannya dengan membuatnya down di awal.
"Baik, pak Aryo. Apa ada yang bisa saya bantu?" Ujar Rayyan dengan senyum ramah. Ia sama sekali tidak telihat tertekan ataupun terkejut.
__ADS_1
"Maksud kedatangan saya kemari untuk meengkonfirmasi beberapa hal pada anda terkait apa yang terjadi pada adik saya. Apakah benar selama beberapa bulan terakhir ini adik saya berada di rumah anda pak Rayyan?" Tanyanya tanpa seulas senyum. Wajahnya masih datar dan kaku.
"Benar, dua bulan lalu istri saya membawanya ke rumah, kebetulan mereka adalah sahabat" Jawab Rayyan tenang.
"Apakah sampai sekarang mereka masih bersahabat?" Tantanya lagi.
"Kenapa anda bertanya hal itu? Apa sebenarnya tujuan anda menemui saya?" Rayyan merasa dirinya sedang di interogasi.
Aryo menyunggingkan senyum di sudut bibirnya.
"Saya hanya ingin tahu, apakah istri anda dan adik saya masih bersahabat setelah dia mengetahui bahwa Annisa adalah wanita yang anda sukai?" Tanyanya balik.
Ternyata sangat mudah membuatmu mati kutu.
"Tentu saja tidak, karena istri saya bukan tipe wanita yang akan diam saja saat ada wanita lain yang ingin mengusik rumah tangganya! Dan sepertinya saya anda harus meralat kembali ucapan anda perihal wanita yang saya sukai. Karena sampai kapanpun saya hanya akan mencintai satu wanita, yaitu istri saya" Ujar Rayyan masih dengan gaya santainya yang membuat Aryo mulai geram.
"Benarkah? Apakah karena itu juga sehingga anda membawa Annisa untuk tinggal di toko anda? Agar istri anda tidak mengetahui semuanya?" Tanyanya.
"Jadi anda mengiraa saya memiliki hubungan tersembunyi dengan adik anda? Bapak Aryo yang terhormat. Perlu anda ketahui, kalau bukan karena istri tercinta saya yang merengek agar mengasihani sahabatnya yang di usir oleh keluarganya dalam keadaan hamil, tentu saya tidak akan menerimanya di rumah saya. Terlebih saat saya tahu, secara tidak langsung dia berniat menusuk dari belakang orang yang telah menolongnya!" Ujar Rayyan penuh penekanan.
Seketika wajah Aryo memerah mendengar ucapan Rayyan yang menurutnya telah menghina keluarganya yang tega mengusir Nisa.
"Istri tercinta? Jangan fikir saya tidak tahu bahwa anda dan Shafa menikah karena apa? Saya sudah menyelidiki semuanyaa pak Rayyan. Saya tidak ingin bertele-tele dengan anda. Saya hanya ingin menawarkan apakah masalah ini akan di selesaikan secara damai atau secara hukum" Ujarnya.
"Secara hukum? memangnya saya melakukan kejahatan apa?" Jawab Rayyan sambil tersenyum. Ia merasa tidak pernah melakukan hal hal yng melanggr hukum.
"Anda telah menyembunyikan adik saya yang menyebabkan ia kehilangan janinnya!" Ujar Aryo.
"Hah? Tuduhan macam apa itu pak? Lagi pula dia kehilangan janinnya karena orang lain. Saya bahkan tidak pernah menyentuhnya se ujung kuku pun" Balas Rayyan yang masih kekeh dengan pendiriannya.
"Benar karena orang lain tapi pemicunya adalah anda pak Rayyan!"
"Lalu, apa yang anda inginkan sekarang" Tanya Rayyan yang sudah mulai geram mendengar tuduhan yang sama sekali tak berdasar itu.
"Nikahi Annisa! Aku lebih iklas dia menjadi istri ke dua dari pada menjadi selingkuhan apalagi simpanan anda pak Rayyan!"
"Kalau saya menolak?" Tanya Rayyan berusaha tenangeski hatinya bergemuruh.
"Anda harus siap berhadapan dengan hukum! Ingat pak Rayyan saya sudah mengantongi bukti bukti yang akan memberatkan anda di pengadilan. Sangat di sesalkan, Shafa harus di nikahi orang seperti andaa." Ujar Aryo penuh keyakinan.
"Dengar baik baik pak Aryo Farhanuddin Sudjatmiko! Sampai mati pun saya tidak akan pernah menghianati Shafa, apalagi menduaknnya! Jika anda ingin menempuh jalur hukum silahkan! Jangankan hukum, apapun itu akan saya hadapi jika berhubungan dengan keluarga saya!!!" Ujar Rayyan dengan penuh ketegasan. Tak ada lagi tatapan tenang dan wajah kalem yang selalu membingkai wajahnya. yang ada hanya tatapan membunuh bagaikan singa yang siap menerkam mangsanya.
__________________
Lgi Di gendong ayah๐
Please tinggalkan Like sebelum bergeser... Author sedih tau nggak pas tau votenya nyungsep ke bawah... Ayo dong bantu Like And **Vote๐๐๐๐๐
Iโค๏ธYou All**.
__ADS_1