
"Apa ibu Fanny masih marah?"
"Entahlah, selama mereka masih diam berarti mereka masih marah" Ujar Jeffri.
"Kenapa kita tidak menemui mereka Mas, bukankah kita yang muda yang harusnya minta maaf" Ujar Istri Jeffri.
"Belum waktunya, biarkan marah beliau mereda terlebih dahulu. Oh ya, Bagaimana di sekolah tadi? Apakah Hafiz berteman dengan anak Shafa?" Tanya Jeffri yang sedang memantau pergerakan sebuah titik di layar laptopnya.
"Iya, mereka sudah mulai akrab. Shafa ternyata sangat ramah dan penyayang. Bahkan dengan anak angkatnya itu, dia layaknya ibu dan anak pada umumnya." Ujar Aini.
"Syukurlah, setidaknya anak itu sudah mulai dewasa. Sifat ramah dan humblenya itu persis seperti pak Harsha, dan sifat penyayangnya di turunkan dari bu Fanny meski terkadang menyebalkaan dan keras kepala" Ujar Jeffri.
"Kenapa Mas tidak jujur saja pada Shafa?" Ujar Aini sambil mengusap bahu suaminya.
"Tidak! Mas tidak punya hak untuk mengatakannya. Biarkan semua berjalan seperti semestinya" Ujarnya yang terlihat sedih.
.
.
.
.
.
Di kediaman Shafa malam ini begitu ramai. Kedua orang tuanya juga orang tua Rayyan semuanya berkumpul menikmati makan malam bersama. Mereka ingin mendengar kabar hari pertama Zafran sekolah juga untuk memastikan kondisi Shafa menjelang waktu persalinan yang semakin dekat.
"Opa aku punya banyak teman balu di sekolah" Pamernya pada Daddy Shafa dan Ayah Rayyan.
"Oh ya? Siapa saja?" Tanya Daddy menanggapi celotehan Zafran.
"Ada Hafiz, Doni, Vika pokonya banyak" Jawabnya.
"Oh ya Dad, aku tadi bertemu kak Jeff di sekolah Zafran, dia sudah menikah ternyata. Kenapa Daddy tidak memberi tahu Shafa?" Tanya Shafa. Raut wajah Daddy berubah seketika.
"Apa dia sedang mengantarkan anak tirinya?" Tanya mommy yang juga sedang berada di ruang tengah.
"Mommy tahu? Astaga, jadi benar wanita yang di nikahi kak Jeff itu adalah Janda beranak satu. Ups" Shafa langsung menutup mulutnya. Ia takut Rayyan menegurnya.
"Benar!" Jawab Mommy singkat.
"Kenapa mommy tidak memberi tahu Shafa? Shafa kan ingin mengirim hadiah pernikahan buat kak Jeff. Biar bagaimana pun juga, kak Jeff sering membantu Shafa" Ujar Shafa.
"Dia menikah tanpa memberi tahu mommy dan Daddy, setelah beberapa minggu barulah dia memberitahukan bahwa sudah menikah dengan wanita itu!" Ujar Momny yang terlihat tidak senang.
"Sudahlah, jangan bahas Jeffri lagi. Lebih baik kita bahas sekolah Zafran. Zafran apakah teman kamu yang cantik itu sekolah juga?" Tanya Daddy merubah topik pembicaraan.
"Iya Opa, Aila juga sekolah." Jawab Zafran.
"Shafa, bagaimana dengan kandungan kamu? Apakah ada maslah atau keluhan? Tanya Ibu yang sedang mengelus perut menantunya tersebut.
"Aku ga bisa tidur nyenyak bu, kalau malam dia geraknya aktif banget. Aku suka bangun tiba-tiba lantaran nyeri saat dia mulai menendang. Apa mas Rayyan juga dulu begitu bu waktu dalam kandungan?" Tanya Shafa.
__ADS_1
"Persis! Rayyan waaktu dalam kandungan geraknya aktif banget. Ibu kadang suka nangis sendiri lantaran capek tapi nggak bisa istirahat dengan nyenyak" Ujar Ibu.
"Kayaknya ini fotocopyan nya Rayyan nih" Sahut Ayah.
"Jangan Salah yah, hasil USG menunjukkan wajahnya dominan mirip Shafa, hidungnya mancung banget" Balas Rayyan.
"Oh ya? Daddy jadi nggak sabar nunggu bulan depan"
"Apakah ASI mu sudah keluar Fa?" Tanya Mommy.
"Belum mom, apa itu masalah?"
"Hmmm.... Harusnya ASI mu sudah keluar karena ini sudah masuk trimester akhir. Mungkin Rayyan bisa membantu" Ujar Mommy yang membuat Shafa terkejut.
"Maksud mommy?" Shafa menajamkan tatapannya.
"Nggak usah mikir aneh-aneh!" Mommy memalingkan wajah Shafa agar tidak menatapnya horor.
"Maksudnya Rayyan bisa bantu melakukan pijat payudar* yang berguna untuk melancarkan ASI" Terang mommy.
"Dia mah nggak usah disuruh, tiap hari juga udah melakukan pijat seperti yang mommy bilang. Pijat plus plus malah" Ujar Shafa yang langsung mendapat senggolan dari Rayyan. Wajah Rayyan merah menahan malu atas ucapan istrinya tersebut, sementara para orang tua malah tertawa melihat anak dan menantu mereka yang saling memberi kode.
"Benar Ray?" Goda mommy.
"Emm itu, Shafa yang mancing mom" Ujar Rayyan tersenyum canggung.
"Kalau itu Ayah percaya. Shafa kan persis ibu dulu ngidamnya" Ujar Ayah yang membuat Shafa langsung menoleh ke arahnya.
"Jangan ngomong yang enggak-enggak di sini ada cucu kita yang sedang mendengarkan" Ujar Daddy sambil menunjuk Zafran yang tengah menonton serial anak islam Nussa dan Rara dari handphone Shafa.
"Jadi gimana cara mijatnya mom? Apa ada trik khusus?" Tanya Rayyan. Iya tidak malu menanyakan hal-hal yang bermanfaat bagi kepentingan janinnya.
"Ih, mas kok kepo sih? Kaya nggak pernah aja" Sahut Shafa sambil menyikut lengan Rayyan.
"Ini bukan kepo, tapi mas hanya ingin memastikan telah melakukan hal yang benar sesuai dengan SOP" Jawab Rayyan yang mengundang gelak tawa.
"Benar kata Rayyan, semua itu ada prosedurnya, gak asal pijat pijat doang. Dan itu harus di lakukan rutin setiap pagi dan malam agar peredaran darah di area sekitara p*yudara menjadi lancar dan bisa memicu keluarnya ASI. Mommy akan kirmkan videonya di handphone kamu Ray" Ujar mommy Shafa.
"Apa Daddy juga dulu melakukannya mom?" Tanya Shafa sambil melirik daddynya yang tengah memangku Zafran.
"Of course. Daddymu itu dokter Shafa, kalau masalah umum seperti itu, Daddy dan mommy tentu tahu" Ujar Mommy.
"Opa doktel?" Tanya Zafran tiba-tiba sambil menoleh kepada Daddy Shafa.
"Iya, Opa dan Oma adalah dokter. Zafran mau seperti Opa?" Tanya Daddy Shafa.
"Aku mau, supaya bisa obatin momny dan adek. Tapi Opa, Aila ikut ikut Zaflan mau jadi doktel" Adu Zafran pada Opanya.
"Bagus dong sayang. Kalau Aira jadi dokter nanti Zafran ada temannya" Ujar Daddy.
"Padahal mas Ray pengennya Zafran masuk pesantren" Balas Shafa.
"Alumni pesantren juga banyak kok yang jafi dokter. Semoga Zafran nanti jadi dokter ganteng yang soleh ya?" Doa Daddy yang di amini oleh semua yang berada di situ.
__ADS_1
" Anyway, Apa Ayah juga sama bu?" Sekarang giliran Shafa bertanya pada ibu.
"Hummm.... Jelas, tapi ayah melakukannya tidak sesuai dengan SOP..ha.ha.ha" Terang ibu.
Bincang malam itu berakhir saat Zafran mulai tertidur dalam pangkuan Ayah. Setelah memindahkan Zafran ke kamar, Rayyan mengantar orang tua mereka sampai ke depan pintu. Mereka berjanji akan sering-sering berkunjung mengingat usia kehamilan Shafa yang makin tua.
"Mas, aku kok ngerasa ada sesuatu antara kak Jeff dengan Daddy dna Mommy" Ujar Shafa sambil menikmati kompresan air hangat pada bagian dadanya.
"Jangan mikir yang tidak-tidak! Memang ada apa antara mereka? Bukannya Jeffri itu orang bayarannya Daddy?" Sahut Rayyan yang dengan telatennya memperaktekkan gerakan memijit searah jarum jam dan berbalik arah seperti yang terdapat dalam Video yang momny kirim. Ia tak senang istrinya terlalu memikirkan laki-laki bernama Jeffri tersebut. Kerena dengan Jeffri Shafa terlihat begitu akrab dan tak sungkan sungkan.
"Iya juga sih, tapi itu jakunnya kenapa naik turun mas?" Goda Shafa yang sedang memperhatikan suaminya dengan ekspresi datarnya.
"Tau ah" Ujarnye cuek. Shafa ingin tertawa di tahannya.
"Udah ah mas, aku yang kepancing kalau lama-lama." Ujar Shafa sambil menyingkirkan tangan Rayyan dari tubuhnya.
"Baguslah kalau Shafa kepancing, mas emang lagi mancing kok" Uajrnya sambil memeluk tubuh Shafa dan menghujani ciuman-ciuman lembut.
"Ikannya udah kepancing mas, silahkan di nikmati mumpung masih boleh, karena bulan depan sepertinya sudah tiba waktunya berpuasa" Ujar Shafa sambil tersenyum menatap wajah tampan suaminya.
"Shafa bener juga, bulan depan sudah masuk Ramadhan, wah mas berarti puasanya dobel" Ujarnya menenggelamkan wajahnya di dada istrinya.
"Nggak papa mas, pahalanya juga kan dobel" Ujar Shafa. Membelai lembut kepala suaminya.
"Berarti, sekarang harus di nikmati dan di puaskan sebelum bulan puasa tiba " Ujar Rayyan sambil menatap istrinya. Shafa tersenyum seraya mengangguk setuju. Keduanya memulai aktifitas mereka dengan menyebut nama Allah yang pemurah lagi maha penyayang.
***
Pagi itu semua kembali ke aktifitas biasanya. Cerahnya mentari pagi ingit membersamai kesibukan baru yang terjadi di rumah itu. Zafran yang selalu mengingatkan mommynya agar segera bersiap mengantarkannya ke sekolah menjadi pemandangan baru di rumah tersebut.
"Iya sayang iya. Duh ini anak ayah kok nggak sabaran sih?" Ujar Shafa sambil memasang kerudung motif bunga-bunga di kepalanya.
"Aku sudah janji sama temanku mommy. Nanti dia malah" Ujar Zafran.
"Zafran sarapan dulu gih sama ayah ntar mommy nyusul" Ujar Shafa yang sudah selesai berdandan tinggal menyiapkan tas dan sepatunya. Setelah selesai sarapan mereka segera berangkat kesekolah. Zafran berangkat ke sekolah di antar oleh Rayyan sekalian ia berangkat ke kampus.
"Zafran, jaga mommy dan adek ya nak! Jangan boleh capek-capek" Ujar Rayyan pada anak kecil itu.
"Iya Ayah... Zaflan pasti jaga Mommy dan adek" Ujarnya sambil memeluk mommynya. Mencium pipinya sekilas.
"Mas nggak turun?" Tanya Shafa sebelum membuka pintu mobilnya.
"Mas langsung ke kampus aja, kalau ada apa-apa, Shafa segera telfon mas ya?" Rayyan mengingatkan. Setelah Shafa turun dari mobil ia tak laangsung berangkat, melainkan melihat anak dan istrinya memasuki lingkungan sekolah hingga tak nampak olehnya. Baru saja ia hendaak menginjaak pedal gas, pandangan matanya tertuju pada seorang laki-laki yang baru turun dari mobil bersama istri dan anaknya yang juga memakai seragam sekolah. Siapa lagi kalau bukan Jeffri.
Rayyan mengurungkan niatnya untuk berangkat setelah melihat Jeffri masuk ke dalam lingkungan sekolah. Ia menduga Jeffri pasti akan ngobrol dengan Shafa jika mereka bertemu. Rayyan segera turun dari mobil dan mengikuti di belakangnya.
"Mas, Itu Shafa! Mas nggak mau menyapanya?" Tanya Aini sambil menunjuk wanita hamil yang duduk di bangku panjang depan kelas Zafran.
"Tidak, Mas harus ke kantor karena ada laporan genting. Mas titip Shafa ya sayang. Bantu dia kalau dia sedang kesulitan, Kalau ada apa-apa langsung telfon mas!" Ujarnya pada Istrinya.
Rayyan tak sengaja mendengar percakapan mereka. Ia langsung berbalik menuju ke arah mobilnya kembali.
Jeffri kenapa begitu mengkhawatirkan Shafa? Kenapa dia begitu perhatian dengan istriku samppai meminta istrinya sendiri ikut menjaganya. Siapa dia sebenarnya?" Gumam Rayyan. Terdapat tanda tanya besar yang kini mengganggu fikirannya.
__ADS_1