
Hari berlalu begitu cepat, tak terasa sudah hampir 4 hari Jeffri terbaring dalam koma nya. Selama empat hari itu pula mommy dan daddy tak pernah beranjak dari sisinya. Begitu pun Aini yang selalu setia melantunkan doa dan ayat-ayat suci Al-Quran untuk kesembuhan Jeffri. Selama 4 hari terakhir pula Hafiz tinggal di rumah Shafa. Neneknya pun beberapa kali mengunjunginya karena Hafiz yang tidak mau di ajak pulang kalau bunda dan ayahnya tidak pulang.
"Apa anak-anak sudah tidur Mas?" Tanya Shafa saat melihat Rayyan masuk ke dalam kamar.
"Sudah, mereka sudah tidur" Rayyan menghampiri Shafa yang masih bersandar pada ranjang sambil menonton televisi.
"Gimana? Apa sudah mulai terasa sakit atau kontraksi?" Tanya Rayyan. Selama satu minggu ke depan Rayyan akan stay di rumah mengingat prediksi dokter Shafa akan melahirkan dalam waktu 2-3 hari ke depan. Ia menghendel semua pekerjaannya dari rumah, termasuk mengajar dengan menggunakan video conference, memanfaatkan kecanggihan teknologi 4.0. Yang semuanya dapat terselesaikan hanya dengan benda pipih bernama laptop, tablet atau smart phone yang sering di sebut setan gepeng oleh Shafa.
"Belum kerasa mas, cuma udah mulai nggak nyaman. Aku susah nyari posisi duduk dan baring yang pas" Keluhnya.
"Sabar ya sayang, semua lelah dan sakitnya Shafa akan di ganti dengan pahala yang sangat besar oleh Allah" Ujar Rayyan sambil mengelus dan menciumi perut Shafa yang sudah terlihat agak turun yang menandakan waktu kelahiran sudah dekat.
"Mas, apa mas udah nyiapin nama untuk anak kita?" Tanya Shafa. Nama biasanya di siapkan jauh hari setelah mengetahuia jenis kelamin anak, tapi tidak dengan Shafa. Hingga Menjelang persalinan ia belum memiliki persiapan nama.
"Hmm... Belum! Ketimbang nama, mas masih fokus dengan persalinanmu nanti. Jadi belum bisa mikirin soal nama" Ujar Rayyan yang masih mensejajarkan wajahnya dengan perut Shafa.
"Mas ini gimana, udah tau anaknya cowok masih juga belum siapin nama. Lama-lama aku sendiri yang kasi nama anak kita" Ujar Shafa yang merasa kesal dengan suaminya yang menurutnya santai seperti di pantai. Padahal HPL sudah di depan mata.
"Memang Shafa mau kasi nama siapa?" Tanya Rayyan sambil ndusel di perut Shafa.
"Junior Rayyan!" Jawabnya singkat sambil manyun.
"Nama apa itu? Masa Junior Rayyan?Yang lain coba" Pinta Rayyan.
"Rayyan Junior" Jawab Shafa. Rayyan terkekeh mendengar nama pemberian istrinya tersebut. Dua kata yang di bolak balik.
"Sayang, nama itu adalah hadiah pertama yang diberikan orang tua kepada anaknya. Nama itu juga akan di bawa mulai dia lahir hingga dia mati. Jadi berilah nama yang baik untuk anak-anak kita. Nama itu adalah doa loh" Balas Rayyan.
"Udah tahu doa, tapi kok nggak nyiapin nama untuk anak kita?" Balas Shafa sambil menatapnya kesal.
"Kan udah di bilang, mas masih fokus di proses kelahirannya nanti, tapi udah ada kok beberapa nama yang terlintas." Jawabnya sambil mengusap perut Shafa.
__ADS_1
Kapan kamu akan keluar Nak? Ayah sudah tidak sabar untuk melihatmu.
"Mas fokus ngapain? Perasaan mas nggak ngapa-ngapain. Memangnya apa yang mas lakukan untuk membantu proses kelahiran baby boy?" Cibir Shafa.
Perasaan gue yang hamil, gue yang capek, yang ngidam juga gue ntar melahirkan juga gue yang sakit.
"Tapi mas ikut andil dalam proses kelancarannya nanti. Shafa lupa yang di bilang dokter, apa yang harus suami lakukan menjelang kelahiran baby?" Jawabnya sambil menaik turunkan alisnya menggoda Shafa.
"Mas ih! Kalau gituan aja di inget. Giliran buat nama untuk anak lupa!" Shafa memukul tangan suaminya yang sengaja menggodanya.
"Shafa maunya anak kita namanya menggunakan bahasa Arab, Indonesia atau inggris?" Tanyanya sambil membenarkan posisi bersandarnya.
"Terserah Mas Rayyan. Namanya harus bagus ya Mas. Eh kalau nama mas dari bahasa Arab bukan sih? Terus artinya apa?" Tanya Shafa. Dia juga ingin tahubapa makna dari nama suaminya tersebut.
"Benar dari Bahasa Arab. Zidane itu artinya kemajuan atau sesuatu yang memberi dampak positif sedangkan Ar-Rayyan itu nama belakang ayah yang di turunkan pada mas, artinya pintu surga. Jadi kalau di sambung Zidane Ar-Rayyan itu artinya laki-laki yang bisa memberi kebaikan dan menjadi pintu surga bagi keluarga" Terangnya.
"Woaaaahh" Shafa geleng-geleng.
"Kalau Zafran apa artinya Mas? Itu Bahasa Arab kan ya?" Tanyanya.
"Iya, Zafran artinya sendiri adalah bunga yang berwarna keemasan. Selain di Arab, panggilan ini juga biasa digunakan di negara Pakistan. Kata ini merupakan bentuk lain dari kata Zafar, sebuah kata dari bahasa Urdu yang berarti kemenangan atau kejayaan" Jawab Rayyan.
"Wah, mas Ray hebat banget. Kalau Hafiz mas apa artinya?" Tanyanya semakin penasaran.
"Hafiz itu adalah sebutan untuk penghapal Al-Quran sayang. Mungkin mbak Aini memberi nama Hafiz agar kelak ia menjadi penghafal Al-Quran" Terangnya lagi.
"Em... Namanya Kak Aini itu susah banget. Dzatu Annithaqaini, nah itu artinya apa? Itu jelas bahasa Arab kan?" Semakin gencar ia bertanya.
" Itu julukan untuk Asma binti Abu Bakar Dzatin Nithaqain artinya Pemilik Dua Ikat Pinggang, karena dia mengambil ikat pinggangnya, lalu memotongnya menjadi dua. Kemudian yang satu dia gunakan untuk sufrah (bungkus makanan untuk bekal) Rasulullah SAW, dan yang lain sebagai pembungkus qirbahnya pada waktu malam, ketika Rasulullah SAW dan Abu Bakar Ash- Shiddiq keluar menuju gua. Selain itu, Asma binti Abu Bakar adalah salah seorang wanita mulia yang turut serta dalam hijrah ke Madinah. Dia dikenal sebagai wanita terhormat yang menonjol dalam kecerdasannya, kemuliaan diri, dan kemauannya yang kuat. Ia dilahirkan pada 27 tahun sebelum Hijrah. Asma' lebih tua sepuluh tahun dari Aisyah Ummul Mukminin, saudara perempuannya. Dia juga saudara kandung Abdullah bin Abu Bakar." Jelas Rayyan.
"Kalau Shafa Azura apa artinya?" Tanya Rayyan balik. Shafa nampak berfikir keras, ia tak tahu namanya di adaptasi dari bahasa apa. Yang ia tahu bahwa namanya adalah gabungan antara nama daddy dan momynya.
__ADS_1
"Emmm... Shafa itu gabungan antara nama Daddy dan Mommy. Harsha dan Fanny menghasilkan kata 'Shafa' sedangkan Azura itu turun temurun dari kelurga mommy. Mommyku namanya Fanny Azura, Omaku Naomi Azura, Oma Buyut ku Mika Azura dan aku Shafa Azura" Terang Shafa.
"Kok namanya kaya ke Jepang-Jepangan sih sayang?" Tanya Rayyan. Ia baru tahu kalau wanita dari garis keterunan mommy Shafa bernama khas orang Jepang.
"Ya kan mommy memang berdarah Jepang mas. Oma buyut aku tuh memang orang Jepang yang menikah dengan orang Indonesia. Memangnya kulit putih, hidung dan bentuk mata aku ini dapat dari mana kalau bukan dari gen Mommy? Sementara daddy kan kulitnya Indonesia banget kaya kak Jeff" Terang Shafa. Rayyan manggut manggut mendengarnya. Pantas saja istrinya cantik, ternyata blaster an Indonesia Jepang.
Drrt....Drrt....
Terdengar getaran di ponsel milik Rayyan. sebuah panggilan dari nomor mommy.
Ada apa mommy nelfon aku malam-malam!
Ia segera meraih ponselnya dan mengangkat panggilan tersebut.
"Assalamualaikum..." Sapa Rayyan dengan sopan.
"Waalaikumsalam Ray. Kalian sudah tidur?" Tanya Mommy.
"Belum Mom, ada apa?"
"Ray, besok pagi-pagi kalian kesini. Bawa serta Hafiz dan Zafran yah?" Ujar Mommy.
"Iya, tapi kenapa mom?" Rayyan masih tak faham dengan maksud ibu mertuanya menyuruhnya ke rumah sakit bersama anak dan istrinya.
"Besok alat-alat medis di tubuh Jeffri akan di buka Ray. Mommy ingin kita semua ada di sana" Balas Mommy.
"Apa? Dibuka?" Rayyan tersentak kaget.
Apa itu artinya Jeffri tidak selamat. Pelepasan alat medis ada pasien koma biasanya karena dua hal. Pasien benar-benar sudah tidak ada harapan atau pasien telah bangun dari komanya.
"Apa Jeffri sudah sadar Mom?" Tanya Rayyan hati-hati karena Shafa di sebelahnya sejak tadi menajamkan pendengarannya untuk nguping pembicaraan mereka.
__ADS_1
"Belum Ray, tapi tubuhnya sudah menunjukan banyak kemajuan. Dokter Mike memperkirakan dia akan sadar secepatnya. Semoga dengan adanya kita semua di sini besok akan mempercepat segalanya" Terang momny. Shafa nampak tersenyum bahagia mendengar ucapan mommy nya. Mungkin ini adalah bagian dari jawaban Allah atas semua doanya.