Jodoh Pilihan Allah

Jodoh Pilihan Allah
Curhatan Shafa


__ADS_3

"Eh Ray,, dari mana?" Tanya tante Lilis yang sedang membaca majalah.


"Dari toko tan, Oh iya ini Nisa teman Shafa. Dia akaan tinggal disini sementara waktu" Ujar Ray. Nisa membungkuk memberi salam kepada tante Lilis.


"Kak Ray, ntar bantuin Yola kerja tugas ya?" Yola tiba-tiba datang menggandeng lengan Rayyan membuat Shafa naik pitam.


"Em.. Yola, kenalin teman kak Shafa naamanya kak Nisa" Shafa menyela memaksa Yola melepaskan tangannya.


"Dia alumni Kairo juga loh, Yola boleh kok nanya tugasnya sama kak Nisa. Kak Nisa sementara waktu akan tinggal disini. Iya kan Nis?" Ujar Shafa seolah meminta pertolongaan.


"I..iya" Nisa terlihat gugup. Ia tidak terbiasa dengan situasi seperti ini.


"Oh ya?" Yola memperhatikan Nisa dari ujung kaki sampai ujung kepala.


"Kak Nisa lagi hamil?" Tanya Yola tiba-tiba.


"I..ya"


"Suaminya dimana kak?" Pertanyaan Yola membuat Nisa menunduk.


"Suaminya di Kairo. Ya udah yuk Nis" Ujar Shafa ketus. Ia segera menarik Nisa menuju kamarnya.


"Ray, istri kamu kok gak ada sopan-soannya sih, kamu harus ajar dia bagaimana bersikap dengan orang yang lebih tua" Ucap tante Lilis.


"Iya tante nanti Ray sampaikan. Ray permisi ke kamar dulu" Pamit Rayyan.


Setelah kepergian Rayyan Yola dan mamanya masuk kedalam kamar.


"Mah, kok kak Ray keliatannya ga marah sama kak Shafa sih" Ujar Yola kesal.


"Mamah juga ga tau, setau mamah Ray adalah anak yang selalu nurut dan patuh pada orang tua, termasuk mama. Walaupun mamah bukan ibu kamdungnya tapi sejak kecil Ray udah sering sama mamah, jadi mamah tau betul karakter Ray" Ucap Lilis.


"Terus tadi mamah lihat ga temannya kak Shafa? Kak Ray kok ngijinin wanita bersuami tinggal di sini sih. Pasti dia bukan wanita baik-baik. Buktinya hamil tapi suaminya di Kairo. Mana ada suami istri kaya gitu" Kata Yola yang terus menghakimi semua hal yang berhubungan dengan Shafa.


"Mamah juga mikirnyaa gitu. Ga heran kalau temannya Shafa kaya gitu. Sejak awal mamah tau Ray menikah karena terpaksa. Kalau bukan karena kejadian itu mana mungkin Rayyan mau menikah dengan wanita seperti Shafa"


"Tapi kak Ray kelihatannya sayang banget mah dengan kak Shafa. Apa menurut mamah kak Ray beneran cinta sama kak Shafa?" Tanya Yola.


"Mamah ga yakin, setahu mamah Rayyan itu laki-laki yang bertanggung jawab. Seperti apapun Shafa dia pasti tetap akan melindungi dan memperlakukannya dengan baik"

__ADS_1


"Jadi aku harus gimana mah? Masa ia aku harus beneran kuliah di Kairo? Mamah harus cari cara supaya kak Ray benci sama kak Shafa. Kalau kak Ray bisa suka dengan kak Shafa yang kaya gitu, dia pasti juga bisa suka sama aku" Yola masih bersikekeh untuk mendapatkan Rayyan.


"Iya.. iya.. Mamah sedang mikir gimana buat Ray marah sama Shafa."


"Kita harus buktiin mah, kalau kak Shafaa itu bukan wanita baik-baik. Mamah liat ga sih tato di lengannya. Ih, Yola jijik banget deh. Jangan-jangan kak Ray dapat barang bekas orang lain lagi mah" Ujar Yola.


Sampai masuk waktu magrib mereka berdua masih terus mengibah tentang Shafa. Dimata mereka Shafa adalah wanita yang tidak tau adab dan tidak pantas bersanding dengan Rayyan.


Tiba waktu makan malam, mereka semua makan dengan tenang. Tak ada lagi keributan atau sekedar saling sindir menyindir antara Yola dan Shafa.


"Shafa, kenapa makanannya ga di habiskan? Masakan tante ga enak ya? Tanya tante Lilis. Rayyan melirik ke piring Shafa. Benar saja, makanannya masih utuh.


Sial, ngapain sih tante Lilis merhatiin gue segala. Pasti dia mau cari muka di depan mas Ray. Ini mulut gue juga pake acara ga nafsu segala. Gara-gara iklan susu kental manis gue jadi pengen makan martabak manis kan.


"Sayang, Ayo dihabisin makanannya" Bujuk Rayyan. Shafa menggeleng pelan.


"Kalian duluan saja, biar Ray yang temani Shafa sampai selesai makan" Ujar Ray.


Tante Lilis, Yola dan Nisa pun segera meninggalkan meja makan.


Rayyan mengambil piring yang ada di hadapan Shafa dan mulai menyuapinya. Shafa yang awalnya menolak lama-lama membuka mulutnya.


"Mas, aku tadi liat iklan susu kental manis, aku jadi pengen martabak manis yang di depan gerbang kompleks mas."


Ray mendengus, lagi-lagi mendengar permintaan Shafa.


"Besok, jangan nonton iklan lagi yah sayang. Mas pusing liatnya. Shafa jadi minta yang aneh-aneh. Liat iklan gula, pengen. Iklan susu pengen juga. Besok iklan apa lagi?" Ujar Ray menanggapi keinginan Shafa.


Ntar malam pasti buat ulah lagi. Kayaknya aku harus pasang alarm tiap jam 1 malam. Antisipasi kalau Shafa minta makan lagi. Kuatkan aku ya Allah. Apa mungkin Shafa tertekaan hingga seperti itu. Harus kah aku membawanyaa ke psikiater?


"Kalau mas ga mau beliin ga papa kok" Ucapnya dengan mata berkaca-kaca. Air mata adalah jurus paling ampuh untuk meruntuhkan pertahan seorang Rayyan. Tapi air mata yang di keluarkan Shafa bukanlah air mata buaya.


Fix, gue kayaknya terkena stress gara-gara mikirin Yola dan tante Lilis. Gue jadi sensitif dan paranoiddterhadap orang ke tiga gini. Gue mesti cepet-cepet ke psikiater.


"Habisin dulu makannya baru makan martabak. Shafa mau berapa dos, nanti mas beliin. Dengan gerobaknya sekalian" Goda Ray berhasil membuat Shafa tertawa. Ia segera menghabiskan makan malamnya.


Mereka tak menyadari bahwa ada sepasang mata yang mengamati kebersamaan mereka.


"Mas, aku ke kamar Nisa dulu ya" Pamitnya pada Rayyan yang hendak naik ke kamarnya.

__ADS_1


"Jangan lama-lama ya" Rayyan takut jika Shafa bertanya yang tidak-tidak pada Nisa.


Setelah mendapat izin dari Rayyan, Shafapun segera masuk ke dalam kamar Nisa.


"Nisaaa.. gue masuk yaaa" Ujar Shafa lirih. Nisa nampak sedang menyusun pakaiannya di dalam lemari.


"Eh Fa, Sini"


"Lo kok gak minta tolong bi Lastri aja sih Nis?"


"Ga perlu kali Fa, cuma nyusun pakaian ini" Nisa mendudukan dirinya di sebuah sofa kecil tepat di samping Shafa.


"Lo nyaman kan Nis disini? Sorry yaa kalau tante Lilis dan Yola tadi bikin lo kesel. Gue jugaa sering di gituin sama mereka" Ujar Shafa. Ia takut Nisa meras tidak nyaman berada di rumahnya.


"Ga papa kok Fa, aku ngerti. Pasti mereka akan bertanya-tanya, kenapa bisa seorang wanita hamil berada di rumah temannya. Dan kamu juga yang sabar ya menghadapi mereka"


"Nis, gue mau curhat nih" Ucap Shafa sambil menyandarkan kepalanya pada punggung sofa.


"Tentang apa Fa? cerita aja, aku siap dengerin"


"Tentang suamiku"


Nisa mengerutkaan dahinya " Emang suami kamu kenapa?" Tanyanya.


"Tapi janji ya, jawab dengan jujur" Shafa memperbaiki posisi duduknya bersila di atas sofa menghadap ke arah Nisa.


"Iya... Memang apa yang ingin kamu tanyakan?" Jawab Nisa.


"Kamu kenal ga sih mahasiswa Indonesia yang bernama Hana?" Tanya Shafa.


"Hah? Hana?" Nisa terkejut mendengar pertanyaan Shafa.


Ada apa dengan aku Fa? Hana itukan nama panggilanku di Kairo. Setauku tidak ada panggilan Hana lain selain aku.


"Memangnya kenapa Fa, dengan Hana?" Tanya Nisa penasaran.


"Jadi loe kenal ya?" Tanya Shafa. Nisa pun hanya mengangguk.Ia masih belum paham maksud Shafa menanyakan tentang Hana.


"Hhff... Dia adalah wanita yang pernah disukai mas Ray waktu di Kairo. Dia.."

__ADS_1


"APAAA?" Nisa langsung menutup mulutnya tak percaya dengan apa yang barusan di dengarnya, bahkan sebelum Shafa menyelesaikan ucapannya.


__ADS_2