
Saat Adzan subuh berkumandang, Rayyan mengerjapkan matanya, merasakan kepalanya sangat berat. Malam tadi, Shafa berhasil membuatnya tidur tak nyenyak. Sepanjang malam ia di selimuti rasa gelisah karena ulah istri cantiknya itu. Ia lebih baik melihat istrinya tidur memakai mukena seperti saat makan malam tadi, dari pada harus melihatnya begitu cantik dan seksi tapi tak bisa menyentuh nya.
Rayyan hanya bisa memeluknya dari belakang sambil menahan hasratnya yang sudah sangat lama ia pendam. Ia tidak ingin memaksa istrinya yang masih dalam mode mogok bicara itu.
Rayyan berjalan agak sempoyongan menuju kamar mandi, kepalanya terasa pusing dan pening. Selain kurang tidur, Ia juga kurang istirahat selama sebulan terakhir ini.
"Sayang bangun sayang, sudah subuh" Ujarnya lembut membangunkan istrinya yang tengah lelap memeluk guling.
"Emh...." Shafa menggeliat, masih belum mau membuka matanya.
"Sayang... Anak ayah ayo ajak Mommy mu bangun." Rayyan beralih mengusap perut Shafa.
Shafa mulai membuka matanya. Ia melihat suaminya sedang memandanginya dengan tatapan sayu. Tak ingin berlama-lama, ia memilih untuk segera bangkit dan mengambil wudhu. Mereka shalat Subuh seeperti biasanya. Hanya saja kali ini membaca surah yang lebih pendek, suaranya pun terdengar tidak seperti biasa. Setelah melaksanakan Shalat Subuh, Rayyan hanya membaca satu halaman Al-Qur'an, Ia merasakan kepalanya benar-benar pusing. Beberapa kali ia memejamkan matanya dalam-dalam untuk mengurangi rasa pusing nya, namun tak berhasil. Ia memilih untuk berbaring kembali sambil terus beristigfar. Sepertinya tubuh Rayyan sedang meminta hak nya untuk beristirahat.
Ayahmu kenapa Nak?
Shafa melirik sekilas suaminya yang berbaring kembali di tempat tidur. Biasanya Rayyan tidak pernah tidur lagi setelah Shalat subuh.
Pagi itu, matahari tidak menampakan sinarnya. Langit terlihat gelap. Meski sudah pukul 7 pagi, tapi masih terlihat seperti pukul 6 pagi.
Rayyan memakan roti yang ia oles sendiri dengan selai untuk sarapan paginya. Karena aksi mogok Shafa, Rayyan harus melakukan semuanya sendiri, mulai dari menyiapkaan pakaian, sampai mengoles roti pun sendiri. Shafa masih acuh dan tak peduli pada Rayyyan.
"Sayang, kenapa tidak sarapan?" Tanya Rayyan melihat Shafa tidak memakan apa pun. Ia menarik kursinya lebih dekat dengan Shafa, kemudian sedikit membungkuk.
"Anak ayah ingin sarapan apa?" Tanya Rayyan sambil mengusap perut Shafa.
"Bubur Manado!" Jawabnya singkat.
"Ya, Sudah. Ayah selesaikan sarapan dulu ya" Ujarnya lembut. Rayyan segera menghabiskan teh nya sebelum pergi mencarikan Bubur Manado untuk istrinya. Beruntung hari ini adalah akhir pekan, sehingga ia bisa mencari pesanan Shafa tanpa harus khawatir telat ke kampus. Karena, sebagai ASN yang disiplin dan bertanggung jawab, Rayyan akan bersikap seprofesional mungkin dalam mengemban tugasnya.
"Mas Rayyan mau kemana? Di luar hujan deras Mas." Tanya Bi Lastri yang melihat Rayyan tengah memakai jaketnya.
"Mau cari, bubur Manado buat Shafa Bi" Jawab Rayyan.
__ADS_1
"Apa tidak nunggu hujan reda saja Mas?"
"Tidak bi, Kalau tunggu reda, nanti Shafanya keburu lapar, saya pergi dulu Bi. Assalamualaikum" Ujar Rayyan.
Setelah kepergian Rayyan, Shafa hanya mondar-mandir di balkon kamarnya sambil melihat ke arah gerbang. Sudah hampir satu jam Rayyan pergi tapi belum juga kembali. Hatinya mulai di gelayuti rasa takut terjadi sesuatu pada suaminya.
Nak, Ayah mu kok belum datang sih? Mana hujan nya nggak berhenti lagi. Kamu sih Nak, pengen Bubur Manado segala.
Tiga puluh meenit kemudian Shafa melihat mobil suaminya memasuki halaman rumah. Rayyan nakpak keluar sambil melindungi kepalanya dari guyuran hujan. Ada perasaan lega di hatinya melihat suaminya kembali. Ia pun segera turun ke bawah.
Rayyan nampak mengibas ngibaskan kepalanya yang basar terkena hujan. Berberapa tetes air jatuh di wajahnya membuat ketampanannya semakin bertambah.
Ayah Ganteng!
"Sayang...Maaf ya lama, tadi di jalan hujannya deras sekali, Mas harus pelan-pelan" Ujar Rayyan. Shafaa hanya mengangguk.
"Sekarang makan ya Nak, jangan di keluarin. Ayah mau ganti baju dulu" Ujarnya pada perut istrinya kemudian berlalu menuju kamarnya. Untuk pertama kali nya Rayyan melihat seulas senyum terbit di bibir istrinya setelah seminggu lamanya ia di diamkan.
Setelah menghabiskan bubur Manadonya Shafa memilih untuk nonton tv di ruang tengah di temani dengan setoples keripik. Di kehamilannya, Shafa merasakan nafsu makannya bertambah jika dia sedang tidak merasakan mual.
"Di kamar mungkin bi. Ujar Shafa yang masih fokus pada layar lebar di depannya"
"Tadi mas Rayyan suruh bibi buatin ini." Ujar bi Lastri sambil menunjukan cangkir yaang di pegang nya.
"Apa itu bi?" Tanya Shafa.
"Air Jahe dan madu, sepertinya mas Rayyan tidak enak badan mbak." Ujar bi Lastri.
"Oh, bawa saja ke atas bi" Ujar Shafa, sambil melanjutkan nonton nya.
Eh, tadi bi lastri ngomong mas Ray nggak enak badan? Masa sih? perasaan tadi baik-baik aja. Ayah kamu paasti lagi modus biar Mommy nggak marah lagi. Huh, nggak mempan!
"Gimana bi?" Tanya Shafa pada bi Lastri yang baru turun dari kamarnya.
__ADS_1
"Mas Rayyan nya tidur mbak. Jadi saya simpan di atas meja airnya" Ujar bi Lastri.
Tidur? Kok tumben? Ini kan masih jam 10! Kita nonyon di kamar aja ya Nak!
Shafa beranjak menuju kamarnya. Saat membuka pintu, Ia melihat Rayyan sedang tidur. Shafa mencoba mendekat. Ia perhatikan wajah suaminya yang tengah memejamkan matanya.
Tiba-tiba Rayyan membuka matanya. Pandangan mereka saling bertemu membuat Shafa gelagapan. Ia terlihat seperti maling sedang tertangkap saat mencuri. Rayyan meraih lengan Shafa sehingga ia duduk di sebelah tubuh yang sedang berbaring. Rayyan melingkarkan tangaan kanannya di perut istrinya.
"Masih ingin sesuatu lagi?" Tanyanya dengan suara yang agak serak. Shafa hanya menggeleng. Ia tertunduk malu saat ketahuan memandangi wajah Rayyan.
"Ya sudah, Ayah istirahat dulu ya" Ujarnya. Rayyan kembali memejamkan matanya. Shafa mencoba untuk menyingkirkan tangan suaminya yang berada di perutnya. Saat ia menyentuh tangan Rayyan betapa terkejutnya Shafa saat mengetahui suhu tubuh Rayyan yang sangat panas. Ia segera mengalihkan pandangannya ke wajah suaminya yang sedang terpejam.
Shafa memberanikan untuk menyentuh dahi Rayyan.
"Mas... Mas, Kamu demam Mas?" Akhirnya setelah sekian lama, ia mau berbicara pada Rayyan. Rayyan hanya tersenyum, mendengar suara istrinya.
"Mas nggak papa." Jawabnya. Mendengar Shafa mau berbicara padanya merupakan kebahagiaan tersendiri bagi Rayyan. Seketika ia melupakan rasa sakitnya.
"Tapi ini panas sekali. Aku telfon ibu ya" Ujar Shafa panik, setelah menyentuh bagian Pipi dan leher Rayyan yang juga sangat panas.
"Tidak Usah. Cukup kamu di sini. Di samping Mas, biarkan Mas memelukmu, maka mas akan sembuh" Ujarnya dengan tatapan sendu.
Rayyan menggeser posisi tubuhnya sedikit ke tengah agar Shafa bisa berbaring di sebelahnya. Shafa tidak bisa lagi menghindar, selain karena ia peduli, ia juga sangat mencintai Rayyan yang terus berusaha meluluhkan hatinya.
Shafa membiarkan Rayyan memeluk tubuhnya. Ia memeluknya begitu erat sehingga panas di tubuh Rayyan bisa ia rasakan. Rayyan menenggelamkan wajahnya di perpotongan leher istrinya merasakan kenyamanan yang sangat ia rindukan. Rasanya sudah lama sekali ia tidak memeluk istrinya seperti ini.
"Biarkan seperti ini sebentar saja, Aku rela bila harus sakit setiap hari agar bisa kau peluk seperti ini." Ujarnya sambil mengeratkan pelukannyaa pada tubuh istrinya. Shafa tak menolak. Ia jugaa merindukan pelukan hangat Rayyan.
"Jangan menghindar lagi Shafa, sudah cukup kamu hukum aku selama ini. Aku tidak akan sanggup kalau kamu menghukumku lebih lama lagi" Ujarnya.
Sudah saatnya berdamai dengan Ayah mu nak!
____________
__ADS_1
Hei..hei... Don forget to Like Vote and Raye yaaaw😍😘😘😘