
"Zafran mana yah?" Tanya Shafa begitu melihat Rayyan datang tanpa membawa Zafran.
"Di rumah ibu sayang" Ujar Rayyan. Ia segera memeluk istrinya dan mencium perut buncitnya.
"Kenapa di tinggalin disana Mas? Kalau nangis gimana?" Ujar Shafa yang merasa tidak tenang.
"Nggak akan nangis sayang. Dia malahan seneng." Ujar Rayyan sambil merangkul istrinya menuju kamar.
"Mas kok nggak bilang dulu sih kalau mau ninggalin dia disana?" Protes Shafa.
"Mas lagi pengen berduaan sama Mommy" Rayyan segera berbaring di pangkuan istrinya sambil bermain-main dengan perut Shafa..
"Masss?" Panggil Shafa.
"Hmmm.."
"Aku kok jadi takut ya" Ujar Shafa.
"Takut kenapa sayang?" Rayyan mendongak menatap Shafa.
"Kalau Zafran besar nanti, apakah dia akan tetap menyayangi kita. Walaupun kita bukan orang tua kandungnya" Ujar Shafa yang tidak bisa menyembunyikan rasa khawatirnya.
"Sayang, Dia pasti akan tetap menyayangi kita meski kita bukan orang tua kandungnya." Balas Rayyan.
"Oh ya, Ntar malam kita makan di luar yah. Mas kangen ingin jalan berdua dengan Shafa" Ujar Rayyan.
"Kok tumben sih Mas? Mas habis mimpi apa kok mendadak jadi romantis?" Ledek Shafa. Selama ini Rayyan memang tidak pernah berinisiatif buat jalan nge date kalau bukan permintaan dari Shafa.
"Shafa nggak mau?" Rayyan menatap Shafa.
"Mau..mau... Mau banget. Tapi Zafran gimana?" Lagi-lagi Shafa mengkhawatirkan bocah lucu itu.
"Nanti kita jemput dia" Ujar Ray.
Tepat setelah Shalat Magrib, seusai Dzikir dan mengaji Rayyan segera bersiap-siap untuk makan malam.
"Ayah kok ganteng banget Sih? Kita mau makan malam atau kondangan?" Tanya Shafa saat melihat suaminya mengenakan kemeja hitam lengan panjang.
"Makan malam sayang, Shafa buruan ganti bajunya" Jawab Rayyan.
Kalau mas Ray udah ganteng gitu. Aku harus cantik dong.
Shafa segera membuka lemarinya mencari pakaian yang cocok. Ia mengeluarkan beberapa baju dari dalam lemarinya tapi belum juga menemukan yang cocok. Tubuhnya yang semakin berisi meembuatnya sulit menemukan pakaian klik di hatinya.
__ADS_1
"Kenapa di bongkarin sayang" Tanya Rayyan yang bingung melihat istrinya mengeluarkan pakaiannya dari gantungan.
"Mas, nggak ada yang cocok" Jawab Shafa sambil cemberut.
"Kok nggak cocok? Bukannya ini semua baru. Kok udah nggak muat?" Tanya Rayyan sambil menatap tumpukan pakaian yang baru beberapa hari lalu di kirim dari tokonya.
"Bukan nggak muat Mas! tapi nggak cocok. Aku kurang sreg!" Ujar Shafa kesal.
Dia pikir aku badak apa? pake bilang nggak muat segala.
"Ini kan Shafa sendiri yang milih. Kok bisa nggak cocok?" Ujar Rayyan.
"Tau ah Mas.. Kalau nggak cocok ya nggak cocok" Jawabnya.
Bajunya bagus sih, Tapi kalau aku pake, aku jadi kelihatan gendut.
"Mas yang pilihin ya?" Ujar Rayyan yangbsudah berdiri di depan lemari pakaian istrinya. Ia mencoba memilihkan pakaian yang akan di gunakaan Shafa. Sebenarnya hanya makan malam, tapi Bumil cantik itu tidak ingin tampil biasa karena melihat suaminya yang tidak biasa.
"Yang ini saja yah, Mas ingin lihat Shafa pakai baaju ini" Ujar Rayyan sambil mengeluarkan sebuah gaun panjang berwarna hitam dengan taburan gliter di bagian pinggang dan ujung lengan, menambah kesan mewah pada gaun tersebut.
"Kok ini mas? Jangan-jangan mau kondangan ya?" Tanya Shafa saat melihat gaun yang di pilihkan suaminya.
"Nggak sayang. Shafa pakai ini aja biar makin cantik. Kan warnanya sama dengan baju Mas" Ujar Rayyan menunjuk kemeja hitam yangbia kenakan. Shafa langsung mengangguk senang. Sebenarnya sejak tadi ia ingin memakai gaun itu, tapi takut di anggap terlalu glamour. Setelah berganti baju ia segera berhias dengan make up tipis dan mengenakan hijabnya yang juga berwarna hitam.
"Cantik!" CUP!. Sebuah kecupan mendarat di pipinya.
"Ya udah, Yuk?" Rayyan menyodorkan taangannya untuk di apit oleh Shafa. Keduanya keluar dari kamar menuju ke luar.
"Mas kok sepi? Bi Lastri sama mbak Yati mana? Tanyanya. Mbak Yati adalah ART baru mereka. Dia bekerja Khusus mengurusi keeperluan Zafran. Selain Mbak Yati, ada juga Pak Ali yang juga meruupakan suami dari Mbak Yati yang menjadi S**ecurity rumah Rayyan.
"Mungkin lagi di belakang. Ayo keburu malam" Rayyan merangkul bahu Shafa, segera membawanya menuju mobil. Rayyan memacu mobilnya menuju ke tempat yang sudah ia pesan sebelumnya.
Setelah menempuh perjalan sekitar 15 menit sampailah mereka di sebuah restoran mewah. Terlihat beberapa pengunjung melihat ke arah mereka yang baru saja masuk. Rayyan berjalan dengan menggandeng tangan istrinya. Ia berjaalan melewati meja-meja yang berjajar menuju ke lantai 2 restaurant. Berbeda dengan di lantai dasar, suasana di lantai 2 sangat sepi.
"Mas kita mau kemana?" Tanya Shafa yang berjalan sambil menoleh ke kiri dan ke kanan.
"Sudah Sampai" Ujar Rayyan saat tiba di depan sebuah pintu kaca.
"Ada acara apa sih Mas?" Tanya Shafa ulyang nampak bingung. Mereka tidak seperti orang yang hendak makan malam.
"Kamu akan tahu segera" Bisiknya sambil mendorong pintu kaca tersebut.
"Maas!!!" Pekik Shafa langsung memeluk Rayyan saat mendapati ruangaan yang ia masuki gelap. Hanya ada cahaya temaram di sudut sana.
__ADS_1
"Yaumul Milad Mommy. Barakallahu fii Umriik" Bisiknya, kemudian lampu pun menyala. Shafa terkejut mendengar ucapan Rayyan terlibih saat ia melihat dimana ia beradaa saat ini. Ia berada di sebuah ruangan yang sekelilingnya di hias oleh ratusan bungan mawar Merah dan putih dan lampu-lampu kristal indah yang menambah kesan romantis. Shafa menutup mulutnya karena takjub dengan kejutan yang di berikan oleh suaminya.
"Mommy...Mommy" Terdengar suara Zafran yang memanggil ya. Shafa segera berbalik ke samping. Di lihatnya Zafran telah berdiri di sebuah kursi sambil bertepuk tangan kegirangan melihat kedataangan Shafa. Orang tua Shafa dan Rayyan juga berada di situ. Ia semakin terkejut saat bi Lastri dan Mbak Yati mendorong sebuah meja dorong yang berisikan sebuah kue tart bersusun tiga berwarna merah muda. Shafa baru menyadari bahwa hari ini adalah hari ulang tahunnya.
"Terima kasih, sudah menemani dan memberikan kebahagian untuk Mas. Terimakasih telah mau bersusah payah mengandung anak Mas. Maafkan Mas yang belum bisa membahagian Shafa. Maafkaan Mas yang masih sering membuat Shafa kesal. Mas hanya ingin mengatakan, sampai kapanpun, hanya Shafa yang ada di hati Mas, menjadi istri Mas dan ibu dari anak-anak Mas. Aku mencintai kamu kemarin, hari ini, dan selamanya" Ujar Rayyan dengan tatapan penuh cinta . Kemudian mencium kening Shafa.
Shafa tak mampu berkata-kata. Hanya air mata yang menggambarkan bahwa ia sangat bahagia dan terharu dengan semua kejutan yang di berikan Rayyan. Ia tak pernah menyangka suaminya akan seromantis ini. Ia pun tak pernah bermimpi mendapatkan perlakuan seistimewa ini dari suaminya yang memiliki sikap datar dan cuek itu. Shafa memeluk Rayyan erat sambil menangis haru.
"Loh, kok nangis? Aduh jangan nangis dong Mom. Acaranya belum di mulai" Ujar Rayyan yang melihat istrinya menangis.
"Isk..isk.. Aku terharu tau Mas" Ujarnya sambil mengusap air matanya.
"Ayo kesana, mereka sudah nungguin" Rayyan menuntun istrinya menuju sebuah meja panjang yang berisi beraneka macam hidangan.
"Mommy" Zafran segera memeluk Shafa yang datang ke arahnya. Ia mencium pipi Shafa.
"Makasih sayang" Ujar Shafa sambil mencium kening Zaafran yang masih berdiri di atas kursi.
"Selamat bertambah dewasa Nak, Semoga Shafa bisa menjadi Momny yang baik untuk Zafran dan adek" Mommy memeluk Shafa sambil mencium kedua pipinya. Begitu pula dengan Daddy dan ibu. Mereka semua mengucapkan selamat dan doa terbaik untuk Shafa.
"Mbak Shafa selamat ulang tahun ya. Semoga mbak Shafa dan keluarga selalu dalam lindungan Allah" Ujar Bi Lastri yang juga memnyalami dan memeluk Shafa.
"Terima kasih bi, sudah ikut repot ngasih kejutan ini" Ujar Shafa.
"Mommy aku mau itu" Ujar Zafran sambil menunjuk kue tart berukuran besar tersebut. Sontak hal iyu mengundang gelak tawa dari semua yang ada di situ.
"Oh iya, ayo kita potong kuenya" Ujar ibu. Shafa segera memotong kue berwarna pink tersebut kemudian mengambilkan potongan tersebut untuk Zafran. Tidak ada lilin ataupun nyanyian sorak sorai. Namun suasananya terasa sangat hangat dan penuh dengan nuansa kekeluargaan.
"Shafa!!!!" Panggil seseorang yang baru saja datang bergabung. Siapa lagi kalau bukan Vira dan Amel. Mereka berdua berlari menghampiri Shafa.
"Happy birthday sweety" Ujar Amel sambil memeluk dan mencium Shafa begitu pun Vira. Mereka membawa sebuah kotak kado berwarna putih.
"Wah ini buat gue kan?" Tanya Shafa menunjuk kotak yang di bawa Vira.
"Dasar Bumil kepo. Tau aja Lo" Jawab Vira sambil memberikan kotak putih tersebut.
"Makasih bebs" Ujar Shafa menerima kotak tersebut.
"Kita juga punya kado loh buat Mommy Zafran" Ujar Ibu yang mau kalah.
"Beneran Bu? Mana-mana?" Ujar Shafa penasaran.
"Semuanya sudah di bawa di mobil sama pak Madi" Ujar ibu.
__ADS_1
"Kita mulai saja makan malamnya. Seemua sudah lengkap kan" Ujar Ayah.
Mereka pun segera mengambil kursi dan menikmati makan malam yang telah di sediakan. Zafran dengan antengnya berada di pangkuan Mommy sambil menikmati kue ulang tahun yang membuat bibirnya belepotan. Semua berbahagia di malam pertambahan usia Shafa yang ke 25.