
Ceklek,
Setelah hampir 2 jam aku menunggu, akhirnya pintu di ruangan ini terbuka. Orang pertama yang ku lihat adalah laki-laki yang pagi tadi meninggalkanku.
"Maasss...." Aku berlari memeluknya erat sekali, Ku benamkan wajahku di dadanya.
"Sayang, dari tadi?" Tanyanya. Ia masih memelukku mendudukanku di sofa
"Ayah mana?"
"Ayah masih ada urusan dengan beberapa wali murid"
"Maafin aku mas, aku udah bikin susah mas Ray dan ayah..hiks... Aku--" Ucapaku di sertai isak tangis.
"Udah-udah, ga papa" Dia menenangkanku, menepuk nepuk punggungku.
"Ayah pasti marah... Aku takut ayah benci sama aku, aku takut ayah alan mecat aku jadi menantu" Ujarku.
"hahaha... Shafa ini ngomong apa sih" Ucapnya mengusap pipiku yang basah.
"Mas, kenapa ga bilang masalah ini ake aku? Untung aja Tasya ngasih gau aku. Hampir aja aku susulin kalian ke ruang rapat" Ucapku kesal.
"Mas ga mau bikin kamu khawatir sayang" Ucapnya mendekap kepalaku lembut.
"Jadi ini alasannya mas ngelarang aku ngajar lagi" Aku mendongakkan kepalaku. Dia ga menjawab hanya menghendikan bahunya.
"Mas, apa aku akan di pecat?" Tanyaku sambil menatapnya.
Mas Ray tersenyum menatapku. "Siapa yang berani mecat menantu kesayangan pemilik yayasan hm?" Ujarnya menarik ujung hidupku yang mungkin sudah berubah warna.
"Terus rapat tadi? kata tasya ada orang tua siswa yang keberatan setelah melihat foto itu, Mas Ray juga pasti sudah lihat kan?"
"Hmm"
__ADS_1
"Mas jangan cuma hmm..hmmm aja dong" Protesku.
"Iya, semalam ada yang ngirim foto ke Mas, beberapa wali siswa dan juga Ayah" Ucapnya tenang.
"Terus...Terus" Aku tak sabar mendengar jawabannya.
"Ya Terus Mas hubungi Sam menanyakan foto tersebut" Jawabnya. Astaga ****** aku, semoga Sam ga salah ngomong.
"Sam ngomong apa" Aku menatap mata suamiku menuntut jawaban cepat.
" Sam bilang itu foto lama waktu kalian jalan-jalan ke Berlin." Hhhhh... aku mengusap dadaku. Untung Sam ga bilang kalau waktu itu aku bikin keributan gara-gara mecahin botol di kepala laki-laki yang hendak melecehkanku dan harus berurusan dengan pihak berwajib. Untung laki-laki itu ga sampai cidera parah.
"Dia juga bilang kalau--"
"APA?" Aku melotot ke arahnya.
"Ga jadi ah.." Ucapnya terkekeh.
"Maaasss!!!" Teriakku. Aku sudah pasang kuping baik-baik malah ga jadi.
"Terus tadi di ruang rapat apa yang terjadi? Kenapa semua guru dipanggil?Terus orang tua siswa yang keberatan gimana? Jawab mas jawab!" Tanyaku tak sabar.
***
Di ruang ruang rapat.
Nampak para guru saling pandang. Mereka ada yang sudah mengetahui perihal foto yang beredar di grup siswa dan orang tua. Ada juga yang belum mengetahui karena foto tersebut tidak di share di grup guru.
"Ga nyangka ternyata bu Shafa kaya gitu lehidupannya"
"Ia apa jadinya siswa sekolah ini kalau gurunya seperti itu. Bisa bisa mereka di ajarin ke club lagi"
"Iya ih, cantik cantik tapi bejad"
__ADS_1
"Hush jangan buruk sangka dulu. Kalian ga tau yang sebenarnya terjadi" Bu Anne menyela di antara guru-guru yang sedang bergosip.
"Iya, aku percaya bu Shafa itu orang baik" Imbuh bu Ita.
"Eh aku kok ga liat bu Shafa? Apa dia sudah tau masalah ini?" Ujar pak Adit suami bu Anne.
"Ya iyalah, mana berani sih dia muncul. Kecuali udah ga punya malu" Ucap Tania dengan ketus.
"Bu Tania ada masalah apa sih sama bu Shafa, dari kemaren nyolot terus ngomongnya. Jangan-jangan bu Tania ya yang nyebarin foto itu" Tuding pak Rudi.
"Enak aja, jangan asal nuduh ya pak Rudi" Tania mengibaskan rambutnya berjalan keluar ruang rapat.
Tak lama kemudian pintu ruangan terbuka. Pak Luthfi, beserta kepala sekolah dan beberapa wali siswa memasuki ruang rapat. Pak Haris selaku kepala sekolah membuka rapat tersebut dengan beberapa penyampaian diantaranya adalah menyampaikan tujuan rapat untuk menindak lanjuti foto yang di kirim oleh seseorang yang belum diketahui identitasnya. Foto salah seorang guru yang sedang berada di sebuah Club malam dengan penampilan dan gaya yang tidak senonoh di anggap melanggar kode etik sebagai seorang guru yang bukan haanya di dengarkan ucapannya tetapi di ikuti tindak tanduknya. Sebelum memulai diskusi pak Haris meminta Pak Luthfi sebagai pemilik yayasan untuk memberikan sambutan. Pak Luthfipun mulai sabutannya dengan salam dan masuk ke penyampaian inti.
"...... Saya sangat marah begitu mengetahui rumor yang beredar di sekolah kita ini. Selama ini, saya cukup selektif dalam memilih tenaga pengajar di tempat ini. Saya yakin guru-guru yang telah saya pilih bukan hanyaa berkepribadian baik tapi juga berkompenten di bidangnya masing-masing. Terkait masalah foto bu Shafa yang beredar, yang di anggap telah mencoreng nama yayasan dan telah melanggar kode etik guru, akan ada yang mengklarifikasi masalah itu nanti. Saya sangat menyayangkan hal ini terjadi di sekolah kita. Terutama pengirim foto tersebut adalah nomor yang tidak di kenal. Tentu hal ini menjadi tanda tanya besar bagi saya pribadi sebagai pemilik yayasan. Satu hal yang perlu bapak ibu sekalian ketahui, Bu Shafa mengajar disini bukan semata-mata karena kami memiliki kedekatan emosional akan tetapi karena beliau memang berkompeten. Shafa Azura merupakan lulusan terbaik pada angkatannya, selain itu beliau juga alumni pertukaran pemuda di beberapa negara di eropa dan pernah mewakili Indonesia di beberapa even Internasional. Meskipun bacground pendidikan beliau bukan dari guru tetapi kemampuan beliau mengajar tidak di ragukan terbukti dari beberapa kelas yang beliau ajar berhasil menjuarai kegiatan yang belum pernah di ikuti sebelumnya. Harapan saya dengan adanya beliau disini bisa membagikan pengalaman baru kepada putra-putri kita" Ucap pak Luthfi.
"Tapi pak bagaiman dengan Attitude beliau yaang sama sekali tidak mencerminkan siikap seorang pendidik. Saya khawatir anak-anak kami akan meniru bu Shafa. Kalau hal itu sampai terjadi siapa yang akan bertanggung jawab?" Sanggah salah seorang wali murid yang hadir.
"Benar pak, Saya takut anak anak kami jadi ikut-ikut kebiasaan bu Shafa ke Club bahkaan memakai tato. Lebih baik bu Shafa di keluarkan saja dari sekolah ini. Karena kami tidak ingin anak-anak kami tertular kebiasaan bejadnya" Imbuh seorang wanita yang tak lain adalah ibu dari Tania. Adik Tania juga merupakan salah satu siswa di sekolah itu. Orang tuanyapun merupakan salah satu donatur tetap yayasan tersebut. Tak heran jika Tania bersikap angkuh dan sok.
"Sebelum saya putuskan, lebih baik kita dengarkan dulu klarifikasi terhadap foto yang beredar, agar fear . Karena kita tidak bisa memutuskan sesuatu hanya karena permintaan satu pihak. Kita perlu mendengarkan penjelasan dari pihak bu Shafa agar tidak ada pihak yang merasa di rugikan ataupun dizholimi" Ucap Pak Haris.
"Betul"
"Setuju"
Suara beberapa orang di ruangan tersebut.
"Baiklah, silahkan dari pihak bu Shafa memberikan klarifikasi dan sanggahan" Pak Haris mempersilahkan.
Semua mata tertuju pada seseorang yang baru saja masuk menuju podium. Wajah yaang datar tenang tanpa ekspresi swolah menyiratkan amarah yang terpendam.
.
__ADS_1
.
Jangan lupa tinggalin jejakmu di bawah😍 Like, Vote and Rate juga ya😍😘