Jodoh Pilihan Allah

Jodoh Pilihan Allah
Surat Untuk Mommy


__ADS_3

"Ummi bolehkah saya tinggal lebih lama disini? Saya ingin belajar lebih banyak tentang agama." Ucap Shafa pada wanita yang telah membawanya kesini.


"Tentu saja Nak, tapi kamu punya keluarga dan suami. Apakah keluargamu tidak akan mencarimu?" Tanya Ummi yang saat ini sedang meracik makan malam.


Shafa diam tak menjawab. Ia masih sakit hati dengan perlakuan Rayyan padanya.


Mommy dan Daddy pasti akan mencariku. Apa aku harus menghubungi mommy? Kalau aku beri tahu, pasti mereka akan menjemputku kesini. Kalau aku diam saja pasti Daddy tidak akan tinggal diam. Aku harus bagaimana?


"Nak, kalau kamu masih marah pada suami mu, setidaknya ingatlah ibumu. Karena kamu juga akan menjadi seorang ibu. Ibu adalah orang yang paling terluka jika anaknya terluka. Ummi tidak menyuruhmu pulang jika kamu masih ingin menenangkan diri, tapi setidak nya berilah kabar pada ibu mu agar dia tidak khawatir." Ujarnya.


Benar mommy pasti sangat khawatir. tapi, kalau aku menelfonnya mereka pasti akan melacak keberadaanku. Bagaimana caranya aku menghubungi mommy?


Surat!


Aku menulis surat saja.


"Ummi, Shafa ke kamar dulu ya mau menulis surat untuk Mommy" Pamit Shafa yang di angguki oleh wanita yang sudah seperti ibu ke dua baginya.


"Bilqis, boleh kakak minta kertas dan pulpen?" Ujar Shafa pada seorang gadis berusia 14 tahun itu.


Bilqis adalah cucu dari Kyai Haji Mahfudz Maulana dan Ummi Khodijah. Kedua orang tuanya telah wafat dalam sebuah kecelakaan sehingga membuat Bilqis di asuh oleh kakeknya. Di rumah yang di sebut ndalem ini, Shafa menempati kamar yang sama dengan Bilqis.


"Ini kak, kakak mau ngapain.?" Tanya Bilqis setelah menyerahkan buku dan pulpen.


"Kakak mau menulis surat untuk Mommy"


"Apa kakak akan pulang? Padahal baru sebentar kakak disini." Ucap Bilqis sedih.


"Tidak Qis, kakak hanya mau kasih tau Mommy kalau kakak baik-baik saja" Jawab Shafa.


"Kenapa nggak telfon saja kak" Tanya Bilqis lagi.


"Enggak, kartu kakak belum di registrasi" Jawab Shafa. Kemarin ia memang sempat membeli handphone dan nomor baru tapi sama sekali belum ia buka.


Shafa mulai menulis bait demi bait surat untuk orang tuanya. Ia tidak ingin mereka khawatir tapi ia juga tidak ingin mereka mencarinya.


Shafa meneteskan air matanya setelah membaca kembali suratnya.


"Kakak kenapa menangis" Tanya Bilqis yang sejak tadi setia menemani.


"Kakak ingat Mommy" Ucapnya lirih.


"Kata abah, kalau kita rindu pada kedua orang tua kita. Cukup doakan mereka. Karena doa adalah obat yang paling mujarab" Ucap Bilqis.

__ADS_1


"Terima kasih Bilqis" Shafa mengusap lembut kepala gadis itu. Setidaknya dia lebih beruntung karena di usianya yang hampir seperempat abad, ia masih memiliki orang tua lengkap. Sedangkan Bilqis, harus menjadi yatim piatu saat usianya baru Mmengijak 5 tahun.


Terima kasih ya Allah, telah mempertemukanku dengan orang-orang baik.


"Bagaimana Nak, apa kamu betah berada disini?" Tanya Kyai Mahfuz setelah usai makan malam.


"Alhamdulillah, Shafa betah abah." Ujar Shafa. Disini ia belajar untuk berbicara lebih sopan.


"Alhamdulillah... Oh ya besok beberapa santri akan pergi ke kota, apakah Shafa ingin menitip sesuatu. Biasanya ibu hamil kan suka ngidam" Tanya pak Kyai yang akrab di panggil abah.


"Shafa, tidak ingin apa-apa abah. Tapi kalau boleh Shafa ingin menitip surat untuk di kirim kepada Mommy" Ujar Shafa.


"Oh iya, nanti berikan saja pada Bilqis. Bilqis! Nanti kasi surat kak Shafa ke Mbak Nurul ya?" Ujar abah.


"Abah, Shafa ingin memberikan sesuatu..." Ujar Shafa ragu.


"Apaa itu Nak?" Tanya Abah ke heranan.


Shafa beranjak menuju kamar untuk mengambil sesuatu.


"Ini abah, Mohon di terima" Shafa memberikan sebuah amplop coklat berisi uang sebanyak 20 Juta rupiah. Uang hasil penjualan handphone nya kemarin. Shafa tidak memberikan seluruhnya karena ia juga membutuhkan uang untuk berjaga-jaga.


"Apa ini nak?" Abah dan Ummi terkejut melihat Shafa memberikan amplop tersebut.


"Masya Allah, Alhamdulillah. Semoga Allah memberkahi setiap niat baikmu nak. Shafa boleh tinggal dan belajar di sini. Semoga Allah memudahkan semuanya." Ujar Abah yang di amini oleh Shafa, Umi dan Bilqis.


🍃🍃🍃🍃


Siang ini Mommy Shafa sudah diperbolehkan untuk pulang setelah semalaman di rawat di rumah sakit karena shock. Rayyan dan kedua orang tuanya pun ikut serta menemani Fanny yang masih dalam kondisi lemah itu. Mereka masih terus mencari cara untuk menemukan Shafa. Rayyan bahkan sudah meminta bantuan beberapa intelejen dan detektif handal untuk mencari Shafa.


"Permisi Mas, ada surat buat nyonya Fanny." Ujar pembatu sambil memberikan amplop berwarna putih kepada Rayyan yang sedang mengambil air di dapur.


"Terima kasih mbak" Rayyan mengambil surat tersebut dan segera memberikan nya kepada Fanny yang sedang berdiskusi dengan ayah adan ibunya di ruang tengah.


"Mom, ada surat untuk mommy" Rayyan memberikan surat tersebut.


"Dari siapa?" Fanny segera membuka dan membacanyanya. Seketika air matanya jatuh membuat mereka yang berada disana bertanya-tanya.


*Dear Mommy


Mommy, Shafa harap mommy baik-baik saja sebagaimana Shafa di sini.


Mom, Mas Rayyan pasti sudah menceritakan semua pada Mommy dan Daddy. Maafkan Shafa Mom, Shafa melakukan semua itu untuk mempertahankan apa yang menjadi milik Shafa, tidak lebih. Mereka jahat Mom, mereka mau mengambil mas Ray dari Shafa.

__ADS_1


Mommy dan Daddy tidak perlu khawatir dengan Shafa, Shafa di sini berada di tempat yang aman bersama orang-orang baik. Shafa ingin menenangkan diri. Shafa lelah Mom. Oh ya Mom, Sampaikan maaf Shafa pada Daddy karena Shafa menjual handphone pemberian Daddy.he.he.he.


Tolong jangan cari Shafa mom, Shafa akan mengirim kabar tiap minggu asal Mommy dan Daddy tidak mencari Shafa. Dan satu lagi, Mommy tak perlu khawatir Shafa sendiri, karena saat ini ada Shafa kecil di dalam sini yang akan menemaniku. Usianya baru 7 minggu. Minggu depan akan ku kirimkan fotonya. Doakan kami mom.


I Love You Mom, Dad❤️


-Shafa Azura*-


"Kenapa Fan?" Tanya ibu yang duduk disebelah nya. Mommy tidak menjawab, ia memberikan surat itu pada ibu dan terus


terisak.


"Ya Allah Shafa!!!" Teriak ibu sambil menutup mulutnya, membuat tiga orang pria di tempat itu terlonjak. Ibu pun ikut menangis.


"Cucuku" Lirihnya.


Rayyan segera mengambil kertas di tangan ibu dan membacanya. Badannya langsung terasa lemas. Ia terduduk, kakinya seakan berat untuk berdiri. Air matanya pun tak bisa di bendung. Penyesalannya begitu dalam ia rasakan.


Annakku, maafkan ayah mu nak! Kamu di mana Shafa?


"Benar kan ibu bilang. Shafa pasti sedang hamil. Kamu harus temukan dia Ray, Harus!" Ujar ibu sambil terisak.


"Kalian ini bagaimana? Masa tiga orang tidak bisa menemukan Shafa." Omel Momny yang menambahi.


"Sabar Mom" Daddy berusaha menenangkan Mommy begitu pun Ayah. Memang sulit menenangkan para ibu dalam kondisi seperti ini.


"Kita sudah sama-sama baca. Shafa ingin menenangkan diri. Dia juga berada di tempat yang aman dan berjanji akan mengabari kita. Berilah dia kesempatan untuk menyendiri dulu. Daddy percaya pada Shafa" Ujar Daddy .


"Nggak bisa! Shafa lagi hamil. Siapa yang menjamin dia berada di tempat yang aman? Kalau dia ngidam bagaimana? Kalau dia sakit atau ingin sesuatu bagaiman?" Ibu yang merasa tak terima ikut angkat bicara.


"Mommy juga nggak setuju. Pokoknya Shafa harus pulang secepatnya. Harus!!!" Ujarnya penuh penekanan.


"Fan, bu. Tenang dulu. Dengarkan ayah bicara. Shafa berinisiatif menulis surat, tandanya dia masih ingat kita, dia tidak ingin kita khawatir. Dia juga secara tidak langsung sudah menjelaskan alasan dari tindakannya yaitu untuk mempertahankan Rayyan. Dia juga jujur telah menjual handphonenya juga tentang kehamilannya. Apalagi yang kita ragukan dari Shafa? Kali ini biarkan dia melakukan apa yang dia inginkan, toh dia akan mengirim kabar setiap pekannya. Menurut Ayah dia tidak ingin di ganggu. Buktinya dia mengirim surat padahal bisa saja dia menelfon atau SMS. Dan kita harus hargai itu." Ujar ayah. Mereka semua terdiam dan mulai berpikir bahwa yang di katakan ayah itu benar.


"Dan kamu Ray!!! Tugasmu adalah mencari tahu apakah yang di katakan istrimu itu benar atau tidak! Jangan jadi laki-laki pengecut yang hanya menilai sesuatu dari sudut pandangmu saja!!!" Tegas ayah.


_____________


Curhat dikit ya. Aku suka ketawa baca komen kalian tau ga? Di awal episode pada banyak yang muji mas Ray dan nge begoin Shafa. Lha pas eps kebelakang senua pada gemezz sama mas Ray🤣🤣🤣 Intinya ga ada manusia yang sempurna.. Begitu juga Author yang ga sempurna, Apalagi para reader udah minta up dan Authornya lagi mumet.. Aku hanya bisa berbisik. Aku hanya manusia biasa😁😁


Overall, Thank you buat yang udah baca dari awal. Komen kalian adalah penyemangatku❤️😘😍


Jangan Lupa untuk Like, vote and rate bintang 5. Ya..❤️❤️❤️

__ADS_1


__ADS_2