
Suara teriakan histeris menggema di aula pesta tersebut. Tidak ada angin tidak ada hujan tiba-tiba lampu padam dan saat menyala seseorang sudah tergeletak di atas lantai dengan darah yang terus mengalir. Ini seperti sebuah pembunuhan yang telah di rencanakan dan di susun secara rapi.
Tak lama kemudian polisi, media dan tim medis datang untuk memberikan pertolongan dan meliput kejadian tersebut. Pesta yang tadinya meriah kini berubah menjadi hening saat satu per satu dari mereka di giring menuju ke ruangan di sebelahnya. Sedangkan jasad pria yang diketahui bernama Joseph Alguero tersebut, langsung di bawa ke rumah sakit untuk dilakukan otopsi.
"Ah sial!" Jeffri memukuk stir mobilnya.
"Mereka sudah mencium keberadaan kita. Kita harus lebih hati-hati Jeff" Ujar wanita yang bersamanya tadi.
"Apakah kamu sudah memasang alat pelacaknya Alice?" Tanya Jeffri pada rekan sesama intelegennya.
"Yups... Kita akan memantaunya di markas. Ayo cepat! Aku sudah tidak tahan berpakaian seperti perempuan sungguhan" Gerutunya sambil memandang pakaiannya yang terbuka.
"Kau memang perempuan Alice" Sanggah Jeffri.
"Benar! Tapi Itu hanya jika di hadapan komandan" Sahutnya Asal.
Alice merupakan salah satu teman Jeffri yang juga seorang polisi namun jarang sekali terlihat memakai seragam kepolisian. Dia cantik, cerdik dan seorang penembak jitu. Keduanya selalu dipasangkan dalam menghadapi misi berat. Jangan harap mereka akan cinlok, karena Alice hanya tertarik dengan atasannya yang sudah memiliki istri, dan Jeffri sendiri hanya mencintai satu wanita sejak dulu hingga kini. Dia adalah Dzatu Annithaqaini yang sekarang menjadi istrinya.
Sesampainya di markas mereka Jeffri dan Alice segera membersihkan diri dan menghadap laptop mereka masing-masing.
"Jeff, dengar ini!" Ia memberikan earphone nya pada Jeffri.
"Well, 2 hari lagi misi yang sesungguhnya baru akan di mulai. Kau sudah siapkan semuanya Alice?" Tanyaanya, melirik gadis tomboy di sebelahnya.
"Yups, berarti dua hari ini kita bisa istirahat"
"Tidak! Firasatku mengatakan ... " Jeffri tak melanjutkan ucapannya.
"Kita harus menyusun plan B, karena aku merasa mereka sudah mengetahui rencana kita!" Ujar Jeffri yang nampak berfikir keras.
****
Sudah dua hari ini Zafran di antar oleh Omanya ke Sekolah. Sudah dua hari pula Aini tak nampak di sekolah, padahal mommy ingin sekali ngobrol dengannya.
Saat anak-anak hendak melaksanakan apel pagi Aini muncul setengah berlari dengan menuntun Hafiz. Hafiz pun langsung menuju ke barisan.
"Kamu dari mana saja, kok baru muncul?" Tanya mommy tiba-tiba, membuat Aini kaget bercampur bingung.
__ADS_1
Bu Fanny bertanya padaku?
"Saya bu?" Dia menunjuk dirinya sendiri memastikaan pertanyaan itu di tujukaan padanya.
"Iya, ayo duduk sini" Ujar mommy ramah sambil menepuk bangku kosong di sebelahnya.
Glek! Aini dengan perasaan canggung dan was-was duduk di sebelah mommy Shafa.
"Kenapa sudah dua hari Hafiz tidak masuk? Zafran setiap hari menanyakan" Tanya Mommy mencairkan suasana canggung.
"Emm... Mama saya sedang sakit bu, jadi tidak ada yang mengantar Hafiz" Ujar Aini sopan.
"Terus gimana kondisi mama mu? Apa sudah baikan?"
"Alhamdulillah, mama sudah agak mendingan bu. Oh ya Shafa apa kabar? Apa dia sudah melahirkan?" Aini memberanikan diri untuk bertanya.
"Shafa baik, hanya sudah mulai pegal-pegal pinggangnya jadi sementara waktu saya yang mengantar Zafran. Oh ya kita ngobrol di cafe samping ya. Mumpung anak-anak sedang belajar" Ajak Mommy. Aini mengangguk. Dalam hati ia senang Fanny bersikap ramah padanya namun di sisi lain dia juga sedih mengingat suaminya.
"Oh ya Aini. Bagaimana kabar Jeffri? Apa dia sudah menghubungimu?" Tanya Fanny dengan tatapan penuh harap.
"Mmm... Iya bu, terakhir semalam dia menghubungi Aini" Jawabnya.
"Apa dia baik-baik saja?" Tanyanya lagi.
"Dia baik-baik saja bu, Mas Jeff hanya minta doa agar bisa kembali dengan selamat." Ujar Aini. Ada kesedihanbyangbmendalam saat ia mengatakan itu. Karena ucapan Jeffri saat menelfon Aini semalam begitu dalam.
Mommy terdiam, ia menarik nafasnya dalam-dalam.
"Apa Jeffri pernah bercerita sesuatu padamu?" Tanya Mommy sambil menatap Aini.
"Mas Jeffri hanya selalu mengatakan dia rindu pada keluarganya" Tak terasa Air mata aini menetes.
"Mas Jeffri adalah orang yang sangat baik dan penyayang. Terkadang saya merasa tidak pantas untuknya. Saya pernah menghianati cintanya meski itu bukan kemauan hati saya. Tetapi dia tetap berdiri tegar menjadi pelindung saat saya benar-benar rapuh. Saya tahu mas Jeffri yang terlihat kuat dan tegar sebenarnya sangat lemah. Dia menyimpan sendiri rasa sakitnya selama ini. Dia tidak pernah mengutarakan isi hatinya pada orang lain dan keinginan nya yang sesungguhnya. Dia hanya akan berdiri di tempatnya, memandang orang-orang yang di cintainya dan akan sekuat tenaga ia lindungi..." Aini tak sanggup melanjutkan kalimatnya. Ia menangis sesunggukan mengingat betapa pilunya perjalanan hidup suaminya.
Sebuah pelukan hangat menyadarkan dirinya balahwa ia tidak sendiri di tempat itu. Mommy Shafa memeluknya seperti ia memeluk anaknya sendiri. Tak berbeda jauh dengan Aini, dia juga menangis merasakan sakit yang sangat mendalam di hatinya.
"Katakan pada Jeffri, kami menunggunya!" Ujar Mommy sambil mengusap air matanya.
__ADS_1
Sementara dirumah Shafa ia sedang beristirahat setelah berjalan-jalan di sekitar halaman sambil melihat-lihat tanaman buahnya yang sudah mulai tumbuh tunas baru. Pasca dipindahkan, beberapa tanaman nampak layu dan berguguran daunnya. Namun kini semua sudah mulai menghijau dengan tunas yang baru.
"Sini ibu urut kakinya, supaya tidak terlalu bengkak" Ujar ibu. Ia juga ikut andil dalam merawat menantu kesayangannya tersebut.
"Jangan bu, nanti Shafa berdosa. Masa ibu yang ngurut kaki Shafa" Tolaknya ia merasa tak enak jika ibu mertuanya harus menyentuh kakinya.
"Siapa yang bilang berdosa? Ngak papa, ayo sini duduk! Dulu, waktu ibu hamil tua, ibunya Ayah juga sama kaya ibu. Tiap pagi dan malam beliau selalu mengurut ibu" Terangnya sambil mulai membalurkan minyak yang di bawanya pada permukaan kaki dan betis Shafa. Beruntung Shafa memiliki orang tua dan mertua yang begitu sayang dan perhatian padanya. Tidak seperti kisah yang biasa ia tonton di serial tv ikan terbang, dimana selalu terjadi selisih paham antara mertua dan menantu.
"Ibu, ibu dulu melahirkan mas Rayyan secara normal atau oprasi?" Tanyanya pada ibu mertua yang begitu perhatian.
"Normal dong sayang. Yang oprasi waktu itu mommy mu" Jawab ibu. Dia sudah mengenal Mommy dan daddy Shafa sejak Shafa belum lahir.
"Ibu berarti tahu waktu Shafa lahir?" Tanyanya kemudian.
"Ya tahu donk, saat itu ibu dan ayah ikut menenangkan daddy kamu yang begitu panik" Jawabnya. Shafa cekikan mendengar jawaban ibu membuatnya semakin penasaran.
"Terus...terus bu? Berarti mas Ray waktu itu sudah besar dong?" Tanya Shafa lagi.
"Iya, saat itu Rayyan sudah kelas satu SD. Dia juga ikut ibu pada saat mommymu mau di operasi"
"Terus? Mas Rayyan lihat aku waktu masih bayi dong bu?" Tanyanya sambil senyum-senyum sendiri.
"Ia, kamu waktu masih bayi cantik sekali, hidungnya ini loh selalu bikin ngiri. Rayyan sampai ngerengek minta di buatin adik juga. Malah pernah dia nangis karena ibu ajak pulang tapi dianya malah mau bawa kamu pulang juga" Terang ibu.
Ya ampun mas Ray, jadi sejak bayi kamu udah demen sama aku!
"Beneran bu? tapi Shafa kok sama sekali nggak ingat ya masa kecil sama mas Ray, kenal juga pas udah besar." Ujar Shafa. Kalau waktu kecil saja mereka sudah dekat, kenapa setelah dewasa malah saling acuh seolah tak kenal?
"Karena ibu sempat beberapa kali ikut ayah pindah tugas. Tapi Rayyan masih sering nanyain kamu loh. Dia malah ngasih tahu ibu kalau kamu waktu itu sudah jadi artis" Balasnya.
"Hah? Yang bener bu?" Shafa terlonjak tak percaya.
"Bener! Cuma waktu itu, katanya Shafa udah nggak cantik lagi." Imbuh ibu
"APA? Mas Ray bilang gitu?"
Awas kamu mas, ngatain aku nggak cantik lagi. Walaupun bibirmu waktu itu bilang aku nggak cantik tapi nyatanya hatimu kecantol juga. Dasar mas Ray, lain di bibir lain di hati!!!
__ADS_1