
Setelah bertukar cerita dan mendengar curhat bu Sonya, sekarang Shafa merasa mendapatkan teman baru. Bu Sonya dengan sikap humble dan terbukanya mampu membuat bumil super sensitif itu bersahabat dengannya. Yang terpenting karena bu Sonya sudah memiliki pria idaman alias gebetan yang membuat Shafa yakin ia tidak akan mengganggu ketenangan dan ketentraman rumah tangganya.
Setelah mengantar bekal makan siang Rayyan Shafa tidak langsung pulang. Ia tettap tinggal untuk menemani Rayyan sampai jam pulang.
Keberadaan Shafa di ruangan Rayyan membuatnya tidak nyaman bekerja, Karena Shafa selalu mengamati setiap orang yang masuk, terutama jika itu perempuan.
"Mas, habis ini anterin aku yah?" Pintanya setelah selesai menunaikan shalat Ashar.
"Mau kemana sayang?" Tanya Rayyan sambil merapikan sajadahnya.
"Jalan-jalan sore mas" Ujarnya bahagia.
"Mau jalan-jalan kemana sih? Memangnya Shafa nggak capek? Barusan pulang udah mau pergi lagi" Balas Rayyan. Kali ini ia sedang memainkan ponselnya di atas karpet.
"Aku ingin ke pasar Mas. Kaya orang-orang" Jawab Shafa. Ia sudah verada di depaan cermin berputar-putar memperhatikan penampilannya dengan dress panjangnya.
"Memangnya orang-orang kenapa sayang?"
"Yah, mereka pergi ke pasar belanja di antar sama suaminya mas!" Ujar Shafa yang bersikeras ingin pergi ke pasar.
"Shafa kan selalu mas antar belanja di Swalayan biasa."
"Aku maunya pasar mas, PASAR!" Terangnya dengan nada mulai meninggi.
"Shafa yakin? Di pasar panas, berdesak-desakan. Shafa mau beli apa? Biiar suruh Bi Lastri saja ya?" Bujuk Rayyan. Ia khawatir dengan istrinya yang memaksa ingin pergi ke pasar.
"Gak Mau! Kalau mas nggak mau antar aku pergi sendiri aja" Jawab Shafa. Ia sudah siap dengan jilbab segitiganya.
"Mas hanya khawatir sayang. Kamu lagi hamil , nanti kenapa-napa bagaimana? Lagian Shafa nggak pernah ke pasar kenapa jadi pengen ke pasar?" Ujar Rayyan yang bingung dengan keinginan istrinya.
"Siapa bilang aku nggak pernah ke pasar. Mas kira di pesantren ada Mall dan Swalayan? Nggak ada Mas! Aku dan anakmu ini sudah belajar pergi kepasar sejak di pesantren. Jadi nggak sudah lebay! Ayo cepat siap-siap!" Perintah Shafa. Rayyan masih tidak percaya dengan yang di katakan istrinya, tapi nyatanya memang benar di pesantren jauh dari Swalayan apalagi Mall.
"Iya..iya... Ayo" Rayyan beranjak mengambil Jaketnya dan kunci mobil. Namun tangannya di tahan oleh Shafa.
__ADS_1
"Kita naik motor ya.. heee" Ujarnya dambil meringis.
"Hah? Enggak! Mas Nggak setuju. Kamu lagi hamil Shafa. Pikirkan anak yang ada di dalam kandunganmu!" Tukasnya tegas.
Mendengar penolakan Rayyan hati Shafa terasa seperti di cubit. Matanya mulai memerah dan genangan itu pun dengan cepet tumpah.
"Sayang....Kok Nangis sih" Rayyan mencoba menenangkan Shafa yang langsung tertunduk.
"Ya sudah iya... ayo!" Akhirnya Rayyan lah yang mengalah. Shafa segera meengankat wajahnya dan tersenyum bahagia. Rayyan terpaksa mengantar Shafa ke pasar dengan menggunakan motor matic yang terparkir di garasinya demi menghindari pertengkaran yang tidak ada ujungnya.
"Huuuuuuu..... aaaaaaaaaaa" Teriak Shafa sambil merentangkan kedua tangannya. Perasaannya senang tak terkira. Baru pertama kalinya ia menikmati sore dengan naik motor.
Ternyata seperti ini rasanya jalan-jalan sore seperti orang-orang. Kitaa harus sering-sering ngajak ayahmu naik motor Nak. Mobilnya suruh jual Saja.
"Shafa!!! diam, pegangan!!!" Teriak Rayyan yanh sejak tadi tidak fokus karena teriakan istrinya yang sangat kegirangan.
Shafa langsung mengeratkan pelukannya ke perut suaminya.
"Aku suka naik motor Mas" Ujarnya.
Setelah berkendara sekitar 10 menit akhirnya mereka tiba di sebuah pasar Tradisional yang ramai pengunjung. Rayyan meembukakan helm Shafa kemudian memasangkan masker di wajahnya.
"Ayo!" Rayyan menggandeng tangan istrinya masuk kedalam pasar.
"Shafa mau beli apa?" Tanya Rayyan pada ostrinya sejak tadi hanya berjalan tanpa membeli apapun.
"Jambu Air mas. Kata bi Lastri di pasar banyak yang jual buah buahan yang nggak ada di swalayan" Jawab Shafa.
"Jambu Air?"
Jadi jauh-jauh kesini hanya ingin beli jambu air? Ya Allah Nak, kenapa nggak ingin apel atau strawberry saja sih.
"Nah itu mas" Tunjuk Shafa pada sebuaah lapak penjual buah yang menjual jambu air berwarna merah muda itu. Rayyan mengikuti langkah kaki istrinya tanpa meleaskan pegangan tangannya.
__ADS_1
"Ini berapa pak?" Tanya Shafa sambil memegang jambu air segar tersebut.
"20 ribu sekilo bu, ini baru di petik bu. Masih segar" Ujar bapak itu.
"Saya mau sekilo pak, dengan jeruk dan belimbingnya ya pak" Ujar Shafa. Dengan senang hati penjual tersebut membungkuskan pesanan Shafa setelah sebelumnya di timbang.
"Tuh kan Mas bener yang di bilang bi Lastri. Yang kaya gini tuh nggak ada di Swalayan. Dan ini tuh lebih segar dan sehat" Ujar Shafa yang merasa dirinya menang.
"Hmmmm" Jawab Rayyan malas.
Setelah membayar buah buahan tersebut, mereka berjalan kembali menyusuri lorong lorong penuh penjual yang ada di pasar tesebut.
"Mau beli apa lagi sayang?" Tanya Rayyan yang merasa istrinya belum puas belanja buah.
"Aku ingin makan kerang Mas, kayaknya penjual ikan di sebelah sana" Ujar Shafa menunjuk jajaran penjual yang sedikit terpisah dengan penjual lainnya.
"Suruh bi Lastri saja ya? Kita pulang saja" Ujar Rayyan. Karena ia berfikir di tempat penjual ikan pasti amis dan becek. Ia takut kalau Shafa sampai mual karena bau yang tidak sedap.
"Nggak usah mas, mumpung disini" Ujarnya sambil menarik tangan Rayyan ke tempat yang di tuju.
Belum juga ia masuk ke dalam tempat penjual ikan dan daging ia sudah berlari menjauh saambil menutup mulutnya.
Hoek......Hoek.....Hoek....
Seperti yang di Khawatirkan Rayyan. Shafa tidak akan tahan dengan bau amis yang sangat menyengat di tempat itu. Ia memuntahkan isi perutnya beserta cairan bening yang membuatnya lemas seketika.
"Mas kan sudah bilang, Kamu nggak mau dengar" Ujar Rayyan yang merasa kesal bercampur kasihan dengan istrinya itu. Ia terus mengurut tengkuknya dan mengusap usap punggung Shafa.
"Mau pulang....." Ujar Shafa lemas. Wajahnya pucat di sertai keringat dingin di sekitar pelipisnya. Rayyan sudah tidak kaget melihat Shafa seperti ini karenaa sebelumbya beberapa kali ia menghadapi situasi seperti ini. Dia akan membaik setelah beberapa saat istirahat dan makan makanan.
"Ya Sudah, ayo Mas bantu bangun. Lain kali mas nggak mau antar Shafa lagi, kalau nggak mau nurut" Ujar Rayyan. Shafa diam tak menjawab.
"Maas... Gendong" Ujarnya sambil menatap Rayyan penuh permohonan.
__ADS_1
Innalillah.... Shafaaaaaaaaa......
Geramnya dalam hati. Satu-satunya hal yang di sesali Rayyan saat ini adalah mengiyakan permintaaan istrinya pergi kepasar. Intuj alasan appapun.