Jodoh Pilihan Allah

Jodoh Pilihan Allah
Sepiring berdua


__ADS_3

"Cowok brengsek"


"Suami durhaka"


"Laki ga tau diri"


Umpatan demi umpatan meluncur bebas dari mulut Shafa, Amel dan Vira setelah mendengar langsung cerita dari Nisa.


"Terus ibu bapak mu gimana Nis?" Tanya Shafa sambil mengusap sudut matanya yang dari tadi basah mendengar penuturan Nisa.


Nisa tertunduk, air matanya kembali lolos. Tampak kesedihan yang amat mendalam di matanya.


"Bapak nggak mau lihat aku lagi" Ucapnya terbata.


"Maksudnya?" Mereka bertiga bengong.


"Bapak ngusir aku, dia masih belum bisa maafin aku yang bersikeras menikah dengan Ahmed dan setelah tahu bahwa Ahmed meninggalkan ku, bapak semakin marah" Ujarnya dengan air mata yang terus mengalir.


"Ya Allah Nis, lo yang sabar ya" Shafa memeluk sahabatnya tersebut, ikut merasakan kesedihan.


"Selama lo di Kairo emang ga ada cowok yang menarik apa Nis? Sampai lo kecantol sama si Ahmed itu?" Tanya Amel. Gadis secantik dan secerdas Nisa gak mungkin ga ada yang suka.


"Iya, cowok lokal juga ga kalah kali Nis, kaya suaminya si Shafa tuh. Dia kan alumni Kairo juga"


"Eh..eh.. Kenapa jadi bawa-bawa suami gue?" Ujar Shafa. Sekarang dia lebih sensitif jika ada yang menyebut suaminya.


"Huuu, sekarang aja di akuin sebagai suami. Padahal dulu yang mau kabur lah, mau bikin illfeel lah. Ujung-ujungnya nemplok juga" Cibir Vira yang berhasil mencairkan suasana.


"Kata mas Ray Cinta itu bukan jaminan suatu hubungan bisa bahagia. Yang utama adalah ridho orang tua. Hih, gue jadi kebayang kalau pas itu gue nekat nikah sama si Sam mungkin sekarang hidup gue lebih tragis dari lo Nis" Shafa bergidik membayangkan kelamnya masa lalu nya.


"Benar Fa, Ridho orang tua adalah ridho Allah. Seandainya saja aku lebih dengerin ucapan bapak kala itu untuk menikah dengan sesama orang Indonesia, pasti semua ini ga akan terjadi" Sesalnya.


"Yang udah terjadi ga perlu di sesali, Sekarang lo harus bangkit dan menata kembali hidup lo dan calon anak lo" Ujar Vira.


"Jadi rencana lo selanjutnya apa Nis? Oh ya lo bilang bapak lo ga mau lagi liat lo, trus selama seminggu ini?" Shafa menutup mulutnya, Jangan sampai benar dugaannya kalau Ayah Nisa mengusirnya.


"Udah 2 hari ini aku tinggal di kosan sepupu ku sambil nyari pekerjaan" Ucapnya.


"Tapi lo lagi hamil Nis, ga mungkin lo tinggal sendiri. Itu terlalu bahaya buat kesehatan lo dan juga anak lo" Ujar Shafa yang merasa sangat prihatin dengan Nisa.


Nisa adalah anak kebanggaan ayahnya. Ayah Nisa cukup otoriter dan egois. Shafa, Amel dan Vira sudah sering mendapat ceramah dan omelan dari Ayah Nisa ketika mereka hendak jalan bersama.


"Gimana kalo sementara waktu lo tinggal dirumah gue Nis, Rumah gue masih ada kamar kosong kok" Ucap Shafa.


"Thaanks Fa, tapi aku udah terlalu banyak ngerepotin kamu. Lagi pula kan kamu punya suami. Kamu ga bisa memutuskan sesuatu tanpa meminta izin pada suamimu"

__ADS_1


"Eh Fa, bukan nya mertua lo punya sekolahan ya. Gimana kalau Nisa ngajar di tempat kamu Fa?" Amel memberikan sebuah ide.


"Bener juga. Tapi gue takut bilang ke ayah" Shafa menggigit bibir bawahnya.


"Di perusahaan tempat gue kerja ada lowongan tapi yang di butuhkan sarjana Akuntansi " Ujar Amel


"Shafa..!!! Bukannya suami lo punya toko pakaian muslim ya?" Ucap Vira.


"Oh iya. Bener...Bener... Lo emang pinter Vir. Kayaknya lo bakalan cocok disana Nis. Soalnya pegawainya mas Ray tuh baik-baik dan semuanya berpakaian kaya lo gini" Ujar Shafa kegirangan. Dia sangat yakin kalau Rayyan akan membantunya.


"Serius Fa?" Tanya Nisa. Shafa mengangguk.


"Alhamdulillah" Ucap Nisa penuh syukur.


"Nanti aku coba nanya sam Mas Ray. Aku yakin dia pasti mau bantu" Ucap Shafa penuh keyakinan.


"Amiin" Amel dan Vira bersama-sama mengamini ucapan Shafa.


.


.


.


Sesampainya dirumah ia tak mendapati mobilnya juga Ray.


"Pak Madi mas Ray kemana?" .


"Pak Rayyan tadi ke toko bu" Jawab pak Madi.


"Oh"


Shafa segera menuju dapur dan menata buah-buahan di atas meja untuk di cuci.


"Mbak Shafa beli Strawberry banyak banget" Ujar bi Lastri.


"Ia bi, aku pengen berkreasi. Habis liat iklan gula jadi kepengen" Ucapnya.


"Mbak Shafa kok sekarang jarang masikin mas Rayyan sih?" Tanya bi Lastri sambil membantu Shafa mencuci buah Strawberry.


"Ga papa bi, Kan ada tante Lilis sama Yola yang selalu nyiapin. Kecuali mas Ray minta baru aku masakin. Ujar Shafa sambil menyusun buah Strawberry berdasarkan warnanya.


"Apa maksud kamu Shafa?" Ucap tante Lilis membuat Shafa kaget. Lilis sudah berdiri di belakangnya dengan berkecak pinggang.


"Tante..."

__ADS_1


"Kenapa? kamu kaget? jadi begini ya, di belakang saya kamu selalu ngomongin saya dan Yola" Ucapnya dengaan nada meninggi.


"Enggak tante, Tante salah paham"


"Heleh, kamu kira tante tuli. Kamu menganggap kehadiran kami di sini menggantikan posisimu iya? Kamu keberatan kalau Yola menyiapkan makanan untuk Ray?"


"Bukan seperti itu Tante!" Shafa mulai terbakar emosi.


"Kalau memang seperti itu yang kamu fikirkan, bersiaplah jika suatu saat nanti Yola benar-benar menggantikan posisimu!" Ia pun pergi meninggalkan Shafa dan bi Lastri yang terlihat sangat ketakutan.


Deg..Akhirnya kamu mengutarakan maksud terselubungmu tante. Sampai mati pun aku tidak akan membiarkan suamiku jatuh pada wanita ular seperti kalian.


"Bi, tolong bibi rahasikan hal ini dari ibu atau mas Ray ya, Shafa ga mau mereka ribut"


"Tapi mbak.."


"Tolong bantu Shafa bi, sekalipun bibik cerita, mas Ray ga akan percaya" Ujar nya yang di angguki oleh bi Lastri.


***


Setelah Shalat magrib dan mengaji Shafa masih memikirkaan cara untuk menghadapi tante Lilis. Dia tidak mungkin mengatakan laangsung pada Rayyan.


Untuk sementara waktu, menghindarkan mas Ray dari Yola dan ibunya adalah cara terbaik. Mereka sudah terang-terangan mengutarakan maksudnya hendak merebut mas Ray dari ku. Akupun harus terang-terangan mempertahankannya. Menunjukan bahwa dia adalah milikku.


"Sayang, ayok turun kita makan malam dulu" Ajak Ray.


"Maaash, makannya sepiring berdua ya? udah laamaa lo kita ga makan sama-sama."


"Ga enak sama tante Lilis dan Yola sayang"


"Kalau gitu aku ga mau makan. Aku tuh pengen manja-majaan sama kamu mas" Ucap Shafa. Dan benar keinginan untuk bermanja dengan Ray begitu kuat.


"Iya..iya... Ya udah Ayo" Jawab Ray pasrah.


Di meja makan semua makanan sudah tertata rapi. Yola pun sudah siap mengambilkan makanan buat Ray.


"Kak Ray mau yang mana?" Tanya Yola dengaan senyum yang tak pernah pudar dari hadapan Ray.


"Semunya aja Yol" Ucap Ray membuat Yola kegirangan. Sementara Shafa diam menahan rasa cemburunya.


Gue jadi baperan gini sih, perasan dulu-dulu ga gini amat deh. Perasaan ini sungguh menyiksaku. Jangan-jangan gue kena stress nih.


Setelah piring Ray terisi penuh ia menarik kursinya lebih dekat dengan Shafa. Lilis dan Yola terkejut melihat pemandangan di depannya.


"Ray makan berdua dengan Shafa tante" Ujar Ray, menyadari dirinya sedang di perhatikan.

__ADS_1


__ADS_2