
"Kamu sudah hubungi mertuamu Ray?" Tanya Ayah sambil mengusap bahu putra nya yang tengah tertunduk.
"Belum ayah. Apa Ray harus menghubungi mereka sekarang?" Tanyanya.
"Lebih baik begitu. Mungkin saja Shafa sudah menghubungi orang tuanya." Jawab Ayah.
Rayyan segera mengambil ponselnya dan mencari kontak ayah mertuanya. Ia sudah siap dengan segala konsekuensi kalau Daddy sampai memarahi nya.
"Assalamualaikum Ray" Suara di balik telefon tersebut membuyarkan lamunan Rayyan.
"Wa..waalaikum salam Dad" Jawab Ray setengah gugup.
"Ada apa Ray?"
"Emm... Apakah Shafa habis menghubungi Daddy atau Mommy?" Tanyanya. Berharap semoga jawaban Daddy adalah iya.
"Tidak Ray, Shafa belum menghubungi Daddy. Memangnya ada apa Ray?"
"Maafkan Ray Dad... Shafa pergi dari rumah." Ujarnyaa sambil memejamkan mata. Ia sudah siap bila Daddy akan memarahi nya.
"Pergi? Kamu sudah tanya Amel atau Vira?" Tanya Daddy.
Benar juga, aku kok nggak kepikiran sama mereka berdua. Shafa pasti ada di salah satu rumah mereka.
"Belum Dad, Kalau gitu Ray cari kesana dulu Dad. Assalamualaikum" Ujarnya. Rayyan seperti mendapat angin segar begitu mendengar nama Amel dan Vira. Ia meminta kontak Amel dan Vira dari Nisa.
Rayyan menghubungi Vira terlebih dahulu. Tetapi jawaban yang ia dapatkan sangat tidak memuaskan karena saat ini Vira sedang berada di luar kota untuk urusan pekerjaan. Ia pun meminta alamat apartemen Amel. Rayyan bermaksud mendatangi langsung apartemen Amel agar bisa sekalian menjemput Shafa.
"Gimana Ray?" Tanya ibu yang sejak tadi tidak bisa menyembunyikan kepanikan nya.
"Vira sedang keluar kota bu. Shafa pasti di rumah Amel. Ray akan menjemputnya!" Ujarnya kemudian menyambar kunci mobil di atas meja dan segera melaju ke apartemen Amel.
Setelah beberapa kali menekan bel, akhirnya Amel keluar masih mengenakan pakaian kerja.
****** gue! ngapain suami Shafa kesini.
"Assalamualaikum Amel" Salam Rayyan.
"Waalaikum salam. Ada apa pak Ray?" Tanya Amel was-was.
__ADS_1
"Emm... Maaf Mel, apakah Shafa ada disini?" Tanyanya.
"Oh, Shafa... bukannya sudah pulang ya pak? Semalam memang bermalam disini tapi tadi pagi sudah pulang" Jawab Amel.
"Pulang?" Pupus lagi harapan Rayyan. Jelas-jelas Shafa tidak ada di rumah Mommy nya juga di rumah nya.
"Kenapa pak Ray? Apa Shafa tidak ada di rumah?" Tanya Amel penasaran.
"Iya.."
Amel menutup mulutnya. Ia Khawatir terjadi hal buruk pada Shafa.
"Tadi pagi dia juga sempat minta uang, saya fikir dia langsung pulang" Ucap Amel membuat Rayyan semakin sulit bernafas.
Ya Allah ampuni aku!!!
"Ya sudah Mel, terima kasih ya. Kalau Shafa menghubungi kamu atau kemari lagi, tolong hubungi saya!" Ujar Ray dengan penuh pengharapan.
"Iya pak!"
Lo kemana sih Fa? Bikin orang khawatir aja. Semoga lo baik-baik aja. Oh ya! kemarin kan sebelum gue jemput, dia kan sama Briyan. Mungkin Briyan tahu dimana Shafa. Amel segera mencari kontak Briyan dan menghubunginya.
Rayyan melangkah gontai ke dalam rumahnya. Usahanya kesana kemari mencari Shafa sama sekali tidak membuahkan hasil.
"Hallo, Jack!"
"Hallo Ray, ada yang bisa di bantu?" Tanyanya dari balik telfon. Jack adalah teman Ray yang juga seorang hacker handal.
"Bisa tolong lacak keberadaan istriku? Akan ku kirimkan nomor telfon, dan akun sosial media sosialnya."
"Ok..."
"Aku tunggu secepatnya!" Ujar Ray.
Setelah menghubungi Jack, Ia mengambil wudhu untuk melaksanakan sholat Magrib. Rayyan terlarut dalam sholatnya. Ia bahkan meneteskan air matanya pada sujud terakhirnya. Ia sangat menyesali perlakuannya pada Shafa kemarin. Andai dia bisa memutar waktu takkan ia biarkan tangannya menyakiti tubuh istrinya itu. Apalah daya, seorang Rayyan sekalipun hanyalah manusia biasa tak yang luput dari salah. Namun kesalahannya saat ini sangat fatal hingga menyebabkan istrinya pergi dari rumah. Andai saja kemarin ia menahan Shafa pasti saat ini ia masih berada di sisinya.
Tok...Tok...
Suara ketukan pada pintu kamar membuat Ray menghentikan dzikirnya.
__ADS_1
"Maaf Mas, sudah waktu nya makan malam" Ujar bi Lastri sopan.
"Tolong bawakan ke mari ya bi" Ujar Ray.
"Baik Mas"
Rayyan kembali menutup pintu kamarnya. Ia merebahkan dirinya di atas sofa sambil memikirkan cara untuk menemukan Shafa.
Handphone nya tiba-tiba berdering. Di lihat nya panggilan dari Jack. Ia segeraa bangkit memperbaiki posisi duduknya.
"Hallo, bagaimana Jack" Tanyanya sudah tak sabar mendengar berita dari Jack.
"Nomornya saat ini tidak aktif bos. Terakhir siang tadi nomornya terdeteksi berada di sebuah Mall. Akun Instagram nya juga sudah di tutup sejak sebulan lalu" Terangnya.
Lagi-lagi harapan Ray terpatahkan oleh ucapan Jack barusan.
Tolong jangan hukum aku seperti ini Shafa!
Sebuah pesan masuk di handphonenya. Ternyata dari Mommy Shafa.
Mommy : Temui kami di rumah besok siang!
Pesan siangkat tersebut mengisyaratkan bahwa mereka akan pulang besok.
Sepertinya Mommy juga tidak mengetahui keberadaan Shafa.
Rayyan memandangi makanan yang berada di atas mejanya dengan perasaan sedih.
Apakah Shafa sudah makan? Apakah dia menginginkan sesuatu? Bagaimana jika tengah malam ia lapar?
Pertanyaan-pertanyaan itu berkecamuk di dalam fikirannya membuatnya kehilangan nafsu makan.
🍃🍃🍃🍃🍃
Di sebuah tempat yang jauh dari hiruk pikuk keramaian, seorang wanita tengah menatap sendu ke arah jendela. Keputusannya untuk pergi kemarin malam menghantarkan dirinya berada di tempat ini. Tempat yang penuh dengan kedamaian.
Siang tadi, Setelah melaksanakan sholat Dzuhur di sebuah masjid, Shafa tak langsung pergi. Ia berdoa cukup lama sampai menangis tersedu-sedu merasakan perih luka di hatinya. Hal itu menarik perhatian seorang wanita yang berusia sekitar 60 tahunan yang juga tengah melaksanakan Sholat Dzuhur di masjid itu.
Dengan lembut wantita yang meminta agar dirinya di panggil *u*mmi tersebut mendekati dan mencoba menenangkan Shafa dengan nasihat yang menyejukan hati. Shafa menceritakan bahwa dirinya ingin pergi menenangkan diri. Karena merasa Khawatir dengan keadaan Shafa yang terlihat begitu pucat, akhirnya ummi menawarkan Shafa untuk ikut ke rumahnya. Shafa pun menerima karena melihat Ummi yang begitu baik dan lembut. Siapa sangka kalau Ummi adalah istri dari Kyai yang mengasuh sebuah pondok pesantren.
__ADS_1
Disinilah Shafa berada. Di sebuah pesantren yang berjarak sekitar sekitar 100 Km dari ibu kota. Sebuah tempat yang tenang dan nyaman. Tempat yang penuh kedamaian, yang tak pernah berhenti terdengar lantunan ayat suci Al- Quran dan pujian terhadap sang Maha pencipta.
Inilah Tempat dimana Shafa akan belajar memaknai hidup yang sesungguhnya. Menjalani skenario yang Allah tuliskan untuk nya. Karena pada dasarnya, manusia adalah aktor yang Allah pilih untuk menjalankan peran sesuai dengan Alur yang digariskan kepada nya. Yang pasti, Selalu ada hikmah dari setiap kejadian, selalu ada akhir dari setiap permulaan dan akan ada senyum dibalik airmata. Bukankah Allah telah menjanjikan Setelah kesulitan ada kemudahan.