Jodoh Pilihan Allah

Jodoh Pilihan Allah
Ujian


__ADS_3

Setelah membacakan dongeng dan menidurkan Zafran dan Hafiz, Rayyan kembali ke kamarnya untuk beristirahat. Di lihatnya Shafa sudah berganti pakaian dengan dress tidurnya. Rambut lurus kecoklatannya yang sudah mulai memanjang ia biarkan tergerai begitu saja membuatnya sangat imut dan menggemaskan terlebih pipinya yang begitu chubby.


Shafa nampak mondar mandir di depan televisi sambil menempelkan ponselnya di telinga. Tak bisa dipubgkiri rasa khawatir dan gelisah itu masih saja menghantui fikirannya.


"Sayang sini mas pijit kakinya" Rayyan menepuk ranjang di sebelahnya.


"Tadi udah di pijit ibu mas" Jawabnya sambil fokus mengetik sesuatu di ponselnya.


"Kalau gitu mas olesin cream perutnya yah?" Tawarnya lagi. Sebelum tidur biasanya ia rutin mrngoles cream khusus ke seluruh permukaan perut Shafa.


"Aku malu mas, streachmark nya udah kelihatan banget" Ujarnya sambil cemberut. Sreachmark pada wanita hamil tua memang kerap kali menjadi ketakutan tersendiri, terutama karena bekas tersebut kadang tidak mau hilang bahkan setelah ia selesai melahirkan.


"Udah sini!" Rayyan menarik tangan Shafa menuju tempat tidur. Ia juga mengambil ponsel yang tengah di pegang Shafa. Baru Shafa hendak membuka mulut Rayyan sudah membungkamnya kembali dengan ucapannya.


"Kata dokter jauhkan ponsel dari sekitar perut karena bisa menyebabkan radiasi! Hari ini Shafa nonstop pengang hp. Sekarang waktunyaa istirahat" Ujarnya. Ia meletakkan ponsel Shafa di atas nakas sebelahnya.


"Aku belum ngantuk mas, aku masih kepikiran kak Jeff" Ujarnya sambil menyandarkan kepalanya di dada bidang suaminya. Rayyan menutupkan selimut sampai sebatas pinggang Shafa yang tengah bersandar cantik di dadanya.


"Kan tadi daddy sudah nelfon dan memberitahukan bahwa mas Jeffri ada harapaan sembuh. Sayang, mommy dan daddy di sana pasti juga sedang khawatir. Jadi Shafa jangan buat mereka semakin khawatir yah?" Balas Rayyan sambil mengelus punggungnya.


"Mas, kenapa ujian keluargaku berat banget ya? Apa ini hukuman buat daddy dan mommy karena sudah menutupi kebenaran yang sesungguhnya?" Shafa mendongak menatap Rayyan.


"Istriku yang cantik, tidak boleh berkata seperti itu, manusia hidup itu memang untuk di uji sayang. Tidak ada manusia yang hidup tanpa adanya sebuah ujian. Allah Ta'ala menguji manusia di muka bumi ini dengan 4 hal, yang pertama dengan Kenikmatan. Ketika manusia diberikan ujian kenikmatan, apakah hambanya bersyukur atau malah kufur. Yang kedua diuji dengan Ketaatan. Ketika manusia diberikan ujian ketaatan, maka cara terbaik yang dilakukannya adalah dengan ikhlas kepada Allah. Akan tetapi, berhati-hatilah jangan sampai riya dan pamer dalam beribadah. Yang ketiga adalah dengan musibah. Musibah yang dialami orang yang beriman disebut ujian. Musibah yang dialami orang yang bermaksiat disebut hukuman. Sedangkan musibah yang dialami orang yang tidak beriman disebut azab. Ketika manusia diberi ujian musibah, maka cara terbaik yang dilakukan adalah dengan bersabar kepada Allah. Seperti yang saat ini kita rasakan. Seyogyanya musibah yang menimpa mas Jeffri ini kita jadikan jalan untuk semakin mendekatkan diri kepada Allah Ta'ala."


"Sebagai contoh yang pernah terjadi kepada para Nabi Ayyub Alaihi Salam. Beliau di uji dengan sakit selama 18 tahun. Bayangkan sayang, nabi Ayyub yang kaya raya dengan ternak dan ladangnya yang luas, juga istri-istrinya yang cantik serta anak-anaknya yang banyak menjadi miskin dalam seketika. Ternak dan ladangnya terbakar, anak-anaknya meninggal dan dia sendiri terkena penyakit kulit yang mengerikan hingga para istrinya meninggalkannya kecuali satu orang saja yang tetap setia menemaninya. Namun mereka bersabar dan tetap berbaik sangka pada Allah hingga Allah angkat penyakitnya dan mengembalikan semua yang pernah nabi Ayyub miliki dengan yang lebih baik. Dan itu semua merupakan buah dari kesabaran dan keiklasannya. Jadi Shafa harus Ikhlas dan sabar menerima ujian ini. Yakinlah ada hikmah yang dari semua ini. Allah pasti akan mengganti semua moment yang pernah hilang bersama Jeffri dengan yang lebih baik." Terang Rayyan.

__ADS_1


"Terus ujian yang ke empat apa mas? Kan tadi baru 3" Balas Shafa. Ia mendengarkan dengan seksama setiap penjelasan yang di sampaikan oleh Rayyan.


"Oh iya, mas sampai lupa. Ujian ke tiga adalah Ujian Maksiat. Ketika kita sedang berbuat maksiat sebenarnya kita juga tengah di uji. Dan saat manusia diberikan ujian maksiat, maka cara terbaik yang dilakukannya adalah dengan bertaubat kepada Allah Ta'ala. Allah ingin melihat hambanya bertaubat, itulah sebabnya ia di uji dengan maksiat." Imbuhnya lagi.


"Hmmmm" Shafa menggut-manggut mendapat pencerahan dari Rayyan.


"Mas, besok aku boleh ya ke klinik daddy buat lihat kak Jeff?" Tanyanya. Tangannya kini mulai bermain di dada bidang Rayyan. Memggambar sesuatu yang hanya ia yang mengetahuinya


"Iya, sayang iya.," CUP!


"Sekarang bobo ya. Besok pagi kita ke klinik buat kihat mas Jeffri" Ujar Rayyan sambil membaringkan pelan-pelan kepala Shafa di atas bantal.


"Halo jagoan ayah. Sehat selalu ya nak. Ayah nggak sabar buat ketemu sama jagoan ayah ini" Bisiknya sambil mengelus dan menciumi perut Shafa.


"Aw... " Pekik Shafa saat jagoannya kembali menendang.


"Mau di peluk dari depan atau belakang?" Tanya Rayyan sambil menatap mata Shafa.


"Dari belakang aja. Tapi tangannya mas Ray ga boleh nakal" Pintanya. Ia hafal betul saat memeluk dari belakang pasti tangan suaminya tidak akan bisa diam. Meski sejujurnya ia sangat menyukai itu.


"Iya mom... iya!" Akhirnya, walau agak lama tapi Shafa berhasil terlelap dalam tidurnya. Rayyan menaikan selimut hingga batas leher mereka. Di kecupnya bahu istrinya dengan penuh sayang.


"Terima kasih sudah menjadi wanita terbaik ku" Bisiknya di telinga Shafa kemudian mendekapnya erat. Malam semakin larut, menutup cerita hari itu. Semoga mentari esok hari hadir dengan membawa cerita baru yang lebih baik.


Pagi-pagi sekali di rumah Shafa mulai terdengar ramai. Keberadaan Hafiz di rumah mereka membuat Zafran bangun pagi dengan semangat. Ibu dengan senang hati memandikan mereka dan memakaikan seragam kepada mereka berdua.

__ADS_1


"Zaflan kesekolah sama Uti atau sama Oma?" Tanya Zafran di sela-sela sarapan pagi mereka.


"Sama Uti dong. Oma kan masih sibuk" Jawab ibu.


"Tante nanti kalau ketemu sama bunda, tante bilangi ya kalau Hafiz suka di sini sama Zafran" Ujar Hafiz yang duduk di sebelah Zafran.


"Iya sayang, nanti tante sampaikan."


Seteleh anak-anak pergi kesekolah, Shafa bergegas mandi dan mengganti pakaiannya dengan daster panjang yang nyaman dan longgar agar memudahkan gerakannya. Ia dan Rayyan bergegas menuju Klinik dengan membawakan sarapan buat monny dan Aini.


Baru Saja mereka masuk ke dalam klinik, keduanya di buat kaget oleh pasien yang baru saja baru datang.


"Aaaggghhh.... Mamaaaaa..... Sakiiiiiit" Teriaknya saat baru masuk. Beberapa perawat langsung datang dengan membawakan kursi roda agar ia bisa duduk dengan nyaman.


"Dokterr...toloong... ini sakiiit bangettt.... aaaakkkh.. aku nggak kuat maaaaa" Jeritnya lagi.


"Cepetan dorong jangan cuma bengong!" Bentaknya pada salah satu perawat. Shafa hanya terbengong melihat kejadian tersebut. Tak lama kemudian seorang pria yang sudah terlihat berumur datang menghampirinya.


"Gimana sayang? Tahan, aku disini" Ujaranya dembari mengusap kepalanya.


"Gimana? Gimana? Ini sakit tahu! Kamu cuma tau enaknya saja aku yang susah kaya gini.. aduuh... dokterrrr cepatttt......!!!" Lagi lagi ia menjerit meraskan sakit pada perutnya yang hendak melahirkan.


"Sabar Sinta...sabar!" Ujar pria itu. Sinta adalah wanita yang tempo hari pernah ribut dengan Shafa saat kelas kehamilan. Ternyata ia sudah waktunya melahirkan.


"Ayo!" Rayyan menuntun kembali Shafa yang sempat terbengong menyaksikan drama wanita melahirkan yang terlihat begitu sakit.

__ADS_1


"Tenang saja, mas akan selalu mendampingi Shafa saat Shafa melahirkan nanti. Mas janji akan selalu ada di sebelah Shafa untuk menguatkan dan berbagi rasa sakit" Bisiknya.


__ADS_2