
"Saya terima nikahnya Sonya Adam binti Faisal Adam, dengan mas kawin tersebut tunai!!!" Ucapnya dengan lantang dan dengan sekali tarikan nafas.
"SAAHH..!!!" Ucap pari saksi dan undangan yang hadir menyaksikan pengucapan ikrar suci tersebut secara bersamaan. Kemudian di iringi dengan pembacaan doa yang di lakukan oleh penghulu yang baru menikahkan dua orang insan yang saling berbeda menjadi sepasang suami istri.
"Ku serahkan Sonya padamu! Dia kini adalah tanggung jawabmu. Jaga dan bimbing ia agar menjadi istri dan ibu yang baik bagi anak-anakmu kelak" Ujar papa sambil menatap wajah pria matang di hadapannya itu.
It is Real?
Ia tertunduk menghirup oksigen dalam-dalam sambil memejamkan mata. Baru saja ia mengucapkan ikrar suci terhadap seorang wanita yang kini menjadi istrinya. Wanita yang tak pernah terlintas sedikitpun di benaknya. Kini ia bukan lagi pria single yang selalu di gilai wanita. Ia telah memilih memikul tanggung jawab besar dengan menerima tawaran orang tuanya untuk menikah dengan Sonya Adam.
Perlahan tapi pasti, Sonya menuruni anak tangga satu demi satu dengan di dampingi oleh mama dan kakak iparnya Vina. Wajahnya datar tanpa ekspresi, begitupun tatapan matanya yang sendu. Bibirnya mengatup sempurna dalam balutan lipstik tebal berwarna merah tua. Terdengar decak kagum hadirin yang melihat wajah ayu Sonya. Ia terlihat seperti orang yang berbeda dengan kata lain, MUA yang meriasnya berhasil membuat pangling orang yang melihatnya.
Sejenak Sonya menghentikan langkahnya. Tangannya mulai dingin langkah kakinya begitu berat.
"Ayo Sonya, suamimu sudah menunggu" Bisik Vina lembut sambil membujuk adik iparnya tersebut. Sonya tertunduk, air matanya telah lolos dari mata indahnya. Ia berjalan melewati sebuah punggung lebar berbalut jaz hitam yang diyakini adalah suaminya. Sonya duduk dengan anggunnya di sebelah pria tersebut dan berhadapan langsung dengan papanya yang hanya di batasi oleh sebuah meja kecil. Ia tak kuasa lagi menahan air matanya yanh sejak tadi sudah sedikit deni sedikit menetes. Ia juga tak memiliki keberanian untuk memandang wajah pria yang kini telah menjadi suaminya tersebut.
"Angkat wajahmu Sonya" Ujar papa Sonya datar. Sonya masih diam dalam tunduknya. Badannya kini justru bergetar karena tangis dalam diamnya.
"Sonya! Angkat wajahmu dan lihat suamimu" Ucap Surya kakaknya yang mulai kesal dengan sikap adiknya tersebut. Sonya malah menggeleng dan semakin sesunggukkan.
"Apa yang ingin kau tunjukan Sonya? Kamu ingin menunjukan pada semua orang bahwa papamu ini kejam. iya?" Timpal papa Sonya membuat Sonya makin terisak sesunggukkan. Hidupnya telah berakhir. Pupus sudah harapan dan cinta yang bahkan belum sempat ia nyatakan.
Sonya merasakan sebuah tangan hangat menggenggam jemarinya yang dingin. Ia mematung saat tangan tersebut beralih menyentuh pipinya mengarahkannya untuk sedikit berbalik. Ia menguatkan hati untuk mengangkat wajahnya menatap pria yang kini menjadi imamnya.
"Jangan menangis lagi!" Ujarnya sambil mengusap lembut air mata Sonya.
Deg...!!!
Pandangan mereka saling bertemu dan mengunci satu sama lain.
Ya Tuhan, aku pasti sudah gila. Aku pasti sudah tidak waras lagi. Tolong cabut saja nyawaku Tuhan.
"Aku disini. Semuanya sudah berakhir. Tak ada lagi yang bisa memisahkan kita kecuali kematian." Ujarnya sambil menatap mata sendu Sonya.
"B..Briyan? Kamu Briyan ku kan? Aku sedang tidak bermimpi kan? Kamu benar-benar Briyan kan? Hu..hu...hu..hiks..hiks" Sonya langsung memeluk laki-laki di depannya itu dan menangis sejadi-jadinya. Begitupun Briyan.
"Iya, ini aku" Bisik Briyan sambil memeluk Sonya yang sudah sesunggukkan. Semua yang hadir di tempat itu menitikkan air mata, tak terkecuali papa Sonya dan Briyan yang telah merencanakan semuanya. Sonya tak perduli lagi dengan make up ataupun kamera yang merekam momen haru tersebut, yang pasti ia ingin menumpahkan semua air matanya saat itu juga. Akhirnya, cinta berlabuh kepada pemiliknya.
"Sonya... Hey, Sonya?" Panggil Briyan yang tiba-tiba merasakan tubuh Sonya luruh dalam dekapannya.
__ADS_1
"Pa, Ma, Sonya pingsan!" Ujar Brian panik sambil menahan tubuh Sonya yang lemas tak bertenaga. Kakak ipar Sonya yang duduk di belakangnya segera memeriksa Sonya.
"Bawa dia ke kamar sekarang!" Perintahnya. Briyan pun segera mengangkat tubuh Sonya menuju sebuah kamar di resort tersebut yang telah di siapkan untuk mereka.
"Sonya kenapa Vin?" Tanya papa Sonya yang juga khawatir.
"Tidak apa-apa pah, hanya syok dan kelelahan saja. Setelah sadar nanti kondisinya akan jauh lebih baik" Ujar Vina. Kemudian menyusul Briyan dan mamanya.
"Alhamdulillah, akad nikah Briyan Utama dan Sonya Adam telah terlaksana, selanjutnya undangan di persilahkan menuju ke restauran yang telah di siapkan" Ucap MC mengakhiri acara tersebut.
Di dalam kamar Briyan sudah sangat khawatir, melihat Sonya yang tak kunjung sadar. Sementara mama dan Vina sibuk melepaskan siger dan aksesoris lain yang menempel di tubuh Sonya.
"Ma, apa tidka ke rumah sakit saja?" Ujarnya pada mamanya yang juga berada dalam kamar tersebut.
"Tidak perlu Briyan, Sonya tidak apa-apa! Dia hanya kelelahan karena kurang istirahat dan banyak fikiran" Balas Vina.
"Kalau dia kenapa-kenapa bagaimana kak? Atau kita panggil dokter saja untuk memeriksanya?" Ucapnya sambil memegang kepalanya.
"Briyan... Vina ini dokter. Jadi, kalau dia bilang tidak apa-apa berarti tidak apa-apa." Ujar mama Sonya.
"Benarkah? Jadi, kapan dia siuman kak?" Tanya Briyan.
"Tunggu saja. Biarkan dia agak lama tertidur. Tubuhnya dan fikirannya benar-benar butuh istirahat Bri. Jadi kamu jangan dulu apa-apain dia sampai stabil" Jawab Vina menahan tawa melihat ekspresi bingung Briyan.
"Kakak serius Briyan. Setelah dia sadar nanti, biarkan dia makan dan setelah itu istirahat kembali."
"Kalau begitu, Briyan ambilkan makanan buat Sonya dulu ma." Ujarnya sambil hendak berlalu keluar.
"Jangan! Nanti akan ada pelayan yang mengantar makan siang kalian. Kamu disini saja temani Sonya." Sahut mama Briyan.
"Ya sudah kami keluar dulu. Kalian baik-baik di sini ya?" Ucap mama Sonya sembari beranjak hendak keluar kamar.
"Ingat Bri.. Jangan di apa-apain dulu!" Ujar mamanya sambil terkekeh.
"Iya ma.. iya" Jawab Briyan sewot.
"Kalau ntar malam udah boleh kok Bri" Bisik Vina membuat adik iparnya itu semakin kesal bercampur malu.
Setelah kepergian para ibu dan kakak iparnya, Briyan melepaskan jas hitam yang melekat di tubuhnya, menyisakan kemeja putih dengan kancing yang terbuka di bagian atasnya. Ia mendekatkan diri pada Sonya yang tengah tertidur lelap di atas kasur empuk beralaskan sprei berwarna putih tersebut.
__ADS_1
"Aku fikir, aku tidak akan pernah bisa melihatmu lagi Sonya." Ucapnya sambil mengecup kening Sonya lembut. Ia membaringkan tubuhnya di sebelah istrinya sambil menggenggam tangannya erat.
🍃🍃🍃🍃🍃🍃🍃
Hari ini adalah hari pertama Shafa akan mengikuti kelas kehamilan. Kali ini, ia di temani sang suami mendatangi sebuah tempat khusus yang di rekomendasikan oleh dokter Lilyana.
Di tempat itu telah hadir juga beberapa wanita hamil bersama suaminya yang akan mengikuti kelas yang sama dengan Shafa. Mereka menunggu di sebuah ruaang tunggu yang cukup nyaman, saling kenalan dan berbincang satu sama lain. Sebagian besar mereka yang mengikuti kelas tersebut adalah mereka yang baru pertama kali mengandung.
"Aku takut banget loh bun, katanya melahirkan anka pertama itu sakitnya luar biasa" Ujar bu Alin yang duduk di samping Shafa.
"Emang bener bun, aku dulu sampai di jahit 6!" Timpal ibu Nita yang sudah berpengalaman.
"Hah? dijahit 6? Itunya bun?" Tanya Shafa dengan ekspresi terkejut.
"Iya bun, malahan ada yang lebih karena robeknya yang lebar. Dan pada saat di jahit itu nggak pake bius loh jadi rasanya tuh campur aduk" Balasnya sambil bergidik.
Waduh, ampe robek segala! Ntar suami gue nggak nafsu lagi gimana?
"Tapi orang tua jaman dulu banyak yang nggak di jahit loh bun. Aku sih pengennya gitu aja. Soalnya ngeri banget ngebayanginya kalau harus di jahit" Sahut ibu Yuni, yang juga baru pertama kali akan melahirkan.
"Eh jangan bun, kata dokter kalau nggak di jahit ntar kurang bagus bentuknya. Di jahitkan supaya rapat kembali, biar para suami kita tetap betah" Ujar bu Nita.
Ya Allah... aset gue bakal di edel-edel sama dokter beranak beneran nih kayaknya.
"Emang selalu robek ya bun kalau ngelahirin gitu?" Tanya Shafa.
"Nggak juga sih, katanya tergantung masing-masing orang. Makanya aku ikut kelas ini. Nanti kita bisa tanya-tanya sama instruktur dan dokter kandungan" Ujar bu Evi yang sedari tadi diam mendengarkan.
"Denger - denger instrukturnya cantik loh, masih single lagi" Bisik bu Yuni.
"Serius? Wah bahaya bapaknya anak-anak. Matanya bisa jelalatan" Sahut bu Nita.
Shafa sih santai-santai saja, karena ia tahu betul bahwa suaminya adalah pria setia dan sangat mencintai dirinya. Di liriknya Rayyan yang juga sedang ngobrol bersama para suami di sofa sebelah.
"Ibu-ibu silahkan bersiap masuk ke dalam ruangan karena instrukturnya sudah datang" Ujar seorang wanita muda yang berpakaian seperti perawat.
"Bapak-bapaknya ikut mendampingi ya pak" Imbunya lagi sambil melirik kepada bapak-bapak yang sedang asik ngobrol.
Rayyan menghampiri istrinya dan menggandeng tangannya masuk ke ruangan yang telah di siapkan bersama dengan yang lainnya.
__ADS_1
"Ray..!!!"
"Kamu Rayyan kan?" Sapa seseorang tiba-tiba.