
Sepanjang perjalanan menuju Monas Shafa tak banyak bicara meski Nisa beberapa kali mengajaknya ngobrol. Pikirannya masih berkutat seputar SMS yang di kirim oleh Hana. Bahkan setelah sampai di tempat yang di tuju ia tak langsung memakan makanan yang sejak tadi di inginkan nya membuat Ray mulai kesal.
"Ayo di makan!" Ray menyuapkan potongan kerak telor ke bibir Shafa tapi dia malah menggeleng.
"Aku ingin jagung bakar Mas" Ujarnya lagi. Keinginannya tiba-tiba berubah saat melihat jajaran penjual jagung bakar. Dengan perasaan kesal Raypun menuruti kemauan Shafa.
"Fa, Kasian suami kamu dari tadi bolak balik ga ada yang cocok makanannya" Sela Nisa.
"Ga tau Nis, Mood ku sering berubah ubah sekarang. Aku lagi stress banyak fikiran" Ucapnya dambil menopang dagunya.
"Kenapa lagi sih Fa? Cerita sama aku" Bujuk Nisa.
"Ga kenapa-napa kok Nis, ga usah di fikirin nanti kamu ikutan stress. Ibu hamil kan ga boleh stress" Balas Shafa.
Rayyan pun datang dengan membawa sepiring jagung bakar. Yang segera di makan oleh Shafa. Sedangkan Nisa lebih memilih menikmati Roti Boy miliknya.
"Oh ya, pak Rayyan ga pernah ke Kairo lagi?" Tanya Nisa sekedar basa-basi untuk mencairkan suasana hening.
"Belum pernah Nis, tapi suatu saat nanti insha Allah aku akan kesana lagi"
Mendengar jawaban Rayyan tatapan Shafa langsung menajam melirik ke arah Rayyan.
Apakah kamu akan kesana bersama Hana?
Menyadari tatapan tajam istrinya Ray, segera melanjutkan ucapannya.
"Tunggu Istriku siap, Insha Allah aku akan kesana bersama Shafa. Siapa tau dia ingin lihat Piramida atau Gurun Sahara" Imbuhnya.
Cih! Emang aku mummi mau lihat piramida. Ogah banget. Lagian gurun Sahara kan panas. Ntar kulitku gosong. Yang bener aku ingin melihat Hana bukan piramida atau Sahara.
Di kediaman Rayyan, tante Lilis dan Yola nampak sedang berbahagia di kamar mereka.
"Mah, mamah liat ga sih ekspresi kak Shafa tadi di meja makan?" Ucap Yola kegirangan.
__ADS_1
"Iya mamah lihat. Ternyata anak mamah ini cerdas juga"
"Iya dong... Yolanda gitu loh! Mah, kenapa sih mamah ga jodohin aja Yola sama kak Ray sejak dulu. Kalau gitu kan kita ga usah repot-repot kaya gini mah. Aku juga sebenarnya males banget jadi pelakor tapi mau gimana lagi, Yola udah terlanjur suka sama kak Ray sejak Yola SMP." Ujarnya sambil menyisir rambutnya.
"Bukannya mamah ga mau, tapi tante Wina dan om Luthfi yang menolak. Katanya biar Rayyan memilih jodohnya sendiri. Mamah ga bisa maksa juga karena selama ini kan mereka banyak bantu keluarga kita. Tapi setelah tahu bahwa Rayyan menikah karena terpaksa mamah jadi berubah fikiran terlebih saat tahu istri Rayyan adalah Shafa. Setelah melihat foto-foto vulgar nya di istagram kamu tenpo hari mamah jadi kasian sama Rayyan dan merasa harus menolongnya sekalipun itu dengan cara menjauhkanya dari istrinya." Terang Lilis. Jauh di dalam hatinya Lilis sangat menyayangi Rayyan seperti anaknya sendiri. Ia merasa tidak rela jika Rayyan harus menikah dengan Shafa.
"Iya yah ma, tante Wina kok ga kasihan sama kak Ray. Padahal kak Ray kan anak satu-satunya. Kaya ga ada perempuan yang lebih bener aja."
"Karena Luthfi dan Wina terlalu memikirkan ego mereka. Kamu tahu kan, orang tua Shafa adalah orang terpandang dengan jumlah kekayaan yang tidak sedikit. Mereka tentu tergiur memiliki menantu kaya raya walaupun miskin akhlaq." Selama ini Lilis berfikir bahwa Rayyan adalah korban dari keegoisan orang tuanya.
"Jadi gimana dengan rencana mamah?" Tanya Yola.
"Tidak lama lagi kita akan Lihat bagaimana sifat asli Shafa. Dan kita akan Lihat apakah Rayyan masih akan tetap berlemah lembut padanya atau sebaliknya" Ujar Lilis.
Sementara itu Shafa dan Rayyan yang baru tiba, langsung masuk kedalam kamar mereka. Begitupun dengan Nisa. Shafa mengganti pakaiannya dengan dress tidur dan langsung berbaring membelakangi Rayyan. Tanpa banyak bicara Rayyan pun membaringkan tubuhnya sambil memeluk istrinya dari belakang. Keduanya terlelap tanpa saling bicara satu sama lain.
Shafa membuka matanya. Di liriknya jam di ponselnya baru menunjukan pukul 12.30 malam.
Kebiasaan deh! Perut gue tiap jam segini pasti lapar. Duh jadi nyesel kenapa gue tadi cuma makan jagung doang sih? Mau kasi bangun mas Ray males banget. Gue kan masih marah. Sebelum gue nemuin yang namanya Hana jangan harap aku mau manja-manjaan sama kamu mas.
+6281321xxxxxxx
Kak Zidane, Terimakasih untuk semuanya. Hana tidak akan pernah melupakannya.
Brengs*k seperti ini ternyata kalian di belakangku. Umpatnya
Shafa segera menghapus pesan dari Hana agar Rayyan tidak curiga jika dia telah membuka ponselnya.
Bahkan kamu sudah terlebih dahulu menghapus pesan yang pertama mas. Sampai kapan kamu akan menyembunyikannya dari ku?
Shafa meletakan kembali ponsel Rayyan. Ia kemudian keluar menuju dapur untuk mencari makanan. Tidak ada Rayyan yang biasa menemaninya.
"Shafa? Kamu lagi apa?" Tanya Nisa yang juga sedang ke dapur.
__ADS_1
"Lapar Nis. Lo ngapain, kok belum tidur?"
"Aku haus Nis, mau minum" Ujarnya.
"Mau aku temenin Fa?"
"Ga usah Nis, lo tidur aja. Kasian si Baby kalau emaknya begadang" Ujar Shafa sambil mengaduk mie istant yang baru di buatnya.
"Ya udah, aku duluan ya Fa?"
Shafa memakan makannya dengan hati tak tenang. Ia sama sekali tidak menikmati makanan di hadapannya. Sesekali air matanya jatuh.
Gini banget sih nasib gue. Punya pacar beda agama, giliran punya suami di intai para pelakor mulu. Pokoknya gue gabakan nyerah. Gue harus temuin wanita yang namanya Hana itu dan kasi pelajaran sama dia.
***
Pagi ini Shafa bertekad untuk menemukan wanita bernama Hana itu. Ia yakin bahwa Rayyan pasti akan menemuinya.
"Mas, aku nanti bawaa mobil ya, mau jalan-jalan" Ujarnya sambil memperbaiki dasi Rayyan.
"Yang penting hati-hati ya Sayang" Shafa mengangguk.
"Sayang, apakah Nisa sudah dapat tempat kos yang baru?" Tanya Rayyan. Ia mulai merasa tidak nyaman dengan keberadaan Nisa di rumahnya. Ia takut Nisa akan menjadi boomerang bagi rumah tangganya.
"Mas mau ngusir Nisa?" Shafa menatapnya tajam.
"Bukan gitu sayang, Mas cuma.."
"Kenapa sih mas? Nisa itu sahabat aku. Mas ga kasihan sama dia? Dia itu lagi hamil mas, ga ada suami ga ada keluarga. Apa ya aku tega biarin dia sendirian di luar sana" Ujar Shafa yang nampak kesal dan mulai tersulut.
"Mas kan cuma nanya sayang, Nisa kan bisa tinggal di Toko sama kariyawan yang lain. Jadi ga perlu pulang balik. Toh disana juga ada temannya" Ray mencoba menjelaskan dan menawarkan solusi terbaik.
"Terserahlah, bilang aja kalau mas ga suka temanku tinggal disini. Mas bisa bawa Yola dan tante Lilis untuk tinggal disini. Tapi kenapa Nisa ga boleh?"
__ADS_1
Rayyan mendengus beberapa kali beristigfar agar tidak kehilangan kesabaran menghadapi Shafa.