
Setelah acara resepsi usai, Briyan dan Sonya kembali masuk ke kamar mereka. Kamar bernuansa putih dan cream yang selama 4 hari ini mereka tempati. Meskipun sempat terharu dan tersentuh dengan persembahan lagu serta ungkapan cinta dari Briyan tadi, perasaan jengkel dan fikiran negatif itu tatap saja ada di benak Sonya.
"Mari ku bantu membuka pakaianmu" Ujar Briyan saat melihat istrinya kesusahan melepas kancing bagian belakang gaunnya. Ia pun menurut saat Briyan dengan telatennya melepaskan satu demi satu kancing gaunnya. Setelah semuanya terlepas, Sonya meletakan gaun itu di atas sofa begitu saja. Sedangkan ia hanya memakai dalaman yabg cukup menggoda Briyan. Briyan menelan ludah saat Sonya dengan tubuh ramping indahnya berjalan beberapa kali lewat di hadapnnya yang tengah duduk di pinggiran ranjang.
"Hilangkan fikiran mesum dari kepalamu! Lekas mandi dan sholat Isya! Buktikan bahwa kamu bisa menjadi imam yang baik untukku!" Ujar Sonya yang membuat Briyan gelagapan karena Sonya tahu apa yang sedang di fikirkannya. Ia pun segera membuka jasnya dan bergegas ke kamar mandi untuk mengambil wudhu.
"Kiblatnya salah!" Bentak Sonya saat Briyan mulai menggelar sajadahnya.
"Hadap sana!" Sonya membenarkan setelah melihat aplikasi arah kiblat di ponselnya.
"Kamu nggak solat cinta?" Tanya Briyan sambil menoleh pada Sonya yang tengaah duduk di depan meja rias sambil menghapus riasan make up tebalnya.
"Nggak ada mukena! Kan kamu nggak ngasih. Biasanya nih ya, orang nikah itu mas kawinnya seperangkat alat solat. Nah ini, Boro-boro alat sholat, mas kawin juga paling nggak ada. Atau jangan-jangan mas kawinku kalung yang aku pakai ini ya?" Tanya Sonya yang masih berkutat dengan cleanser nya.
"Ya sudah, aku solat dulu" Ucap Briyan sambil bersiap untuk solat. Briyan memang seorang muslim, tapi untuk urusan ibadah dia bisa dikatakan minus. Bisa di bilang ia hanya sholat seminggu sekali yaitu pada hari jumat. Itu pun jika tidak di paksa oleh kakaknya, ia akan lebih senang menghabiskan waktu untuk tidur siang.
Tumben diam, biasanya kalau ngomong nggak mau di kalah. Maunya selalu bener. Pasti dugaan ku bener.
Selesai melaksanakan solat, Briyan segera masuk ke kamar mandi. Cukup lama ia berada di kamar mandi hingga terdengar ketukan pintu dan suara yang memanggil naamanya.
"Bri.... Gantian dong! Kamu lama banget" Teriak Sonya sambil mengetuk pintu kamar mandi.
"Sorry, aku ketiduran." Ujarnya yang kini hanya menggunakan handuk yang melilit pinggangnya.
"Ketiduran?" Sonya mengamati kamar mandi. Ia melihat bathup terisi air, kemungkinan Briyan ketiduran sambil berendam. Sonya segera masuk ke dalam kamar mandi setelah Briyan keluar. Ia jugaa iangin merelaxkan tubuhnya yang terasa lelah lantaran berdiri terlalu lama. Sonya menghabiskan waktu kurang lebih 30 menit untuk berendam. Alangkah terkejutnya dirinya saat keluar dari kamar mandi namun tak mendapati Briyan di dalam kamar. Fikirannya kembali berkelana pada sosok wanita yang tadi menghadiri resepsi pernikahannya.
Apa Briyan menemuinya?
Sonya segera mengganti pakaian dengan kimono tidur. Setelah itu ia memberanikaan diri untuk keluar mencari Briyan di sekitar kamarnya. Mungkin saja Briyan berada tak jauh dari kamarnya. Ia sudah bertekad kalau sampai mendapati Briyan bersama wanita lain, hari itu juga ia akan mintai cerai. Sonya terus berjalan menyusuri lorong di lantai dua yang searah dengan kamarnya hingga ia berhenti di sebuah kamar yaang pintunya tidak tertutup sempurna. Sayup-sayup ia mendengar suara yang ia kenali. Sonya mencoba menajamkan telinganya dan mengintip dari cela pintu yang terbuka.
Briyan!
__ADS_1
Ia menutup mulutnya tak percaya dengan apa yang di lihatnya. Briyan sedang bersama seseorang yang hanya memakai pakaian dalam seksi saja. Wanita yang tadi membisikkan sesuatu di telinga Sonya. Air matanya seketika itu tumpah melihat wanita itu memeluk Suaminya yang hanya memakai kimono tidur.
B******* kamu Briyan! Aku tidak akan pernah memaafkaanmu!
Sonya hendak beranjak pergi namun langkahnya tertahan begitu mendengar suara yang berasal dari dalam kamar. Ia mencoba menajamkan kembali pendengarannya.
"Sekalipun kamu telanjang di hadapnku, aku tidak akan pernah tegoda oleh mu Angel!" Ujar Briyan tegas tanpa memandang wanita yang tengah memeluknya dari belakang.
"Kenapa Bri? Kenapa kamu lakukan ini padaku? Apa kurangnya aku Bri? Apa? Aku bahkan lebih seksi dari wanita itu!" Ujarnya dengan suara terisak. Sonya mengepalkan tangannya mendengar ucapan Angel yang membaandingkan dirinya.
"Cih, jangan pernah membandingkan dia dengan dirimu Angel! Karena sampai kapanpun aku tidak akan pernah berpaling! Dan lagi! Kalau mau bunuh diri, tolong jangan melibatkan aku lagi" Ujar Briyan.
Ha? dia mau bunuh diri?
Sonya segera berlari masuk kembali ke kamarnya saat melihat Briyan berjalan ke arah pintu. Dia langsung bersandar pada kepala ranjang sambil memainkan ponselnya seolah-olah tidak mengetahui kejadian barusan. Briyan masuk kembali ke dalam kamar, ia menghampiri Sonya yang tengah asik dengan ponselnya.
"Cinta, apa kamu marah?" Briyan memeluk perut ramping Sonya membuat Sonya salah tingkah. Ia tadi memang marah, namun setelah mendengar penolakan Briyan secara langsung pada Angel tadi membuatnya yakin bahwa Briyan memang mencintainya.
"Ah itu... menurutmu?" Tanya Sonya dengan nada cuek yang buat-buat.
"Tapi kamu tidak jujur kalau pernah tinggal seatap dengan pacarmu. Dan kamu tidak jujur bahwa aku yang pertama bagimu. Nyatanya Sebelum aku, sudah banyak wanita yang naik ke atas ranjangmu!" Ujar Sonya dengan senyum kecut. Ia merasa di bohongi dan di hianati oleh suaaminya sendiri. Meskipun ia tahu, masa lalu tidak mungkin di rubah, tapi kejujuran mampu merubaah segalanya. Ia hanya ingin Briyan jujur meski itu menyakitkan.
"Ellena memang pernah tinggal di Partemenku, itupun hanya 2 bulan. Dan aku memang tidak pernah berhubungan intim dengannya cinta. Jika kamu tidak percaya, kamu boleh bertanya pada papa, karena diam-diam papa telah menyimpan kamera tersembunyi di apartemenku sehingga ia tahu persis semua yang aku lakukan" Ujarnya dengan penuh keseriusan. Tak nampak kebohongan dari mata Briyan.
"Lalu bagaimana dengan Angel? Dia bahkaan mengatakan secara langsung bahwa dirinya adalah penghangat ranjangmu! Apa itu artinya kamu telah melakukannya jauh sebelum kita saling mengenal?" Tanya Sonya dengan menatap mata Briyan.
"Tidak Cinta, aku berani bersumpah.. Aku tidak pernah melakukannya baik dengan Angel ataupun dengan yang lainnya. Hanya kamu Sonya." Ujarnya mengelak semua yang di ucapakan Sonya.
"Sayangnya aku tidak yakin Bri" Ujar Sonya sambil memandang ke sembarang arah.
"Jangan percaya ucapaan Angel, dia itu licik. Dia berpacaran denganku tapi selalu tidur dengan laki-laki lain. Dia itu ******!" Ujar Briyan dengan penuh emosi. Di antara semua mantan pacarnya. Hanya Angel yang berani berbuat nekat. Bahkan sampai mengancam bunuh diri kalau Briyan tak keluar untuk menemuinya.
__ADS_1
Sonya terdiam melihat wajah Briyan yang berubah merah. Ia terlihat sangat marah pada Angel. Briyan berusaha bangkit dari posisinya dan berjalan menuju lemari kaca di kamar tersebut. Ia mengambil sebuah koper kecil berwarna silver dan membawanya ke hadapan Sonya.
"Ini apa Bri" Tanya Sonya keheranan.
Briyan kemudian membuka koper tersebut. Lagi-lagi Sonya terperanjat saat melihat tumpukan uang merah dalam koper tersebut.
"Ini adalah mas kawin yang ku berikan untukmu. Maaf, hanya ini yang kupunya dari hasil jerih payahku sendiri. Dan ini telah ku berikan sepenuhnya untukmu. Mulai besok aku akan kembali bekerja di perusahaan papa." Ujarnya sambil membelai pipi Sonya.
"Berapa?"
"Berapa jumlahnya?" Tanya Sonya sambil menatap wajah lelah suaminya.
"Hitunglah sendiri kalau masih kurang, anggap saja hutang" Ujar Briyan.
"Enak saja! Mas kawin tidak bisa di hutang! Baiklah jika kamu tidak mau menyebut jumlahnya. Kamu sendiri yang harus menghitungnya ,untuk memastikan jumlahnya" Ujar Sonya sambil menyodorkan koper tersebut kepada Briyan.
"Tidak-tidak. Jumlahnya 500 Juta" Ujar Briyan cepat.
"500 Juta? Mas kawin untukku?" Tanya Sonya memastikan.
"Iya, apa itu kurang?" Tanya Briyan balik.
"Lalu bagaiman dengan kalung ini? Berapa harganya?" Sonya memegang kalung yang melingkar di lehernya.
"Ah itu...."
"Cepat katakan!" Desak Sonya yang tidak sabar mendengarnya.
"Itu 1,3 M" Jawab Briyan sambil meringis.
"Dasar!" Sonya menimpuk bahu Briyan dengan bantal.
__ADS_1
"Ketahuilah Bri, aku tidak butuh semua uangmu, aku tidak butuh perhiasan mahal atau barang mewah lainnya. Yang aku butuhkan hanya dirimu. Dirimu yang mencintaku dengan sepenuh hatimu" Sonya menangkup wajah Briyan dan menatap matanya lembut.
"Aku mencintai kamu apa adaanya. Dengan segala masa lalu kelam mu, dengan sederet mantanmu dan aku mencintai kamu yang mau menerimaku dan menjadikanku satu-satunya. Hanya satu satunya Briyan!"