Jodoh Pilihan Allah

Jodoh Pilihan Allah
Janda


__ADS_3

"Kak Jeff sedang apa di sini?" Tanya Shafa. Sambil mendongak kepada pria tegap di hadapannya.


"Sama sepertimu" Ujar Jeffri singkat.


"Haah? Kak Jeff nggak mungkin nganter anak kan?" Shafa memicingkan matanya. Jeffri hanya tersenyum.


"Impossible, sini..sini... Kak Jeff harus jelasin sama aku" Shafa menarik lengan jaket Jeffri untuk duduk di sebelahnya. Hal itu menarik perhatian Rayyan. Iya mulai merasa kesal dengan tingkah istrinya. Namun sebisa mungkin ia bersikap tenang karena sedang ngobrol dengan papi Aira.


"Jangan bilang kak Jeff sudah menikah? Kenapa nggak ngundang aku? Daddy juga nggak pernah cerita" Ujar Shafa sambil menodongkan telunjuknya di depan wajah Jeffri.


"Gimana mau ngundang, kamunya sendiri main kabur-kaburan." Ujar Jeffri.


"Kapan?" Shafa mencoba mengingat-ingat.


"5 bulan lalu. Dasar pikun. Kamu nih ya, nggak berubah, hobinya suka bikin orang khawatir. Aku sampai batalin penerbanganku ke Rusia demi nyari kamu" Terang Jeffri. Rayyan mulai tak fokus mendengar obrolan istrinya.


"Hah? Serius? Kakak kok tau? Pasti Daddy kan yang nyuruh? Ih kak Jeff mau aja di suruh-suruh Daddy. Emang kak Jeff di gaji brapa sih sama Daddy. Dulu juga pas Shafa kuliah, kak Jeff sering banget ngikutin Shafa kalau lagi liburan. Sebenarnya kak Jeff ini intel negara atau intelnya Daddy" Ujar Shafa.


"Hush jangan keras-keras!" Bisik Jefri yang tak ingin di ketahui identitasnya.


"Ini bukan masalah gaji, Tapi tanggung jawab!" Ujarnya sambil tersenyum ke arah Shafa.


"Ekhmmm" Akhirnya suara tersebut menyadarkan Shafa bahwa Rayyan masih duduk di sebelahnya.


"Oh iya, sampai lupa. Kak Jeff, kenalin ini suamiku. Ganteng kan" Ujar Shafa sambil menggandeng lengan suaminya di sampingnya.


"Sudah tau, dan sudah pernah ketemu" Ujar Jeffri.


"Seriously? Kapan? Perasaan pas resepsi pernikahanku kak Jeff lagi di luar kota." Tanya Shafa sambil melirik Jeffri dan Rayyan bergantian.


"Waktu mencarimu!" Jawab Rayyan datar. Ia benar-benar terganggu dengan kehadiran Jeffri yang begitubdekat dengan Shafa.


"Apa bapak dan ibu baik-baik saja Fa?" Tanya Jeffri.


"Mommy dan Daddy baik-baik saja kak. Oh ya, mana istri kakak?" Tanya Shafa. Jeffri kemudian melambaikan tangan pada seseorang yang sedang bersama bocah laki-laki seusia Zafran.


"Kenalin Fa, ini istriku" Jeffri memperkenalkan seorang wanita berjilbab biru yang usianya lebih tua dari pada Shafa.


"Aini..." Ia mengulurkan tangannya.


"Shafa" Shafa berdiri menyambut uluran tangan wanita bernama Aini tersebut.


"Nak, salim dengan tante Shafa" Ujarnya pada anak lelaki yang sedang bersamanya.


Astaga, Jangan-jangan kak Jeff menikahi janda?


"Hallo sayang, siapa namanya?" Tanya Shafa.


"Hafiz tante" Jawabnya.


"Anak kamu mana Fa?" Tanya Jeffri.


"Zafran sayang... Sini dulu nak!" Panggil Shafa pada Zafran yang tengah bermain bersama Aira.


"Ini anak ku kak, namanya Zafran. Sayang salim sama om Jeff dan tante Aini" Zafran pun menurut, ia menyalami Jeffri dan Aini bergantian.


"Ini kakak Hafiz sayang. Zafran nanti berteman dengan Hafiz ya?" Ujar Shafa sambil mengenalkaan Hafiz pada Zafran.


Setelah Zafran masuk ke dalam kelas bersama anak yang lainnya, Rayyan pun ikut berpamitan pada istrinya untuk ke kampus, namun seebelum pergi, ia menyampaikan pesan yang cukup meenggelitik di telinga Shafa. Bagaimana mungkin suaminya yang super kalem itu berkata demikian.


"Mas pergi dulu! Hati-hati, jaga diri baik-baik jangan ngobrol dan dekat-dekat dengan sembarang lelaki tanpa sepengetahuan mas!" Ujarnya sebelum meninggalkan Shafa. Shafa ingin tertawa terpingkal-pingkal saat kata-kata itu meluncur bebas dari bibir Rayyan.


"Kak Aini sudah lama menikah dengan kak Jeff?" Tanya Shafa pada wanita yang di ketahui sebagai istri Jeffri.

__ADS_1


"Hampir 3 bulan yang lalu" Ujarnya sambil tersenyum manis.


"Tiga bulan lalu? Berartikan aku sudah pulang dari pesantren. Ih, kak Jeff kok nggak udang aku sih? Apa Daddy juga tidak di undang?" Gumam Shafa tapi masih bisa di dwngar oleh Aini.


"Pak Harsha di undang, namun beliau berhalangan hadir" Ujar Aini lembut.


"Oh, mungkin waktu Daddy ke Singapura." Ujar Shafa.


"Oh ya, kandungan kamu sudah berapa bulan? Mas Jeffri sering loh nyeritain tentang kamu" Ujar Aina yang membuat Shafa terkejut.


"Aku? Kak Jeff cerita apa?" Tanya Shafa keheranan.


"Tentang kebiasaan kamu yang suka ngerjain Mas Jeffri biar bisa di izinin party sama Daddy kamu dan masih banyak lagi" Ujarnya.


"Astaga, Kak Jeff... Beraninya dia buka aib aku" Ujar Shafa. Aini malah tertawa mendwngar keluh kesah Shafa.


"Kalian akrab banget ya? Kaya saudara."


"Hemm... Kak Aini jangan cemburu ya. Aku nggak ada apa-apa loh sama kak Jeff. Yang ada dia tuh selalu ngerecokin melulu kalau aku lagi pacaran. Alasan nggak sengaja ketemu lah, padahal itu akal-akalan nya aja biar nggak ketahuan kalau dia lagi di suruh mata-matain aku sama Daddy. Aku juga heran kak Jeff mau-mau aja di suruh sama Daddy" Ujar Shafa.


"Karna Mas Jeff sayang sama kamu dan tidak ingin kamu kenapa-kenapa begitu juga dengan pak Harsha" Ujar Aini.


"Hah?"


"Oh ya, tadi pertanyaan kakak belum di jawab. Ini kandungannya berapa bulan?" Tanyanya lagi.


"Ini 8 bulan kak, lagi deg-degan nunggu kelahiran" Ujar Shafa sambil mengelus perutnya.


Hari pertama Zafran sekolah berjalan dengan baik. Ia mendapatkan banyak teman baru termasuk Hafiz putra dari Aini. Shafa juga sudah mulai akrab dengan beberapa ibu-ibu yang juga tengah menunggui putra puti mereka. Mereka saling bercerita dan bertukar pengalaman terutama seputar kehamilan. Shafa banyak mendapatkan tips dan wejangan agar dapat melahirkan dengan lancar.


Pukul 11 tepat, pak Madi selaku supir pribadi keluarga Rayyan sudah menunggu di deoan gerbang sekolah.


"Bu Shafa, bisa nitip Aira? saya sepertinya pulang agak siang karena ada rapat dengan pimpinan yayasan" Ujar Mami Aira yang juga istri dari pak RW di lingkungan tempat tinggal Shafa.


"Terima kasih Bu Shafa, nanti biar susternya menjemput di rumah bu Shafa"


Karena jarak sekolah yang tak begitu jauh dari kediaman Shafa, membuat mereka cepat sampai dirumah. Shafa segera masuk dan mengganti pakaian Zafran dengan baju bermainnya. Aira pun ikut serta kerumah Shafa karena tidak mau di ajak pulang oleh susternya. Saat ini, mereka sedang berada di meja makan untuk menikmati santap siang bersama.


"Zaflan kamu ngomong apa?" Tanya Aira saat mendengar Zafran membaca doa makan.


"Itu doa makannya Zafran sayang." Ujar Shafa memberikan pengertian pada gadis kecil itu.


"Aku juga mau beldoa. Bagaiman doanya tante?" Tanya Aira polos.


"Doa nya Zafran dan Aira beda. Nanti Aira minta Ajar sama mami yah di rumah" Ujar Shafa. Aira pun mengangguk sambil menghabiskan makanannya.


Hari ini Rayyan pulang sudah sore lantaran harus mengikuti rapat rutin yang di lakukan setiap awal semester. Setelah Shalat Isya Zafran tidur lebih awal karena takut besok terlambat. Ia masih dalam fase semangat semangatnya bersekolah karena masih baru. Sejak Rayyan pulang hingga menjelang tidur, tak henti-hentinya ia menceritakan tentang sekolahnya. Memamerkan hal-hal baru yang ia lihat dan lakukan di sekolah.


"Mas..." Panggilnya pada suaminya yang sudah dalm posisi memeluk tubuhnya dari belakang.


"Hmm"


"Mas, aku mau beli hadiah pernikahan buat kak Jeff, menurut mass gimana?" Tanya Shafa. Rayyan langsung membalikkan tubuh istrinya menghadap ke arahnya. Rayyan menatap mata Shafa sambil mengerutkan dahinya.


"Bukankah pernikahannya sudah lewat? Shafa, Mas tidak suka Shafa terlalu dwkat dengan Jeffri" Ujar Rayyan to the point.


"Mas Cemburu?" Tanya Shafa yang meraskan aura kecemburuan dari sang suami.


"Masih perlu di tanya?" Rayyan mebgalihakan pandangannya.


"Ih, beneran cemburu to." CUP! Shafa malah menggodanya dengan mencium bibir Rayyan.


"Jangan memancing Shafa" Rayyan mengingatkan karena Shafa mulai menggodanya dengan memainkan jemarinya di dada bidang Rayyan.

__ADS_1


"Gitu dong, sekali-kali mas cemburu juga. Jangan cuma aku aja yang cemburu." Ujar Sjafa yang merasa senang dengan ekspresi suaminya.


"Shafa senang kalau mas cemburu?" Yanya Rayyan menajamkan tatapannya.


"He.em... Tapi sayangnya kali ini mas cemburunya salah alamat" Ujar shafa.


"Kenapa?"


"Yah karena mas cemburunya sama kak Jeff, kak Jeff itu orang kepercayaan Daddy. Sudah seperti anak Daddy sendiri dan sudah seperti kakak Shafa" Ujar Shafa menerangkan kedekatan mereka.


"Tapi tetap saja dia bukan muhrim Shafa. Dia tetap orang lain" Ujar Rayyan.


"Nggak mas, kak Jeff itu beda. Dia bukan orang lain bagi Shafa. Dia dulu sering bermalam di rumah Daddy bahkan pernah suatu hari kak Jeff sakit, Daddy yang merawat dirumah bersama mommy." Ujar Shafa.


"Sekalipun begitu, Shafa tetap harus menjaga jarak." Ujara Rayyan.


"Iya mas, iya! Lagian kak Jeff kan udah menikah. Istrinya baik banget lo mas. Tapi sayang kayaknya dia udah janda deh, buktinya anaknya udah sekolah juga. Kak Jeff kok mau sih nikah sama janda kaya nggak ada yang masih single aja" Ujar Shafa.


"Apakah status itu penting?" Tanya Rayyan.


"Iya dong Mas, kan sayang aja gitu. Kak Jeff kan ganteng yang sering nitip salam ke dia banyak. Terus nikahnya sama janda, sudah ada anknya pula." Jawab Shafa.


"Jangan memandang remeh seorang janda, jika Shafa belum tahu rasanya hidup dan membesarkaan anak tanpa adanya seorang kepala keluarga di sisinya" Ujar Rayyan.


"Bukannya gitu mas tapi sayang aja gitu loh" kekeh Shafa yang tetap menyayangkan pilihan Jeffri.


"Sepertinya Shafa harus mulai merubah cara pandang Shafa agar tidak menilai sesuatu hanya dari satu sisi saja" Ujar Rayyan, sambil membelai lembut pipi istrinya.


"Shafa tahu, satu dari 4 orang wanita mulia penghuni surga adalah seorang janda sebelum ia di nikahi oleh manusia terbaik yang ada di muka bumi"


"Siapa? Memang ada manusia terbaik? bukannyaa mas bilaang tidak ada manusi yang sempurna?" Tanya Shafa sedimit memprotes ucapan Rayyan.


"Beliau adalah Khadijah binti Khuwailid istri pertama Rasululloh. Beliau adalah janda yang usiaanya terpaut 15 tahun. Beliau adalah wanita mulia teladan sepanjang masa. Padahal kala itu banyak gadis-gadis cantik yang masih lajang, namu Rasulullah menautkan hatinya pada Khadijah seorang janda yang rela mengabdikan suluruh hidupnya, kekayaannya demi tegaknya agama Allah."


"Mas tahu kisah tentang Khadijah?" Tanya Shafa yang penasaran. Selama ini yang ia tahu hanya Aisyah seiring dengan Viralnya lagu berjudul Aisyah yang menceritakan tentang kisah cinta Rasululloh dengan Sayyidah Aisyah.


"Dikisahkan, suatu hari ketika Rasulullah pulang dari berdakwah, Beliau masuk ke dalam rumah. Khadijah radhiyallahu ‘anha menyambut, dan hendak berdiri di depan pintu. Ketika Khadijah hendak berdiri, Rasulullah bersabda: "Wahai Khadijah tetaplah kamu ditempatmu". Ketika itu Khadijah sedang menyusui Fatimah yang masih bayi.


Saat itu seluruh kekayaan mereka telah habis. Seringkali tidak mempunyai makanan. Sehingga ketika Fatimah menyusu, bukan air susu yang keluar akan tetapi darah. Darahlah yang masuk dalam mulut Fatimah.


Kemudian Beliau mengambil Fatimah dari gendongan istrinya Khadijah lalu diletakkan di tempat tidur. Rasulullah yang lelah seusai pulang berdakwah dan menghadapi segala caci maki dan fitnah manusia itu lalu berbaring di pangkuan Khadijah.


Rasulullah tertidur. Ketika itu Khadijar radiallahu anha membelai kepala Rasulullah dengan penuh kelembutan dan kasih sayang. Tak terasa air mata Khadijah menetes di pipi Rasulullah. Beliau pun terjaga.


"Wahai Khadijah Mengapa engkau menangis? Adakah engkau menyesal bersuamikan aku, Muhammad?" tanya Rasulullah dengan lembut.


"Dahulu engkau wanita bangsawan, engkau mulia, engkau hartawan. Namun hari ini engkau telah dihina orang. Semua orang telah menjauhi dirimu. Seluruh kekayaanmu habis. Adakah engkau menyesal wahai Khadijah bersuamikan aku, Muhammad?" lanjut Rasulullah tak kuasa melihat istrinya menangis."Wahai suamiku. Wahai Nabi Allah. Bukan itu yang kutangiskan." jawab Khadijah.


"*Dahulu aku memiliki kemuliaan. Kemuliaan itu telah aku serahkan untuk Allah dan Rasul-Nya. Dahulu aku adalah bangsawan. Kebangsawanan itu juga aku serahkan untuk Allah dan Rasul-Nya. Dahulu aku memiliki harta kekayaan. Seluruh kekayaan itupun telah aku serahkan untuk Allah dan Rasul-Nya.


"Wahai Rasulullah. Sekarang aku tak punya apa-apa lagi. Tetapi engkau masih terus memperjuangkan agama ini. Wahai Rasulullah. Sekiranya nanti aku mati sedangkan perjuanganmu ini belum selesai, sekiranya engkau hendak menyebrangi sebuah lautan, sekiranya engkau hendak menyebarangi sungai namun engkau tidak memperoleh rakit pun atau pun jembatan.


"Maka galilah lubang kuburku, ambilah tulang belulangku. Jadikanlah sebagai jembatan untuk engkau menyebrangi sungai itu supaya engkau bisa berjumpa dengan manusia dan melanjutkan dakwahmu.


"Ingatkan mereka tentang kebesaran Allah. Ingatkan mereka kepada yang hak. Ajak mereka kepada Islam, wahai Rasulullah*."


Sebuah pengorbanan istri tercinta Rasulullah dalam menemani Beliau hingga wafat. semua pengorbanan tidaklah mudah, namun kita bisa mengambil hikmah dari beliau Siti Khadijah radhiyallahu ‘anha, seorang janda yang dinikahi Rasulluloh mejadi wanita mulia teladan sepanjang masa.


"Jadi jangan pernah menilai seseorang dari statusnya sayang. Boleh jadi, janda itu lebih baik dari pada yang gadis" Ujar Rayyan. Bukannya merespon Shafaa malah menangis sesunggukan di bawah dada Rayyan.


"Hei sayang... Kamu kenapa menangis?" Tanya Rayyan sambil memandang wajah istrinya.


"Aku terharu mas. Di bandingkan Khadijah, aku nggak ada apa-apanya sama sekali" Ujarnya.

__ADS_1


"Shafa ku tidak harus menjadi seperti Khadijah. Cukup menjadi diri Shafa yang mau belajar dan mengambil hikmah dari kisah ibu da Khadijah radiallahu anha" Ujar Rayyan sambil memeluk erat istrinya.


__ADS_2