Jodoh Pilihan Allah

Jodoh Pilihan Allah
USG


__ADS_3

"Kak, ayolah mampir ke rumah nggak jauh kok dari sini" Ujar Shafa pada istri Jeffri yang tengah menunggu jemputan.


"Lain kali ya Fa, kasian neneknya Hafiz kalau di tinggal lama-lama" Ujar Aini.


"Mama kak Jeff?"


"Bukan, mama aku Fa. Mama Mas Jeffri sudah wafat sejak dia kecil" Terang Aini.


"Ya udah, Shafa temani ya kak sampai jemputan kakak datang. Toh mereka masih asik bermain" Tunjuk Shafa pada Hafiz dan Zafran yang sedang bermain prosotan.


"Kamu belum pulang Fa?" Suara berat itu mengalihkan pandangan Shafa.


"Kak Jeff, aku nemenin kak Aini. Kak Jeff lama sih" Ujar Shafa.


Jeffri mendudukan tubuhnya di sebelah Shafa.


"Eh, kak Jeff ini polisi kan? Kok aku nggak pernah pake seragam sih? Jangan-jangan polisi gadungan ya?" Tanya Shafa. Ia heran, Jeffri yang ia tahu berprofesi sebagai anggota polisi tapi sama sekali tidak pernah mengenakan seragam seperti polisi pada umumnya.


"Jangan keras-keras Fa! Seragam intelegen ya seperti ini. Kadang harus pakai baju ala gembel, preman, ustad juga pernah" Ujar Jeffri.


"Kak Jeff, main ke rumah dong! Ajak kak Aini." Ujar Shafa.


"Lain waktu ya Fa, setelah ini kakak ada tugas berat di luar" Ujarnya sambil tersenyum pada wanita yang selalu di jaganya sejak kuliah dulu


"Mas mau keluar kota?" Tanya Aini. Jeffri menggeleng.


"Nanti kita bicara di rumah. Ya sudah ayo pulang. Mana anak-anak?"


"Zafran, Hafiz, Aira ayo pulang" Panggil Shafa pada tiga bocah yang sedang asyik bermain perosotan. Mereka pun segera berlari menuju orang tua masing-masing.


"Hafis, besok kita main lagi ya?" Ujar Zafran.


"Zafran besok hari minggu, kita ga ke sekolah" Balas Hafiz yang jauh lebih tua dari Zafran.


"Kalo hali minggu kenapa kita ga sekolah mommy?" Tanya Zafran.

__ADS_1


"Kalna hali minggu aku dan mami pelgi ke geleja, jadi ga sekolah Zaflan" Sahut Aira.


"Karena hari minggu hari libur sayang. Kadi kalau hari minggu semua libur. Ayah libur kerja, Zafran libur sekolah" Jawab Shafa.


"Tapi Aila pelgi ke geleja. Geleja itu dimana mommy" Tanyanya lagi.


"Kenapa kamu nggak pelnah ke geleja Zaflan?" Tanya Aira. Untuk anak seusian Aira dan Zafran mereka belum mengerti bahwa mereka berbeda satu sama lain.


"Zafaran beribadahnya di masjid sayang karena Zafran muslim, kalau Aira beribadahnya di gereja" Terang Shafa. Aira dan Zafran hanya diam manggut-manggut entah paham atau tidak. Meskipun Zafran dan Aira berbeda keyakinan mereka tetap berteman layaknya anak anak pada umumnya. Begitupun orang tuanya, mereka tetap bertetangga dan saling rukun meski terdapat perbedaan keyakinan di antara ke duanya.


Hari ini usia kandungan Shafa memasuki minggu ke 34, diperkirakan ia akan melahirkan 3 minggu lagi bisa jadi sebelum Ramadhan atau di awal Ramadhan.


"Mas, apa mas sudah nyiapin nama buat anak kita?" Tanya Shafa. Saat ini mereka sedang di perjalanan menuju tempat praktek dr. Liliyana. Dokter yang di rekomendasikan khusus oleh orang tua Shafa.


"Belum, apa Shafa sudah punya nama buat dia?" Tanya Rayyan balik. Biasanya soal nama, ibu-ibu paling cepat. Terleebih sekarang banyak aplikasi yang khusus memuat nama-nama bayi sesuai dengan keinginan orang tua. Ada yang nama ke arab-araban atau ke barat-baratan.


"Aku juga belum ada bayangan mas. Mas mau ngasih nama yang ke arab-araban ya?" Tanyanya lagi. Mengingat Rayyan alumni Kairo bisa jadi ia kan memberikan nama anaknya yang tak jauh-jauh seperti namanya.


"Belum tau sayang, Shafa maunya yang ke arab-araban atau yang ke Jerman-jermanan?"


"Kan Shafa dulu guru bahasa Jerman. Siapa tau mau ngasih namanya yang ada unsur kejerman-jermanannya" Balas Rayyan sambil merangkul bahu istrinya. Malam ini mereka pergi dengan diantar supir. Mereka hanya berdua karena Zafran sedang di bawa mommy untuk bermalan dikediamannya.


"Ya nggak lah, nama orang jerman susah fi ucapinnya. Zafran kira-kura nangis nggak ya Mas?" Shafa mulai khawatir.


"Ya enggak mungkinlah sayang, wong dianya semangat banget tadi waktu mau pergi" Balas Rayyan.


"Lagian Daddy punya anak cuma satu, kan sepi jadinya." Ujar Shafa.


"Makanya kita harus perbanyak anak supaya mereka nggak kesepian, Gimana pak Madi?" Balas Rayyan. Pak Madi yang mendengarkaan percakapan majikannya hanya senyum senyum turit merasakan senang.


"Benar pak! Mumpung masih muda. Kalau banyak anak itu perasaan ayem dan tentrem pak. Apalagi kalau sudah punya cucu. Pantaslah kalau pak Harsha begitu sayang sama mas Zafran, karena saya juga sama cucu saya kalau sehari nggak lihat rasanya kangen" Balas pak Madi.


"Mas tau nggak, kalau mommy tuh dulu hampir 8 tahun menikah baru di karunia aku" Ujar Shafa.


"Masa sih?" Rayyan baru mengetahui kenyataan yang baru saja di ungkap oleh Shafa.

__ADS_1


"Iya, kan mommy menikah pada saat mommy masih kuliah, dan daddy sudah jadi dokter. Kata mommy awalnya momny menunda kehamilan sampai momny selesai kuliah, eh tau tau sudah selesai kuliah pun mommy masih menunda kehamilan dengan alasan kariir, giliran udah siap hamil ternyata nggak di kasi-kasi juga sampai hampir 8 tahun baru mommy hamil Shafa itu pun melalui prosedur bayi tabung kala itu. Untung Daddy setia sama mommy meski mommy lama baru mengandung" Terang Shafa.


"Oh, begitu... Makanya kita nggak boleh menunda untuk punya anak, selagi masih di beri kesempatan lanjut terus. Shafa lihat kan, usaha mommy dan daddy untuk memiliki Shafa, itu sebabnya kita harus bersyukur karena ke Maha Baikkan Allah kita bisa cepat di beri momongan tanpa menunggu bertahun tahun."


Setelah menempuh perjalanan sekitar 30 menit sampailah mereka di tempat prakter dr. lily. Begitu tiba Shafa langsung di sambut ramah oleh para perawat dan langsung mendapatkan pelayanan karena telah membuat janji sejak beberapa waktu lalu. Pertama-tama ia harus mengecek tekanan darah, berat badan dan lingkar lengan atas terlebih dahulu sebelum bertemu dengan dokter.


Dokter lily mengarahkan alat USG pada permukaan perut Shafa yang sudah membesar.


"Ok, posisinya sudah bagus, bagian kepala sudah berada di bawah. Kalau tidak ada halangan di perkirakan 3 minggu lagi akan lahir. Namun kalau dalam waktu tiga belum merasakan apa-apa ibu Shafa bisa kembali kemari atau ke klinik bapak" Ujar Dokter lily. Rayyan dan Shafa tersenyum bahagiaa melihat perkembangan anak mereka yang sudah semakin jelas terlihat. Bagian jari-jarinya juga bibir dan dagunya.


"Terima kasih dokter"


"Oh ya, apakah ASI nya sudah keluar?" Lagi-lagi pertanyaan yang sama seperti yang momny tanyakan tempo hari.


"Sudah mulai keluar dok sedikit" Ujar Shafa


"Baguslah kalau begitu, ibu harus sering-sering berjemur dan berjalan jalan kecil untuk mengurangi pembengkakan pada kaki" Ujar Dokter.


"Baik dokter"


Setelah melakukan USG Rayyan dan Shafa keluar dari ruangan dokter Lily. Tanpa di duga mereka bertemu dengan pasangan kontroversi yang sempat membuat pusing karena pernah tiba-tiba menghilang. Siapa lagi kalau bukan Sonya dan Briyan.


"Hai Shafa..." Panggil Sonya yang langsung menghampiri dan memeluknya.


"Aduuh, sudah semakin besar aja perutnya... kayaknya udah mau lahiran ya?" Tanya Sonya sambil mengusap lembut perut Shafa.


"Iya nih, kalau nggak ada kendala 3 minggu lagi lahiran. Oh ya, bu Sonya mau konyrol juga? Ya Ampun, beneran laangsung jadi nih?" Tanya Shafa yang membuat Sonya cemberut seketika.


"Itulah masalahnya. Aku baru selesai datang bulan. Ini baru mau konsul sama dokter buat program hamil" Ujar Sonya.


"Sabar bu Sonya, Shafa juga dulu nggak langsung jadi kok. Intinya terus berusaha dan...."


"Dan jangan sering berpuasa kan pak Rayyan?" Sahut Briyan dengan cepat yang langsung dapat tatapan galak dari Sonya.


"Dan jangan lupa berdoa pak Briyan. Usaha tanpa doa sama dengan kufur dab doa tanpa usaha sama dengan bohong. Jadi keduanya harus seimbang" Terang Rayyan.

__ADS_1


"Tuh kan, dengerin omongan Ayahnya Zafran. Jangan cuma usahanya aja yaang getol tapi doanya nggak" Sonya melirik kearah Briyan memberikan sedikit singgungang padanya.


__ADS_2