
Shafa Azura
Aku mengerjap saat merasakan tendangan kuat dari dalam perutku. Ku putar tubuhku hingga terlentang. Rasanya sulit sekali menemukan kenyamanan saat tidur di usia kandungan yang kian membesar. Ku lirik di sebelahku mas Rayyan masih tertidur pulas. Wajahnya yang tenang membuatku selalu ingin menciumnya. Sepertinya sejak mengandung si baby boy ini, tingkat kegenitanku bertambah dua kali lipat. Aku selalu haus belaian dan sentuhannya, padahal aku bukan jablay. Tapi entahlah dorongan dari dalam diriku begitu kuat, mungkin karna anakku ingin selalu dekat dengan bapaknya.
Ku lihat, jam masih menunjukan pukul 1 dini hari. Dan aku tidak bisa tidur kembali. Aku ingat waktu aku masih hamil muda, aku selalu bangun di jam-jam seperti ini untuk makan malam. Dan sekarang saat kandunganku semakin tua, aku pun kembali terjaga karena rasa nyeri dan tidak nyaman yang aku rasakan.
"Mass..." Aku mencoba membangunkan suami gantengku yang kucintai dengan segenap jiwa dan ragaku. Enak saja dia tidur nyenyak sementara aku terjaga seperti zombie. Ini kan juga karena anak dalam kandunganku jadi mas Rayyan harus ikut menenangkan agar aku bisa tidur nyenyak.
Panggilan pertama tak ada jawaban. Aku coba membangunkannya dengan menciumi pipinya.
CUP! Satu kecupan di pipi kanannya.
CUP! Satu kecupan di bibirnya. Namun dia tak juga terjaga.
CUP!
CUP!
CUP!
CUP!
Ciuman bertubi-tubi ku layangkan pada permukaan wajahnya. Aku mulai merasakan afa pergerakan yang menandakan sang empunya tubuh telah terjaga.
"Eemmh.. Sayang" Ucapnya dengan suara serak sambil mengerjapkan matanya. Aku menatap wajahnya dari atas dengan perasaan senang.
"Istriku kenapa? Mau?" Tanyanya sambil menyentuh pipiku. Mau? Mau? Mau apa coba? Orang aku nggak bisa tidur.
"Anak kamu nendang terus mas" Aduku dengan suara manja. Biasanya si baby boy akan lebih tenang setelah mendapat elusan lembut dari tangan bapaknya. Apalagi elusan plus-plus yang akan membuatku auto tidur nyenyak sampai subuh menjelang.
"Sini mas tenangin" Ujarnya sambil bangkit dari posisi berbaringnya. Ia merebahkan tubuhku dengan posisi terlentang setelah meyusun bantal agak tinggi sehingga nyamat buatku berbaring setengah bersandar.
__ADS_1
Mas Rayyan mulai menyingkap dresa tidur pendekku ke atas, sehingga kulitnya bisa bersentuhan langsung dengan permukaan perutku yang sudang mengembang berkali-kali lipat dari ukuran yang semestinya. Dia mengusap lembut sambil sesekali mencium permukaan kulit ku tersebut. Aku heran, setiap kali anak dalam kandungan ku menendang aku berusaha menenangkannya dengan mengelus lembut sama yang di lakukan mas Rayyan tapi hasilnya nihil, ia masih saja menendang lagi dan lagi. Berbeda jika mas Rayyan yang mengelus dan mengajaknya bicara, dia langsung tenang seakan mengikuti semua yang di ucapkan oleh ayahnya. Aku jadi berfikir jika anakku nanti akan lebih nurut pada ayahnya ini dari pada aku mommynya.
Setelah berhasil menenangkan anak dalam kandunganku, mas Rayyan mengusup lembut kepalaku menyuruhku untuk tidur, sedangkan ia bangkit dari tempat tidur menuju kamar mandi. Sudah bisa di tebak pasti dia hendak berwudhu dan melaksanakab shalat malam. Biasanya setelah sholat dia akan berzikir lama kalau tidak membaca ayat suci al quran di sebelahku hingga aku benar-benar terlelap.
Pagi ini, aku dan mas Rayyan akan menjemput Zafran di rumah mommy, meskipun hanya semalam tapi hatiku rasanya tak tenang saat jauh dari malaikat kecilku itu. Meski bukan terlahir dari rahimku, dia telah menjadi bagian dari hidupku sejak pertama kali aku membawanya ke rumah ini. Setelah selesai sarapan pagi dan membereskan tempat tidur, aku segera bersiap ke rumah mommy sekalian menghabiskan akhir pekan di sana.
Sekali lagi ku pandangi pantulan tubuhku di cermin. Sedikit berputar, miring, dan berbagai pose lainnya kulakukan untuk melihat tubuh dari segala sisi. Dan hasilnya tetap sama GENDUT! Ku aangkat sedikit lenganku, ku lirik lengan kanan atasku, aku cekikan sendiri melihat lenganku yang cukup besar. Pantas saja Amel dan Vira mengatauku seperti badak.
"Kamu kenapa sayang? Kenapa belum ganti baju?" Mas Ray yang baru saja keluar dari kamar mandi heran melihatku masih mengenakan pakaian dalam serba hitam di depan cermin.
"Lagi ngaca mas" Jawabku . Aku masih memperhatikan setiap inci perubahan tubuhku mulai dari ujung kepala hingga ujung kaki. Rambutbyang dulu selalu berganti warna dan gaya, kini bertahan dengan satu warna hitam kecoklatan yang merupakan warna asli dari rambutku yang sudah mulai memanjang. Sejak hamil aku belum pernah memotongnya sama sekali karena ternyata mas Rayyan lebih menyukai aku dengan gaya rambut panjangku. Lalu bagaimana dengan wajahku? Tentu saja sudah bertambah bundar aakibat penambahan daging di bagian rahang bawah hingga pipi, walaupun begitu aku masih tetap rutin merawatnya dengan memanggil orang salon ke rumah. Aku harus tetap cantik dan menggoda agar suamiku tidak tergoda oleh para VALAKOR yang bertebaran dimana-mana. Meski aaku tahu mas Ray adalah tipikal lelaki setia seperti Daddy dan Ayah, tapi aku tetap harus waspada seperti kata pepatah sedia payung sebelum hujan.
"Ga baik terlalu lama membiarkan tubuh terbuka seperti itu. Nanti di nikmati setan" Suara mas Rayyan kali ini benar-benar membuarku merinding. Aku segera mengambil daster panjang dari dalam lemari pakaianku. Padahal aku sedang mengamati dwngan seksama perubahan bentuk dadaku yang dua kali lipat lebih besar, padat dan berisi dari sebelumnya. Kali ini aku memakai daster berwarna hitam dengan motif huruf F yang menandakan salah satu brand ternama di bagian bawahnya. Daster ini aku beli secara online dengan harga yang cukup murah bagiku. Bukan barang import apalagi ori seperti barang-barangku dahulu. Aku kini sedikit lebih bijak dalam menggunakan uang suamiku. Tidak menghamburkannya seperti saat memakai uang daddy dulu. Meskipun aku tahu suamiku cukup mampu, tapi aku tak ingin anak-anakku kelak mengikuti jejak diriku. Bukankah anak adalah peniru yaang ulung?
Setelah menempuh perjalanan sekitar 20 menit, akhirnya sampailah kita di sebuah rumah besar tempat aku lahir dan di besarkan. Tak banyak yang berubah dari rumah ini, hanya warna catnya saja yang selalu di perbaharui tiap tahun. Mas Ray menuntunkun dengan sangat hati-hati memasuki kediaman mommy. Tapi baru saja kami melaangkah di teras Zafran susah berteriak memanggil dari arah samping.
"Mommy..mommy ayo ikut Zaflan" Ocehnya sambil menaiki sebuah mobil-mobilan berwarna merah persis seperti mobil Daddy yang sering ku pakai jalan-jalan.
"Iya, kata opa kalau Zaflan bobo di sini dibelikan mobil kecil ayah." Ujaranya dengan gaya cedalnya yang khas. Ah, rupanya Daddy dan Mommy menyogok putraku dengan sebuah mobil-mobilan.
"Oh, jadi mommy dan Daddy nyogok Zafran?" Tanya Shafa pada Daddy dan Mommynya yang berada tak jauh darinya. Daddy sedang memegang remote cibtrol untuk mengendalikan mobil yang di naiki Zafran karenaa iaa masih belum bisa menggunakan pedal gas dan adaa dalam mobil tersebut.
"Bukan nyogok Fa, Daddy cuma mau kasih hadiah buat cucu Opa yaang sudah pintar membaca ini" Jawab Daddy yang kini mengankat tubuh Zafran dalam gendongannya.
"Ayo masuk, kita ngobrol di dalam" Ajak Mommy.
"Aku mau naik mobil Opa?" Rengek Zafran yang belum puas bermain mobil-mobilan.
"Kita naik mobil di dalam ya?Ray, bawakan mobil Zafran masuk" Ujar Daddy yng tidak bisa menolak keinginan cucunya tersebut.
"Bagaimana kandunganmu Fa? Apakah sudah mulai terasa kontraksi ringan?" Tanya mommy sambil menyentuh perutku.
__ADS_1
"Gerakan di dalam semakin aktif mom, Shafa jadi susah tidur" Jawabku yang sedang selonjoran di karpet ruang tengah. Sedangkan mas Ray, Daddy dan Zafran tengah asyik di taman belakang yang cukup luas untuk bermain mobil-mobilan.
"Mom, bagaimana perasaan Mommy waktu melahirkan Shafa dulu?" Tanyaku. Kata orang melahirkan adalah perjuaangan hidup dan mati seorang wanita. Artinya, aku bisa saja mati sewaktu-waktu saat melahirkan.
"Rasanya...Emm.... Mommy tidak merasakan apa-apa, karena kamu lahir secara secar. Tapi pada waktu itu pasca secar setelah obat biausnya habis, perut mommy rasanya seperti di belah, pedih panas dan lain-lain. Dan itu berlangsung hampir 1 minggu. Jadi, pilihanmu untuk melahirkan normal sudah tepat, karena persalinan normal memang sakit tapi hanya sesaat, setelah bayi lahir tlrasa sakit itupun hilang, berbeda dengan secar yang harus merasakan sakit lebih dari seminggu belum lagi resiko infeksi" Terang mommy.
"Lalu, kenapa mommy memilih melahirkan secar?" Tanyaku lagi. Sudah tau melahirkan normal lebih enak, kenapa mesti milih secar sih mommy.
"Karena mommy dan daddy tidak mau mengambil resiko. Untuk mendapatkan kamu itu perjuangan kami sangat berat, kami tidak mau mengambil resiko kamu gagal lahir karena mommy yang mungkin tidak kuat atau krmungkinan lainnya, jadi secar adalah cara aman untuk memastikan kamu lahir dengan selamat" Terang mommy.
"Oh begitu, lalu kenapa Shafa tidak punya adik Mom? Apa momny kb?" Tanyaku lagi. Soalnya momny tidak pernah menceritakan mengapa aku hanya anak tunggal di keluarga ini, terlepas dari takdir yang memang sudah Tuhan gariskan.
"Mommy tidak KB Shafa, hanya saja ada masalah dengan kandungan mommy sehingga sulit untuk mendapatkan anak lagi kecuali melalui jalan bayi tabung. Lagi pula mommy dan Daddy sudah cukup bahagia memiliki kamu dan... Dan membesarkan kamu, meskipun setelah dewasa cukup membuat pusing mommy dan daddy" Ujar Mommy yang tadi sempat menjeda kalimatnya.
"Bahagianya daku jadi anak tunggal. Berarti warisan Shafa banyak dong mom?" Ucapku sambil terkekeh.
"Gak! Semua harta mommy dan daddy buat cucu mommy" Ujarnya sambil mengelus perutku. Dasar mommy perhitungan banget sama anak sendiri.
Setelah ngobrol singkat dengan mommy, kami memutuskan menyusul para suami di taman belakang yang sedang asyik bermain dengan Zafran yang berada di atas mobil-mobilannya. Ia terus saja berceloteh menanggapi pertanyaan dwmi pertanyaan yang Daddy lontarkan, sementara mas Rayyan mengikuti di belakang mobilnya dengan memwgang remote control. Kami berlima berbincang santai sambil Daddy sesekali menceritakaan tentang masa kecilku dahulu yang aku sendiripun sudah lupa.
"Permisi tuan, nyonya" Mbok Ati menghampiri kami yang tengah bercengkerama di sofa belakang.
"Ada apa mbok?" Tanya Mommy. Mbok Ati nampak ragu-ragu menjawab.
"Eh, itu... di depan ada pak Jeffri" Ujar Mbok Ati.
"Oh iya, suruh dia masuk mbok" Ujar Mommy.
"Kalian disini dulu ya, Mommy dan Daddy menemui Jeffri dulu" Ujar Mommy. Setelah itu mereka beranjak meninggalkan kami. Aku penasaran ingin ikut nimbrung bersama mereka tapi lagi-lagi mas Rayyan mencekal lenganku ketika aku hendak beranjak.
"Jangan kepo!" Ujarnya dengan tatapan kesalnya. Si abang ruapnya masih cemburu
__ADS_1