
"Gimana?" Tanya Shafa pada Rayyan yang baru saja masuk ke kamarnya. Shafa masih menenangkan Zafran yang sesunggukan dalam peelukaannya.
"Mereka sudah pergi. Dan tidak akan kembali lagi kesini" Ujar Rayyan sambil duduk disebelah Shafa.
"Mas yakin?" Shafa memastikan.
"Iya. Mas akan melaporkannya ke polisi kalau mereka berani berulah lagi" Ujar Rayyan.
"Zafran, nggak apa-apa kan?" Tanya Rayyan sambil mengusap kepala Zafran.
"Tante itu Jahat Ayaah" Ujarnya kemudian kembali menangis.
"Cup...Cup... Tante jahatnya sudah ayah usir" Ujara Rayyan sambil mengusap air mata Zafran.
"Mas kok kembali lagi? Apa ada yang ketinggalan?" Tanya Shafa.
"Iya, Mas mau mengambil dokumen yang tempo hari di berikan bu Sonya. Dia benar-benar pergi dan nomornya pun tidak aktif." Ujar Rayyan.
"Semoga dugaan ku salah. Ya udah, Mas buruan balik ke kampus, nanti terlambat" Balas Shafa.
"Mas akan mencari security untuk menjaga rumah kita dan pembantu satu lagi untuk membantu bi Lastri. Jadi kalian tidak akan sendiri di rumah kalau bi Lastri pergi belanja." Ujar Rayyan.
"Tapi pembantunya harus kaya bi Lastri yah Mas. Aku nggak mau kalau pembantu yang baru masih muda apa lagi masih gadis" Ujar Shafa sambil menatap Rayyan serius.
"Iya sayangku iya" Ujar Rayyan sambil mencium kening istrinya.
"Zafran, ayah pergi ke kerja dulu ya. Zafran di rumah sama Mommy dan adek yah" Pamit Rayyan pada Zafran.
"Hati-hati Mas" Shafa beranjak mengikuti Rayyan keluar dari kamar. Terlihat bi Lastri sedang membersihkan lantai bekas pecahan botol tadi.
"Mbak Shafa, Mas Zafran! Kalian tidak apa-apa?" Tanya bi Lastri khawatir. Ia segera menghampiri Shafa yang tengah menggendong Zafran.
"Alhamdulillah nggak papa bi" Ujar Shafa.
"Bi, saya berangkat. Tolong jangan kemana-mana sampai ibu datang! Beliau sedang dalam perjalanan" Ujar Rayyan.
__ADS_1
"Baik Mas"
"Ayah berangkat ya. Assalaamualaikum" Pamit Ray.
"Waalaikum salam ayah" Zafran melambaikan tangannya dada kepada Rayyan.
Setelah mobil Rayyan meninggalkan halaman rumah, Shafa membawa masuk Zafran ke dalam rumah. Ia mendudukan Zafran di atas kursi meja makan.
"Abang tadi makannya belum selesai. Sekarang kita lanjut lagi ya?" Ujar Shafa.
"Mommy tante tadi siapa? Kenapa dia malahin mommy?" Tanya Zafran polos.
"Dia bukan siapa-siapa sayang. Tante tadi cuma pura-pura kok Sayang. Abang lupain ya?" Jawab Shafa. Ia harus berbohong agar Zafran tidak mngalami trauma. Untuk anak seusia Zafran kejadian seperti tadi bisa menimbulkan trauma, terlebi ia baru saja mengalami kejadian dasyat yang mungkin akan membekas seumur hidupnya. Shafa tidak ingin bocah yang kini menjadi anak nya itu mengalami hal buruk yang bisa mengganggu psikologinya.
"Kalau abang sudah besar, abang akan jagain Mommy, Ayah dan adek. Kalau ada yang nakal, Akan Abang lawan" Ujarnya membuat Shafa terharu.
"Iya sayang, Makanya abang harus makan yang banyak supayaa cepat besar dan bisa melawan penjahat" Balas Shafa. Zafran mengangguk semangat. Shafa kembali menyuapi bocah tersebut sambil bercerita tentang banyak hal.
🍃🍃🍃🍃🍃🍃🍃
"Bri, kita mau kemana nih?" Tanya Sonya. Mereka berdua baru saja turun dari pesawat. Keduanya saat ini sedang berada di Singapura. Negara yang di kenal dengan julukan Negeri Singa yang juga menjadi icon salah satu negara maju di Asia Tenggara tersebut.
"Nggak usah banyak nanya!" Jawab Briyan sambil menarik kopernya.
"Kamu nggak berniat jual aku kan Bri?" Tanya Sonya menahan tangan Briyan.
Briyan menghentikan langkahnya. Ia membuka kaca mata hitam yang sejak tadi bertengger di wajahnya.
"Kalaupun aku jual kamu, nggak akan ada yang mau beli cewek nggak doyan cowok kaya kamu" Jawab Briyan sambil memandang Sonya. Di mata Briyan, Sonya adalah wanita dingin yang mungkin memiliki kelainan pada dirinya. Briyan selalu mengira bahwa Sonya ini adalah penyuka sesama jenis.
"Bagus lah kalau kamu berfikir seperti itu. Aku jadi tak perlu khawatir kamu akan jatuh cinta padaku" Ujar Sonya sambil mengibaskan rambutnya di hadapan Briyan.
"Ayo cepat!!! Aku sudah lapar" Ujar Briyan menarik tangan Sonya menuju mobil jemputannya.
Briyan Utama, sebelum menjadi guru musik dia bekerja di perusaan keluarganya. Setelah mendengar kabar bahwa Samuel akan segera menikah ia segera resign dari perusahaan tersebut. Tujuannyaa hanya satu yaitu untuk memenangkan kembali hati wanita yang sampai detik ini belum bisa ia lupakan.
__ADS_1
Shafa Azura, merupakan pacarnya semasa SMA. Hubungan keduanya bertahan sampai beberapa tahun bahkan setelah ia kuliah. Shafa semasa SMA bukanlah Shafa seperti saat ini yang modis dengan segala perawatan dan barang branded nya. Shafa kala itu adalah gadis cantik, pintar, dan bersuara emas. Dia lebih suka menghabiskan waktu membaca buku atau berada di laboratorium. Shafa emasa SMA merupakan gadis berprestasi yang sering mengikuti perlombaan ke tingkat nasional dan internasiol. Banyak yang menduga ia akan menjadi seorang dokter seperti Mommy dan Daddy nya. Nyatanya semua dugaan itu salah saat ia memutuskan untuk mengambil Sastra Jerman sebagai bidang yang akan dia geluti.
Briyan Utama sejak SMA terkenal dengan ketampanan dan ke play boy an nya. Ia selalu gonta ganti pacar. Kendatipun demikian, para gadis-gadis itu tetap saja menjadikannya idola bahkan rela menjadi kekasihnya yang entah menjadi nomor berapa. Shafa salah satunya. Gadis cantik yang berhasil luluh dengan suara emas dan kata-kata manis Briyan.
"Mau berapa lama kita di sini Bri?" Tanya Sonya sambil mengunyah makanannya.
"Sampai orang tua kita setuju membatalkan pernikahan kita" Kawaab Briyan.
"Terus, aku akan tinggal dimana Bri? Kenapa kita nggak ke USA aja sih Bri? Disana aku punya banyak kenalan" Ujar Sonya.
"Nggak!!! Aku lebih suka disini. Karena aku sudah tau seluruh seluk beluk Negara ini. Kita akan tinggal di apartemenku. Aku punya apartemwn pribadi yang tidak di ketahui orang tuaku" Ujar Briyan.
"Anwy wanita yang kamu sukai apa kabar? Apa kamu sudah menyerah padanya?" Tanya Sonya.
"Entahlah. Tapi, melihat dia bersama dengan orang yang mencintainya aku sedikit senang meskipun aku berharap pria itu adalah aku." Ujara Briyan.
"Why?"
"Kamu tidak akan mengerti. Hal seperti ini hanya bisa di rasakan oleh orang-orang normal sepertiku." Ujar Briyan setengah menyinggung Sonya. Tapi Sonya tidak ambil pusing akan hal itu.
"Up to you" Jawab Sonya singkat.
Setelah selesai makan siang Briyan langsung mbawa Sonya ke apartemennya di kawasan Reignwood Hamilton Scoots. Sebuah apartemen yang biasanya ia tempati untuk berlibur.
"Ini kamar ku dan ini kamarmu" Ujar Brian sambil menunjuk pintu kamar yang bersebelahan.
Sonya membuka pintu kamar tersebut dan melihat kondisi bagian dalamnya. Sebuah kamar berukuran 4x6 di lengkapi dengan kamar mandi dan tempat tidur yang luas, cukup untuk Sonya berguling-guling.
"Selama di sini kamu harus masak! dapurnya di sana" Ujar Briyan sambil menunjuk sebuah pantry di bagian samping ruangan.
"Enak aja. Aku nggak bisa masak!" Sahut Sonya.
"Aku udah nanggung tempat tinggal kamu, masa ia harus nangging makan kamu juga? Makanan disini mahal-mahal, jadi kamu harus masak. Terserah masak apa. Liat tutorial di youtube juga banyak" Ujar Briyan.
"Dan satu lagi! Jangan pernah membawa pasangan l**bi mu kesini!" Ujar Briyan membuat Sonya menghela nafas panjaang.
__ADS_1
Sabar Sonya. Ini tidak akan lama!!!