Jodoh Pilihan Allah

Jodoh Pilihan Allah
Ke Rumah Mommy


__ADS_3

"APA?Hamil?" Shafa tertegun mendengar ucapan dokter. Ia mengalihkaan pandangannya pada perutnya yang masih datar, mengusapnya lembut. Butiran-butiran bening itupun mulai lolos dari kelopak matanya.


"Benar, kandungan ibu masih rentan, jadi harus banyak istirahat dan jangan stress. Saya sudah resepkan vitamin dan obat pereda mual" Terangnya dengan ramah.


"Terima kasih dokter" Ujar Shafa kemudian keluar dengan membawa resep obatnya.


"Gimana Fa? Kamu sakit apa?" Tanya Briyan dengan sigap.


"Nggak papa Bri...Cuma kelelahan aja" Ucapnya berbohong.


"Ya udah, mana resepnya? Biar aku ambilkan" Shafa menyerahkan kertas yang di pegangnya kepada Briyan dan menunggu di ruang tunggu.


Ayahmu pasti senang kalau tahu kamu ada disini sayang. Tapi mama ragu, dia akan memperlakukan kita dengan baik kalau masih ada dua wanita ular itu di rumah.


"Ini Fa" Briyan menyerahkan kantong berisi obat yang baru saja di tebusnya.


"Thanks Bri" Ucap Shafa tulus.


"Kamu sudah makan malam?" Tanya Briyan.


Shafa hanya menggeleng. Ia memang belum sempat menyentuh makanan saat Yola mulai mengusiknya.


"Ya udah kita cari makan dulu ya, baru aku antar kamu pulang"


Shafa mengangguk. Ia tak punya pilihan lain selain mengikuti Briyan yaang telah menolongnya.


"Aku pesenin mie goreng kesukaan kamu ya?" Tawarnya pada Shafa.


"Jangan Bri, Aku mau makan lalapan aja" Balasnya. Kini, Shafa lebih mementingkan kesehatan janin dalam kandungannya di bandingkan nafsu makannya.


"Tumben Fa, biasanya kamu nggak suka yang ada sayurannya" Tanya Briyan. Karena dia cukup hafal makanan yang di sukai dan tidak di sukai Shafa.


"Itu kan dulu. Aku udah banyak berubah kali Bri" Balasnya.


"Tapi minumnya tetep" Ujar Briyan sambil menunjuk gelas berisi jus Strawberry yang tinggal setengah.


Meski terpaksa Shafa berusaha menikmati ayam lalapan yang terhidang di depannya. Demi janin yang ada di perutnya ia sekuat tenaga menghalau rasa tidak sukanya pada sayuran rebus yang menjadi pelengkap menu tersebut.


"Makasih banget ya Bri... Kamu sudah nolong aku malam ini" Ujar Shafa setelah menghabiskan makan malamnya.


"No problem. Aku seneng kok bisa nolongin kamu Fa. Oh ya, kamu belum cerita kenapa bisa sendirian di jalan tadi" Tanya Briyan. Ia merasa pasti ada sesuatu yang Shafa sembunyikan.

__ADS_1


"Aku... Aku... " Shafa bingung mau menjawab apa. Dia bukanlah orang yang pandai berbohong atau mengarang cerita.


"Nggak papa kalau kamu ga mau cerita. sekarang ayo aku antar pulang!"


"Nggak usah repot-repot Bri, sebentar lagi jemputan aku datang" Ujarnya. Shafa sudah menghubungi Amel untuk menjemputnya.


Tak lama kemudian sebuah mobil berwarna merah berhenti di depan restaurant. Shafa pun segera berpamitan kepada Briyan.


Apa yang sedang kamu sembunyikan Fara? Kenapa bukan Rayyan yang menjemputmu. Aku akan cari tahu. Kalau sampai dia menyakitimu, aku adalah orang pertama yang akan merebutmu.


"Loe ada masalah apa lagi sih Fa? Kok tumben mau nginep di sini? Gue kan jadi takut" Tanya Amel yang sambil merapikan kembali pakaiannya yang sempat di obrak abrik Shafa, lantaran mencari pakaian ganti yang pas.


"Loe jangan banyak nanya dulu deh Mel gue lagi mumet nih, nanyanya besok aja yah, Lagian gue cuma nginep semalam ini" Ujar Shafa yang sedang memeluk boneka beruang milik Amel.


"Pak Rayyan emang kemana Fa? Dia ga nyariin lo?" Tanyanya lagi.


"Ga, gue udah bilang tadi waktu mau pergi" Ucap Shafa. Benar, dia tadi sudah bilang kalau dia akan pergi tapi Ray sama sekali tidak menahannya.


.


.


"Astagfirullah haladzim" Ia mengusap wajahnya sambil beristigfar.


Ia menyalakan kembali lampu kamarnya dan berjalan keluar kamar menuju dapur. Rayyan duduk cukup lama di meja makan. Sampai sebuah suara mengagetkannya.


"Kak Zidane!"


"Nisa. Kenapa kamu belum tidur?"


"Aku ingat Shafa kak, semua ini gara-gara aku" Ujarnya penuh penyesalan.


"Tidak perlu menyalahkan dirimu sendiri Nis, aku pun salah karena tidak jujur sejak awal padanya"


"Kak, Mulai besok lebih baik aku tidak tinggal di sini lagi. Aku akan cari tempat lain" Ujarnya tanpa memandang Rayyan.


"Itu kita bicarakan nanti saja, lebih baik sekarang kamu istirahat" Ujar Ray sebelum kembali ke kamarnya.


***


Pagi-pagi sekali Amel sudah direpotkan dengan keinginan Shafa yang aneh-aneh. Yang minta di buatkan susu lah, di belikan makanan lah membuat Amel harus sering-sering beristigfar.

__ADS_1


"Mel gue minta duit lo dong" Ujar Shafa tanpa rasa bersalah. Ia memang lebih bisa terbuka dengan Amel di bandingkan dengan kedua sahabatnya.


"Hello sejak kapan seorang Shafa minjem duit? Udah jatuh miskin lo?" Balas Amel sambil merapikan meja ruang tamu apartemennya yang berantakan karena ulah Shafa.


"Gue ga bawa dompet Nih, Ya udah kalau ga mau kasi, gue bakal tinggal disini lebih lama" Ancamnya.


"Eh..eh..eh jangan! Bisa di laporan polisi gue sama suami lo karena tuduhan menyembunyikan istri orang" Jawabnya kesal.


"Makanya buruan" Ucap Shafa sambil menikmati segelas susu hangat.


"Nih, lo ambil sendiri" Amel menyerahkaan dompetnya pada Shafa.


Shafa mengambil beberapa lembar uang dari dompet Amel. Ia sudah merencanakan sesuatu untuk dirinya dan janin dalam kandungannya.


πŸ‚πŸ‚πŸ‚


Hari ini Rayyan pulang lebih cepat dari biasanya. Ia sudah berniat untuk menemui Shafa di rumah Mommy nya. Bukan hanya karena rindu tapi ia ingin segeraa menyelesaikaan kesalah pahaman yang terjadi antara Shafa dan Hana. Hatinyabtidak tenang sejak Shafa meninggalkan rumah semalam.


Rayyan memacu mobilnya dengan kecepatan tinggi menuju kediaman bapak Harsha Juniawan, Daddy Shafa. Kurang lebih 30 menit ia telah sampai di sebuah rumah mewah berpagar putih yang tinggi menjulang. Beberapa kali ia membunyikan klakson sampai penjaga membukakan gerbang tersebut.


Hampir semua pekerja di rumah itu sudah sangat mengenal Rayyan, sebagai menantu satu-satunya di keluarga itu. Mereka memberikan salam hormat dan mempersilahkan Rayyan masuk ke dalam.


"Eh Mas Rayyan, tumben kesini mas. Ibu sama bapak masih di Singapura Mas" Ucap salah seorang pembantu yang menyambut Rayyan.


"Saya bukan mau ketemu Mommy dan Daddy mbak. Saya mau ketemu Shafa. Apa dia ada di kamarnya?" Tanya Rayyan.


"He? Mbak Shafa? Mbak Shafa kan di rumah mas Rayyan, kok nyarinya kesini?" Pembantu tersebut terlihat bingung dengan pertanyaan Rayyan.


"Jadi Shafa tidak ada disini?" Tanyanya khawatir.


"Nggak ada Mas, mbak Shafa nggak pernah kesini" Jawab mbak tersebut membuat Rayyan panik.


Dimana kamu Shafa?


Tanpa permisi Rayyan langsung berlari menuju kamar Shafa untuk memastikan langsung bahwa istrinya tidak ada di rumah itu.


___________


Hai..Hai..Hari ini Author up ampe 6 eps lho mulai dari subuh. Ini adalah Up terbanyak sepanjang perjalanan JODOH PILIHAN ALLAH😍 Itu semua karena kalian😍Jangan lupa Like and vote nya biar Authornya semangat...😘😘😘


Sekarang Author mau bobo cantik dulu 😴😴 Sampai jumpa besok... Muuach😘😘😘

__ADS_1


__ADS_2