
Besok ada adalah resepsi pernikahanku dengan mas Ray. Semua persiapan telah di persiapkan dengan matang. Resepsi kami akan di gelar di salah satu hotel bintang 5 yang akan di hadiri oleh lebih dari 1000 undangan. Keluarga dari pihak Mommy dan Daddy Pun sudah berkumpul di rumah Mommy. Sejak kemarin aku dan mas Ray i ini rasanya jadi pengantin. Walaupun bisa di katakan pengantin kadaluarsa tetap saja di mata publik aku adalah gadis single yang baru akan melepas masa lajang ku.
Malam ini di rumah Mommy akan di adakan pengajian sebagai bentuk syukur atas pernikahanku dengan Mas Ray, sekaligus berdoa agar resepsi besok berjalan lancar tanpa hambatan. Keluarga besar mas Ray pun sudah berkumpul sejak sore tadi.
"Kak, pelan-pelan dong ih, ntar kepalaku ketusuk gimana?" Keluhku pada kak Eva, kakak sepupuku yang sudah seperti kakak kandungku sendiri.
"Diem deh Fa, dari tadi protes mulu. Kamu tuh harus belajar pake kerudung dari sekarang. Masa suaminya sekelas ustad somad istrinya bentuk nya kaya gini" Ucapnya sambil terus melilit kain segitiga di kepalaku.
"Kak..kak... stop.. stop, aku kecekik nih. Ntar aku aku ga bisa napas" Aku menahan tangan kak Eva yang sedang melilitkan ujung kerudung ke leherku. Gila! emang seribet ini yah pake kerudungnya. Gue ga bisa bayangin wanita-wanita yang memakai kerudung bahkan hanya nampak matanya saja, gimana rasanya tuh. Ga panas apa ya?
"Ya ampun Shafa, ini tuh emang gini modelnya. Kalau kamu protes terus kapan kelarnya" Kak Eva mulai kesal padaku yang sejak tadi protes. Habis gimana ya, aku mau pake jilbab kaya di foto yang ku tunjukin ke kak Eva biar tetap kelihatan cantik gitu loh. Tapi kalau begini ceritanya ga jadi ah. Lagian di foto itu kok kayaknya gampang banger pasangnya. Eh pas di coba ternyata tak semudah itu. Padahal dulu temen temwn kuliah ku banyak yang suka buat video tutorial hijab dengan berbagai macam bentuk tapi aku sama sekali ga tertarik mencoba. Justru aku lebih tertarik mencoba berbagai gaya rambut baru dengan warna-warna cantik.
"Iya, iya tapi ganti model aja deh kak, aku ga mau yang belibet begini. Yang biasa aja deh yang ga pake jarum petul banyak gini. hih, ngeri banget palaku di tancepin benda tajam gini" Ujarku bergidik melihat se kotak jarum pentul yang sebagian telah terapsang di kepalaku.
"Ya udah, tapi kamunya anteng jangan banyak gerak, dan jangan di buka sampai acara selesai!" Ujarnya sambil mencabut satu demi satu jarum yang telah terpasang di kerudung bagian atas kepala ku. Kak Eva cukup paham bahwa aku tidak tahan berlama-lama dalam balutan hijab. Aku hanya akan memakai hijab ada saat lebaran, itupun hanya kalau sedang berkumpul bersama keluarga besar sesudah shalat ied.
"Mas Ray dimana ya kak, kok ga keliatan?"
"Dia di bawah kali, soalnya tamunya undangan nya udah banyak yang datang"
"Eh kak, aku cantik ga sih?" Tanyaku sambil mengamati wajahku di dwpan cermin.
__ADS_1
"Cantik Fa, apalagi kalau pake kerudung gini, Si Ray asti makin cinta sama kamu" Ucap kak Eva meyakinkan. Kali ini aku memakai gaun putih panjang dengan jilbab coklat yang simple.
"Masa sih kak, tapi aku ga pede. Kurang greget gitu deh rasanya"
"Udah ga usah banyak komentar ayo buruan turun" Kak Eva menuntunku keeluar dari kamar.
"Kak aku kok, deg degan ya, emaang harus pake acara ginian ya kak"
"Iya, nanti ada acara sungkeman juga" Ujarnya. Kak Eva membuka pintu dan berjalan menggandengku di sebelahnya. Ku lihat di bawah sudah berkumpul banyak tamu yang sebagian besar memakai pakaiaan serba putih.
Wait, pandangan mataku tertuju pada seseorang di sudut ruangan yang tengah berbincang ria dengan para gadis hadis muda. Mas terlihat akrab dengan keponakan dan sepupu-sepupunya. Dia yang memakai jas koko berwarna hitam yang dipadu dengan peci berwarna hitam pula menambah kharisma di wajahnya. Gantengnya! Mas Rayyan nya Shafa dong.
"Calon mempelai wanita sudah siap, silahkan menempati tempat yang telah di siapkan" Ucap MC. Seketika pandangan mata semua tertuju padaku. Aku kan jadi gugup. Apalagi mas Ray yang juga menatapku seolah tak berkedip. Kak Eva mengarahkan ku untuk duduk di tengah di antara Mommy dan Ibu. Ku lihat tak jauh dari posisiku, Mas Ray juga tengah duduk di antara ayah dan Daddy.
"Mantu ibu cantik banget" Bisik ibu memuji diriku. Akupun menunduk malu.
MC mulai membuka acara pengajian malam itu. Acara di isi dengan bacaan beberapa surat Aal-Qur'an serta tausiah yang di sampaikan oleh pak Kyai. Tausiah tersebut berisi tentang nasihat dan perkara rumah tangga. Pengajian malam ini berjalan dengan begitu khusuk dan khidmat.
Setelah pak Kyai selesai menyampaikan tausiahnya, tibalah pada momen yang siap menguras air mata. Yaitu momen sungkeman atau meminta maaf kepada orang tua. Mengingat pernikahan kami yang mendadak dan tanpa persiapan, prosesi ini tetap di adakan meskipun terkesan terlambat, namun tidak ada kata terlambat untuk meminta maaf kepada orang tua, terlebih mengingat kejadian beberapa minggu ynag lalu, inilah saatnya untuk memohon ampun kepada mereka.
Mommy dan Daddy sudah duduk di posisinya, begitu juga dengan ibu dan ayah. Dada tiba-tiba merasa sesak, mataku memanas saat ku lihat Mommy beberapa kali menyeka matanya dengan menggunakan tissu. Aku kembali teringat akan kesalahanku pada Mommy selama ini. Meskipun dia galak dan suka marah-marah tapi aku tau dia adalah orang pertama yang akan terluka jika melihatku sakit. Dia adalah wanita yang telah mempertaruhkan nyawanya agar aku bisa melihat dunia ini, Dia juga rela meninggalkan karirnya agar aku bisa menikmati tumbuh kembang dengan penuh kasih sayangnya.
__ADS_1
Aku teringat kembali bagaimana terakhir kali aku membuat Mommy menangis, aku bahkaan pernah membuatnya masuk rumah sakit karena keinginan gilaku untuk menikah di luar negeri bersama Sam. Mommy, dibalik sikap keras dan cerewetnya, dia Wanita yang tuluss menyayangiku di segala kondisiku.
Aku merasakan bitiran bening itu mulai lolos dari kelopak mataku. Kini wanita yang telah berjasa dalam hidupku berada di depanku. Aku yang masih menunduk tak kuasa menatap wajahnya. Ku raih tangannya, ku cium dan kutenggelamkan wajahku di pangkuannya. Aku tak kuasa lagi menahan tangisku. Mommy menundukan kepalanya mencium kepalaku lembut. Tak ada kata yang terucap dari bibirku, namun aku yakin Mommy tahu apa yang aku rasakan.
"Shafanya Mommy... hiks..hiks" Ku dengar lirih suara mommy di setai isak tangis.
"Forgive me Mom" Aku mencoba mengangkat kepalaku menatap wajahnya yang juga tengah menangis.
"Mommy selalu maafin Shafa. Semoga Shafa bisa jadi istri yang baik utuk Ray" Ucap mommy sambil mengusap lembut kepalaku. Ku rasa bukana hanya aku yang menangis tapi hampir semua yang berada di ruangan ini menangis haru menyaksikan moment seperti ini.
Aku beralih kepada Daddy. Ku raih tangannya dan ku cium lembut. Daddy memelukku erat. Sebuah pelukan hangat yalang selama ini ku rasakan. Pelukan hangat yang mampu menenangkan ku di saat aku gundah. Daddy tak banyak bicara tapi aku tahu dia banyak berbuat untukku. Daddy yang jarang menunjukan kemarahannya walaupun dia kecewa. Dialah Daddyku, Orang yang selalu ada Untukku.
______________
Pak Rayyaan Akrab banget ya sama para keponakannya.😍
Cantiknya Shafa saat berhijab. Paak Ray pangling ga ya😘😍
__ADS_1