
Gema takbir berkumandang bersahut-sahutan menjadi penanda berakhirnya bulan Ramadhan. Bulan yang penuh berkah dan ampunan. Rayyan menggendong Am di teras rumah mereka melihat para anak-anak dan remaja yang berlalu lalang dengan membawa obor lewat di depan rumah mereka. Seperti tahun-tahun sebelumnya di wilayah itu selalu di adakan takbir keliling dengan membawa obor.
Ya Allah izinkanlah hamba berjumpa dengan ramadhan mu tahun depan.
Dirumah mereka kini hanya ada tante Lilis dan Yola karena bi Lastri, pak Madi, Pak Ali dan mbak Yati sudah mudik ke kampung halamannya sejak kemarin. Pak Madi sendiri yang memang tinggal di tak jauh dari rumah Rayyan masih sering muncul sekedar membawakan olahan yang di masak oleh istrinya di rumah.
"Ayah, aku mau kesana ayah. Ayo ikut itu" Zafran menarik-narik lengan Rayyan ingin melihat secara langsung pawai obor yang dari dekat.
"Tunggu Uti datang ya nak, nggak ada yang jaga adek Am. Mommy dan nenek lagi sibuk di dalam buat lebaran besok" Ia memberikan pengertian pada Zafran yang sudah tak sabar ingin berlari mengikuti remaja yang melintas di depan rumahnya dengan berbagai atribut penyemarak hari kemenangan.
"Ini simpan di kulkas Yol. Opor dan dagingnya di masaknya besok subuh saja" Tante Lilis memberikan kotak berisi bumbu yang sudah untuk digunakan besok.
"Masaknya nggak pulang sholat ied aja tan?" Tanya Shafa yang sedang mengisi ketupat bersama Yola.
"Di sunahkan makan terlebih dahulu sebelum berangkat Sholat. Jadi besok pagi sebelum berangkat harus makan dulu" Ujar tante Lilis.
"Ini udah. Ketupatnya mau di rebus kapan tan?"
"Di rebus sekarang aja, karenaa rebus ketupat itu lama" Tante Lilis mulai menyiapkan dandang berisi air untuk merebus lontong berbalut janur tersebut.
Mereka bertiga asyik ngobrol sambil mnyelesaikan pekerjaan rumah yang biasanya di kerjakan oleh bi Lastri dan mbak Yati.
"Mommy mu sama siapa dirumaah Fa? Kok nggak kesini?" Tanya tante Lilis disela-sela kegiatan mereka menyusun kue. Sebagian besar kue yang ada di toples adalah buatan Shafa yang di bantu oleh Yola. Mereka dua hari terakhir ini mencoba berbagai macam resep kue kering yang berhamburan di sosial media. Cukup menyenangkan bagi keduanya. Yola seperti menemukan tempat curhat baru setelah mengenal Shafa lebih jauh.
"Ada kak Jeff dan istrinya tan. Mommy kalau lebaran gini sibuk banget karena besok keluarga daddy dari solo pasti datang. Soalnya daddy kan anak tertua" Ucap Shafa. Tangannya meraih cookis coklat dan mengunyahnya. Hmm... Enak juga.
"Kalau keluarga mommy mu di mana Fa?" Tanya tante Lilis lagi.
"Jepang tan. Mommy kan anak tunggal. Grandma aku orang jepang. Om dan tante mommy semuanya ada di Jepang, ada juga yang di Berlin" Ujar Shafa. Sepeninggal grandpa dan grandma nya yang merupakan perintis HS Clinic, keluarga mommy nya memang jarang berkunjung ke Indonesia, karena sebagian besar mereka memiliki bisnisnya sendiri ada yang di bidang kesehatan ada juga yang di bidang industri otomotif. Jadi bisa dikatakan, lebih dari separuh kekayaan yang di miliki orang tua Shafa adalah warisan dari klan Azura yang dibawa oleh mommy nya.
"Jepang?" Ucap mereka bersamaan.
"Iya" Shafa memandang wajah kaget mereka tante dan Yola.
"Serius kak? Kakak berdarah jepang? Berarti bisa bahasa Jepang? Pernah ke Jepang?" Segera Yola memberondong Shafa dengan pertanyaan-pertanyaan nya.
"Ya ialah Yola. Pasti bisalah, kan bahasa nenek moyang." Jawab Shafa sambil terkekeh.
Jangankan bahasa Jepang, bahasa Jerman aja gue bisa owk.
"Waah... Keren! Kak, aku mau dong di ajar bahasa Jepang. Aku tuh ya, aslinya pengen banget ke jepang ketemu cowok-cowok Jepang yang kulitnya udha kayak pantat bayi, rambut lurus mata sipit...Uhhh uwuu bangettt" Yola kegirangan sendiri.
"Bukannya pengen ke Mesir Yol? Bisa ketemu mummi Fir'un loh" Dulu Yola sampe bela-belain kursus bahasa Arab untuk persiapan ke Mesir. Nggak taunya pengennya ke Jepang. Agh, Cinta memang terkadang membuat manusia menjadi buta dan bodoh.
__ADS_1
"Ieu males banget. Di sana panas kak, bisa gosong aku"
Obrolan ketiganya terhenti saat ibu tiba-tiba ibu masuk dan bergabung dengan mereka. Ibu yang di rumah hanya berdua dengan ayah tentu akan lebih memilih menghabiskan waktu di rumah Shafa bersama cucu-cucu nya.
"Gimana udah mateng belum ketupatnya?"
"Masih di godog mbak" Jawab tante Lilis.
"Fa, kamu susuin Am dulu gih, kayaknya dia udah haus. Si abang juga pengen lihat takbir keliling katanya" Ibu mengambil Alih toples kosong yang di pegang oleh Shafa.
"Mas, perginya jangan kemalaman loh"
"Iya sayang" Rayyan memakaikan jaket di tubuh Zafran agar tidak kedinginan.
"Jangan lupa pakai masker!"
"Siap mommy"
"Mas udah bayar zakat kan?" Shafa mengingatkan kembali. Jangan sampai Rayyan lupa membayar Zakat pasalnya panitia masjid baru saja mengumumkan agar warga yang belum membayar Zakat segera membayarkannya.
"Ya sudah lah sayang. Mas sudah bayar dari dua hari yang lalu sekalian dengan zakat mal kita" Balasnya.
"Kok dua hari lalu?" Shafa mengerutkan dahi nya. Rayyan yang kecepetan bayarnya atau dia yang terlalu awam memahami hal-hal seperti itu
"Oh ya, tadi itu apa? Zakat Mal? Beda dengan zakat fitrah ya mas?"
Rayyan mendudukkan kembali tubuhnya di sebelah istrinya untuk memberikan sedikit pengajaran tentang Zakat kepada ibu muda yang sangat minim pengetahuan agama tersebut.
"Zakat mal dan Zakat fitrah itu beda sayang. Kalau zakat fitrah adalah zakat yang wajib di keluarkan oleh setiap orang. Baik tua, muda, balita bahkan bayi yang baru lahirpun harus di bayarkan zakatnya. Waktu pembayarannya sejak masuk bulan ramdhan sampai sebelum sholat iedul fitri. Sedangkan zakat Mal yaitu zakat dari harta seorang muslim yang hanya dibayarkan bila seorang muslim memenuhi syarat –syaratnya, yaitu memiliki harta itu secara sempurna, harta yang dimiliki merupakan harta yang sempurna, telah mencapai nisabnya yaitu jumlahnya telah sesuai dengan syariat yang wajib di zakatnya, telah mencapai haulnya yaitu bertahan selama satu tahun dan harta yang dimiliki adalah kelebihan dari kebutuhan pokoknya." Terang Rayyan
"Maksudnya gimana mas? Aku nggak mudeng" Shafa menggaruk kepalanya yang tak gatal, masih bingung dengan penjelasan Rayyan.
"Maksudnya, harta yang kita simpan dan tidak kita gunakan itu wajib di keluarkan zakatnya jika sudah sampai nisabnya. Zakat yang di keluarkan 2,5 persen dari harta yang kita simpan.
"Ayah ayoooo... cepat nanti tellambat" Zafran sudah tak sabar menunggu sang ayah.
"Iya..Iya, Ayah pergi dulu mom" Pamitnya pada Shafa dan juga Am kecil yang tengah menyusu.
.
.
.
__ADS_1
.
Rayyan mengendarai motor metic dengan Zafran yang berdiri di depan. Bocah kecil itu nampak senang dan kegirangan melihat barisan yang begitu panjang sambil memukul bedug mengumandangkan takbir berulang ulang
*Allahu akbar... Allahu akbar... Allahu akbar, Laa ilaa ha ilallah hu Allahu Akbar. Allahu akbar wa lillah hilhamd.
Allahu akbar... Allahu akbar... Allahu akbar, Laa ilaa ha ilallah hu Allahu Akbar. Allahu akbar wa lillah hilhamd*.
Sudah hampir 40 menit ia berkeliling mengikuti panjang barisan penyeru takbir yang masih belum mau berhenti sebelum tengah malam nanti. Rayyan berhenti di depan sebuah swalayan untuk membelikan Zafran es krim.
"Ayaah, besok ajak adik Am naik motol juga ya ayah" Ucapnya sambil menikmati es krim cup di meja kecil yang menghadap ke jalan.
"Iya, tunggu adik Am besar ya." Ia tersenyum memandangi putra kecilnya yang ternyata sangat menyayangi adiknya tersebut.
Shafa melirik jam yang di ponsel miliknya, sudah menunjukkan pukul 4 subuh. Ia segera bangun memeriksa kembali pakaian untuk anak dan suaminya yang sudah ia siapkan semalam sebelum tidur.
"Mas...Bangun mas" Ia membelai lembut kepala suami samsil sesekali mendaratkan kecupan pada bagian bibir dan keningnya. Bahkan saat tidur pun Rayyan terlihat begitu menawan.
"Mas..."
"Emhh..."Rayyan menggeliatbmerasakan elusan lembut yang begitu nyaman.
"Bangun... Siap-siap ke masjid gih. Tuh suara takbir udah kedengaran"
"Morning kiss" Ia menahan tangan Shafa sambil menatap wajahnya.
Cup!
"Lagi"
Cup!
"Lagi"
"Udah, ayo buruan bangun. Aku mau masak" Shafa berusaha melepaskan tubuhnya dari rengkuhan suaminya yang super manja.
Cup! Cup! Cup! Cup! Cup! Cup!
"Maaas!!"
Cup!
"Udaah" Iya tersenyum puas setelah melayangkan ciuman bertubi-tubi di wajah Shaafa.
__ADS_1
Shafa mendengus mencubit gemas pipi Rayyan yang nampak bahagia. Hari kemenangan telah tiba. Lebaran pertama dengan formasi lengkap.