
Zidane Ar-Rayyan
Disinilah aku berada saat ini, di sebuah ruangan bernuansa cream dan putih ber ukuran 8x8 meter. Ruangan tempat wanita ku akan berjuang melahirkan buah cinta kami yang pertama. Ku pandangi wajah cantik istri ku yang sedang menahan sakit sambil memejamkan matanya. Wajah cantik yang selalu menemani hari-hariku selama hampir setahun ini.
Waktu menunjukan pukul 2 siang. Sudah 1 Jam lebih sejak Shafa di bawa ke klinik. Kondisi nya masih tak banyak kemajuan. Pembukaan nya hanya maju 1 tingkat dari pembukaan 3 ke pembukaan 4. Sedangkan untuk dapat melahirkan normal, ia harus menunggu sampai pembukaan 10.
Keringat-keringat kecil mulai namak membasahi sekitar kening dan pelipisnya. Ku coba untuk membuka kerudung yang menutup kepalanya agar tidak terlalu terasa panas.
"Di buka ya sayang kerudung nya supaya nggak panas" Ujar ku yang sedang memegangi tangan nya untuk berjalan-jalan kecil di sekitar ruangan. Toh semua yang ada di ruangan ini adalah perempuan. Aku berusaha menutupi rasa gugup dan takut ku. Aku harus tegar karena aku adalah sandaran baginya.
Perlahan ku lepas kerudung yang sudah mulai basah bagian depannya. Ku rapikan rambutnya yang tergerai yang sebagian menempel di kulit lehernya yang basah oleh keringat.
"Bu, ada ikat rambut?" Tanyaku ibu yang juga berada di tempat itu.
"Tunggu, ibu carikan." Ibu merogoh kantong tas yang berisi perlengkapan Shafa dan memberikan sebuah ikat rambut berwarna pink kepada ku.
Aku mulai merapikan rambut istriku ke belakang dan mengikatnya dengan tali rambut tersebut.
"Mooom.... Sakit mom" Keluh Shafa yang kini berganti memeluk mommy nya yang duduk di sebelah kanan nya.
"Sabar sayang. Shafa tahan ya nak" Ujar mommy sambil mengelus punggung Shafa. Dokter sengaja tidak menyuntikan perasang karena sejauh ini pembukaan Shafa berjalan normal. Di perkirakan ia akan melahirkan sore nanti atau paling lama setelah magrib. Dan selama itu pula aku harus menguatkan diri melihat wanita yang paling aku cintai merasakan sakit.
"Sambil di pakai berjalan bu, supaya pembukaan nya lebih cepat" Ujar dokter Lily.
Aku pun membantu istriku berdiri dan menuntunnya berjalan menuju balkon yang ada di ruangan tersebut.
Baru beberapa langkah berjalan ia sudah berhenti dan menenggelamkan wajah nya di dadaku. Tangannya memeluk punggungku erat. Bisa ku dengar rintihan rintihan kecil yang keluar dari mulutnya.
"Sayang, kamu pasti bisa! Istriku adalah wanita hebat. Shafa pasti bisa melewati semuanya" Bisik ku menguatkan nya. Ku lihat kemejaku yang sudah basah oleh air matanya, apakah dia menangis ya Allah? Sesakit itukah yang di rasakan oleh istriku saat ini? Jika sja bisa, ingin rasanya aku berbagi rasa sakit dengannya.
"Mas, aku mau baring" Ucapnya lirih. Aku pun menuntunnya menuju ranjang yang di buat senyaman mungkin untuknya. Ku bantu ia membaringkan tubuh di atas ranjang berukuran sedang tersebut. Shafa memiringkan tubuhnya sambil tangan nya meremas bantal. Sedangkan aku hanya bisa mengusap punggung nya sambil berdzikir ke pada Allah.
"Ssshhh... Aduuuhhh... Mass sakiit hiks..." Rintihnya semakin terdengar. Ia memejamkan matanya sambil menangis. Hatiku rasanya seperti teriris melihatnya seperti ini. Kalau saja bisa, biarlah aku saja yang merasakan sakit itu.
"Eeemmmpph.... huuuuhhh" Ia menahan sakit dengan menggigit bibir bawahnya.
"Mas... Ini sakit" Ia menatapku dengan tatapan sayu penuh dengan permohonan. Tak ada yang bisa ku lakukan selain mengelus puncak kepalanya dan menguatkan nya.
"Jangan dulu berkuat ya bu kalau sakit. Tahan dulu. Saya cek kembali pembukaan nya." Ucap dikter Lily. Lagi-lagi dokter Lily memasukkan tangannya kedalam kem*luan istriku yang selama ini dia jaga hanya untukku. Dia terlihat meringis kesakitan saat dokter Lily memasukaan tangannya ke dalan.
"Masih pembukaan 4 bu, usahakan jangan terlalu banyak mengeluarkan tenaga bu." Ujar dokter Lily.
Ya Allah percepatlah prosess kelahiran pauatraku Ya Allah. Aku tak tega melihat Shafa seperti ini. Aku lebih baik di diamkan selama dua minggu atau di omeli selama 24 jam olehnya dari harus melihatnya seperti ini.
Hingga masuk waktu Ashar pembukaan yang di alami Shafa masih pembukaan 5. Sedangkan ia masih merintih kesakitan di atas ranjang sambil mencengkeram lenganku yang mungkin telah berubah warna kemerahan. Untuk saat ini jangankan hanya di cengkeram, di pukul atau di cakar pun aku siap, melihat perjuangan istriku yang begitu berat. Sudah tiga jam kami berada di ruangan ini, namun sepertinya belum ada tanda-tanda bayi kami akan segera lahir.
"Mas aku mau ke kamar mandi" Ucapnya, dengan sigap aku pun menuntunnya ke kamar mandi. Kali ini aku ikut masuk dan menjagai nya di dalam. Aku khawatir terjadi sesuatu padanya. pasalnya, tadi dokter sempat mengatakan lendir dan darah yang keluar semakin banyak namun belum juga pembukaan lengkap.
"Sayang, ganti bajumu dengan ini!" Mommy tiba-tiba masuk membawakan sebuah daster tanpa lengan dengan karet di bagian atasnya. Bahannya terlihat lebih ringan dan nyaman. Segera ku bantu Shafa melepaskan dasternya dan memakaikan daster tersebut.
"Mas... Kamu sholat dulu gih, doain semuanya supaya lancar dan cepat" Ujarnya. Sambil menatapku sendu. Tatapan yang paling aku takutkan dari matanya.
"Tapi gimana dengan kamu sayang?"
"Mas, jangan menunda- nunda shalat. Bukan kah lebih baik di lakukan di awal waktu. Jangan menomor duakan Allah. Allah sudah begitu baik kepada kita hm?" Ujarnya sambil tersenyum, sangat menyejuk kan. Tapi jujur aku lebih suka dia yang galak di saat seperti ini.
__ADS_1
"Mom, bu, aku Sholat dulu ya?" Ujar ucapku pada ibu setelah keluar dari kamar mandi.
"Shalat di sini saja Ray! Ibu akan siapkan sajadahnya" Ujar ibu. Ruangan tempat istriku berada saat ini memang cukup luas yang di salah satu sisinya terdapat sekat berupa tirai yang baru ku tau adalah sebuah ranjang berkapasitas dua orang yang sangat nyaman. Mungkin daddy menyiapkan itu untuk ibu atau mommy.
Aku segera mengambil wudhu, dan betapa terkejutnya diriku saat melihat kedua lenganku yang terlihat sudah memerah. Shafa benar-benar mencengkeram nya dengan kuat tadi. Sekilas, aku teringat kembali kesalahanku padanya beberapa bulan silam saat tangan ini dengan kasarnya menampar dan mencengkeram nya. Ya Allah ampuni aku. Aku telah banyak berdosa pada istriku.
Berbeda dengan shalat Dzuhur tadi. Shalat kali ini aku lebih bisa khusuk. Karena ku tahu ada dokter yang menemani nya. Ku panjatkan doa terbaikku kepada Allah untuk keselamatan istri dan anak ku. Aku yang sedang khusuk berdoa di kagetkan dengan suara Shafa yang mengaduh kesakitan sambil menyebut namaku.
Aku segera menutup doaku dan bergegas menghapirinya yang sedang terbaring.
"Sudah pembukaan 7, sabar ya bu, sedikit lagi" Ujar dokter Lily.
"Dok, bisakah di percepat pembukaan nya dok, saya sudah nggak kuat" Ujar Shafa dengan air mata yang kian mengalir dari pelupuk matanya. Sejak tadi ia sudah menangis namun menahan suaranya agar tak keluar.
"Sabar ya bu, kalau memaksa mengejan dini ibu akan kehabisan tenaga saat pembukaan lengkap nanti." Terang dokter Lily yang terlihat begitu tenang. Sepertinya dia memang sudah biasa menghadapi situasi seperti ini.
"Tapi aku nggak kuat lagi mas... Hiks...hiks. Sakiiiit" Shafa kembali memiringkan tubuhnya sambil memeluk lenganku. Ku usap lembut kepala nya dan kucium keningnya yang basah oleh keringat sebagai bentuk kasih sayangku padanya.
"Ray, mommy dan ibu Shalat dulu di ruangan Jeffri, sekalian mau lihat Zafran. Dia pasti juga gelisah" Ujar mommy dan ibu.
"Aku titip Zafran ya mom, bu. Biar mas Rayyan saja yang menemani Shafa di sini" Ujar Shafa.
Kini tinggal aku, dokter Lily dan dua orang bidan yang menemani Shafa.
"Uuuuggh dokter aku nggak kuat dok... Eemmph... Hah...hah..hah" Shafa terlihat sedikit mengejan dan mengatur nafasnya"
"Sabar bu... Sabar!!! Tahan sebentar lagi" Ujar dokter Lily. Seperti yang di katakan di awal, dia melarang Shafa mengejan sebelum waktu nya.
"Dokter Lily menginstruksikan Shafa untuk membuka lebar kakinya. Bisa kulihat bagian perut kebawah yang polos tanpa tertutup apapun.
"Ssshh...huuuuhhh... uuuuggghh astagfirullah hal adzim!" Rintihnya sambil beristigfar membuatku jantungku berdebar tak karuan.
"Astagfirullah hal adzim"
"Astagfirullah hal adzim*"
Ia terus beristigfar sambil memejamkan matanya yang di penuhi dengan buliran-buliran bening.
Ku cium keningnya lama. Jujur aku tak sanggup melihatnya seperti ini. Air mata ku pun ikut lolos menyaksikan perjuangannya yang begitu meenyakitkan.
"Maafkan aku sayang?" Bisikku di telinganya. Benar katanya sebelumnya bahwa laki-laki hanya merasakan enaknya sedangkan perempuan yang merasakan sakit. Itu semua memang benar. Kurasakan tangan nya mengusap lembut pipiku.
"Aku bahagia mas, bisa mengandung dan melahirkan anak mu. Aku mungkin tak sesempurna dan sebaik wanita lain. Tapi aku akan berjuang untuk melahirkan anak yang selama ini kamu tunggu-tunggu." Ucapnya lirih. Ucapan yang begitu mengiris hatiku. Dia memberikan hidupnya untukku. Lalu apa yang sudah aku berikan padanya? Lagi-lagi aku teringat akan dosaku pada Shafa yang pernah aku ragukan cintanya.
"Kamu yang terbaik sayang. Terima kasih untuk segalanya" Hanyaa itu yang bisa ku katakan. Dia memang wanita terbaik. Shafa ku adalah wanita terbaik dan tercantik yang pernah aku temui. Aku menatapnya yang juga berkaca-kaca. Kening kami saling bertemu bisa ku dengar bisiknya.
"Ana Uhibbuka Lillah Mas Rayyan" Ucapnya membuatku tak kuasa menjatuhkan air mataku.
Kurasakan cengkeraman kuat pada lenganku menandakan sakit yang tak terkira yang saat ini tengah ia rasakan.
"Aaaaarrggghh....dokteeer!!!" Tiba-tiba ia memekik kesakitan.
"Tahan bu tahan" Ujar dokter Lily yang nampak sudah bersiap, begitu juga dengan dua orang bidan di sampingnya.
Ku lihat di sebuah nampan stenlis terdapat berbagai alat medis yang cukup mengerikan buatku diantaranya adalah gunting yang paling familiar di mataku. Apakah itu yang akan di gunakan untuk membantu proses kelancaran persalinan ini? Aku benar-benar tidak bisa membayangkan bagaimana rasa sakit yang saat ini di deritanya.
__ADS_1
"Ya Allah... Sakiit...Hiks...hiks" Bukan lagi rintihan yang ku dengar, melainkan tangisan pilu darinya. Ia masih setia menggenggam erat lenganku.
Nak bantu mommy mu melewati semua ini. Lekas kuluarlah nak. Kasihan mommy mu. Gumamku sambil mengusap lembut perutnya yang semakin turun ke bawah.
"Emmmhh...huuuh" Leguhnya lagi.
"Ok, pembukaan lengkap! Bapak bisa sedikit bergeser di samping kepala ibu Shafa" Ujar dokter yang langsung ku ikuti. Dokter terlihat mengatur ketinggian ranjang Shafa yang sedikit lebih tinggi di bagian kepala sehingga posisi Shafa agak bersandar. Dan aku berdiri di sisi kirinya sambil menggenggam tangannya.
"Ibu dengar instruksi saya, tarik nafas dalam-dalam! Hembuskan perlahan!"
"Ulangi, tarik nafas. Hembuskan" Aku yang berada di sebelahnya pun ikut menarik dan menahan nafas ku.
"Sakit dok... Aaggghhh" pekiknya di sertai cairan yang keluar begitu banyak hingga terlihat jelas membasahi sprei berwarna pink tersebut.
"Bu Shafa atur nafas kembali, ketubannya sudah pecah" Ucap dokter Lily
"Ayo sayang! Kamu bisa!" Ujarku padanya.
"Ayo bu, ibu bisa. Mengejan perlahan ya bu" Ujar dokter Lily yang berada tepat diantara dua kaki Shafa yang tengah terlipat.
"Eeeenngghhh....huh...huh...Aaaagggh" Shafa sekuat tenaganya berusaha berkuat dan mengejan. Aku yang menyaksikan hal itu hanya bisa menahan nafas membayangkan rasa sakit yang di alaminya.
"Terus bu, sudah mulai terlihat" Ujar dokter Lily. Shafa kembali mengatur nafasnya. Ku lap peluhnya yang membanjiri keningnya. Matanya nampak sayu. Begitu besar tenaga yang di keluarkan nya.
"Ayo bu, kita coba lagi"
"Eeeeennnnnggghh... Hah..hah..hah" Nafsnya tersengal. Bidan yang berada di sebelah kanannya memberikan air agar Shafa bisa mengatur kembali nafasnya.
Sekilas ku lihat sarung tangan yang di pakai dokter Lily sudah bercampur dengan darah. Darah yang pasti berasal dari dalam inti istriku. Ya Allah begitu beratnya perjuangan seorang ibu saat melahirkan buah hatinya.
"Bismillah, ayo sayang kamu bisa!" Ucapku dengan bibir bergetar. Bukan hanya Shafa yang merasakan sakit, aku pun sama. Ketika ia menarik nafas aku pun ikut menarik nafas. Ketika ia mengejan aku ikut menahan nafasku menikamati cengkeraman nya yang berpindah-pindah tempat.
"Atur nafas lagi bu. Tarik.... Hembuskan"
"Mmhhhh........Huuuhhh" Tangan kirinya kembali mencengkeram kuat lenganku pertanda ia akan memulai lagi.
"Emmmmph....Emmmmmph....Agggggghhh"
"Hah...hah...hah...Aku nggak kuat mas" Ucapnya dengan mata setengah terpejam. Bidan di sebelah kanannya dengan cepat memasangkan selang oksigen pada hidung Shafa membuatku sangat ketakutan.
"Kamu kuat sayang, aku yakin kamu bisa! Bertahanlah. Zafran pasti sudah tidak sabar melihat adiknya. Mas sudah siapkan nama yang bagus untuk anak kita. Shafa jangan menyerah ya?" Ucapku sambil mencium keningnya beberapa kali. Aku terpaksa berbohong telah meembuatkan nama untuk anakku. Padahal aku sama sekali belum kepikiran kesana lantaran terlalu fokus pada kondisinya. Tapi setelah ini aku berjanji akan memberikan nama yang indah untuknya.
Shafa tersenyum meski nampak jelas lelah di wajah cantiknya. Ia kembali mengatur nafasnya.
Ya Allah... Ya Rahiim. Mudahkanlah proses ini ya Allah.
"Ayo bu, lebih kuat lagi, sudah kelihatan kepalanya. Jangan terputus ibu" Ujar dokter Lily memmberi instruksi. Begitupun bidan yang mendampingi nya, turut membantu Shafa mengatur nafasnya.
"Bismillah..." Lirihnya sebelum memulai lagi perjuangan nya.
"Eeeeeeeeenggghh.... Aaaarrrggghhh.... Allahu akbaaar!!!" Ia mengejan cukup kuat di sertai Teriakan cukup memekikkan telingaku.
"Huuuh"
"Shafa...!!! Shafa!!!"
__ADS_1
Aku tak pernah bisa memilih jalan hidup yang harus aku lalui. Tapi aku bisa memilih seperti apa aku melaluinya. Aku memilih hidup denganmu, mencintaimu, menjadi ibu dari anak mu. Tapi aku tak bisa janji akan menua bersamamu.
________________________________