Jodoh Pilihan Allah

Jodoh Pilihan Allah
Menantu Kesayangan


__ADS_3

"TANIA" Ternyata dia yang sengaja menumpahkan minuman itu di gaunku. Ish sudah seperti sinetron-sinetron aja.


"Yup, kenapa? Kamu heran aku ada disini?" Ucapnya angkuh.


"Kenapa sih kamu tuh ga ada capeknya gangguin aku?"


"Karena kamu udah ngerebut laki-laki yang aku cintai, jadi aku akan buat hidupmu tidak tenang" Ujarnya dengan tatapan tajam.


"Aku ga merasa tuh merebut mas Ray dari kamu. Karena laki-laki yang kamu maksud itu adah Suamiku Tania. Yang ada kamu yang gangguin suami orang. Mau jadi pelakor ha??" Balasku. Wanita seperti ini harus di lawan ga bisa di diemin. Karena dia sudah terang-terangan berniat untuk mengganggu kenyamanan rumah tanggaku. Kata Mommy, istri itu harus kuat, berada di garda terdepan membasmi para barisan pelakor, salah satunya jenis Tania ini.


"Cih, ga usah bangga dulu. Kamu pikir aku bodoh? Kamu pikir aku ga tau pernikahanmu dan pak Ray itu karena apa? Pernikahan kalian itu berlandaskan paksaan bukan Cinta. Aku jadi kasian sama pak Ray, yang harus menerima istri wanita malam seperti kamu" Cibirnya kali ini benar-benar membuatku geram.


"Mau atas dasar paksaan atau Cinta, yang jelas dia adalah suamiku. Aku mencintainya dan dia mencintaiku. Dan aku tidak akan pernah membiarkan wanita seperti dirimu merusak rumah tanggaku!" Aku menunjuk tepat di depan mukanya yang menyebalkan.


"Oh ya? Apa benar dia mencintaimu? kamu yakin dia mencintaimu bukan hanya sepatas rasa tanggung jawab? Kalau pak Ray bisa mencintai wanita sepertimu, dia tentu lebih bisa mencintai wanita baik-baik sepertiku. Bukan begitu bu Shafa? Aku jadi semakin bersemangat untuk mendapatkaannya sekarang" Ucapnya lalu melenggang pergi dari hadapanku.


"Kau..!!" Aku mengumpat dalam hati. Kalau saja buka pesta sudah ku hancurkaan mulut lemesmu itu Tania. Sabar Shafa.. Sabar. Aku mengelus dadaku sembari beristigfar.


"Sayang, kenapa?" Mas Ray memegang bahuku.


"Kemana aja sih, nih liat gaun ku basah gara-gara ulah fans fanatik mas" Ujarku menggebu-gebu.


"Astagfirullah, kok bisa kaya gini? Siapa yang ngelakuin" Dia mengambil tissu dan berjongkok mengelap gaunku yang basah.


"Siapa lagi kalau bukan Tania."


"Ya udah ayok kita pulang aja, ga enak di liatin banyak orang" Ujarnya. Benar juga, beberapa pasang mata sedang memperhatikan kita.


Kami pun meninggalkan tempat pesta. Aku melihat Tania juga sedang berjalan keluar. Tiba tiba mas Ray merangkulku mesra.


"Lain kali hati-hati ya, Aku ga mau istriku yng paling cantik dan bawel ini kenapa-napa" Ucapnya. Ah manisnya. tania di belakang pasti sedang kepanasan.


***


"Sayang, buruan! mas telat nih nanti" Teriak mas Ray yang sudah menunggu di halaman depan.

__ADS_1


"Iya-iya..." Aku berlari dari dalam rumah dengan menenteng dua buah paper bag ,di tanganku.


"Ayo cepat" Mas Ray sudah ga sabar. Aku sih maklum, ini kan hari senin dia harus mengikuti apel pagi di kampus. Dia ini sosok yang sangat disipline dengan waktu. Beda tipis lah sama aku. Kalu dia selalu on time. Aku lewat dikit.


"Mas, aku nanti pake baju yang mana ya? Yang ini atau yang ini?" Aku mengeluarkan 2 buah baju yang berbeda dari paper bag ku tadi. Satu baju model kaftan panjang dengan motif batik, dan yang satu dress panjang dengan lengan pendek. Aku harus tampil sopan dan elegan di depan teman-teman ibu donk. Harus memberikan kesan baik.


"Yang itu saja, tertutup!" Ucapnya menunjuk kaftan batik. Sudah ku duga, Suamiku ini pasti milih yang ini. Aku Heran sama mas Ray, dia melarangku menggunakan pakaian terbuka tapi dia tidak menyuruhku berjilbab, atau mungkin belum.


Sesampainya di rumah ibu Mas Ray, hanya menurunkan ku setelah itu langsung bergegas ke kampus.


Kedatanganku langsung di sambut heboh oleh ibu. Beliau mencium dan memelukku dengan penuh cinta. Ku lihat ayah juga sudah bersiap-siap berangkat ke kantor.


"Kamu sudah sarapan sayang?" Taanya ibu.


"Sudah bu, tadi sama-sama mas Ray" Ucapku.


"Ibu dengar Shafa pintar masak ya? Makanan buat Ray katanya Shafa sendiri yang masak." Ini pasti kerjaan bi Lastri, mata-mata suruhan ibu.


"Enggak juga sih bu, Shafaa cuma masak yang Shafa bisa aja" Aku nyengir.


"Mmm.. ibu mau di masakin apa?" Tanyaku.


"Yang kaya Shafa masakin buat Ray, kata bi Lastri masakan Shafa enak, Ray ampe lahap banget makannya"


Ya.. Ampun bi Lastri sampe segitunya mata-matain akunya. Jangan jangan kalau aku lagi manja-manjaan sam mas Ray di teras belakang di laporin juga.


"Bi Lastri, lapor apa aja sama ibu?" Tanya ah, buat memastikan.


"Semuanya" Ucapnya sambil senyum-senyum


"Hah? semuanya?" Aku melongo mendengarnya.


"Iya, termasuk waktu Rayyan nyuci sprei pagi-pagi" Ucap ibu malu-malu.


"Ibuuuuuu" Aku memeluk ibu menyembunyikan wajahku di bahunya. Ibu malah terkekeh menepuk nepuk bahuku. Pasti dia seneng karena apa yang dia harapkan selama ini sudah terjadi. Tinggal menunggu hasilnya.

__ADS_1


"Akhirnya pertahanan nya jebol juga" Ucapnya disertai tawa renyah.


"Aku maluu ibuu" Wajahku terasa panas mendengar ucapan ibu.


"Ga papa sayang, ibu juga dulu sama kaya kamu. Tapi Ray ga pernah nyakitin kamu kan?" Tanyanya .


Aku menggeleng, "Mas Ray manja ibu".


"Dia emang manja sayang, du luarnya aja yang cuek. Dia itu persis seperti ayah, manja dan agresif" Bisiknya. Ya ampun mamer aku terus terang banget sih.


"Tapi bu, ada yang mau gangguin hubungan aku sama mas Ray" Aduku pada ibu mertua.


"Siapa sayang?"


"Tania, guru BK di sekolah. Masa semalam dia sengaja numpahin minuman ke baju aku bu. Terus dia bilang kalau dia ga akan berhenti deketin mas Ray" Jelasku. Ibu nampak serius mendengarkan.


"Tania anak bu Hesti maksudnya?"


"Lho, kok ibu tau?" tanyaku. Sepertinya mereka cukup mengenal satu sama lain.


"Bu Hesti salah satu teman arisan ibu."


"Whatt?" Aku membelalakan mataku. Apa jadinya aku, harus ketemu dan melihat wajah nyebelinya itu.


"Jangan khawatir sayang, ibu ga akan biarin dia berbuat seperti waktu disekolah sama mantu kesayangan ibu" Ujarnya sambil mengusap kepalaku.


"Jadi ibu tau kejadian di sekolah?


"Pastilah, ayah selalu menceritakan semuanya sama ibu" Ucapnya.


******! ******! Apa ibu liat foto itu? Ya Allah berat nian ujianMu ini.


"Apa.. apa ibu lihat foto Shafa?" Tanyaku ragu-ragu. Aku melirik ibu. Dia mengangguk.


"Setelah melihat foto itu, Apa ibu menyesal memiliki menantu sperti Shafa?" Tanyaku hati-hati.

__ADS_1


"Sayang, kok ngomong gitu sih. Ibu ga pernah menyesal memiliki menatu secantik Shafa. Ibu malah bersyukur dan semakin yakin bahwa Shafa ini adalah wanita yang di pilih Allah untuk Ray. Mungkin Allah menghadirkan Ray dalam hidup Shafa untuk merubah Shafa menjadi lebih baik. Begitu juga Shafa, hadir di hidup Ray sebagai ladang untuk memperoleh pahala yang sangat besar disisi Allah" Ujarnya. Aku baru paham maksud mas Ray mengatakan bahwa aku adalah ladang pahala baginya.


__ADS_2