
Sebelum baca, Please Jempolnya π dong. Tekan Like di bawah ya. Reader nggak boleh pelit π€π€π€π€π€ Kalau pelit rejekinya sempitππππ
Happy Readingβ€οΈ
_______________
Suasana haru menyelimuti ruangan tersebut. Bagaimana tidak, anak yang selama ini terasingkan atau lebih tepatnya terpaksa mengasingkan diri dapat berkumpul kembali bersama orang tuanya juga adiknya tanpa ada rasa takut dan khawatir. Sejak awal daddy dan mommy Shafa memang sudah berencana memberitahu Shafa kebenarannya setelah kematian ayah mommy setahun lalu. Namun hal itu di urungkan mengingat Shafa tengah hamil. Mereka takut hal itu akan mempengaruhi kondisi kandungannya. Sehingga mereka memutuskan untuk menu ggu sampai Shafa melahirkan.
"Mass Jeffri... Hiks...Hiks" Kini giliran Aini yang memeluk tubuh Jeffri dan menangis dalam pelukan suaminya yang masih terbaring di atas ranjang rumah sakit
"Terima kasih Nita. Terimakasih telah menemaniku" Ujar Jeffri. Nita adalah panggilan Jeffri untuk Aini.
"Bunda... Kenapa bunda menangis?" Hafiz menarik-narik rok Aini.
"Bunda senang sayang, karena ayah Jeffri sudah sembuh" Ujar Aini sambil menoleh pada putranya.
"Aku mau lihat bunda" Ujar Hafiz. Aini pun mengangkat tubuh Hafiz dan mendudukannya di sebelah Jeffri.
"Ayah sakit apa?" Tangan kecil Hafiz menyentuh wajah Jeffri yang masih sedikit pucat.
"Ayah sudah sembuh Hafiz, ayah sudah tidak sakit lagi" Balas Jeffri dengan seulas senyum di bibirnya.
"Berarti ayah bisa bikinkan aku adik seperti ayah Zafran" Ujarnya sambil menunjuk Rayyan yang lagi-lagi membuat mereka tertawa.
"Adik?" Jeffri mengerutkan dahinya.
"Iya ayah. Kata Zafran aku harus minta adik sama ayah. Zafran mau punya adik lima ayah" Balas Hafiz. Jeffri mendengarkan penuturan Hafiz sambil tersenyum. Nampak raut bahagia di wajahnya.
"Iya om, adik aku sudah mau kelual satu. Itu pelut momny betal. Kata ayah, aku mau di bikinkan adik banyak" Sahut Zafran yang tengah di gendong ibu.
"Kak... Jeff"
Suara lirih Shafa mengalihkan pandangan Jeffri yang tadinya menatap Hafiz menjadi sedikit menoleh ke kiri. Di lihatnya Shafa sedang bersembunyi di balik tubuh Rayyan.
__ADS_1
"Sha...Shafa" Panggil Jeffri terbata.
Rayyan sedikit menarik tubuh Shafa agar mendekat pada Jeffri. Shafa yang sejak tadi menangis dalam diamnya tak mampu lagi menahan air matanya untuk tidak tumpah saat matanya bersitatap dengan mata teduh milik Jeffri.
"Kak Jeff....hu..hu..hu" Ia segera menagis sambil menyentuh wajah kakaknya tersebut.
"Kenapa kakak bohong pada Shafa? Kenapa kakak menanggung nya sendiri?" Ujar Shafa sambil menatap Jeffri yang juga tengah menangis.
"Maafin Shafa kak, Maafin Shafa yang dulu kurang ajar dan selalu merepotkan kak Jeff" Ujar Shafa sambil menenggelamkan wajahnya di bahu Jeffri. Ia ingat bagaimana dulu ia suka membentak-bentak Jeffri seenaknya dan selalu adu mulut saat ia mengikutinya. Bahkan pernah suatu ketika ia mengumpat Jeffri dan mengata-ngatainya saat Jeffri mengguyurnya paksa tengah malam dan membungkus tubuhnya seperti mummi. Namun semua itu ia lakukan tak lain adalah karena ia sangat sayang dan peduli pafa adik semata wayangnya itu. Baginya, Shafa seperti berlian berharga yang harus di jaga, karena sifat liar dan loyalnya sangat mudah menjerumuskan nya ke dalam hal-hal buruk.
"Dek...!" Panggil Jeffri sambil mengusap kepala Shafa membuat Shafa semakin menangis tergugu.
"Jangan menangis! Nanti make up mu luntur!" Ujar Jeffri. Ia hafal betul Shafa dulu hobi berdandan hingga akan sangat berhati-hati agar make upnya tidak luntur.
"Kak Jeff... hiks...hiks... Aku sudah tobat" Balas Shafa.
"Kamu lihat penampilan adikmu Jeff, bukankah dia sudah banyak berubah?" Ujar mommy.
"Iya, terima kasih Ray. Sudah membuat Shafa kecilku berubah. Tapi aku tidak akan memaafkan mu jika kamu menyakitinya lagi" Ucap Jeffri sembari menatap Rayyan. Kepergian Shafa kala itu hampir membuat Jeffri menghajar Rayyan jika tidak di halangi oleh Daddy. Ia sangat sakit hati saat mengetahui Shafa pergi tanpa membawa apapun bahkan sampai menjual handphone miliknya untuk bertahan hidup.
"Sudah cukup! Jeffri harus kembali istirahat. Ujar Daddy. Sejak tadi mommy, Aini dan Shafa sudah melepas rindu dan mengutarakan isi hatinya pada Jeffri, tapi tidak dengan daddy. Harusnya dia orang pertama yang memeluk Jeffri, menggingat begaimana perjuangannya di meja operasi untuk menyelamatkan Jeffri. Namun daddy hanya berdiri memandang satu persatu anggota keluarganya menyambut Jeffri dari tidur panjangnya.
Seolah mengerti dengan keinginan daddy, mommy mengajak Shafa dan Aini duduk di sofa melingkar yang ada sudut ruangan. Mereka memberikan ruang tersendiri bagi ayah dan anak untuk berbicara dari hati ke hati. Kini tinggalah Jeffri dan daddy yang duduk di sebelah Ranjangnya. Tak ada percakapan di antara keduanya. Daddy dan Jeffri sama sama saling menatap. Jeffri tak tau harus berkata apa pada laki-laki yang diam diam ia kagumi. Baginya, dokter Harsha yang merupakan ayah kandungnya itu adalah super hero. Ia tahu, laki-laki di hadapannya ini sangat menyayanginya meski tidak pernah mengucapkannya.
"Pak - - - "
"Panggil yang benar!" Sela Daddy saat melihat Jeffri hendak berucap. Ia pasti akan memanggilnya pak atau pak dokter. Bibir Jeffri bergetar, sebuah kata yang sejak dulu ingin ia ucapkan.
"Panggil yang benar, seperti adikmu!" Daddy mengulangi kalimatnya membuat mata Jeffri berkaca-kaca. Dulu, saat kecil ketika daddy pulang dari kerja ia sering melihat Shafa berlari sambil memanggil-manggil daddy, kemudian daddy menggendongnya dan mencium pipinya. Jeffri hanya akan diam saat melihat hal itu meski jauh di lubuk hatinya ia juga ingin memanggilnya daddy dan bermanja seperti Shafa kecil, namun ia cukup sadar posisinya di rumah itu. Ia selalu mengingat pesan mendiang ibunya agar tidak menyusahkan apalagi berharap lebih pada pak dokter dan ibu Fanny nya. Dulu, Usapan lembut dan kecupan di puncak kepalanya sudah cukup baginya untuk merasakan kasih sayang seorang ayah. Hingga saat masuk kelas 4 SD, Jeffri dengan sendirinya minta untuk tinggal di asrama sekolah dengan alasan ingin mengikuti latihan bela diri padahal ia hanya ingin belajar tumbuh menjadi anak yang kuat dan tegar.
"Dad...Daddy!" Panggil Jeffri di sertai air mata.
"Ulangi!" Perintah daddy yang terdengar tegas namun matanya pun sudah berkaca-kaca.
__ADS_1
"Daddy!"
Daddy tersenyum mendengar panggilan tersebut. Panggilan yang selama ini ingin ia dengar dari mulut putranya. Ada rasa sakit tersendiri di hati daddy saat mendengar Jeffri memanggilnya pak atau pak dokter padahal ia juga adalah anaknya.
"Jeffri, anak ku!" Daddy merangkul Jeffri sambil menangis meski tak bersuara. jeffri membalas pelukan sang ayah dengan perasaan bahagia bercampur haru.
"Terimakasih dad... Terimakasih" Ucapnya sambil terisak.
"Daddy yang harus berterima kasih padamu nak. Daddy berhutang banyak padamu. Kamu telah menjaga rahasia keluarga kita dengan baik hingga kita bisa utuh seperti saat ini." Ujar Daddy. Padahal bisa saja Jeffri mengatakan kebenarannya pada Shafa atau orang tua Fanny bahwa ia anak pertama dari dokter Harsha mengingat Jeffri juga cukup dekat dengan nenek dan kakek Shafa kala itu. Namun ia menjaganya, ia tidak ingin melihat keluarga yang amat di cintainya berantakan. Ia memilih untuk bersabar menunggu saat ini tiba. Dan kini ia dapat merasakan buah dari kesabarannya selama ini. Saat yang di nantikan telah tiba.
Anita, lihatlah anak kita! Di benar-benar telah menepati janjinya padamu. Terima kasih telah melahirkannya untuk ku.
Momen haru tersebut tak lepas dari sepasang mata yang sejak tadi mengamatinya. Mommy berjalan mendekati mereka berdua.
"Ib- - - Mom...Mommy" Panggil Jeffri saat melihat Fanny mendekat.
"Jeffri, anakku" Fanny mengusap kepala Jeffri dengan penuh kasih sayang. Jeffri meraih tangan Fanny dan menciumnya. Tangan hangat yang dengan lapang dada menggandeng nya ketika kecil. Tangan itu pula yang merawatnya ketika sakit, menyuapinya, bahkan tangan itu juga yang dulu dengan telaten mengobatinya saat ia di khitan. Ketika ia baru masuk SD, Fanny sendiri yang mengantarkannya ke sekolah di hari pertamanya masuk sekolah. Saat ia terima rapor, Fanny juga yang selalu hadir mengambilkan rapornya dengan membawa Shafa kecil dalam gendongan nya. Moment tersebut tak bisa di lupakan oleh Jeffri, bahkan saat ia melanjutkan sekolah menengah hingga tamat SMA di Singapura, Fanny selalu menyempatkan diri untuk mengunjunginya, membawakan makanan yang di masak langsung oleh tangannya.
"Dad, kapan kak Jeff boleh pulang? 3 hari lagi Ramadhan dad, apa kak Jeff akan mengabiskan bulan ramadhan di sini" Tanya Shafa yabg ikut mendekat.
"Tergantung! Kalau kondisinya semakin baik, mungkin lusa sudah bisa pulang!" Jawab daddy.
"Apa kak Jeff akan pulang ke rumah daddy?" Tanya Shafa lagi.
"Ya, kakak ingin dirawat di rumah daddy dan makan masakan mommy. Kakak sangat rindu!" Ujar Jeffri sambil menatap Mommy Shafa.
"Tentu nak, mommy akan memasakan kue dan semua makanan kesukaanmu Jeff" Ujar Mommy sambil tersenyum memandang wajah Jeffri. Wajah yang sangat mirip dengan suaminya ketika muda.
"Aw... Aduh duh...Mas!" Shafa mengaduh sambil memegang perutnya. Secepat kilat Rayyan langsung memengang lengan Shafa.
"Kenapa sayang? Apa sudah mulai sakit?" Tanyanya panik. Begitu pun semua yangbada di situ.
"Aduh... Kok perut aku mules ya" Ucapnya sambil meringis memegang perutnya
__ADS_1
"Jangan-jangan mau melahirkan!" Ucap ibu dan mommy serempak.