
Shafa berlari ke kamarnya dengan perasaan Hancur. Bagaimana mungkin laki-laki yang selama ini lembut memperlakukannya berubah menjadi kejam, bahkan menamparnya di hadapa Hana dan tantenya.
Sementara di ruang tengah, Rayyan duduk frustasi di atas sofa.
"Sebaiknya kamu kembali ke kamarmu Nisa" Ucapnya datar pada manita yang habis menjadi korban kemarahan Shafa. Meski Shafa tidak melakukan kekerasan tapi melihat cara ia menatap dan menarik Nisa tadi bukan tidak mungkin ia akan melakukan hal yang lebih.
Kesempatan ini tidak di sia-siakan oleh tante Lilis untuk menghasut Rayyan agar semakin membenci Shafa. Reaksi Rayyan tadi membuat tante Lilis yakin bahwa kini Rayyan sedang marah besar kepada Shafa.
"Istigfar Ray... Istigfar" Ucap Tante Lilis berusaha menenangkan.
Beberapa kali Rayyan istigfar. Ia memejamkan matanya mengatur nafas dan emosinya.
"Kenapa bisa sampai seperti ini tante?" Tanya Rayyan yang masih tak percaya dengan kelakuan istrinya.
"Tante juga tidak tahu Ray kenapa Shafa bisa sampai seperti itu. Tadi dia keluar dari kamar dengan berteriak memanggil Nisa. Kemudian tante menghampirinya, dia malah marah dan menyerang Yola. Tante berusaha mengendalikan dan menenangkannya tapi dia malah mendorong tante.. hiks..hiks.. Dia juga mengatai tante dan Yola dengan kata-kata yang tidak pantas" Ujar tante Lilis di sertai dengan air mata.
Rayyan mengusap kepalanya kasar. Ia benar-benar di buat pusing dengan tindakan Shafa barusan. Ada sedikit rasa bersalah di hatinya karena telah menampar Shafa.
"Maafkan istri Ray tante...Ray salah karena tidak bisa mendidiknya" Ucap Ray dengan penuh penyesalan.
"Tidak Nak, bukan salah kamu. Kamu sudah berusaha menjadi imam yang baik namun istrimu sepertinya sangat sulit di kendalikan" Ujar tante Lilis sambil mengusap bahu Rayyan.
"Apa yang harus Rayyan lakukan tante? Tidak seharusnya Rayyan berbuat kasr padanya." Ucap Rayyan.
"Tidak Ray, yang kamu lakukan sudah benar. Itu bukan kasar tapi tegas. Kamu kepala keluarga, kamu bertanggung jawab atas istrimu. Baik buruknya dia itu jadi tanggung jawabmu. Selama ini kamu sudah cukup memanjakannya dan kamu lihat hasilnya. Kamu bahkan tidak di hargai, dia berani meninggikan bahkan membentakmu. Dalam keadaan semarah apapun, suami tetaplah orang yang harus di hormati, karena disanalah ridho Allah berada" Ujar tante Lilis. Dia mencoba menghasut Rayyan.
"Dan sepertinya, tante tidak bisa lagi tinggal di sini Ray. Biar tante dan Yola mencari kontrakan lain saja. Tante tidak ingin Shafa semakin menyakiti Yola. Tante ini orang tua Ray, sakit hati tante diperlakukan seperti itu oleh orang yang sudah taante anggap sebagai anak" Tante Lilis mulai menangis.
__ADS_1
"Tidak tante! Rayyan mohon tante jangan pergi. Tante tetap disini. Tolong maafkan sikap Shafa. Ray akan berusaha membujuk Shafa" Ucap Ray kemudian berlalu menuju kaamarnya dengan perasaan campur aduk antara marah, kesal, dan menyesal.
"Shafa!!!" Ray tidak mendapati Shafa. Ia mengecek kamar mandi dan balkon juga kosong. Ia kemudian beralih ke ruang ganti. Di dapatinya Shafa sedang memasukan pakaiaannya ke dalam koper.
"Mau kemana kamu Shafa?" Tanyanya dingin. Shafa tidak menjawab. Ia masih sakit hati dengan perlakuan Rayyan padanya.
"Shafa!!!" Panggilnya sekali lagi namun Shafa tetap bungkam. Rayyan menarik koper Shafaa dan menyingkirkannya membuat Shafa menatapnya tajam.
"Sini!" Rayyan menarik lengan Shafa dengan kuat karena Shafa terus berusaha berontak.
"Awww" Pekiknya sambil memegang lengannya yang terlihat memerah saat Rayyan mendudukannya secara paksa di atas Shofa. Ia berusaha bangkit tapi Rayyan kembali mendudukannya.
"Katakan! Kenapa kamu memasukan pakaianmu ke dalam koper? Kamu mau pergi dari rumah iya?" Tanyanya dengan nada dingin dan tatapan mata tajam.
"Bukannya kamu senang kalau aku pergi dari rumah? Dengan begitu kamu bisa leluasa bertemu dan saling meengungkapkan perasaan dengan Hana mu itu" Jawabnya sinis. Shafa masih belum mendapatkan jawaban ataupun penjelasan memuaskan tentang Hana.
"Kenapa kamu nggak jujur sejak awal kalau dia adalah Hana? Kenapa kamu terus terusan berbohong bahkan setelah dia kembali mengungkapkan perasaannya kepadamu! Kenapa Ha? Apa sekarang kamu senang karenaa dia ternyata memiliki perasaan yang sama kepadamu?!" Ucap Shafa dengan lantang.
"Aku sengaja tidak memberitahu mu supaya hal ini tidak terjadi. Aku tidak mau hubunganmu dengan sahabatmu menjadi renggang Shafa!" Terang Rayyan yang masih berdiri di hadapan Shafa.
"Kamu pernah nggak sih mas mikirin sedikit saja perasaan aku? Kamu egois Mas! Kalau saja aku tidak mendaapti pesan di HP kamu apa kamu mau jujur sama aku? Enggak kan Mas? Kamu pasti akan semakin menikmati keberadaan Hana disini"
"Aku capek Mas, lebih baik aku pergi dari rumah ini" Ujar Shafa memalingkan wajahnya.
"Jangan coba-coba pergi dari rumah ini Shafa!" Ray memperingatkan.
"Kalau begitu usir mereka semua agar aku bisa hidup tenang tanpa bayang-bayang pelakor di rumahku" Jawab Shafa sinis.
__ADS_1
"Mau sampai kapan kamu menganggap Yola dan Nisa seperti itu Shafa. Tidak ada yang akan mengambil aku dari kamu Shafa" Ujar Ray.
"Oh ya? Apalagi yang di harapkan seorang wanita setelah mengungkapkan perasaannya kalau bukan memilikinya mas Ray. Kamu jangan naif mas. Bukankah Nisa juga manusia biasa? Dan juga Yola. Apa kamu tahu kalau Yola dan tante Lilis sengaja ingin merebutmu dari ku?" Ucap Shafa ketus.
"Cukup Shafa!!! Cukup kamu memfitnah Yola dan tante Lilis yang bukan-bukan. Dia itu juga orang tuaku Shafa. Tidak seharusnya kamu berkata seperti itu padanya!"
"Ya sudah, kalau begitu biarkan aku pergi!"
Rayyan sudah kehabisan kata menghadapi sifat keras kepala Shafa. Karena berdebat dengan Shafa tidak akan pernah ada habisnya. Satu-satu cara untuk menahannya adalah dengan mengambil seluruh akses yang bisa memudahkan nya untuk pergi.
"Berikan kunci mobilmu!" Pintanya pada Shafa yang masih terduduk di kursi.
"Shafa berdiri mengambil kunci mobil dari dalam tasnya dan melemparkannya kearah Ray.
"Dompet!" Pintanya Lagi.
"Shafa merogoh kembali tasnya dan melemparkan sebuah dompet berwarna coklat berlogo LV.
"Apa lagi?" Ujar Shafa penuh amarah.
"Cincin?" Ia melepaskan cincin yang melingkar di jari manisnya dan meletakkannya di atas nakas! Air matanya kembali berderai.
Rayyan membuka dompet Shafa memastikan semua kartu pemberiannya ada di dalam agar ia tidak bisa kemana-mana. Setelah memastikan hal tersebut ia memasukan kunci dan dompet Shafa ke dalam brangkas dan mengganti kode brangkas agar Shafa tidak bosa membukanya.
Kamu fikir aku tidak bisa hidup tanpa uangmu mas Ray?
"Istirahatlah... tenangkan dirimu" Ujarnya kemudian keluar dari kamar dan menguncinya dari luar.
__ADS_1