Jodoh Pilihan Allah

Jodoh Pilihan Allah
Jalan Pagi


__ADS_3

"Mata nggak usah jelalatan ngeliatin cewek cantik" Ujar Brian pada Sonya yang sedang berjalan di sebelahnya. Mereka berdua sedang berbelanja membeli bahan makanan. Selama seminggu di Singapura, mau tak mau Sonya harus belajar mengolah makanan sendiri. Dan saat ini dia sudah menguasai cara membuat beberapa masakan seperti omelet dan aneka goreng gorengan seperti udang goreng tepung, ikan goreng tepung dan semua jenis bahan yang di goreng menggunakan tepung bumbu siap pakai.


"Mata mu itu yang nggak usah ngelirikin aku terus!" Balas Sonya ketus. Tak bisa di pungkiri Sonya yang memakai kaos lengan pendek putih dan celana jeans ketat sebatas paha berhasil mencuri perhatian. Belum lagi rambut panjangnya yang di ikat tinggi sehingga menampilkan leher jenjangnya yang mulus menambah aura kecantikannya. Sayangnya seorang Briyan tidak mau mengakui semua itu. Di matanya Sonya masih sama. Wanita sakit penyuka sesama jenis.


"Briyan?" Panggil seseorang.


"Hai..Roy..!!!" Briyan membalas panggilan temannya.


"Ngapain di sini? Ada kerjaan atau... " Roy sekilas melirik Sonya.


"Biasa... Lagi liburan" Jawab Briyan dengan gaya cool nya.


Liburan kepalamu Briyan!


"Bay the way, siapa si cantik ini? Your girlfriend?" Tanya Roy sambil menatap Sonya dari bawah sampai atas membuat Sonya risih.


"Aku kesana dulu" Ujar Sonya yang langsung pergi dari hadapan dua sahabat itu.


Nggak salah lagi. Si Sonya ini beneran l*sbian. Ada cowok cakep gini malah di cuekin.


"Dia temanku" Jawab Briyan singkat.


"Teman apa temen. Aku nggak yakin wanita secantik itu kamu lewatkan begitu saja hm?" Balas Roy menaik turunkan alisnya.


"Kamu berminat? Dia memang sekedar teman." Jawab Briyan.


"Serius? Boleh juga tuh. Kenalin dong bro" Balas Roy. Pandangannya tak beralih dari Sonya yang sedang memilih buah-buahan.


Bagus juga kalau aku kenalin si Roy sama Sonya. Siapa tau aja mereka jodoh. Si Roy kan lumayan jago menaklukan hati wanita.


"Boleh. Datang aja ke apartemenku. Nanti ku kirimkan alamatnya ok" Jawab Briyan menepuk bahu temannya itu.


Setelah saling bertukar nomor ponsel, Briyan menghampiri Sonya dan melanjutkan acara belanjanya.


"Eh dapat salam dari temen ku" Ujar Briyan.


"Nggak tertarik" Jawab Sonya singkat.


"Kenapa? Dia tampan dan mapan." Balas Briyan smabil mendorong troli menuju meja kasir. Mereka berdua sepintas terlihat seperti pasangan yang sangat serasi.


"Bukan tipe ku"


"Tipe kamu yang gimana sih? Cantik atau tomboy?" Ujar Briyan kembali menyindir Sonya.


"Yang pasti bukan play boy cap kuda kaya kamu!" Sonya menunjuk wajah Briyan.

__ADS_1


Sialan aku di bilang play boy!


"Laki-laki play boy? Itu normal Sonya" Balasnya.


"Tau ah. Kamu bayar aku tunggu di depan!" Ujar Sonya seraya berlalu meninggalkan Briyan.


"Eh...eh... malah pergi"


Setelah selesai berbelanja Sonya dan Briyan kembali ke apartemen. Sonya segera menyusun bahan-bahan makanan yang telah di beli ke dalam kulkas.


"Son..."


"Apasih Son...Son! Yang lengkap dong Sonya!" Kawab Sonya yang paling benci di panggil Son yang terdengar seperti panggilan salah satu tokoh dalam film yang tenar di tahun 90 an, yaitu Tuyul dan Mbak Yul.


"Galak amat sih! Untung nggak jadi istri ku. Bisa mati muda aku punya istri seperti kamu" Ujar Briyan.


"Bri!!! Bisa nggak sih kamu sehari aja nggak nyudutin aku? Aku capek Bri!!! capek!!! Kamu nggak tau apa-apa Bri tentang aku!!!" Ujar Sonya dengan nada tinggi kemudian membanting pintu kulkas dan masuk ke dalam kamarnya.


Briyan tercengang melihat kemarahaan Sonya. Dia yang biasanya cuek tak peduli kini bak singa yang sedang mengamuk.


"Lah malah marah. Kaya ABG aja" Ujar Briyan.


"Briyaaaann si*laaaaaaaaannn!!!" Sonya berteriak sambil membuang bantal nya. Ia sudah tidak bisa lagi menahan dirinya. Sudah cukup selama ini dia di hina sebagai penyuka sesama jenis. Kali ini dia tidak akan membiarkan Briyan menghinaa dirinya lagi.


"Akan aku buktikan bahwa semua ucapanmu itu hanya omong kosong! Kamu akan menyesal Briyan!!!" Ujarnya dengan penuh kemarahan.


Setelah melaksanaakan Sholat malam dan dzikir, Rayyan tak langsung tidur kembali. Ia memilih untuk melihat Zafran di kamarnya sambil menunggu waktu subuh. Zafran kini sudah mau untuk tidur sendiri. Meskipun begitu, Shafa selalu menengoknya setiap mereka terbangun.


"Jadi anak Sholeh ya Nak, Semoga kamu bisa menjadi penyambung palaha bagi ummi dan abimu" Ujarnya sambil mencium kening bocah yang ia sayangi seperti putranya sendiri. Rayyan mengangkat tubuh Zafran, membawanya ke kamarnya. Ia menidurkannya di sebelah Shafa yang masih terlelap.


"Mom... Bangun sudah subuh" Bisiknya lembut di telinga Shafa disertai kecupan lembut di keningnya. Shafa mulai mengerjap dan meraba-raba di sebelahnya. Ia langsung bangun ketika merasakan Zafran ada di sebelahnya.


"Anak Mommy bobonya nyenyak banget sih" Ia mencium pipi Zafran berkali-kali.


"Mom, nanti dia bangun. Buruan wudhu!" Ujar Rayyan menatap istrinya penuh cinta.


"Iya...iya.." Shafa segera turun dari tempat tidur menuju kamar mandi. Shafa segera menyalakan keran dan mulai berwudu. Di awali dengan mencuci kedua telapak tangan, berkumur-kumur, dan membersihkan hidung, kemudian membasuh muka. Gerakan Shafa terhenti ketika ia membasuh tangannya. Ia tercengang ketika merasakan ada sesuatu yang melingkar di tangan kirinya.


Gelang!


Ia memperhatikan dengan seksama gelang emas nan cantik tengah melingkar di lengan kirinya. Bibirnya menyunggingkan senyum seketika. Ia tidak melanjutkan wudhunya dan laangsung berlari keluar dari kamar mandi.


"Ayaahh" Panggilnya dengan raut bahagia sambil memeluk Rayyan.


"Ada apa Mom? Sudah wudhu kok peluk-peluk?" Ujar Rayyan pura-pura tak tahu.

__ADS_1


"Ini apa?" Shafa mengankat tangannya tepat di hadapan Rayyan.


Rayyan tersenyum melihat wajah istrinya yang mesam-mesem senang.


"Jadi Mommy sudah tahu? Inikan yang semalam Mommy tunggu - tunggu" Ledek Rayyan.


"Ish, ayah sengaja ya?" Shafa berbalik menyilangkan tangannya di dada seolah ngambek.


"Kan supaya jadi surprise sayangku!" Bisiknya sambil memeluk tubuh Shafa dari belakang.


"Ayah kok sekarang jadi bucin sih?" Ia membalikan tubuhnya, menyandarkan kepalanya di dada Rayyan.


"Tapi Shafa suka kan?" Jawabnya sambil menggoda istrinya yang tengah bermanja.


Shafa mengangguk, "Tapi cuma sama aku aja bucinnya! Kalau sama yang lain ayah harus tetap dingin" Ujar Shafa.


"Ya udah ayo wudhu lagi, setelah Sholat kita jalan jalan subuh. Supaya anak ayah ini semakin sehat" Ujarnya sambil mengusap perut Shafa.


Setelah Shalat subu, Rayyan dan Shafa berjalan-jalan di sekitar kompleka rumahnya. Shafa mengenakan daster bermotif merak berwarna merah pemberian dari ART nya. Sedangkan Rayyan memakai kaos putih dan celana trening panjang. Mereka berjalan dengan bergandengan tangan. Taknhaanya mereka berdua, beberapa tetangga pun sedang melakukan kegiatan yang sama. Mereka saling bertegur sapa dan nertukar kabar.


Sudah sekitar 30 menit mereka berjalan. Shafa sudah mulai merasa lelah.


"Mas, Istirahat dulu. Aku capek" Ujarnya sambil duduk di sebuah bangku panjang di pinggir jalan.


"Kakiku sakit Mas" Keluhnya.


Waduh! kalau sakit, jangan-jangan minta gendong lagi!!!


"Ya udah istirahat dulu ya" Rayyan segera menyetuh bagian betis istrinya yang sejak tadi di pegangi.


"Apa ini sakit?" Rayyan menoleh menatap Shafa. Ia hanya mengangguk. Betisnya memang terlihat lebih besar dan keras. Seperti betis pejalan kaki. Dengan lembut Rayyan mulai memijitnya.


"Udah mas, udah!" Ujar Shafa meraih tangan suaminya. Ia tidak enak bila Rayyan harus melakukan itu.


"Ga papa sayang, kalau masih sakit biar mas pijit lagi" Elaknya.


"Udah nggak sakit mas. Ayo pulang?" Shafa berdiri menunjukan bahwa dirinya baik-baik saja. Mereka pun berjalan pulang dengan saling bercerita tentang masa kecil mereka. Shafa yang ketika kecil sangat pemberani tak mengenal rasa takut justru berbanding terbalik dengan Rayyan yang penakut dan terkesan anak mami.


Matahari Mulai menyemburkan semburat cahanyanya dari ufuk timur. Shafa dan Rayyan sudah hampir sampai dirumah. Tiba-tiba Shafa menghentikan langkahnya.


"Ada apa sayang?" Tanya Rayyan.


"Mas, Aku mau itu" Ia menunjuk mangga yang sedang bergelantungan di atas pohon milik salah satu tetangga Shafa.


"Iya, nanti suruh bi Lastri beli ya, itu punya orang sayang" Ujar Rayyan.

__ADS_1


"Nggak! Aku mau yang itu dan mau Mas Rayyan yang panjat!" Ucapnya kekeh tak ingin di bantah.


Ya Allah, aku nggak bisa manjat!


__ADS_2