
Disinilah mereka berada saat ini. Di sofa ruang tengah kediaman Rayyan yang cukup luas. Rayyan masih menggendong Zafran yang badannya demam, sementara Shafa duduk di sebelah bu Anne yang sedang menggendong bayinya.
"Ganteng banget... Wajahnya mirip banget sama pak Rayyan ya?" Gumam bu Anne.
"Berarti pas lagi buat pak Rayyan yang paling semangat" Celetuk pak Adit di sertai tawa renyah.
"Ah, pak adit bisa aja, tuh hidungnya mirip mommy nya apalagi kalau dari samping" Balas Rayyan.
"Berarti si Olive itu dulu pas buatnya bu Anne yang paling semangat. Kan dia mirip banget sama bu Anne" Sahut bu Ita.
"Jangan di dengerin pak Ray, papanya Olive emang gitu suka ngarang" Balas bu Anne.
"Eh ngomong-ngomong siapa namanya pak Ray?" Tanya pak Rudi. Guru Fisika yang pernah naksir berat sama Shafa saat masih menjadi guru bahasa Jerman di yayasan milik ayah.
"Namanya Amr Sya'ban Ar-Rayyan panggilnya Am aja" Jawab Rayyan.
"Kalau si ganteng ini siapa namanya?" Pak Rudi menyentuh pipi gembul Zafran yang sedang bersandar di dada Rayyan.
"Namanya Zafran Al-Azzam"
"Ngomong-ngomong bu Shafa lahirannya normal atau cecar?" Tanya Tania yang sejak tadi hanya diam, entah apa yang di pikirkannya.
"Alhamdulillah normal bu Tania." Jawab Shafa yang berusaha seramah mungkin.
"WOW... Berarti robek dong? Ya nggak rapet lagi." Balas Tania tanpa filter di mulutnya.
Ya Allah wanita ini! Belum tahu dia, rasanya ngeden ampe mau mati. Gue sumpahin ntar kalau lahiran di jahit 10! Astagfirullah hal adzim. Ampuni Shafa ya Allah.
"Bu Tania apaan sih? Emang gitu kali kalau lahiran normal. Aku juga dulu waktu anak pertama juga gitu. Nanti bu Tania juga bakal ngerasain kok kalau sudah menikah" Sahut bu Anne yang sedikit kesal dengan ucapan Tania.
"Kalau aku mah mending sesar aja. Supaya nggak robek dan tetap bisa nyenengin suami" Jawabnya tanpa rasa berdosa.
"Habis gimana dong. Mas Rayyan maunya punya anak banyak, ntar kalau cecar nggak bisa punya anak banyak-banyak dong" Balas Shafa dengan penuh percaya diri untuk membungkam mulut lemes Tania.
"Serius bu Shafa?" Tanya bu Ita.
"Iya, makanya saya nggak KB karena setelah ini, langsung mau program anak kedua lagi" Jawab Shafa asal. Yang penting baginya sekarang adalah membuat panas telinga bu Tania yang sejak tadi nyinyir. Tania dan kenyinyirannya adalah dua hal yang tidak bisa di pisahkan.
Rayyan hanya tersenyum geli mendengar ucapan istrinya yang ia amini dalam hati.
__ADS_1
"Wah, bu Shafa hebat. Mamanya Olive aja masih belum mau nambah, katanya masih trauma rasa sakitnya. Padahal saya udah pengen punya jagoan kecil juga" Celetuk pak Adit yang secara tidak langsung menyindir bu Anne.
"Banyak anak banyak rejeki bu Anne, dan juga semakin memperkuat pondasi rumah tangga" Balas Rayyan.
"Saya sih mau mau aja, asal papnya yang ngeden" Sahut bu Anne enteng.
"Kalau gitu ganteng ini aja buat kami pak Ray, biar ada temannya Olive" Ujar pak Adit sambil mencolek pipi Zafran.
"Jangan dong, nanti adek Am nggak ada temannya." Sahut Shafa.
"Kalau gitu adek Am nya aja ya yang di bawa pulang" Goda pak Adit pada Zafran yang terlihat lesu.
"Jangan...!!! Ayah..." Zafran mendongak pada Rayyan dengan mata berkaca-kaca.
"Enggak sayang, om Adit cuma bercanda kok. Adek Am kan adeknya bang Zaf" Balas Rayyan sambil menepuk-nepuk punggung Zafran dalam pelukannya.
"Oh ya, bu Shafa bb nya naik berapa kilo nih? Kok kelihatannya melar banget." Lagi-lagi Tania menanyakan hal yang sangat di benci Shafa.
"Nggak tau yah berapa kilo, soalnya selama hamil saya nggak pernah nimbang" Balas Shafa santai. Ia tak mau terpancing dengan pertanyaan Tania yang kadang tidak masuk akal.
"Nggak mau diet bu Shafa? Emang nggak takut kalau pak Rayyan - -"
"Saya melarang istri saya diet bu Tania. Saya lebih suka Shafa yang seperti itu dari pada dia kurus kering, nanti di kiranya saya nggak kasi makan lagi" Potong Rayyan. Ia cepat-cepat menyela karena khawatir Shafa akan ribut dengan Tania.
.
.
.
.
"Hei, lagi mikirin apa?" Rayyan mengagetkan istrinya yang tengah melamun saat menata popok Am di rak susun di sudut kamarnya.
"Aku kepikiran ucapan tania mas" Ia menghempaskan tubuhnya di atas sofa empuk di kamarnya. Kondisi Shafa sudah sangat membaik. Benar kata orang bahwa masa pemulihan untuk V*gina Birth lebih cepat dari pada cecar. Ia sudah bisa beraktifitas kembali seperti berjaalan, membuat susu, bahkan menjemur popok Am saat para ART sibuk. Darah nifasnya pun sudah mulai berkurang.
"Mas juga kepikiran ucapan Shafa tadi" Ujar nya sambil merangkul bahu istrinya, menyandarkan kepala Shafa pada dada bidangnya.
"Yang mana?"
__ADS_1
"Yang mau langsung program adeknya Am" Jawab Rayyan sambil tersenyum senang.
Astaga? Emang gue ngomong gitu ya tadi?
"Am masih 2 minggu mas!" Shafa mengingatkan.
"Kan bukan sekarang, nanti kalau Am sudah tujuh bulan" Jawabnya enteng.
"7 bulan? Mau ada adeknya lagi? Mas lagi Halu? Mana ada anak bayi udah mau punya adek" Balas Shafa sambil menggeleng.
"Ada-ada saja. Paling tidak tunggu sampai Am dua tahun"
"Kelamaan. Shafa bilangnya tadi habis ini" Protes Rayyan.
"Tadikan cuma buat manasin Tania aja. Habis nyinyir banget dia. Cocok banget jadi editor majalah gosip"
"Tapi mas Aminin loh"
"Apanya?
"Ucapan Shafa tadi"
Mati aku! Bukannya doa anak sholeh itu akan di kabulkan Allah? Ya Allah, tadi Shafa khilaf. Bisa amsyong gue kalau tiap tahun mbrojol. Apa kabar perut indah gue yang bakalan melar kaya karung beras.
"Udah ah jangan ngomongin itu lagi. Mending bobo, nanti kesiangan lagi sahurnya" Shafa beranjak menuju ranjang king size nya yang telah berisi Am dan Zafran. Mereka berdua tidur bersebelahan di bagian tengah.
Shafa membaringkan tubuhnya di sebelah Am sedangkan Rayyan di sebelah Zafran.
"Mas, Zafran tadi bilang kangen sama uminya. Dia juga bilang mau..."
"Sstt!" Rayyan menghentikan ucapan Shafa.
"Nanti kalau dia sudah sehat, mas ajak dia mengunjungi makan orang tuanya. Sekalian silaturahmi sama keluarga Haji Usman."
"Oh ya mas, dua hari lagi Zafran ulang tahun. Mas pesenin kue di tempat mas pesan buat aku waktu itu ya? Ntar panggil Hafiz dan Aira. Pasti Zafran senang" Ujar Shafa.
"Iya, tapi lebih baik kita undang anak yatim buat buka puasa bersama disini, sebagai bentuk syukur atas nikmat yang Allah berikan pada keluarga kita. Mas tidak ingin membiasakan anak-anak kita dengan perayaan-perayaan yang tidak bermanfaat." Ujar Rayyan sambil mengusap kepala Zafran yang tertidur pulas.
"Mas nggak salah? pas itu yang ngerayain ulang tahun aku siapa? Yang pake acara ngasih kejutan siapa? Emang sih nggak ada lilin dan nyanyi-nyanyi tapi kan sama aja." Balas Shafa yang merasa tak trima dengan ucapan suaminya.
__ADS_1
"Sebenarnya itu ide mommy dan ibu. Mas juga sebenarnya lupa kalau hari itu Shafa ulang tahun. Niat awal mas adalaah mau kasih kejutan makan malam romantis, eh taunya mommy dan ibu merencanakan hal lain" Ujar Rayyan.
"Astaga Mas, Jadi mas lupa hari ulang tahun ku iya?" Shafa melotot siap memberikan ceramah panjang lebar pada suami tercintanya itu.