Jodoh Pilihan Allah

Jodoh Pilihan Allah
Papa Muda


__ADS_3

"Sayang aku gugup" Ujar Sonya sambil menggenggam tangan Briyan.


"Jangan gugup Cinta, ada aku di samping kamu. Kalau gugup kamu bisa pengang tanganku" Balas Briyan yang sedang berdiri di samping Sonya yang sedang di rias. Briyan sendiri sudah rapi dan tampan sengan setelan jas hitam dan dasi kupu-kupu di lehernya.


"Istriku cantik banget!" Pujinya saat perias telah selesai merias Sonya.


"Gombal... Pasti di luar nanti banyak yang lebih cantik, mantan kamu pasti hadir dengan penampilan yang nggak biasa" Ujar Sonya.


"Biar saja, yang penting di mataku hanya kamu yang luar biasa" Balas Briyan.


"Narsis banget sih, semoga anaknya nanti nggak kaya bapaknya" Ujar Sonya. Ia membayangkan betapa repotnya jika memiliki anak yang play boy seperti Briyan.


"Nggak apa Cinta, yang penting bisa jaga diri kaya bapaknya. Isyafnya seorang play boy adalah setianya pria sejati. Nggak ada yang se setia seorang play boy ketika dia sudah insyaf" Kilahnya memberi alasan.


"Kok Bisa? Itu alasan kamu aja kan?"


"Gini yah, logikanya seorang play boy sering gonta ganti pacar, berartikan dia udah biasa dengan wanita wanita cantik. Nah, sekalinya dia jatuh cinta beneran dan berniat serius dia tidak akan tergoda dengan wanita cantik manapun selain yang menjadi pendampingnya. Karena apa? Karena dia udah bosan bermain-main. Jadi beruntunglah dirimu cintaku, karena hatiku hanya milikmu seorang!" Ujar Briyan.


"Helleh, gombal aja ni bocah bisanya! Buruan keluar, tamu undangan sudah banyak yang datang" Ujar kakak Briyan yang tiba-tiba masuk bersama mamanya.


"Ma, Sonya gugup!" Adunya pada mamanya yang juga berada di situ.


"Jangan gugup sayang, kamu cantik kok. Semua akan baik-baik saja" Uajr mama sambil mengusap lengannya.


"Gugup mana dengan pas malam pertama? Kado dari kakak pasti berguna kan?" Goda Vina yang membuat wajah Sonya merah seketika.


"He.em, kak Vina memang terbaik!!!" Jawab Briyan sambil cengengesan.


"Wah, ini bocah. Main langsung nyosor aja!!! Gitu aja dulu mati-matian menolak." Sahut kakak Briyan sambil menepuk pundak Briyan.


"Itu kan dulu mas, sebelum negara api menyerang" Jawabnya asal.


"Ya udah ayo keluar, papa kalian sudah menunggu di luar" Ujar mama.


Sonya dan Briyan keluar dengan tangan saling bergandengan. Sonya nampak anggun dan cantik dengan riasan natural dan sanggul pada rambut panjangnya. Bagian leher dan bahunya yang terbuka membuatnya tampil semakin cantik. Keduanya berjalan memasuki pelaminan yang telah ramai oleh tamu undangan dengan senyum mengembang. Nampak teman-teman kampus Sonya juga beberpa mahasiswanya telah hadir di tempat itu.


"Selamat Briyan!"


"Selamat Sonya!"


"Semoga berbahagia!"


Ucapan demi ucapan mengalun indah di hari bahagia mereka. Tamu yang hadir sebagian besar merupakan rekan bisnis papa mereka.


"Sayang, kamu udah lihat Mr. Ray belum?" Tanya Sonya yang belum melihat tanda-tanda keberadaan Rayyan dan Shafa.


"Belum cinta, apa mereka nggak datang?" Ujarnya, mengingatbkandungan Shafa yang sudah membesar.


"Masa sih, kemaren kan katanya mau datang" Balas Sonya.


Sementara itu, Shafa dan Rayyan yang sudah siap berangkat, di buat kelimpungan karena Zafran menangis mau ikut. Meski telah di bujuk, bocah kecil itu semakin menangis menjadi-jadi sambil memegang rok mommynya. Setelah berhasil menenangkannya, akhirnya Zafran turut serta bersama mereka menghadiri pernikahan Sonya. Ia pun sudah terlihat gagah dengan jas kecil berwarna hitam seperti ayahnya.


Setelah menempuh perjalan sekitar 20 menit, mereka sampai di resort yang di tuju.


"Hati-hati jalannya sayang" Rayyan mengingatkan.

__ADS_1


"Gimana mas, udah cantik kan?" Tanyanya pada suaminya.


"Udah cantik sayang" Balas Rayyan sambil menggandeng tangan Shafa masuk ke dalam aula tempat acara.


Di antara banyaknya tamu yang hadir, kehadiran Rayyan dan Shafa tetap mencuri perhatian. Bagaimana tidak mereka hadir dengan membawa seorang bocah tampan nan menggemaskan yang berpakaian senada dengan ayahnya. Belum lagi Shafa yang hadir dengan gaun indahnya, meski perutnya sudah tidak ramping lagi menggambarkan betapa bahagianya keluarga kecil itu.


"Ann.. Ann... Itukan istri Mr. Ray, sumpah cantik banget. Pantes aja Mr. Nggak berkutik sama istrinya." Ujar Marsya sambil menunjuk Shafa dan Rayyan yang tengah ngobrol dengan rekan sesama dosen. Anna hanya diam dan mengalihkan pandangannyaa ke tempat lain.


"Eh bukannya kamu mau bikin dia kesel lagi An?" Ujar Marsya sambil menyenggol lengan Anna.


"Nggak ah, males. Kesana yuk, gabung sama Vino dan yang lainnya" Anna kemudian menarik Marsya untuk bergabung bersma temaan-teman yang lainnya.


"Udah lengkap kan? Ayo kita naik ke atas" Ujar Rayyan setelah melihat teman-teman kampusnya sudah banyak yang hadir. Mereka segera menuju pelaminan untuk mengucapkan selamat. Rayyan berjalan di urutan paling belakang untuk menjaga istrinya yang tengah hamil besar tersebut.


"Selamat Bri! Semoga bahagia dan segera di beri monongan yang ganteng kaya anak gue!" Ujar Shafa sambil menangkupkan kedua tangannya. Syarat kedua yang Rayyan ajukan malam itu adalah Shafa tidak boleh bersentuhan dengan laki-laki lain yang bukan muhrimnya. Tentu saja Shafa langsung menyetujuinya.


"Bumil cantik ku, makasih sudah hadir" Sonya memeluk Shafa.


"Pasti dong, tadi lama soalnya Zafran nangis mau ikut" Ujar Shafa.


"Kita foto bareng dulu ya?" Sonya meminta fotografrer untuk mengambil gambar mereka.


"Zafrannya di tengah sini" Ujar Briyan meraih tangan Zafran agar berdiri di depan dirinya dan Sonya. Rayyan berdiri di sebelah Briyan sedangkan Shafa di sebelah Sonya. Mereka tersenyum bahagia menatap kamera yaang tengah menyala.


Satu...


Dua...


Tiga...


Yap!!!


"Barakallah pak Briyan. Semoga Allah memberkahi pak Briyan dan bu Sonya agar menjadi keluarga sakinah, mawaddah dan warrohmah" Ujar Rayyan sambil menjabat tangan Briyan.


"Terima kasih pak Rayyan. Setelah ini saya ingin belajar pada pak Rayyan, untuk menjadi imam yang baik bagi Sonya" Ujar Briyan penuh ketulusan.


"Insha Allah saya siap membantu"


"Ayah minum" Rengek Zafran yang merasakan haus.


"Sebentar sayang, Bu Sonya selamat ya. Di jaga pak Briyannya. Kalau butuh teman konsultasi bisa hubungi mommy Zafran" Ujar Rayyan.


"Itu pasti Mr. Ray, saya perlu belajar banyak hal sama mommy Zafran"


"Kami turun dulu, Zafran sudah haus" Rayyan dan Shafa turun dari pelaminan menuju meja tempat jamuan makan. Shafa dan Zafran duduk di meja khusus yang di siapkan untuk rekan-rekan Sonya. Disana juga ada pak Benny dan teman dosen lain yang cukup akrab dengan Sonya.


"Pak Rayyan, hot daddy banget deh. Banyak yang pada ngelirikin tuh" Ujar pak Benny yang tengah memperhatikan Rayyan menyuapi Zafran agarbtak belepotan.


"Pak Ben jangan manasin kompor mati dong" Balas Rayyan sambil melirik istrinya.


"Emang bener yah, aku juga lihat banyak yaang merhatiin ayah" Balas Shafa santai.


"Eh ganteng sini dong, sama om Ben, biar ciwi-ciwi juga pada lihatin om Ben."Ujarnya sambil meraih tangan Zafran tapi Zafran menggeleng.


"Anda belum beruntung pak Ben!" Ujar teman yang lain lagi.

__ADS_1


"Kesukaannya dia apa sih pak Ray?" Tanya Pak Benny.


"Coklat, es krim dan yang manis manis"Ujar Rayyan yang tahu persis kesukaan Zafran.


"Ganteng, ayo iku om ben, disana banyak kue coklat dan es krim... Huummm yummmi, mau yah..yah" Bujuk pak Benny untuk kedua kalinya. Kali ini Zafran mengangguk dan langsung menyambut uluran tangan pak Benny.


"Makannya jangan kebanyakan ya pak Ben, terus jangan di kasi es krim dan pastikan bajunya tetap bersih nggak belepotan" Ujar Shafa mengingatkan. Ia merupakan ibu yang sangat memerperhatikan penampilan dan kebersihan anaknya.


"Siap Bos!" Ucapnya kemudian membawa Zafran menuju meja yang menyediakan berbagai macam desert. Benar saja, pak Benny yang menggendonh Zafran menjadi pusat perhatian beberapa wanita termasuk mahasiswanya yang langsung mendekat dan menyapa bocah lucu tersebut.


"Pantasan aja banyak pelakor. Pria bersuami nampaknya lebih menggoda dari pada yang single" Ujar Shafa sambil memperhatikan Pak Benny dan Zafran yang tengah di kerumuni cewek-cewek cantik.


"Mommy ini ngomong apa? Ayah dulu juga waktu masih single banyak yang deketin. Jangan selalu berfikir wanita yang dekat dengan seseorang itu pelakor mom." Balas Rayyan mengingatkan istrinya.


"Tuh, lihat aja pak Ben. Pas jalan sendiri tadi nggak ada yang deketin, sekalinya dia bawa Zafran, pada banyak yang nyamperin. Artinya apa? Papa muda itu menggoda ayah!" Ujar Shafa mengikuti istilah yang sering di gunakan untuk menyebut para ayah yang masih muda seperti Rayyan.


"Permisi, boleh saya duduk disini?"


Rayyan dan Shafa segera menoleh mendengar suara perempuan meminta izin.


"Oh iya silahkan" Jawab Shafa ramah.


"Kita buktikan yah, ucapan mommy atau ayah yang benar!" Bisik Shafa setelah mempersilahkaan wanita cantik bergaun kuning tersebut duduk semeja dengan mereka.


"Saya sepertinya tidak asing dengan anda? Apa anda salah seorang pengajar di kampuss tempat Sonya mengajar?" Tanya wanita berbaju kuning tersebut.


"Benar!" Jawab Rayyan singkat.


"Oh kenalkan, saya Dewi dosen ekonomi di kampus tersebut" Ujarnya sambik mengulurkan tangan.


"Maaf, saya Rayyan" Rayyan menangkupkan kedua tangannya membuat Dewi salah tingkah.


"Kalau anda? Dosen juga?" Tanyanya kepada Shafa yang berada di sebelah Rayyan.


"Hah? Oh bukan..bukan... Saya temannya ibu Sonya dan pak Briyan" Jawab Shafa.


Ini cewek nggak tau apa ya kalau aku istrinya mas Rayyan.


"Anda sendiri kesini?" Taya Dewi lagi.


"Saya bersama istri dan anak saya" Jawab Rayyan jujur. Berharap wanita tersebut berhenti bertanya.


"Loh anaknya mana?"


"Dia lagi di tempat desert bersama...."


"Oh, jadi mereka sedang di tempat desert" Pungkasnya.


"Oh ya, pak Rayyan boleh minta Kontaknya? Yah, mungkin saja saya ada keperluan atau ingin menanyakan sesuatu" Tanyanya dengan senyuman manis tanpa malu. Dewi berfikir bahwa istri Rayyan sedang bersama anaknya.


Rayyan melirik Shafa, Shafa justru tersenyum geli melihat ekspresi bingung suaminya.


"Emh, capek juga duduk" Shafa mendadak berdiri dari duduknya sambil memegang pinggang belakangnya yang terasa pegal.


"Mom, apa ada yang sakit?" Rayyan langsung menyentuh perut istrinya membuat Dewi membelalak tak percaya.

__ADS_1


"Mommy mau cari Zafran. Ayah di sini aja dulu sama ibu Dewi" Ujar Shafa. Dewi langsung salah tingkah.


Jadi ini istrinya? Sial...!!!!


__ADS_2