
"Wah...wah... lihat, siapa ini? Bukankah ini Shafa Azura yang cantik dan seksi itu?" Ucapnya di sertai tawa renyah. Ia segera mendudukan dirinya di sebelah Shafa sambil memperhatikan penampilan Shafa dari ujung kaki sampai ujung kepala. Shafa yang merasa dirinya ditatap seperti itu merasa risih. Ia pun bangkit dari duduknya tak berniat meladeni orang tersebut.
"Eits, mau kemana?" Cegahnya sambil memegang lengan Shafa yang langsung di kibaskan oleh Shafa.
"Jangan kurang ajar Vin!" Bentaknya sambil menatap tajam pria bernama Kevin tersebut.
"Tenanglah Shafa, aku sudah lama tidak bertemu denganmu. Jadi, tidak salah kan kalau aku merindukanmu" Ucapnya dengan tatapan nakal. Kevin merupakan salah satu orang yang pernah menjadi partner kerja Shafa. Saat itu ia menjadi model beberapa barang dari gerai milik Kevin. Kevin membayar Shafa dengan harga yang sangat tinggi, namun di balik semua itu ia memiliki niat terselubung. Ia sangat terobsesi dengan tubuh Shafa hingga beberapa kali hendak melecehkannya. Beruntung saat itu Jeffri dan orang suruhannya selalu berhasil menggagalkan niat mereka.
Kevin yang sakit hati dengan penolakan Shafa yang berulang kali, ia bahkan pernah sengaja memasukan obat di minuman Shafa ketika berada di pesta, tujuannya adalah untuk permalukannya hadapan banyak orang, namun lagi-lagi Jeffri datang membawanya keluar dari pesta dan mengguyurnya dengan air dingin tengah malam lantaran ia yang sudah tidak bisa mengendalikan hawa panas dari dalam tubuhnya.
"Mommy..." Zafran berlari kearah Shafa setelah memilih motor-motoran miliknya. Sedangkan Rayyan sibuk melakukan transaksi sehingga tidak mengetahui kondisi istrinya.
"Sudah selesai sayang? Ayo kita keluar" Ajak Shafa sambil menggandeng tangan Zafran, namun lagi-lagi Kevin menghalanginya.
"Siapa dia Shafa? Apa dia anakmu?" Tanya Kevin menatap intens Shafa.
"Ya, permisi..."
"Apa kamu menikahi duda? Astaga Shafa, Ternyata pilihanmu seorang om-om." Ejeknya.
"Jaga bicara mu Kevin!" Sekalipun aku menikah dengan om-om setidaknya itu lebih baik dari pria licik sepertimu" Ujar Shafa dengan lantang.
"Mommy...huaaa........huaaa...." Zafran menangis melihat mommynya bertengkar dengar pria asing. Hal itu menarik perhatian Rayyan yang masih berada di meja kasir. Ia segera berlari menghampiri anak dan istrinya. Rayyan cukup terkejut karena melihat istrinya tengah berhadapan dengan pria lain dengan tatapan tajam.
"Sayang, kamu ga papa?" Ia menghampiri Shafa menyentuh bahunya membuat Shafa sedikit kaget.
"Om ini nakal ayah dia " Adu Zafran sambil menujuk Kevin. Rayyan langsung mengaalihkan pandangannya pada laki-laki di hadapan Shafa tersebut.
"Pak Rayyan!" Ucap Kevin kaget tak percaya.
"Kevin? Sedang apa kamu?" Tanya Rayyan dengan tatapan dingin.
"Oh ya Vin, kenalkan ini suamiku, om-om duda yang kamu katakan tadi" Ujar Shafa dengan nadaa mengejek pada Kevin. Kevin terlihat salah tingkah ia tak menyangka bahwa Shafa adalah istri dari kliennya. Kevin juga merupakan owner salah satu merek fashion yang bekerja sama dengan Rayyan.
"Apa maksudmu mom?" Rayyan nampak bingung dengan ucapan istrinya tersebut.
"Lebih baik kita pergi yah, mommy sudah lelah berdiri terlalu lama" Ujarnya sambil menarik lengan Rayyan, meninggalkan Kevin yang terlihat bodoh.
__ADS_1
"Ada apa sebenarnya Mom? Moomy kenal dengan Kevin?" Tanya Rayyan. Kali ini mereka sudah dalam perjalanan pulang setelah membelikan motor listrik kecil untuk Zafran.
"Dia mantan klien mommy. Dia itu licik dan bre*gsek. Ups" Ujar Shafa segera menutup mulutnya. Ia kelepasan mengucapkab kata tabu itu bahkan saat Zafran ada di dekatnya.
"Apa dia mengganggu mommy?" Tanya Rayyan lagi.
"Ia, dia dulu sangat terobsesi pada mommy. Dia bahkan pernah memasukaan obat perangsang ke minuman mommy beruntung malam itu kak Jeff ada disana. Dia segera menarik mommy keluar dan membawa mommy ke apartemennya secara paksa" Ujar Shafa mengingat kembali kejadian yang membuatnya marah besar pada Jeffri kala itu.
"Lalu? Apa yang mommy lakukan dengan Jeffri di apartemennya?" Rayyan mellirik Shafa sekilas.
"Ayah, jangan salah sangka dulu. Kak Jeff membawaku ke apartemennya dan mengguyurku dengan air dingin sampai aku membeku! Setelah itu ia membungkusku dengan selimut tebal seperti mummi dan membawaku pulang" Ujar Shafa. Yang sangat kesal jika mengingat kejadian tersebut.
"Ha.ha.ha.Jeffri benar-benar intelegen handal yah." Rayyan malah tertawa mendengar cerita Shafa.
"Ayah kenapa ketawa. Itu semua ulah Kevin kampret itu. Oh ya? Apa ayah mengenal Kevin? Kenapa dia terlihat begitu canggung tadi? Tanya Shafa penasaran.
"Tentu, dia salah satu partner kerja mas. Mas juga ikut menanam saham di toko miliknya. ZR adalah salah satu sponsor utama untuk produk-produk miliknya" Terang Rayyan.
"Pantasan, dia terkejut begitu melihat mas. Kalau aku jadi mas aku tarik semua sahamku biar dia bangkrut sekalian" Ujar Shafa menggebu-gebu.
Sesampainya di rumah Zafran sudah tidak sabar untuk mengendarai motor kecil miliknya. Ia bahkan langsung memamerkannya kepada semua orang yang ada di rumahnya.
"Bibi Ati ayo kita ke lumah Aila naik motol" Ajaknya pada mbak Yati.
"Ayo mas, eh itu mbak Airanya udah kesini" Ujar Mbak Yati sambil menunjuk Aira yang sedang berlari menuju rumah Zafran bersama susternya. Rumah mereka yangbsaling berhadapan membuat dua orang sahabat kecil ini leluasa untuk bermain bersama.
"Mommy ke dalam dulu ya sayaang, mainnya jangan ke sorean, Zafran harus sholat magrib sama ayah dan mommy" Shafa mengingatkan. Sejak dini mereka sudah melatih Zafran untuk melaksanakan Sholat wajib meskipun tidak bisa 5 waktu, tetapi kewajiban itu sudah merek tanamkan sejak dini.
Lantaran terlalu lelah bermain, malam ini Zafran tidur lebih awal dari biasanya. Setelah melaksanakan Shalat Isya, Shafa segera menidurkan putra kecilnya itu.
"Mas... Lihat tangan aku sakit banget" Ujarnya sambil menunjukan jari manisnya yang sudah memerah.
"Ya Allah, ini kenapa bisa sampai begini sayang" Rayyan meraih jari Shafa dan memperhatikannya dengan seksama.
"Aw.. Sakit mas" Rengeknya yang merasakan perih pada jari manisnya.
"Cicinnya harus di lepasin sayang biar nggak semakin luka" Ujar Rayyan sambil mencari cara melepaskan cincin kawin tersebut.
__ADS_1
"Mas sih, belinya kekecilan" Gerutunyaa menyalahkan suaminya.
"Loh itu hari kan pas, udah di ukur. Ini karena Shafa nya yang gendutan" Jawab Rayyan yang sedikit keceplosan.
"Mas kok ngatain aku gendut sih?" Balasnya kesal sambil menendang-nendang guling di bawah kakinya.
"Nggak sayangku... Mas salah, udah diam ini mau di lepasin" Ujar Rayyan yang dengan hati-hati menarik perlahan cincin tersebut.
"Awhhh....sakit...sakiit mas" Pekiknya. Rayyan menghentikan gerakannya, kini ia meniup-nium jari istrinya yang sudah sangat merah.
"Ga ada cara lain, ayo ikut mas!" Ia menuntun Shafa menuju kamar mandi. Dengan lembutbia menggosokan sabun pada tangannya daan mulai menariknya kembali secara perlahan.
"Nah, lepas! Alhamdulillah" Rayyan segera membilas kembali tangan Shafa dan menuntunnya keluar kamar.
"Mau mas belikan yang baru cincinnya?" Tawarnya setelah berhasil melepaskan cincin tersebut. Shafa menggeleng.
"Mas pikir badan aku akan selamanya seperti ini? Setelah melahirkan naanti, aku akan diet ketat agar badanku kembali seperti dulu lagi" Ucapnya yang tengah bersandar di dada suaminya.
"Jangan menyiksa diri sendiri mom, Allah tidak menyukai hambanya yang nenyakiti diri sendiri. Mommy diet buat apa? Mau di tunjukin ke siapa?" Tanya Rayyan sambil mengusap perut Shafa.
"Ya aku mau tunjukin ke mas Rayyan lah. Aku harus tetap cantik biar mas Rayyan nggak berpaling dari aku. Biar mas Rayyan nggak lirik-lirik yang lebih bening dari aku. Biar mas Rayyan selalu betah sama aku" Terangnya panjang lebar.
"Cinta mas ke kamu itu bukan hanya sebatas fisik sayang. Seperti apapun Shafa, mas akan selalu cinta dan nggak akan tergoda sama yang lain" Balas Rayyan sambil mengusap pipi istrinya.
"Mas, bukannya menyenangkan suami itu pahalanya besar ya? Aku diet dan merawat tubuhku itu juga supaya mas Rayyan senang" Balasnya sambil menatap suaminya.
"Shafa ku sekarang sudah pinter ya jawabnya? Mas jadi makin cinta" Bisiknya lembut.
"Aku juga makin cinta sama Mas, aku harap mas bisa seperti Daddy yang selalu setia sama Momny hingga tua..."
"Nggak!" Jawab Rayyan spontan. Membuat Shafa langsung memicingkan matanya.
"Nggak apa Mas? Mas nggak mau setia sama aku?" Tanyanya dingin.
"Nggak bukan itu sayang. Maksud mas, mas hanya ingin jadi diri mas, jangan menyamakan apa lagi membandingkan seseorang sayang, karena kita tidak pernah tahu yang sudah mereka lalui dan lakukan" Ujar Rayyan.
Hampir saja!
__ADS_1