Jodoh Pilihan Allah

Jodoh Pilihan Allah
Periksa Kandungan


__ADS_3

"Cukup Yola!!! Cukup!!!"


Teriakan itu membuat 3 orang wanita tersebut terlonjak kaget.


"Ra--Rayyan?" Tante Lilis membulatkan matanya. Begitu pun dengan Yola dan Nisa.


"Ternyata benar yang di katakan Shafa, Kalian memang jahat." Ujar Rayyan dengan wajah merah padam.


"Tante bisa jelasin semua nya Ray." Tante Lilis mencoba untuk membujuk Rayyan.


"Tidak perlu di jelaskan Lilis, kami sudah dengar semuanya. Tega kamu ya Lis, setelah mendekati ayah nya Ray tidak berhasil, sekarang kamu mau mendekati Rayyan dengan menghancurkan rumah tangganya!" Bentak ibu yang sejak tadi tak sabar ingin mengeluarkan amarahnya.


"Dan kamu Nisa. Saya tidak menyangka kamu akan setega itu dengan Shafa. Kurang apa dia sama kamu ha? Dia membantu kamu saat kamu kesulitan dan sekarang, dia sendiri entah dimana rimbanya. Dia pergi dalam kondisi hamil bahkan tanpa membawa seperser uang pun!" Ujar ibu yang tak bisa lagi membendung tangisnya mengingat menantunya tersebut.


"Ibu tenang" Ayah merangkul bahu ibu yang sedang sesunggukan.


"Lilis, Yola, Kalian harus jelaskan semuanya." Ucap Ayah.


Sekarang giliran tante Lilis dan Yola yang duduk di hadapan tiga orang yang membutuhkan penjelasan. Lebih tepatnya pengakuan atas apa yang telah mereka ucapkan tadi.


"Jadi benar yang di katakan Shafa?" Rayyan mencoba mencari pembenaran atas apa yang di katakan istrinya.


"Maafkan tante Ray, tante hanya ingin melihat kamu bahagia dengan orang yang tepat." Ujar Lilis, membela diri.


"Rayyan bahagia tante. Sangat bahagia. Dan Shafa adalah orang yang tepat untuk Ray tante." Balas Ray. Bagaimana mungkin dia tidak bahagiaa hidup bersama wanita yang telah berhasil menjungkir balikkan perasaan nya.


"Tau apa kamu tentang Shafa Lilis? kamu bahkan tidak pernah berbicara dengan nya" Sela ibu yang merasabtak terima.

__ADS_1


"Aku tahu Mbak Wina! Aku tahu tanpa harus berbicara dengan nya. Hanya dengan melihat penampilan nya aku bisa menilai wanita seperti apa Shafa itu. Apa masih bisa di katakan dia perempuan baik-baik yang dengan tidak tahu malunya berpakaian tapi seolah telanjang! Kalian jangan egois, mengorbankan Rayyan agar kalian bisa berbesanan dengan keluarga pak Harsha." Ujar tante Lilis yang merasa dirinya benar.


"Tutup mulut mu Lilis. Kami tidak pernah memanfaatkan Rayyan demi kepentingan pribadi kami." Balas ibu yang sudah berdiri hendak menyerang tapi masih bisa di tahan oleh ayah.


"Tidak usah naif mbak. Rayyan tidak mungkin tertarik pada Shafa kalau saja dia bukan istrinya. Bahkan setelah menkahi istrinya Shafa tetap tidak pantas bersanding dengan Rayyan. Mas Luthfi dan mbak Wina kok sampai hati membiarkan Rayyan hidup bersama dengan wanita bekas laki-laki lain. " Ujar tante Lilis tak mau kalah. Ia terus memberi pembelaan yang menyudutkan Shafa.


"Cukup Tante!!!" Bentak Rayyan. Ini adalah kali pertama bagi Ray berbicara keras pada orang yang lebih tua.


"Sudah cukup tante menghina istri Rayyan seperti itu! Asal tante tahu, saat ini bukan Shafa yang tidak pantas untuk Rayyan, tapi Rayyan yang merasa tidak pantas bersanding dengan dia. Shafa terlalu baik untuk Rayyan. Dan perlu tante ingat! Shafa tidak serendah yang tante fikirkan. Karena Rayyan adalah orang pertama yang menyentuh nya. Rayyan sendiri adalah orang pertama yang merenggut kesucian nya!" Ujarnya tatapan yang sangat tajam.


"Kamu dengar sendiri kan Lis, Kamu tidak bisa menilai seseorang hanya dari penampilan luarnya. Nyata nya kalian yang terlihat baik, justru memiliki niat busuk yang terselubung." Ujar Ayah meembuat mereka berdua terdiam.


"Aky nggak nyangka Lis, kamu yang udah sudah aku anggap seperti adik ku sendiri tega melakukan ini sama keluarga ku! Kamu sungguh tidak tahu berterima kasih." Ujar ibu.


"Yang nggak tahu berterima kasih itu mbak. Mbak ingat, kalau bukan karena aku Mbak dan Mas Luthfi tidak mungkin bersama. Aku tidak minta imbalan apa - apa mbak. Aku hanya ingin Anak ku bahagia. Dan Lagi Yola memang jauh lebih baik dari Shafa" Ujar tante Lilis yang masih kekeh pada pendirian nya.


"Kamu mengusir tante Ray?" Tanya tante Lilis tak percaya.


Belum sempat Rayyan menjawab, mereka di kejutkan oleh teriakan bi Lastri.


"Mas Rayyan, ibuk tolong" Bi Lastri berteriak histeris membuat semua orang berlari kearahnya.


"Ada apa bi? Astagfirullah haladzim Nisa!" Rayyan dan ibu panik melihat Nisa yang tengah kesakitan. Terlihat darah segar mengalir di kakinya.


"Kita harua segera bawa ke klinik Ray" Ujar ibu. Walaupun dalam keadaan marah mereka tidak bisa mengabaikan sisi kemanusian mereka.


Di tempat lain, Shafa yang sejak tadi menunggu namanya di panggil untuk pemeriksaan sudah tidak sabar melihat perkembangan janin yang ada di perutnya. Tak ada yang mengenali Shafa di tempat itu, karena ia memakai gamis berwarna coklat muda beserta jilbab panjang lengkap dengan cadarnya. Ia membeli pakaian itu dari mbak Nurul, salah seorang pembina santri wati. Ia sengaja berpenampilan seperti itu agar leluasa bepergian tanpa takut ada yang melihatnya.

__ADS_1


Shafa menatap kesekeliling nya, Semua pasien disini menunggu sambil di temani oleh suaminya. Beberapa dari mereka terlihat sangat bahagia sambil mengelus perut istrinya. Hanya dirinya yang menunggu seorang diri. Tiba-tiba air mata nya jatuh.


Aku juga ingin seperti mereka. Di perhatikan dan di sayang saat hamil. Sayang sepertinya kita harus lebih bersabar. Ada Mommy di sini yang akan menjaga kamu. Gumamnya sambil mengusap perut nya. Seolah sedang berbicara dengan janin yang ada di rahimnya.


Shafa melihat nomor antrian di atasnya di panggil. Artinya tak lama giliran nya. Ia semakin antusias. Ia segera mengeluarkan kartu kontrol dari dalam tasnya.


"Suster, tolong suster" Sebuah suara mwngalihkan perhatian semua orang di ruangan itu termasuk Shafa. Ia kenal betul suara yaang barusan di dengarnya.


Seorang pria memakai sebuah hoodie berwarna hitam berlari menuju tempat pendaftaran di ikuti oleh 2 orang wanita yang sangat di kenalnya.


Tubuhnya terasa lemas seketika. Hatinya bagaikan di tusuk ribuan Jarum menyaksikan pemandangan tersebut.


"Ma..mas Ray, Ibu, Nisa" Lirih nya.


Sepertinya kalian sudah menerima keberadaan Nisa di tengah-tengah kalian.


Shafa tertunduk pilu melihat mertuanya dan pembantu nya menggandeng lengan Nisa. Begitu juga dengan Rayyan yang terlihat sibuk mengurus pendaftaraan Nisa.


Rayyan melangkah menuju kursi tunggu yang sama dengan Shafa. Sedangkan Nisa dan Ibu sudah tidak terlihat lagi. Aroma parfum yang sangat ia rindukan begitu menyeruak di indra penciuman nya. Ingin Rasa nya ia memeluk suami nya itu. Tapi mungkin hatinya tak lagi sama seperti dulu.


Shafa bangkit dari duduknya. Ia memutuskan untuk pergi dari klinik itu. Hatinya tak cukup kuat melihat Rayyan yang masih berstayus sebagai suaminya bersama wanita lain. Apalagi dia adalah orang dari masa lalu nya yang pernah singgah di hatinya.


_______________


Ini harusnya up semalam ya. Tapi karena wifi di rumah Author mati jadi baru bisa up subuh ini. Maafin ya😍😘 Soalnya lagi hujan badai di Kolaka gaes... Yang nggak tau Kolaka itu dimana. Tak kasi tau ya, Kolaka itu salah satu Kabupaten di Provinsi Sulawesi Tenggara.😘😘😘


Jangan Lupa Like, Comen, Vote dan Rete bintang 5.

__ADS_1


__ADS_2