
Sejak pulang dari cafe tadi hati Rayyan mulai tak tenang. Ia sangat yakin bahwa wanita yang di maksud Briyan adalah istrinya. Mengingat mereka pernah memiliki hubungan spesial dulu, jauh sebelum Rayyan mengenal Shafa.
"Mas kenapa sih? Dari tadi kog diam terus?" Tanya Shafa yang sedang asik mengunyah salad buah nya. Sambil menonton TV.
"Mas cuma kepikiran..... Ahhh, sudahlah." Ia tak melanjutkan kata-katanya. Ia tak ingin istrinya marah jika di tuduh yang tidak-tidak. Yang pasti, Rayyan percaya pada Shafa tapi dia tidak percaya pada Briyan.
"Lihat aku Sayang" Shafa memengang pipi suaminya. Sambil menyanyikan lirik yang tadi di dengarnya.
"Yang sudah berjuang" Menatap Mata Rayyan lembut.
"Menunggumu datang"
"Menjemput ku pulang"
"Ingat selalu Ayah"
"Hatiku kau genggam" Menyentuh dada Rayyan.
"Aku takkan pergi"
"Menunggu kamu di sini" CUP! Ia mencium pipi suaminya, seolah mengerti kegelisahan yang sedang menyelimuti hatinya.
"Jangan mikirin dia! biarkan dia melakukan apapun yang di suka. Lebih baik mikirin baby yang ada di perut aku. Karena aku nggak mungkin berpaling saat di perut aku udah ada titisan mas Rayyan" Ujar Shafa sambil menatap mata suaminya. Berusaha meyakinkan bahwa semua akan baik-baik saja.
"Jadi Shafa sudah tahu?" Tanya Rayyan sambil merangkul istrinya membelai lembut rambutnya.
"He.em, tadi di toilet Briyan bilang!" Jawab Shafa.
"Apa? Dia bilaang apa?" Rayyan langsung mengarahkan Shafa menghadapnya.
"Kaya di lagu itu" Jawab Shafa polos.
"Kenapa Shafa nggaak bilang sama Mas?" Rayyan menatapnya tajam.
"Mau bilang Masnya lagi ngobrol sama cewek-cewek cantik." Ejek Shafa.
"Sayang, jangan mulai lagi deh" Ujar Rayyan kembali merangkulnya.
"Gimana Mas?" Tanya Shafa.
"Gimana apa nya?" Balas Rayyan tak mengerti dengan apa yang di tanyakan isyrinya.
"Rasanya cemburu?" Ujar Shafa sambil terkekeh. Rayyan tak menjawab.
"Begitu juga yang aku rasakan saat ada yang mendekati Mas" Ujar Shafa.
"Tapi ini beda sayang. Dia mantanmu, pernah singgah di hatimu, pernah merasakan cintamu." Jawab Rayyan yang masih merasa kesal dengan Briyan.
"Bagiku mantan itu seperti permen karet. Kalau sudah di buang, nggak mungkin aku makan kembali. Itu prinsip!!!" Ujar Shafa mantap. Prinsip yang sejak dulu di pegang oleh Shafa. Ia beranggapan bahwa mantan itu seperti permen karet. Balikan dengan mantan seperti mengunyah kembali apa yang telah di buang. Menjijikan bukan?
__ADS_1
"Tapi mas tetap tidak terima. Dia kan bisa mencari wanita lain yang masih single. Kenapa harus kamu yang sudah bersuami. Mulai besok, Shafa nggak perlu lagi datangbke sekolah. Mas udah pecat kamu jadi guru bahasa Jerman di sekolah!" Ujar Rayyan.
"Ha.ha.ha. Lihat ayahmu Nak! Dia lagi cemburu" Shafa tertawa terpingkal-pingkal mendengar ucapan Rayyan.
"Mas serius Shafa!"
"Iya..iya.. Pecat aja" Jawab Shafa santai.
"Kamu nggak marah?" Tanyanya.
"Mas pengen aku marah?" Tanya Shafa sambil memicingkan matanya.
"Enggak sayang enggak! Jangan marah lagi!" Ujar Rayyan.
"Aku akan berhenti mengajar. Tapi, mulai besok semua kartu kredit, kartu debit dan kartu kartu lainnya di bawah pengawasan ku!" Ujar Shafa dengan senyum jahat.
"Iya sayang, iya... Kamu bos nya"
🍃🍃🍃🍃🍃🍃🍃
"Aku nggak mau tau, kamu harus gagalin rencana orang tua kamu untuk melamarku!" Ujarnya dengan penuh penekanan.
"Kenapa semua aku sih. Kamu juga usaha dong! Kan yang mau di nikahin bukan hanya aku tapi juga kamu" Ujar pria itu dengan nada tinggi.
"Kamu fikir selama ini aku nggak usaha? Aku sudah mencoba kabur tapi nyatanya mereka masih menemukanku. Dan Lihat, dua pengawal itu. Itu gara-gara ide bodoh kamu yang menyuruhku untuk kabur, aku jadi seperti tahanan yang harus di kawal kemana-mana!" Ujarnya penuh amarah.
"Itu bukan salahku! Kamu saja yang terlalu bodoh sampai orang tuamu bisa menemukanmu bahkan sebelum kamu meninggalkan kota ini" Jawabnya santai
"Kamu fikir aku sudi menikah dengan wanita es seperti kamu SONYA ADAM?"
"Jadi bagaimana rencanamu? Apa kamu sudah berhasil mendapatkan wanitamu?" Tanya Sonya sambil meminum teh hijau nya.
"Belum! Dia sangat mencintai suaminya" Jawab Briyan datar
"Phuufff...APA?" Sonya menyemburkan tehnya.
"Jadi dia sudah bersuami? Kamu gila Briyan. Kamu mau jadi pelakor versi cowok?" Imbuhnya.
"Mending aku. Setidaknya ada wanita yang aku cintai. Dari pada kamu. Aku curiga jangan-jangan kamu l*sbian." Cibir Briyan dengan tatapan menelisik.
"Br****** kamu Briyan!" Amuknya sambil menggebrak meja. Menyebabkan para pengawal Sonya bergerak cepat dan membawa Sonya kembali kedalam mobil.
"Dasar wanita aneh!" Ujar Briyan sambil menghabiskan teh nya.
Drrt..Drt...
Satu pesan masuk di handphone Briyan. Ia langsung tersenyum melihat nama yang tertera di layarnya.
Fara : Briyan... Please jangan ganggu aku lagi. Biarkan aku bahagia dengan suami dan calon anak ku. Aku masih memegang teguh prinsipku yang dulu Bri! Tolong hargai itu.
__ADS_1
"Aaargh" Briyan membanting ponselnya di atas meja.
.
.
.
"Maaas?" Panggil Shafa manja.
"Iya Sayang" Jawab Rayyan, tapi matanya masih fokus di laptop. Ia fokus menyelesaikan pekerjaan yang akan di presentasikan besok.
"Maaaas!" Panggilnya lagi.
"Iyaaa Sayang, Shafa mau apa?" Jawabnya masih tak beralih dari laptopnya.
Nak, Ayah mu kalau sudah di depan setan gepeng itu, jadi lupa sama kita! Gumamnya. Ketika sedang bekerja Rayyan memang selalu fokus, terlebih selama sebulan terakhir banyak pekerjaannya yang tertunda lantaran terlalu fokus mencari Shafa.
Dengan cepat Shafa masuk ke dalam ruaang ganti. Ia sengaja mengganti pakaiannya dengan Lingerie seksi berwarna hitam.
Apa setelah ini kamu masih bisa cuekin aku mas? Ia tertawa jahat.
Begitu keluar dari ruang ganti, Shafa langsung berjalan mendekati Rayyan. Rayyan masih tidak sadar jika istrinya tengah menggodanya. Ia masih sajaa fokus membaca file-file yang dikirim oleh rekannya dari Kairo. Shafa berjalan mondar mandir di hadapan Rayyan tapi tetap saja tidak mendapat respon.
Dengan segenap kekesalan yang ada ia mendekati Rayyan dan langsung memaksa duduk menyamping di pangkuannya, Menghalangi pandangan Rayyan dari laptop yang sejak tadi di tatapnya.
"Sayang?" Ujar Rayyan yang terkejut mendapati istrinya tiba-tiba nyelonong mengganggu pekerjaan nya. Terlebih dengan pakaian yang begitu menantang.
"Aku nggak suka di cuekin!" Ucapnya manja sambil melingkarkan taangannya di leher Rayyan. Ia menyandarkan kepalanya di bahu suaminya.
"Mas nggak nyuekin kamu sayang" Balasnya sambil merangkul pinggang istrinya. Dadanya kembali berdesir menyaksikan pemandangan yang menyejukkan mata.
Inikah yang di bilang ayah sebagai surganya dunia? Ia terkekeh dalam hati mengingat ucapan ayahnya tempo hari, yang mengatakan bahwa ibunya sangat luar biasa saat di kamar.
"Jadi Kesayangannya Mas ini mau apa? Apa anak Ayah ingin sesuatu?" Ujarnya saambil mengusap lembut perut Shafa yang hanya terbalut cardigan super tipis dan transparat.
"Mau manja-manjaan, Ayah kalau sudah natap si setan gepeng itu jadi lupa sama kita." Bisiknya. Membuat tubuh Rayyan meremang. Ia segera menutup laptop yang di sebut sebagai setan gepeng oleh istri cantiknya itu. Bahkan sekarang laptop pun di anggap sebagai saingannya.
"Setan gepeng nya udah Mas matiin" Ujarnya kemudian melingkarkan tangannya ke pinggang istrinya yang sangat memukau.
"Mas, apa aku cantik?" Tanyanya sambil meraba-raba dada Rayyan.
"Cantik sayang, Cantik sekali" Jawabnya sambil membelai pipinya.
"Apa aku seksi?" Tanyanya Lagi dengan nada yang sensual.
"Of course bebe" Jawab Rayyan yang sudah mulai terpancing. Ia mulai mencium bahu istrinya.
"Baiklah, Sekarang belikan aku martabak keju! Aku lapar!!!" Ujarnya sambil turun dari pangkuan suaaminya.
__ADS_1
Kenapa kamu tega sama ayah Nak?
Batin Ray yang menjerit. Ia seakan terbang ke langit ke tujuh kemudian di hempaskan ke Bumi!!!