
Lebaran sudah semakin dekat, kira-kira 6 hari lagi hari kemenangan itu tiba. Shafa mulai di sibukan dengan berbagai hal untuk menyambut hari raya bagi umat muslim tersebut. Hari ini ia memperbaharui tampilan rumah mereka dengan mengganti horden, bantal sofa juga karpet tebal yang ada di ruang tamu mereka. Tak lupa ia juga memasang walpaper di beberapa sisi rumah yang membuat tampilannya menjadi semakin mewah dan berkelas. Jangan luapkan bahwa Shafa Azura putri bungsu pemilik klinik ternama di ibu kota itu memiliki selera yang tak biasa.
"Sayang, sudah lihat baju yang masuk di toko minggu ini?" Tanya Rayyan yang sedang sibuk dengan laptopnya. Ia bukan sibuk memeriksa hasil pekerjaan mahasiswa tetapi sibuk mengurus barang yang baru di produksi di gerai miliknya. Menjelang hari raya penjualan di toko Rayyan bisa naik lebih dari seratus persen karena banyaknya permintaan di beberapa gerai yang tersebar di 8 kota besar yang ada di Indonesia.
"Sudah mas, aku sudah memilih beberapa buat kita. Kayaknya tahun depan harus produksi juga buat bayi dan balita deh mas. Supaya nggak susah nyari buat Am, sekalian kita jadi modelnya dari pada nyari model lain." Usulnya, tangannya masih sibuk menyusun bunga-bunga segar dalam vas.
"Shafa atur saja. Setelah ini mas mau fokus di kampus saja, gerainya Shafa yang handle ya. Karena Shafa lebih tahu soal fashion dari pada Mas. Dan soal model, mas rasa ada yang kurang" Rayyan memainkan telunjuknya di dagu nampak sedang berpikir.
"Kurang? Apanya yang kurang?" Shafa tak mengerti dengan maksud suaminya.
"Mas mau jadi model kalau personilnya sudah lengkap" Balasnya, kembali menatap layar laptopnya.
"Personel apaan? Kan udah lengkap, ada suami istri dan anak. Mas mau ngajakin ibu sama mommy juga apa?" Shafa menghentikan kegiatannya. Bunganya telah selesai di rangkai, kini membersihkan sisa sisa potongan batang yang masih berhamburan di atas meja.
"Anak cewek dong mom, masa cowok semua. Kan kurang lengkap" Balasnya sambil tersenyum membayangkan gadis kecil yang lucu di tengah-tengah mereka. Padahal anak yang baru saja di lahirkan Shafa belum genap sebulan.
"Ya Allah mas, ini jahitanku belum kering udah ngomongin anak cewek. Nggak ada yang lain apa?" Shafa menggeleng-gelengkan kepalanya. Ucapan suami sangat berbanding terbalik dengan kelakuannya saat ia melahirkan Am waktu itu. Mungkin Rayyan lupa bagaimana dia menangis bahkan meminta maaf saat Shafa sedang berjuang mengeluarkan kala itu.
"Berarti jadi modelnya di tunda dulu" Jawabnya enteng.
"Terserah mas deh" Shafa berdiri meletakkan bunga yang selesai di rangkainya di atas meja ruang tamu. Meladeni Rayyan membahas soal anak tidak akan habisnya. Sepertinya setelah Am berumur 7 bulan Shafa harus program KB diam-diam agar tidak kebobolan, melihat bagaimana Rayyan menginginkan anak lagi.
***
Aura bahagia tergambar jelas di wajah para ART Rayyan malam itu. Sepertinya semalam mereka bermimpi tertimpa durian jatuh. Setelah pulang shalat tarwih, Rayyan sengaja mengumpulkan mereka di ruang tengah untuk memberikan apa yang di tunggu-tunggu sebelum hari raya tiba. Apa lagi kalau bukan THR.
"Ini buat Bi Lastri, Semoga bermanfaat ya bi" Ujar Rayyan setelah memberikan sebuah amplop berisi gaji plus THR yang jumlahnya sama dengan gaji mereka.
"Terima kasih mas Rayyan mbak Shafa" Bi Lastri menerimanya dengan senyum bahagia.
"Dan ini untuk pak Ali dan mbak Yati" Amplop ke dua di berikan kepada sepasang suami istri yang juga bekerja di rumah Rayyan.
"Alhamdulillah... Terima kasih mas Rayyan mbak Shafa. Semoga mas Rayyan dan Mbak Shafa senantisa di berkahi Allah" Ujar pak Ali dengan penuh syukur.
"Amiin"
Setelah memberikan hak para ART, Rayyan dan Shafa masik ke dalam kamar mereka. Malam itu mereka tidur cukup larut, lantaran Rayyan yang masih terus memantau masuknya barang di gerainya, sedangkan Shafa masih sibuk menata pakaian dan popok Am.
"THR aku ada mas?" Shafa mendudukkan dirinya di sofa sebelah Rayyan. Zafran dan Am sudah terlelap dalam mimpi mereka.
__ADS_1
Rayyan merenggangkan otot-ototnya yang terasa kaku. "Istriku mau THR apa?" Ia merangkul bahu Shafa, menyandarkan kepalanya di pundak wanita tercintanya.
"Terserah mas Ray, masa bibi di kasi akunya enggak" Ia mengerucutkan bibirnya. Rasanya sudah lama Rayyan tidak memberinya hadiah atau semacamnya sejak ulang tahunnya waktu itu.
"Shafa lupa semua uang mas kan Shafa yang pegang, yang ngasih THR sama bibi juga kan Shafa. Mas cuma mendistribusikan saja" Rayyan meraih tangan istrinya sambil memainkan jemarinya.
"Ya ampun mas, aku kok lupa. Bilqis, Yola dan Tante Lilis belum kita belikan hadiah lebaran" Ujarnya. Ia segera mengetik sesuatu di ponselnya yang tak luput dari perhatian Rayyan.
"Ngapain?"
"Aku suruh Yola dan tante Lilis kemari. Kan kasian mereka lebaran sendiri, sekalian nanti mereka milih baju buat lebaran" Balasnya sbil menyunggingkan senyum
"Terimakasih mommy Am" Rayyan mengeratkan pelukannya pada istrinya. Bahagia sekali rasanya memiliki Shafa dalam hidupnya.
"Mas?"
"Ya?" Rayyan sudah berubah posisi berbaring di paha istrinya.
"Mas tau nggak, aku tuh sekarang bahagia banget. Hidup aku rasanya lengkap, aku harap mas akan tetap seperti ini selamanya ya?" Ia menatap dalam-dalam mata teduh Rayyan yang sering menghipnotisnya.
"Amiiin"
"Ya"
"Jangan pernah selingkuh!"
"He.em"
"Jangan pernah nikah lagi!"
"Na'am" Jawabnya sambil terkekeh. Anak sudah dua masih saja mau selingkuh. Impossible.
"Na'am apa mas?" Shafa mengerutkan dahinya, menajamkan matanya.
"Na'am itu iya sayang, mana mungkin mas mau nikah lagi kalau di samping mas ada bidadari paling cantik yang dengan senang hati melahirkan anak-anak mas" Ia meraih tangan Shafa dan menciumnya.
"Good!!!"
"Mas aku kok masih penasaran ya"
__ADS_1
"Penasaran apa?"
"Mas kok kalau ngomong sama Shafa dikit-dikit pake dalil, terus kalau Shafa ngaji mas nggak ngelihat tapi bisa tahu bacaanya. Emang mas hapal Al-Qur'an?" Shafa menjatuhkan pandangannya pada wajah suaminya yang masih nyaman berada di pahanya. Pasti nyaman banget secara Shafa badannya masih berbalut daging tebal yang belum mengempis.
"Pengennya sih Hafal..." Ia menjeda kalimatnya.
"Tapi?"
"Tapi belum mampu" Balasnya.
"Masa sih? Perasaan mas tau banyak, terus kalau nyimak bacaan ku mas nggak liat loh"
"Menghapal itu tidak mudah sayang. Mas banyak yang lupa karena jarang di ulang" Jawab Rayyan. Apalagi waktu masih awal awal menikah dengan Shafa auto banyak yang hilang hafalan si Mas Ray melihat tampilan istrinya yang tiap hari bikin sakit kepala. Namun, seperti apapun hubungan mereka dulu, ia sangat bersyukur karena jika tidak ada masa lalu maka tidak akan ada masa sekarang yang membahagiakan.
.
.
.
.
"Kak, Shafa makasiiihhh" Yola memeluk Shafa dengan girang, setelah mendapatkan beberapa set pakaian, sepatu dan tas baru dari Shafa. Ia benar-benar merasakan nikmatnya memiliku seorang kakak perempuaan seperti Shafa. Ada penyesalan dalam dirinya kenapa tidak sejak dulu ia baik dengaan Shafa, karena nyatanya ia lebih baik dari yang di bayangkan.
"Kak, aku boleh nggak sering-sering main kesini? Aku sepi di apartemen cuma berdua sama mamah. Aku senang main sama Zaf dan Am. Aku janji nggak akan macem-macem lagi" Ujarnya sambil menunduk.
"Yola!" Tante Lilis menyikut lengan Yola, merasa tidak enak dengan keinginan putrinya tersebut. Mendapat maaf Shafa saja sudah syukur, ia malu jika harus meminta lebih meski hati kecilnya ingin.
"Nggak papa Yol, kakak senang kok. Kakak jadi ngerasa punya adik perempuan" Ujar Shafa sambil mengusap tangan Yola.
"Makasih kak. Hiks...hiks. Yola senang banget" Lagi-lagi ia memeluk Shafa penuh haru. Tak disangka Shafa begitu baik padanya. Ia berjanji tidak akan mengecewakan Shafa dan Rayyan lagi.
Yola sudah bisa mengakrabkan diri dengan dua bocah kecil yang selalu bermain bersama. Siapa lagi kalau bukan Zafran dan Aira sahabat karib yang terkadang membuat Shafa khawatir. Khawatir bila nantinya mereka akan salinh jatuh cinta dan merasakan pedihnya perpisahan karena keyakinan yang berbeda. Namun, ia selalu percaya bahwa Zafran tidak akan mengecewakannya seperti ia mengecewakan mommy nya dulu.
"Tante, Aku mau menikah dengan Zaflan" Ujar Aira tiba-tiba membuat orang dewasa yang ada disitu terlonjak kaget.
_________
Belum tamat yah Gayys❤️❤️❤️ Jangan lupa like and votenya😘😘😘
__ADS_1