Jodoh Pilihan Allah

Jodoh Pilihan Allah
Masa Lalu Jeffri


__ADS_3

Fanny terlonjak melihat kedatangan Anita bersama seorang anak kecil laki-laki yang ia yakini adalah Jeffri. Selama ini mereka merahasiakan status Jeffri yang sesungguhnya. Hanya orang-orang tertentu yang dapat di percaya yang mengetahui hal itu, di antaranya adalah dr. Marco teman dokter yang saat itu juga berada di tempat bencana dan Luthfi Ar-Rayyan yang merupakn sahabat baik dan tempat dr.Harsha berbagi cerita.


"Mbak... Maafkan saya mbak" Ucap Anita lirih. Wajahnya terlihat sedikit agak pucat. Saat itu, Fanny baru saja melahirkan Shafa. Usianya kira-kira masih 3 Minggu.


"Siapa Fan?" Tanya ibu Naomi Azura yang tak lain adalah nenek Shafa yang kebetulan sedang berkunjung.


"Ini teman Fanny Mom" Sahut Fanny yang merasa was-was. Jika sampai mommy dan daddynya mengetahui semuanya, sudah bisa di pastikan dr.Harsha akan berakhir seperti apa. Itu sebabnya ia menutup rapat rahasia ini selama kedua orang tua Fanny masih hidup.


"Kita bicara di dalam ya?" Fanny mengajak Anita untuk berbicara di sebuah ruangan kedap suara yang biasa ia gunakan untuk praktek. Ia tak mau mengambil resiko ada orang lain yang mendengarkan pembicaraan mereka nantinya. Ia juga segera menghubungi dr. Harsha untuk segera pulang.


"Ada apa Anita? Kenapa tiba-tiba kemari?" Tanya Fanny. Jangan sampai Anita menuntut pengakuan secara sah tentang status anaknya. Ketakutan itu mulai muncul.


"Maafkan saya mbak, saya tidak menepati janji saya untuk tidak mencari kalian dan merepotkan kalian" Ujarnya dengan tatapan sendu.


"Apa maksudmu Anita? Apa yang kamu inginkan sekarang?" Tanya Fanny dengan wajah yang mulai dingin. Sementara Anita masih menunduk sambil menggenggam tangan putranya. Saat melihat Jeffri, ada rasa sakit yang menusuk di dada Fanny. Wajah tampan Jeffri mengingatkan akan penghianatan yang pernah suaminya lakukan meski semua itu du awali dengan keterpaksaan.


"Anita mengeluarkan sesuatu dari dalam tasnya dan memberikannya kepada Fanny. Sebuah kertas berisi laporan hasil pemeriksaan medis Anita. Fanny membukanya dan seketika matanya membulat, ia menutup mulutnya tak percaya.


"Ya Tuhan!!! Anita" Ia menatap Anita, yang tadinya tatapan dingin berubah menjadi tatapan iba.


"Karena itulah saya kemari mbak. Saya bermaksud ingin menitipkan Jeffri selama saya berobat. Disini saya tidak punya sanak saudara dan kerabat. Kalian adalah satu-satunya orang yang saya kenal. Saya tidak mungkin membawa Jeffri saat saya di rawat dan tidak mungkin pula meninggalkannya di kampung sendirian karena kakeknya Jeffri pun sudah tidak ada" Ujarnya.


"Innalillah" Fanny benar-benar tidak mengetahui bahwa ayah Anita telah meninggal dunia.


"Kami akan menerima Jeffri disini, biar bagaimana pun tidak bisa di pungkiri bahwa dia juga anak suamiku. Hanya saja, aku minta maaf. Kami tidak bisa mengakuinya di hadapan semua orang. Bukan karena kami benci tapi karena orang tuaku Anita. Mereka akan melakukan sesuatu yang buruk pada mas Harsha jika mereka tahu kebenarannya." Ujar Fanny sambil memeluk Anita.


"Saya mengerti mbak. Jeffri pun tidak akan mengatakan bahwa pak dokter adalah ayahnya." Ujar Anita.


"Kenapa kamu baru bilang sekarang Anita kalau kamu sakit? Kenapa tidak bilang sejak awal?"


"Saya juga baru mengetahuinya mbak. Dan dokter menyarankan untuk melakukan perawatan di kota ini. Meski saya tahu mustahil untuk sembuh, tapi setidaknya saya bisa bertahan lebih lama." Ucapnya membuat Fanny tak sengaja menjatuhkan air matanya. Terlebih saat ia melihat Jeffri diam diam menyeka matanya. Ingin rasanya ia memeluk anak kecil itu.

__ADS_1


Kanker rahim yang bersarang di tubuh Anita sudah memasuki stadium akhir. Ia baru mengetahui setelah beberapa kali merasakan sakit yang teramat pada bagian perutnya. Sebelumnya, 2 tahun lalu ia sempat mengalami keguguran beberapa kali, hal itu juga yang menyebabkan suami Anita menikah lagi karena ingin mendapatkan keturunan.


Ceklek,


Suara pintu di buka, Fanny segera menoleh ke pintu. Di dapatinya mommy tengah berdiri sambil menggendong Shafa kecil.


"Mo...mommy?" Fanny tercekat. Jangan sampai ibunya mendengar semuanya. Ibu Fanny berjalan masuk menghampiri mereka.


"Shafa haus Fan, sudah waktunya memberi ASI" Ujar mommy Fanny. Fanny pun segera mengambil Shafa dari gendongan neneknya.


"Kamu kenapa menangis? Something wrong?" Tanyanya saat melihat Fanny menyeka air matanya.


"No mommy, aku hanya sedih mendengar cerita Anita" Jawab Fanny. Ia berharap mommynya segera pergi dari ruangan itu.


"Are you oke? Kamu terlihat pucat. Apa kamu sakit?" Tanya mommy Fanny sambil memperhatikan wajah Anita dalam balutan kerudung abu-abu. Anita hanya mengangguk.


"Kamu sakit apa? Fan, kamu sudah periksa dia?" Tanya mommy lagi yang kini malah ikut duduk di sebelah Shafa.


"Memangnya kamu sakit apa?" Tanya momny Fanny. Anita terdiam, ia tak ingin anaknya mendengar penyakit yang tengah di deritanya. Fanny mengambil kertas yaang tergeletak di atas meja dan memberikannya kepada ibunya.


"Ya Tuhan!!!" Mommy Fanny mendekat pada anita dan mengusap bahunya.


"Kamu yang sabar nak, apa keluarga kamu tidak ikut kemari?" Tanyanya. Anita menggeleng.


"Orang tua saya sudah tidak ada bu. Dan ayahnya Jeffri..."


Glek! Fanny menelan salivanya dengan susah payah. Berharap Anita tidak mengatakan kebenaran bahwa ayahnya Jeffri adalah suaminya.


"Ayahnya Jeffri sudah menikah lagi" Ujarnya sambil memeluk putra semata wayangnya itu. Ia sedih mengingat anaknya akan menjadi orang asing di tengah-tengah keluarganya sendiri. Tapi ia bersyukur karena Fanny adalah wanita yang sangat baik. Masa depan Jeffri pasti akan lebih baik saat ia di asuh oleh Fanny dan dr. Harsha.


"Ya Tuhan... Kamu yang sabar nak. Jeffri akan baik baik saja disini" Ujar mommy Fanny ikut memberikaan pelukan hangat pada Anita.

__ADS_1


"Terima kasih bu... Terima kasih!" Anita membalas pelukan ibu Fanny dan juga ikut menangis.


"Mommy akan minta daddy mu menyiapkan ruang perawatan untuk Anita" Ujar Mommy Fanny. Saat itu pemegang kendali HS Clinic adalah daddy Fanny sebelum jatuh ke tangan suaminya.


Setelah pertemuan hari itu, Anita benar-benar di rawat di klinik milik keluarga Fanny. Kondisinya semakin hari semakin kritis. Sedangkan Jeffri masih berada di rumah Fanny. Jeffri adalah anak yang rajin dan santun meski usianya baru 6 tahun, ia sudah cukup dewasa dibandingkan anak-anak seusianya. Anita telah berhasil mendidik Jeffri menjafi anak yang mandiri. Setelah makan ia selalu membereskan sendiri bekas piringnya, meski di larang ia tetap melakukan apa yang menjadi kebiasaannya. Dia selalu bangun pagi, ikut membantu pak Jono mencuci mobil atau membantu pak Umar memberi makan burung-burung peliharaan. Fanny dan dr. Harsha kerap meneteskan air mata saat melihat Jeffri kecil yang tengah sibuk membantu para pekerja rumah. Ia selalu mengatakan "Kata ibu, Jeffri tidak boleh malas" saat Fanny melarangnya.


Melihat kondisi Anita yang semakin memburuk, Mommy dan Daddy Fanny menyarankan Fanny untuk mengadopsi Jeffri sebagai anak mereka. Tapi Fanny menolak. Ia akan merawat Jeffri tapi tidak mengadopsinya. Karena apa? Karena jika ia mengadopsi Jeffri maka rahasia besar mereka akan terbongkar. Pasti keluarganya akan menelusuri seluk beluk kehidupan Jeffri dan itu akan mengakibatkan perpecahan di antara mereka.


Pagi itu langit tak begitu cerah. Sejak malam tadi, gerimis turun tapa henti. Fanny memakaikan sebuah jaket tebal di tubuh kecil Jeffri agar ia tak kedinginan. Ia menggandengnya menuju mobil untuk mengunjungi ibunya. Sejak kemarin Anita ingin bertemu dengan Jeffri, dan pagi ini Fanny, suaminya dan Jeffri menuju klinik tempat Anita di rawat.


"Jeff..." Panggil Anita dengan suaranya yang lemah. Ia terbaring dengan selang infus di tangan kirinya. Dokter telah memprediksi bahwa Anita tidak bisa bertahan karena sel-sel kanker yang telah menjalar begitu cepat. Melakukan oprasi pun rasanya percuma.


Fanny memangku Jeffri duduk di hadapan ibunya. Sedangkan dokter Harsha berdiri di sebelahnya.


"Terimaa kasih mbak, pak dokter telah menerima dan mengurus Jeffri" Anita menatap Fanny dan dr. Harsha secara bergantian.


"Jangan bicara seperti itu Anita. Jeffri adalah tanggung jawabku sampai kapanpun juga aku tidak akan meninggalkannya" Ujar dr. Harsha.


"Kamu tidak perlu khawatir Anita. Meskipun aku bukan ibunya, aku akan menyayanginya seperti aku menyayangi anakku sendiri" Imbuh Fanny. Matanya sudah berkaca-kaca. Anita mengangguk sambil tersenyum meski air matanya tak bisa lagi bersembunyi. Ia menatap Jeffri yang juga sudah berkaca-kaca namun tetap diam .


"Jeffri, anak ibu. Dengar ibu ya nak! Jeffri tidak boleh sedih, Jeffri harus tumbuh jadi anak yang kuat! Jeffri lihat, pak dokter dan ibu Fanny, mereka akan menjaga Jeffri menggantikan ibu" Anita mencoba menatap Jeffri yang sedang menunduk sambil meremas jemari kecilnya. Baik Fanny maupun dr. Harsha tidak mampu menahan air matanya menyaksikan momen-momen perpisahan antara anak dan ibu nya.


"Jeff..." Anita kembali memanggilnya dan kali ini Jeffri juga menatapnya.


"Anak ibu tidak boleh cengeng! Jeffri harus sayang dengan ibu Fanny dan pak dokter yah? Jeffri juga harus sayang sama adek Shafa. Jeffri harus jadi anak kuat supaya bisa jaga adek ya nak" Ucapnya dengan bibir bergetar.


"Sini peluk ibu!" Anita merentangkan tangannya. Untuk memeluk Jeffri kecil. Ia menangis di dalam pelukan ibunya. Sekuat tenaga pun ia menahan agar air mata itu tak tumpah, tetap saja Jeffri adalah anak yaabg tak mampu menyembunyikan perasaannya pada ibunya.


"Ibu....hiks...hiks"


"Ingat pesan ibu ya nak! Jangan nakal dan merepotkan pak dokter dan ibu Fanny" Ujarnya sambil mengusap lembut punggung Jeffri. Itulah pertemuan akhir antara Jeffri dan ibunya. Ibu yang telah melahirkannya.

__ADS_1


Setelah kematian Anita, Jeffri sepenuhnya di asuh oleh Fanny dan dr. Harsha. Ia tetap memanggil dr. Harsha dengan sebutan pak dokter dan Fanny dengan sebutan ibu Fanny. Dia selalu mengingat pesan terakhir yang di ucapkan Anita untuk menjadi anak yang kuat dan melindungi keluarganya.


__ADS_2