Jodoh Pilihan Allah

Jodoh Pilihan Allah
Kedatangan Tamu


__ADS_3

Sekitar pukul 2 Siang aku sudah tiba di Jakarta. Pak Madi pun sudah berada di bandara menjemput kami. Aku pulang membawa banyak oleh-oleh khas dari Aceh. Aku membawa banyak kenangan manis bersama orang-orang baru yang sangat baik, sepertii Amar, Nana dan Marwa. Dan juga kenangan manis saat malam terakhir di Aceh dengan suamiku tercinta yang hampir tidak membiarkanku istirahat semalaman. Katanya bagian dari usaha untuk mendapatkan keturunan.


2 Minggu setelah liburan singkat kami ke Aceh. Kami mulai rutinitas seperti biasa, tidak ada yang berubah kecuali aku yaang mulai belajar berpenampilan sopan. Aku belajar memakai rok panjang dan sesekali memakai kerudung. Aku berusaha menjelaskan ke Mas Ray bahwa aku berniat berubah tapi aku butuh waktu, jadi aku memulainya dari hal kecil, aku pun mulai mengurangi jadwal ke salon ku yang biasanya 2 kali seminggu sekarang hampir 2 minggu ini aku baru sekali masuk salon untuk perawatan rambut. Mas Ray juga sekarang melarangku merubah warna rambutku. Jadilah aku dengan warna rambut asliku namun tetap cantik dong ya.


Sejak kedatangan pak Briyan di sekolah tania sudah tak begitu berhasrat mengganggu ku. Ku lihat sekarang Tania berpindah haluan mendekati pak Briyan yang membuat hubungan Tania dan Bu Ita sedikit merenggang. Pak Briyan pun sejauh ini tetap bersikap profesional. Di luar dugaan, dia sama sekali tidak pernah mengungkit hubungan kita di masa lalu. Jadi aku bisa bekerja dengan tenang. Alhamdulillah sepertinya badai mulai berlalu.


Hari ini mas Ray mengatakan bahwa kami akan kedatangan tamu spesial, yaitu Tante Lilis. Tante Lilis adalah sepupu Ibu yang juga merupakan ibu ke dua untuk Mas Ray. Aku baru bertemu tante Lilis sekali pada saat resepsi pernikahan ku. Dia memiliki seorang putri yang cukup dekat dengan Mas Ray, namanya Yola. Hanya saja aku tidak begitu menyukai Yola. Dia terlalu dekat dengan mas Ray, hal itu membuatku cemburu.


Karena hari ini weekend, aku memasak banyak untuk menyambut kedatangan tante Lilis. Semua makanan dan desert sudah tertata rapi di meja makan. Sekarang aku ga takut lagi kuku ku akan rusak karena memasak. Sebab mas Ray mengatakan bahwa pahala istri yang menyiapkan makanan untuk keluarganya itu sangat besar sekali.


Terdengar suara mobil tiba, sepertinya tante Lilis sudah sampai. Aku segera menuju ke depan menuju ke depan. Mereka datang bersama Ibu dan Ayah.


"Assalamualaikum"


"Waalaikum salam" Aku menyalami tante Lilis, ibu dan juga ayah.


"Kak Ray...." Yola berlari ke arah mas Ray dan memeluknya. Dasar genit!


"Bukan muhrim" Bisik ku sambil menggigit gigiku. Emang benerkan Yola dan Mas Ray itu bukan muhrim. Hubungan keduanya kan sebatas sepupu. Tate Lilis pun bukan adik atau kakak kandung Ibu, melainkan sepupu Ibu atau anak dari paman ibu. Jadi, hubungan keduanya sangat jauh. Hanya saja tante Lilis sejak SMA tinggal sama ibu dan dia juga yang menjadi perantara ayah dan Ibu kala itu. Sehingga hubungan keduanya sudah seperti saudara kandung.


"Ya udah ayo masuk" Ku lihat mas Ray berusaha melepaskan pelukan Yola.


"Silahkan tante, Shafa buatin minum dulu ya" Aku pun segera ke dapur untuk membuat minuman.

__ADS_1


"Biar saya saja mbak, mbak temani mereka saja" Ujar bi Lastri.


"Ga papa bi, bibi bawain kue nya aja yah" Ku bawa nampan berisi lima gelas minuman ke ruang tengah.


"Shafa sini sayang!" Ibu memintaku duduk di sebelah nya.


"Shafa sudah kenal tante Lilis dan Yola kan?" Tanya ibu.


"Iya bu"


"Jadi Yola ini kan rencananya mau mengikuti kursus bahasa Arab. Karena rencananya dia mau kuliah di Kairo seperti Rayyan. Jadi untuk sementara waktu Shafa ga keberatan kan kalau tante Lilis dan Yola tinggal di sini? Kebetulan tempat kursus Yola ga jauh dari sini" Deg. Perasaan ku mendadak ga enak. Idih model kek Yola gini mau kuliah di Mesir? Apa gue ga salah dengar. Aku kok ngerasa dia cuma modus ya? Aku melihat ke arah mas Ray. Dia hanya tersenyum. Senyumnya ini mengisaratkan apa ya?


"Shafa sih ga keberatan bu, kebetulan kan di sini masih ada 3 kamar yang kosong" Ucapku. Padahal sejujurnya aku sangat keberatan.


***


"Kamu kenapa sayang?" Tanya Mas Ray pada ku yang masih duduk di atas sajadah selesai menunaikan shalat Isya.


"Enggak papa mas" Aku menggeleng.


Mas Ray duduk bersila di sampingku menyandarkan kepalaku di bahunya.


"Kamu mikirin tante Lilis dan Yola kan?" Ucapnya. Ah, gampang banget di tebak sih aku ini.

__ADS_1


"Aku cuma merasa kalau anak tante Lilis itu ga suka sama aku mas"


"Sayang, kita gaa boleh berburuk sangka. Yola itu memang seperti itu sifatnya. Tapi sebenarnya dia anak yang baik. Mas sudah mengenal dia sejak dia bayi" Terang nya. Walau pun kamu kenal sejak dia di dalam kandungan sekalipun tapi hati manusia tidak ada yang tahu mas.


"Tapi aku ga suka mas dekat-dekat dia" Ucap ku.


"Sayang, Yola itu anak yatim. Ayahnya Sudah meninggal sejak dia SMP. Jadi kita harus menyayangi dia. Mas Menganggap Yola seperti adik mas sendiri, ga lebih. Mas harap Shafa juga bisa menyayangi Yola sebagai adik Shafa. Lagi pula Yola dan tante Lilis kan hanya sementara di sini sampai kursus Yola selesai. Jadi Shafa harus sabar yah" Ujarnya mengusap kepalaku. Entah lah, ucapan mas Ray barusan sama sekali tidak merubah penilaian ku terhadap Yola.


"Aku tuh akan menyayangi dia kalau dia baik ke aku mas. Tapi mas liat sendirikan dia tu sama sekali ga nganggap aku. pernah mas liat dia nyapa atau negur aku? Enggak kan?" Ucapku kesal. Aku tu nyonya di rumah ini tapi keberadaan ku sama sekali tidak di anggap. Bahkan saat aku menegurnya terlebih dahulu jawabannya acuh.


"Mungkin karena dia belum terbiasa. Nanti kalau sudah terbiasa pasti akan berubah" Terangnya. Belain aja terus sepupu mu itu Mas. Nana dan Marwa yang orang baru saja bisa bersikap baik padaku. Dia yang kerabatnl sendiri justru sebaliknya. Lebih baik aku diam, karena semakin aku berkeras mas Ray pasti akan semakin membela.


Tok..tok...tok...


"Kak Ray..." Suara dari balik pintu memanggil. Baru juga di omongin. Mas Ray beranjak untuk membuka pintu kamar. Pengen rasanya aku tahan tangan nya untuk tidak membuka pintu.


"Ada apa Yol?" Tanya mas Ray.


"Kak, ajarin Yola dong. Besok kan Yola mulai kursus, Yola takut. Yola mau belajar dulu sama kakak biar besok ga kaget" Ucapnya manja. Dasar bocah! Eh bukan bocah deng, dia kan udah 18 tahun.


Mas Ray menoleh ke arah ku. Ku palingkan wajahku merapikan sajadah dan mukenah ku.


"Ya udah, tunggu di bawah ya" Ucap mas Ray.

__ADS_1


__ADS_2