Jodoh Pilihan Allah

Jodoh Pilihan Allah
Berbuka Puasa


__ADS_3

Shafa kembali melakukan aksi mogok bicara setelah hampir seharian tadi ia berdamai dengan Rayyan. Dan Rayyan saat ini terus saja merutuki kebodohannya karena jawaban konyolnya tadi. Maksud hati ingi agar istrinya tidak marah, ia justru memicu kemarahan istrinya lagi.


"Apakah Bu Sonya langsing?" Tanya Shafa tadi.


Setelaah berfikir cukup lama dengan mempertimbangkan segala konsekuensi dari tiap jawaban yang akan ia keluarkan akhirnya Rayyan menjawab,


"Iya. Tapi, walaupun Shafa sudah tidak langsing lagi. Shafa tetap yang terbaik di mata Mas." Jawabnya mantap, yakin bahwa istrinya tidak akan marah. Tapi, yang namanya BUMIL sensitif sejenis Shafa ini, tentu akan teramat sangat tersinggung saat Rayyan mengatakan ia tidak langsing lagi. Meski di belakang kalimat itu, masih ada kalimat lain yang menjadi pokok dari ucapan Rayyan, yaitu Shafa tetap yang terbaik. Tetap saja ia tidak terima.


"Jadi menurut Mas dia langsing dan aku tidak langsing lagi iya?" Balasnya ketus sambil melotot ke arah Rayyan membuat Rayyan gelagapan.


"Bu..bukan begitu Sayang. Kamu langsing kok. Eh!" Merasa salah bicara ia segera menutup mulutnya membuat Shafa semakin kesal. Shafa menghentak hentakkan kakinya sambil berjalan menuju kamarnya. Ia tidak menghiraukan apalagi menjawab panggilan Rayyan.


Saat makan malam tadi pun Shafa memilih untuk cepat-cepat menghabiskan makanannya dan segera masuk ke dalam kamarnya.


Di dalam kamar Shafa menggerutu seorang diri.


Nak, lihat ayah mu! Berani-beraninya dia bilang Mommy tidak langsing lagi. Apa bagusnya sih tubuh rata seperti tripleks itu. Sama sekali tidak menarik. Mommy akan tunjukan bahwa yang seksi itu lebih menggemaskan dari pada yang langsing.


Shafa terus saja bergumam. Ia lupa bahwa sebelum hamil, dirinya merupakan wanita yang sangat menomorsatukan penampilan dan bentuk tubuh. Ia rela diet ketat saat jarum timbangannya sedikit bergeser ke sebelah kanan. Bahkan, di rumah Daddy nya ia menyiapkan berbagai macam alat olah raga untuk menjaga bentuk tubuhnya.


Shafa duduk di depan meja rias mengamati tampilan wajahnya di depan cermin. Ia menggembungkan dan meniruskan pipinya, meneliti dengan seksama apakah terjadi penambahan daging di area sekitar wajahnya. Menurutnya semua masih terlihat cantik. Ia memakai maskara untuk mempertegas bulu matanya yang sudaah lentik dan lebat. Kemudian sedikit merapikan bentuk alisnya yang memang sudah tercetak indah. Sampai tahap ini saja wajahnya sudah benar benar terlihat cantik. Hidung mancungnya nampak mengkilat di bagian tengah lantaran wajahnya yang licin dan mulus. Tambahkan sedikit sugar lips di baagian dalam bibir. Perfecto!


Rayyan baru saja masuk kamar setelah kedatangan tamu bapak dekan di rumahnya. Ia melihat Shafa sedang asyik menata rambutnya di depan cermin. Rayyan menncoba mendekat. Ia memeluk tubuh Shafa dari belakang sambil menyandarkan kepalanya di bahu Shafa membuat Shafa menghentikan aktifitas nya.


"Sayang... Jangan marah lagi. Mas minta maaf kalau kata-kata mas salah" Ujar Rayyan dengan nada sedih.


"Nggak ada yang salah kok Mas, emang bener kan bu Sonya itu langsing dan aku memang nggak langsing lagi."Jawab Shafa cuek.


"Tapi kan kamu yang paling cantik, yang terbaik. Kamu nggak langsing kan juga karena ada anak aku disini." Ujarnya sambil mengusap perut istrinya.


"Apapun alasannya intinyaa kan aku nggak langsing lagi, ntar lagi juga akan gendut dan nggak menarik lagi kan?" Balas Shafa ketus.


Ya, Allah tolong aku!


"Enggak sayang enggak! Kamu tetap menarik kok, aku tetap cinta..cintaaaaaaaaaa banget sama kamu." Ujar Rayyan yang sudah kehabisan kata-kata untuk membujuk istrinya.


"Helleh, Preeet!!! Awas ah aku mau ganti baju, Mau bobo cantik dulu" Ujar Shafa sinis. Rayyan terpaksa membiarkan istrinya masuk ke dalam ruang ganti. Hatinya sudah was-was. Ia berharap Shafa memakai dress tidur panjang seperti yang ia pakai saat pertama kali pulang. Rayyan tidak akan kuat jika Shafa harus berpakaian seksi seperti kemarin malam.


Dan dugaan Ray benar, Shafa keluar dengan pakaian yang jauh lebih seksi dari yaang kemarin ia kenakan. Dress tidur berwarna merah dengan potongan leher yang sangat rendah sehingga menampilkan setengah dari dadanya yang menonjol keluar. Ditambah lagi dengan panjang dress yang sangat minim berhasil membuat tubuh Rayyan bereaksi. Suhu tubuhnya pun semakin meningkat, bukan hanya deman, tapi karena sedang menahan sesuatu yang sudah ingin ia lepaskan.


Shafa ingin tertawa geli melihat wajah Rayyan yang nampak frustasi. Ia menyandarkan tubuhnya di ranjang sambil menonton TV.


"Sayang.." Panggil Rayyan dengan suaraa memelas.


Shafa tidak membalas ia malah asyik nonton film layar lebar yang tayang di salah satu stasiun TV.


Nak, ayolah bantu ayah! Kenapa Mommy mu jadi cuek lagi. Ayah bisa mati kalau seperti ini!


Rayyan mencoba mengingat sesuatu.


Dia jadi lunak tadi pagi setelah tahu aku sakit. Kalau sekarang aku pura-pura sakit lagi apakah dia akan luluh. Ah, tapikan tubuhku memang masih hangat.

__ADS_1


Bismillahirrohmanirrohim. Rayyan mencoba peruntungannya yang terakhir.


Ekor mata Shafa bergerak mengikuti pergerakan lelaki di ujung sana. Rayyan baru saja keluar dari ruang ganti dengan membawa sebuah jaket. Ia sengaja memakai jaket itu d luar agar Shafa melihatnya. Ia kemudian memakai masker. Suasana di luar sana masih hujan deras dengan kilat yang beberapa kali terlihat dari balik pintu kaca di balkon kamarnya.


"Shafa lihat kunci mobil Mas?" Tanyanya pada istrinya yang sedang asyik menonton TV.


Kunci mobil? Ayahmu mau kemana nak hujan deras begini?.


Shafa menggeleng ia memang tidak melihat kunci mobil Rayyan. Hatinya mulai di selimuti rasa penasaran. Mau bertanya gengsi, nggak bertanya penasaran.


Issh, Mas Ray mau kemana sih malem-malem gini. Jangan-jangan ketemu sama bu Sonya?


"Ya sudah, Mas pinjam mobil Shafa ya?" Izinnya pada istrinya yang masih bergelut dengan perasaan nya sendiri.


Baru saja Rayyan membuka laci hendak mengambil kunci. Shafa sudah buka suara.


"Mau kemana?" Dua kata yang cukup mewakili rasa penasaran nya.


"Mau ke rumah sakit!" Jawab Ray.


"Kenapa?" Tanyanya lagi.


"Sakit!" Jawab Ray singkat. Saat Ray hendak melangkah menuju pintu Shafa menghentikan nya.


"Eh, jangan! Di luar hujan!" Cegahnya. Ia segera turun dari tempat tidur.


"Tapi mas sakit, harus berobat!" Ujar Rayyan yang merasakan hawa kemenangan.


Ray menyunggingkan senyum saat Shafa melingkarkan tangannya di pinggangnya.


"Jangan pergi" cicit nya.


"Mas mau pergi ke rumah sakit sayang, bukan mau pergi selamanya." Ujar Rayyan.


DUUAARR...!!!


Suara petir di sertai kilat membuat Shafa semakin mengeratkan pelukan nya. Ia tidak ingin suaminya pergi dan mengalami hal buruk seperti di sinetron - sinetron.


"Cuma sebentar kok!" Bujuk Rayyan, yang hatinya serasa jungkir balik karena kesenangan.


"ENGGAK!!!" Teriaknya sambil kembali membenamkan wajahnya di dada Rayyan. Shafa sedikit terisak membuat Rayyan mulai khawatir.


"Ya udah iya Mas nggak pergi, tapi Shafa harus obatin Mas." Ujarnya sambil menangkup wajah istrinya. Rayyan mengusap lembut kedua matan Shafa yang masih berkaca-kaca.


Dengan cepat Shafa mengangguk. Ia menarik lengan Rayyan untuk duduk di pinggiran tempat tidur. Shafa melepas masker yang Rayyan gunakan, kemudian menarik res jaket Rayyan kebawah dan melepaskannya. Shafa kemudian membaringkan tubuh Rayyan di tempat tidur. Ia juga mengecek suhu tubuhnya dengan menempelkan punggung tanganya ke dahi, pipi dan leher Rayyan. Suhunya memang hangat tapi tidak sepanas pagi tadi.


"Aku ambilin Paracetamol ya?" Ujar Shafa yang hendak beranjak namun dengan sigap tangan nya di tahan oleh Rayyan.


"Tidak perlu, Obatnya hanya kamu sayang" Ujar Ray, meletakkan tangan Shafa di pipinya.


"Tapi badanmu hangat Mas."

__ADS_1


"Bantu aku mendinginkan nya" Jawab Rayyan.


"Aku ambilin kompres ya?" Tawar Shafa. Kini Rayyan yang menggeleng.


"Terus gimana caranya? Minum obat nggak mau, kompres nggak mau, terus maunya apa?" Tanya Shafa yang mulai jengah dengan suami tercintanya.


"Maunya ini" Rayyan menarik tubuh Shafa sehingga condong ke arahnya dan mencium bibirnya.


CUP!


"Mas Modus!!!" Teriaknya sambil memukul bahu Rayyan.


"Please...!!! Mas tidak kuat Shafa! Mas nggak kuat kalau Shafa mengacuhkan Mas." Ujar Rayyan dengan tatapan memohon.


"Tapi nggak pake bohong pura-pura sakit juga Mas!" Protes Shafa.


"Mas nggak pura-pura Shafa! Mas beneran sakit. Kalau Shafa nggak percaya Mas ke rumah sakit sekarang!" Ujarnya sambil berusaha bangkit, namun dengan cepat Shafa menahannya. Kini ia sendiri yang mencondongkaan tubuhnya mencium bibir Rayyan.


"Jangan pergi!"


Rayyan tersenyum, Menarik tubuh Shafa dalam dekapannya.


"I Love You Mommy" Bisiknya di telinga Shafa.


"I Love You Too Ayah" Balasnya.


"Jadi?" Tanya Rayyan?


"Hah? Apa?" Jawab Shafa yang belum paham maksud Rayyan.


"Apakah Mas sudah boleh berbuka puasa?" Tanyanya membuat wajah cantik Shafa mendadak merona.


"Please Shafa, Mas sudah lebih sebulan berpuasa. Sekarang kamu menggoda Mas dengan pakaian seperti ini" Ujar Ray dengan ekspresi melas.


Shafa hanya tersenyum, kemudian mengangguk.


Yes! Alhamdulillahirobbil 'alamin!!!


Dengan segera Rayyan menggeser tubuhnya dan menempatkan istrinya pada posisi yang nyaman. Di kecupnya kening Shafa kemudian pipinya, hidungnya dan terakhir bibirnya. Ia mencium bibir Shafa dengan lembut hingga ciuman itu berubah menjadi ciuman panas dan menghanyutkan. Tangannya pun mulai bekerja menjelajah tubuh istrinya seiring dengan hasrat yang kian membuncah. Keduanya hanyut dalam kerinduan yang akan di tuntaskan malam ini. Setelah sekian lama terpisah dan berpuasa. Tiba saatnya bagi mereka untuk berbuka dan melepaskan gairah yang terpendam.


"Kamu cantik sayang"


"Kamu seksi"


"Kamu yang terbaik"


Pujian-pujian yang di lontarkan Rayyan di tengah tengah cumbuannya. Tubuhnya tidak mampu lagi menahan gairah yang meminta untuk segera di tuntaskan.


Tidak butuh waktu lama untuk melepaskan pakaian yang melekat di tubuh mereka masing-masing. Rayyan begitu terpana melihat tubuh istrinya yang semakin berisi dan begitu menggoda. Ia kembali mencumbunya hingga desahan-desahan itu lolos dari bibir istrinya.


Keduanya melewati malam yang panjang dengan Rasa bahagia yang menggunung di hati mereka. Akhirnya hari kemenangan Rayyan telah tiba.

__ADS_1


__ADS_2