
Setelah kejadian hari itu, Rayyan tidak pernah lagi menyinggung soal tante Lilis dan Yola. Dia hanya tidak ingin istrinya merasa tertekan dan kembali mengingat masa-masa menyakitkan itu. Kenangan yang harusnya tidak pernah ada dalam cerita rumah tangga mereka kalau bukan ketidaktahuannya Rayyan akan tipu muslihat dan niat busuk tantenya. Sekalipun demikian, Rayyan sendiri sudah memaafkan tante Lilis dan Yola yang begitu menyesali perbuatannya.
Tak terasa sudah satu minggu baby Am lahir di dunia dan hari ini tepat hari ke 7 dimana akan di adakan syukuran aqiqah bayi bernama lengkap AMR SYA'BAN AR-RAYYAN. Rayyan mengundang kerabat, sahabat dan juga tetangga untuk berbuka puasa di rumahnya.
Sore itu Rayyan bersama beberapa tetangga tengah sibuk mempersiapkan perlengkapan untuk acara buka puasa bersama nanti. Di kompleks mereka, Rayyan terkenal ramah dan humble sehingga para tetangga tak sungkan untuk membantu. Baahkan papi Aira yang non muslim pun turut serta bersama mereka.
Jika di luar para bapak tengah sibuk menyiapkan kursi dan lain-lain. Di dalam rumah para ibu dan beberapa teman Shafa tengah sibuk membantu menyiapkan menu buka puasa ada juga yang tengah ngobrol bersama Shafa di ruang tengah.
"Kak Shafa, ini dedek bayinya namanya siapa?" Tanya Bilqis. Cucu pak Kyai yang saat itu selalu menemani Shafa di pesantren. Pak kyai, Umi dan juga Bilqis tak luput dari undangan Rayyan di hari bahagia mereka kali ini.
"Namanya Amr Sya'ban Ar-Rayyan, Qis" Ujar Shafa sambil menimang-nimang anaknya.
"Nama yang bagus nak, itu salah satu nama sahabat Rasul yang di jamin masuk surga" Ujar Umi sambil mengusap kepala baby Am.
"Benar Umi, ayahnya sejak masih di Mesir sudah menyukai nama tersebut" Balas Shafa.
Sementara itu, di luar pagar rumah Shafa tiga orang wanita cantik dengan salah satu di antara mereka mengenakan hijab berwarna biru langit sedang mengeluarkan beberapa kotak kado dari dalam bagasi mobil.
"Ini gede banget Mel, jadi susah kan bawanya" Gerutu Vira yang sedang memondong boneka dengan ukuran yang cukup besar, bahkan lebih besar dari badannya sendiri.
"Udah bawa aja, aku sama nisa juga bawa nih" Balasnya sambil menunjukan beberapa paper bag berisi beraneka macam sepatu, baju, kaos, kaki,topi dan perlengkapan bayi lainnya.
"Lagian lu aneh banget. Masa cowok Di kasi boneka" Seru amel kesal.
"Hei..itu boneka beruang ya, bukan barbie jadi ga masalah" Balasnya sambil berjalan mendahului Vira dan Nisa. Mereka memasuki halaman rumah Shafa yang sudah terdapat tenda di dalamnya. Beberapa tetangga dan pekerja Rayyan nampak tengah sibuk mengatur meja, kursi dan lain-lain. Rayyan sendiri sebagai sang empunya rumah terlihat sedang ngobrol dengan beberapa orang. Yang mereka kenali hanya daddy Shafa.
"Assalamualaikum" Ucap mereka bersamaan saat memasuki rumah tersebut.
"Waalaikum salam" Mommy menyambut kedatangan mereka bertiga.
Nisa yang berada di antara mereka terlihat menunduk, jantungnya berdegup kencang. Ia takut mommy Shafa akan marah kepadanya.
"Ayo silahkan masuk, Shafa ada di ruang tengah" Ujar mommy.
"Nisa, Kamu sudah sehat sayang?" Tanya mommy sambil mengusap bahunya. Di luar dugaan mommy ternyata bersikap sangat lembut pada Nisa.
"A...Alhamdulillah tante" Jawabnya terbata.
"Nggak usah sungkan. Kami semua sudah melupakan semuanya. Sana gih kalian temui Shafa, pasti dia senang sekali" Mereka bertiga pun segera melesat menuju ruang tengah. Nampak Shafaa yang sudah cantik dengan pakaian berwarna putihnya tengah duduk di atas karpet tebal bersama beberapa orang yang tak lain adalah Bilqis, dan Umi.
"Shafaaaa..."
"Hei....Kalian, sini...sini" Shafa nampak kegirangan melihat kedatangan sahabatnya tersebut.
"Selamat ya mak, udah jadi mamak-mamak lu sekarang" Ujar Amel sambil memeluk dan mencium Shafa. Begitu pun dengan Vira dan Nisa.
"Selamat Fa" Ujar Nisa. Ada buliran bening yang lolos dari sudut matanya saat ia memeluk Shafa.
"Makasih Nisa. Jangan nangis dong. Kan jadinya jelek" Balas Shafa sambil mengusap mata Nisa.
"Shafa, Umi ke sana dulu ya, mau gabung sama ibu dan mommy mu" Ujar Umi yang di angguki oleh Shafa.
"Waw... Anak lo ganteng banget Fa" Ucap Amel kagum saat melihat bayi mungil itu tengah berkecap-kecap di atas kasurnya.
__ADS_1
"Iya dong, siapa dulu mommy nya" Jawab Shafa.
"Nggak usah ke pedean, ini bocah lebih mirip bapak nya dari pada emaknya" Balas Amel yang tengah memperhatikan baby Am dengan seksama.
"Benar juga Mel, ini mirip pak Rayyan banget" Sahut Vira.
"Sini Fa, gue pengen gendong. Angkatin dong" Ujar Vira yang sudah memasang posisi siap menimang.
"Ini, hati-hati ya" Shafa meletakkan bayinya di dalam gendongan Vira.
"Masya Allah... Lucunya. Ini namanya siapa Fa?" Tanya Nisa sambil mengusap pipi baby Am yang berada dalam dekapan Vira.
"Namanya Amr Sya'ban Ar-Rayyan, panggilnya baby Am" Balas Shafa.
"Busyet, namanya soleh banget cin" Ujar Amel.
"Namanya bagus Fa, Amr itu artinya pemimpin dan salah satu sahabat nabi yang mendapat julukan Sang Penakluk Mesir" Terang Nisa. Ia tentu lebih tahu karena ia juga merupakan alumni Kairo juga. Tak seperti dua sahabatnya yang tahunya hanya cowok ganteng dari negeri ginseng.
"Oh ya Fa, gimana rasanya ngelahirin? Katanya sakit banget ya? Lo dijahit ga?" Tanya Amel dengan tingkat kekepoan nya yang teramat sangat besar.
"Nanti lo juga bakal ngerasain kalau melahirkan Mel. Rasanya nggak bisa di ceritain pokoknya" Balas Shafa. Ia tak mau menceritakan apa yang ia rasakan pada sahabatnya itu. Bisa-bisa mereka trauma sendiri.
"Eh Fa..Fa... Bodyguard ganteng gue disini juga? Duh makin bening aja babang Jeffri kuh" Amel menepuk-tepuk lengan Shafa saat melihat Jeffri turun dari tangga rumahnya bersama dengan Zafran dan Hafiz.
"Jaga mata woi, Kak Jeff, udah menikah jangan lirik-lirik" Shafa menghalangi pandangan Amel dengan menggunakan tangannya. Tak ada yang berubah dari reaksi Amel saat melihat Jeffri baik dulu maupun sekarang.
"WHAT??" Teriak Vira dan Amel bersamaan. Mereka menatap Jeffri dengan tatapan miris. Padahal sejak jaman kuliah dulu mereka sudah sangat mengagumi sosok bodyguard Shafa yang sering muncul tiba-tiba itu.
"Kalian disini juga?" Tanya Jeffri. Yang hanya di angguki oleh Amel dan Vira. Mereka masih tak melepaskan pandangannya dari sosok tegap dengan mata setajam silet tersebut.
"Kakak? Huh, sekarang aja lu ngaku kakak, dulu yang sering manggil Jeffri sang penjaga neraka siapa ya?" Cibir Amel. Ia tahu betul betapa kesalnya Shafa saat Jeffri mulai mengacaukan acara happy-happy nya.
"Itukan dulu waktu jaman jahiliah. Jadi, kalian perlu tahu bahwa kak Jeff itu sebenarnya adalah kakak ku. Dia anak kandung daddy"
"WHAT?" Mereka membelalak sempurna mendengar ucapan Shafa.
"Panjang ceritanya dan gue males mau nyeritain ke lo pade" Ujar Shafa yang sudah tak kaget dengan reaksi sahabatnya itu.
Acara buka puasa bersama yang di rangkai kan dengan aqiqah hari itu berjalan dengan lancar. Begitu banyak doa dan ucapan selamat tak henti-hentinya mengalir dari para kerabat dan undangan yang datang.
"Barakallah nak Shafa dan nak Rayyan, semoga keluarga kalian senantiasa di berkati Allah" Haji Usman menepuk bahu Rayyan yang sedang menggendong bayinya.
"Terimakasih pak Haji"
"Zafran, sini nak salim dulu sama pak haji dan bu haji" Panggil Shafa pada Zafran yang tengah asik bermain bersama Hafiz dan Aira di sudut ruang tamu.
"Zafran jangan nakal ya, jadi anak Sholeh yang sayang sama ayah dan mommy" Ujar bu Haji pada bocah kecil itu. Zafran hanya mengangguk angguk.
Satu per satu, undangan mulai undur diri untuk pulang ke rumahnya masing-masing, tak terkecuali pasangan fenomenal Briyan dan Sonya yang malam itu juga hadir di acara aqiqah baby Am.
"Shafa kami permisi dulu ya, Ini Zafran atau baby Am yang boleh di bawa?" Goda Sonya.
"Jangan dong, mereka berdua harta kami yang paling berharga" Ujar Rayyan.
__ADS_1
"Habis gimana dong, sampai sekarang belum ada tanda-tanda" Balas Sonya dengan ekspresi sedih.
"Sabar bu Sonya, kalau sudah waktunya insha Allah akan di kasih kok" Ujar Shafa.
"Benar Cinta, mungkin usaha kita belum maksimal" Sahut Briyan sambil merangkul bahu istrinya.
"Bu Sonya kebanyakan pikiran mungkin?"
"Bener Fa, aku hampir gila gara-gara mantan-mantannya dia" Ujar Sonya sambil melirik Briyan. Benar saja, hampir setiap hari ada saja ulah para mantan Briyan yang selalu membuat Sonya naik pitam, belum lagi pertanyaan dan tuntutan anak dari orang tua dan mertuanya membuat Sonya semakin pusing di buatnya.
"Nikmati saja bu Sonya, anggap itu sebagai ujian yang akan menguatkan cinta kalian. Karena sebuah hubungan tanpa ujian itu akan terasa hambar" Balas Rayyan.
Pada dasarnya, tak ada rumah tangga yang berjalan begitu saja tanpa adanya kerikil kerikil penghalang. Entah itu orang ketiga, keluarga atau yang lainnya.
Setelah selai mengganti pakaiannya, Shafa merebahkan dirinya di atas kasur empuk miliknya. Baby Am sendiri sudah tertidur pulas di sebelahnya.
"Sayang"
"Hmm"
"Apa Shafa lelah? Bagaimana kalau mas carikan suster buat bantu jaga Am" Rayyan mengelus kepala istrinya yang tengah berbaring. Baby Am yang tidur di tengah-tengah sama sekali tak terganggu dengan aktifitas orang tuanya.
"Ga perlu mas, aku mau belajar ngurus Am sendiri. Toh ada ibu. Aku udah bilang sama ibu buat nemenin aku sampai aku bisa mandiin dan ngurusin Am sendiri" Balas Shafa.
"Gimana dengan Zafran? Shafa kan harua ngurus dia juga, mas hanya tidak ingin Shafa lelah"
"Nggak papa mas. Aku kan harus latihan dari sekarang. Ini baru dua loh mas, bukannya mas Rayyan pengennya lima?" Balas Shafa yang langsung di sambut senyuman oleh suaminya.
"Mau di kasi jeda berapa tahun emang?" Tanya Shafa sambil memandang Rayyan.
"Sedikasihnya sayang dan sesiap nya Shafa. Karena Shafa yang paling banyak peran disini, mulai dari ngidam, mengandung, sampai melahirkan semua Shafa yang merasakan"
"Mas, aku kok jadi ingat masa lalu kita yah, saat kita masih saling acuh. Lucu rasanya kalau ingat tiap malam harus nyusun bantal dan guling sebagai pembatas" Ujar Shafa sambil terkekeh mengenang masa awal pernikahan mereka.
"Itu bagian dari proses adaptasi sayang" Balas Rayyan. Tangannya masih mengusap usap rambut halus istrinya.
"Tapi aku heran deh mas, dulu mas kok nggak ada nafsu-nafsunya sih sama aku? Beda banget sama sekarang"
"Siapa bilang?"
"Aku! Emang bener kan?"
"Salah!" Sahut Rayyan cepat.
"Jadi?"
"Jadi, tiap malam mas harus istighfar beharap Allah membalikkan hati Shafa"
______________
Aqiqah Baby Am😍
__ADS_1