Jodoh Pilihan Allah

Jodoh Pilihan Allah
Hari Kemenangan


__ADS_3

Shafa berjalan dengan menggendong Am yang sudah tampan dengan baju berwarna putih juga peci kecil berwarna putih. Ia sendiri menggunakan pakaian dengan warna senada dengan yang di pakai suami dan anak-anaknya, begitu juga ibu, yola dan tante Lilis. Sekalipun ia belum suci, tapi ia tak mau melewatkan moments idul fitri pertamanya bersama keluarga kecilnya. Mereka semua melangkahkan kakinya ke masjid tak jauh dari kediaman Rayyan dengan berjalan kaki, sekaligus bersilaturahmi dengan para tetangga yang lainnya.


Rayyan berjalan lebih dulu karena mendapat tugas menjadi pelaksana shalat idul fitri kali itu di susul ayah dan Zafran yang berjalan berdampingan. Masjid besar di kompleks Rayyan nampak sudah di padati umat muslim yang hendak melaksanakan sholat idul fitri. Mereka memakai pakaian terbaiknya, nampak dari tampilannya yang masih baru bahkan beberapa merk yang melekat di sandal mereka ada yang belum di buka.


Shafa duduk di bagian belakang teras masjid karena bagian depan sudah terisi penuh. Iya duduk sambil memangku Am nampak anteng mendengarkan gema takbir yang bersahut-sahutan. Terdengar suara Rayyan yang juga tengah mengumandangkan takbir melalui microfon masjid.


Sepanjang pelaksanaan sholat ied, Am sama sekali tak rewel, ia cukup bisa di ajak kompromi hanya dengan sebotol kecil susu, semuanya aman terkendali. Kurang lebih 10 menit sholat idul fitri telah selesai di laksanakan, dan kini saatnya mendengarkan khutbah idul fitri yang ternyata di sampaikan oleh Rayyan. Shafa sempat terkejut, karena Rayyan tak pernahbmengatakan bahwa dirinya yang akan khutbah kali ini. Shafa memasang telinganya baik-baik mendengarkan khutbah dang suami yang sebenarnya hampir setiap saat ia dengar, tapi tentu beda rasaanya bila mendengarkan di depan umum seperti ini.


Semenit, lima menit, tujuh menit para jamaah yang ada di tempat itu menunduk haru dalam tangis mendengar nasihat yang di sampaikan oleh Rayyan, tak terkecuali Shafa. Khutbah berjudul Muhassabah atau introspeksi diri sungguh berhasik menampar para jamaah yang hadir, peringatan akan kematian dan dosa yang telah lalu di sampaikan dengan begitu apik dan menyentuh kalbu. Rayyan menyampaikan dengan bahasa yang lugas dan jelas hingga mudah di cerna oleh para jamaah yang hadir. Ia juga terdengar terisak menambah suasana haru pagi itu.


Setelah selesai khutbah jamaah yang hadir menyematkan diri untuk bersalaman saling bermaaf-maafan satu sama lain.


Ibu dan ayah sudah duduk di sofa ruang tengah, menanti Rayyan dan Shafa sebagai anak untuk bersungkeman.


Rayyan terlebih dahulu berjalan mendekati ibu. Diraih nya tangan ibu dan menciumnya cukup lama.


"Ibu, Maafkan semua salah dan dosa Rayyan bu. Maafkan Rayyan yang belum bisa menjadi anak yang berbakti kepada ibu" Ucapnya sambil menenggelamkan wajahnyaa di pangkuan ibunya.


"Ibu juga minta maaf ya nak, kalau ibu ada salah sama Rayyan. Semoga Rayyan selalu di berkahi Allah, menjadi suami dan ayah yang baik buat keluarga Rayyan" Ibu mengusap air mata yang jatuh di wajah putra semata wayang nya itu. Tatapan matanya yang begitu teduh membuat ibu terharu sekaligus bangga memiliki Rayyan dalam hidupnya.


"Ayah, maafkan Rayyan atas segala salah dan khilaf Rayyan ayah" Ia melakukan hal yang sama pada sang ayah seperti yang ia lakukan pada ibu.


"Iya nak. Maafkan ayah juga. Jadilah panutan yang baik untuk anak-anak mu" Ucap ayah sambil memeluk dan menepuk punggung Rayyan.


Tak lupa Rayyan juga meminta maaf kepada tante Lilis dan juga Yola. Walaupun mereka yang lebih banyak salah di waktu lalu tetap saja tak ada salahnya meminta maaf terlebih dahulu di hari yang fitri ini.


"Ibu, Minal aidin walfaidzin. Maafkan salah dan khilaf Shafa ya bu" Shafa mencium tangan ibu kemudian memeluknya, mencium kedua pipinya bergantian.


"Sama-sama, ibu juga minta maaf kalau ada salah sama Shafa. Terima kasih sudah hadir di keluarga ibu, menjadi pelengakap kebahagiaan kami" Ucap ibu.


"Ayah, maaf lahir bathin ayah. Maafkan shafa yang selalu buat ayah dan ibu khawatir"


"Ayah jugaa minta maaf. Semoga Shafa dan Rayyan menjadi keluarga yang sakinah, mawaddah, warohmah. Terima kasih sudah memberikan ayah cucu yang ganteng-ganteng" Ayah mengusap lembut kepala Shafa.


"Bang, ayo salim sama uti dan kakung"


"Sini cucu kakung" Ayah nampak merogoh kantongnya mengeluarkan dua buah amplop yang ia berikan kepada Zafran dan Yola.


"Apa ini kakung?" Tanyanya sambil membolak balik amplop putih tersebut.


"Itu hadiah Zafran, isinya uang buat di tabung" Sahut Yola.


"Makasih kakung nanti aku masukin dalam celengan" Ujarnya dengan girang.

__ADS_1


"Buat Am mana kakung?" Shafa menirukan suara anak kecil sambil menggendong Am.


"Oh iya, kakung sampe lupa. Sini..sini Am nya digendong kakung dulu" Ayah mengambil alih bayi mungil tersebut.


"Kak Shafa udah maaf-maafan sama kak Ray belum?" Pertanyaan Yola menyadarkan Shafa bahwa dirinya belum meminta maaf pada sang suami yang sudah masuk ke dalam kamar. Mungkin hendak berganti pakaian. Ia segera menyusul sambil berkali-kali menepuk jidatnya. Gara-gata THR sampai lupa pada suami.


"Mas" Panggilnya sambil membuka pintu perlahan.


Rayyan yang sedang membuka tirai jendela berbalik mendapati istrinya yang sudah berdiri di belakangnya.


"Mas" Ia meraih tangan kanan Rayyan dengan kedua taangan nya kemudian menciumnya.


"Maaf lahir batin mas, Maafin semua salah dan dosaku. Aku belum bisa jadi istri yang baik buat mas" Ucapnya masih mencium tangan suaminya.


Tangan kiri Rayyan mengusap lembut kepala Shafa. Ia mencium lama keningnya menyalurkan rasa bahagia yang membuncah di hatinya. Betapa baiknya Allah telah menghadirkan Shafa dan anak-ankanya dalam hidupnya.


"Maafkan mas juga ya, Mas juga banyak salah sama Shafa. Terimakasih shafa sudah mau bersabar mendampingi mas selama ini. Terimakasih Shafa sudah mau bersusah payah mengandung dan melahirkan anak mas" Balasnya sambil menatap mata istrinya.


"Mas.."


Shafa memeluk Rayyan dengan penuh cinta. Tak di sangka cinta tumbuh di hati mereka begitu cepat. Dalam kurun waktu hampir satu tahun ini, keduanya benar-benar luluh satu sama lain. Rayyan yang begitu kalem mampu membuat Shafa yang liar menjadi wanita yang anggun dan sholehah, meski tak se suci Maryam, tak se pandai Aisyah dan tak se teguh Khadijah nyatanya Shafa Azura adalah wanita terbaiknya yang penuh dengan kejutan. Wanita terbaiknya yang memberikan warna tersendiri dalam hidupnya.


Cup!


Cup! Mata mereka saling memandang menyampaikan pesan bahwa keduanya saling membutuhkan. Mereka tersenyum kembali mempertemukan bibir mereka dalam sebuah ciuman yang cukup lama dan dalam. Rayyan menahan tengkuk Shafa sambil menikmati sensasi lembut dan manisnya bibir istrinya. Satu-satunya bibir yang pernah ia jamah sedalam ini.


Bruk..


"Mommy" Suara itu cukup mengagetkan mereka yang segera melepas tautan pada bibirnya.


"A..abang? Kok masuknya nggak bilang-bilang" Shafa menghampiri putranya berharap Zafran tidak melihat apa yang baru saja ia lakukan bersama Rayyan. Salah sendiri, ia lupa merapatkan pintu sehingga dengan mudah di dorong oleh tangan kecil putranya.


"Aku di kasi ini mommy sama kakung dan nenek Lilis. Aku mau masukan celengan" Ia memamerkan amplop putih yang sering di sebut THR.


"Celengannya di kamar abang. Ini di kantongi dulu ya? Nanti dirumah opa juga pasti di kasi" Ujar Shafa sambil melipat dan memasukan amplop tersebut dalam kaantong baju. Saat hari raya seperti ini anak-anak akan selalu panen THR dari keluarga dan kerabat.


"Kerumah daddy sekarang mas?" Shafa menoleh pada suaminya.


"Iya, orang tua harus selalu di dahulukan sayang, sebelum kita ke tempat lain" Ujarnya. Ia meraih kunci mobil yang tergeletak di atas nakas sebelah ranjang nya.


Perjalanan ke rumah daddy tidak memakan waktu lama, karena jalanan ibu kota yang nampak lenggang saat lebaran. Setelah foto bareng ibu, dan Ayah mereka bertiga segera menuju kediaman orang tua Shafa.


Terlihat mobil Jeffri dan daddy terparkir di halaman, menandakan mereka sudah pulang dari masjid.

__ADS_1


"Assalamualaikum" Shafa langsung saja nyelonong masuk di rumah besar tempat ia tumbuh kembang selama 24 tahun.


"Waalaikumsalam, masuk Fa. Mommy dan daddy di ruang keluarga" Aini menyambut mereka dan langsung mengambil baby Am yang ada dalam gendongan mommy nya. Shafa berjalan terlebih dahulu di ikuti Rayyan yang tengah menuntun Zafran.


"Mommy"


Shafa langsung memeluk mommynya sambil menangis dalam pelukannya.


"Mommy maafin Shafa, Shafa banyak dosa sama mommy" Ucapnya terisak.


"Iya... iya Mommy sudah maafkan Shafa" Balasnya sambil mengelus kepala putri kesayangannya.


"Daddy... Shafa minta Maaf" cicitnya saat memeluk daddy nya.


"Daddy juga minta maaf nak. Daddy sudah mengecewakan Shafa. Daddy sudah membohongi Shafa..."


"Nggak dad... Shafa yang minta maaf. Shafa yang banyak nyusahin daddy dan mommy"


"Daddy dan mommy sudah memaafkan Shafa" Balas Daddy sambil menangkup wajah putri tunggalnya itu. Shafa nya kini sudah banyak berubah, membuatnya lebih tenang.


"Kak Jeff" Tanpa ragu Shafa memeluk pria yang masih menggunakan pakaian koko putih di sebelah daddynya.


"Kak Jeff maafin Shafa ya, Shafa sering banget berulah bikin kak Jeff susah" Ia mencium tangan Jeffri yang ia ketahui sebagai kakak biologisnya beberapa waktu lalu.


"Sama-sama dek, kakak juga minta maaf sering buat Shafa kesal" Balas nya.


Setelah selesai Shafa berhalal bihalal Rayyan pun segera sungkem kepada mertuanya.


"Terimakasih Ray, sudah menerima Shafa. Daddy sangat bahagia" Ujar Daddy sambil memeluk Rayyan.


"Saya yang harusnya berterima kasih dad. Karena tanpa Shafa, hidup Rayyan tidak akan sempurna, karena dia adalah penyempuran agama Rayyan dad, dia adalah separuh nyawa Rayyan" Ucap Rayyan.


Setelah berharu-haru, mereka semua tertawa lepas melihat Hafiz dan Zafran yang sibuk menghitung amplop yang mereka dapat di sudut ruangan. Keduanya terlibat obrolan yang yang hanya mereka yang paham akan maksud dan tujuannya.


"Sudah lengkap semua kan, ayo kita foto bareng" Ujar Mommy. Ia mendatangkan fotografer khusus untuk mengabadikan momen kebersamaan hari itu.


Mommy dan daddy mengambil posisi duduk di kursi bersama Daddy dengan menggendong Am, di belakang mereka Shafa dan Aini berdiri berdampingan sedangkan Rayyan dan Jeffri di samping istrinya di sisi pinggir. Zafran berdiri di depan Rayyan dan Hafiz di depan Jeffri. Dalam hitungan ke tiga mereka tersenyum bahagia menatap kamera.



Selamat Lebaran.... THRnya via online aja yaaa...


__ADS_1


Mas Ray mau sungkem ama mertua dulu😍


__ADS_2