Jodoh Pilihan Allah

Jodoh Pilihan Allah
Isi Hati Rayyan


__ADS_3

Rayyan Pont Of View


Menjelang waktu subuh, dua orang insan yang penuh cinta masih meringkuk di bawah selimut yang sama. Tidak ada jarak di antara keduanya. Kulit mereka saling bertemu menepis hawa dingin di ruangan ber AC tersebut. Keduanya lelap dalam kenyamanan setelah beberapa kali menuntaskan gairah mereka masing-masing. Sebuah malam panjang bagi sepasang suami istri yang baru menyadari arti cinta sesungguhnya.


***


Aku mengerjap kan mata, meraih handphone yang berada di nakas sisi ranjang. Handphone ku di lengkapi aplikasi yang akan berbunyi begitu masuk waktu Sholat. Sehingga aku tak khawatir akan ketinggalan waktu Sholat.


"Sudah subuh rupanya" Aku mengalihkan pandangan pada sosok wanita yang tengah memeluk erat tubuh ku.


Aku tersenyum menatap wajah tenang istri ku yang mungkin sangat kelelahan. Ku usap lembut pucuk kepalanya sembari mendaratkaan sebuah kecupan di keningnya. Shafa masih tak bergerak. Dia begitu cantik bahkan saat tidur seperti ini.


"Sepertinya dia benar-benar kelelahan" Gumam ku, masih terus memperhatikan wajah tenangnya.


Aku mencoba melepaskan pelukan istriku perlahan, agar ia tidak terbangun dan menggantikaannya dengan sebuah guling. Aku kemudian turun dan segera membersihkan diri di kamar mandi. Sampai aku selesai mandi ku lihat dia masih tak bergerak, malah semakin erat memeluk gulingnya.


Aku sudah berganti pakaian dengan memakai sarung dan kemeja koko andalanku, bersiap untuk melaksanakan shalat subuh. Tiba-tiba Aku teringat sesuatu, Ku buka lemari yang berada di kamar tersebut. Semoga Ibu tidak lupa membawakan pesananku. Aku mengambil sebuah kotak bening yang telah di hias dengan pita dan hiasan berwarna gold. Aku meletakan kotak tersebut di atas sofa. Sebelum aku membangunkan bidadariku.


"Sayang... Bangun sayang" Aku menepuk lembut pipinya dan mengecupnya beberapa kali.

__ADS_1


"Emmm" Gumamnya masih dengan mata tertutup. Dia ini memang agak susah bangun pagi. Meski sudah bangun biasanya ia memilih untuk tidur kembali.


Lebih baik aku menarik selimut yang menutupi tubuhnya. Biasanya cara ini sangat ampuh untuk membangunkan nya. Dan dia akan reflek meembuka mata dengan wajah bersemu merah.


"Maaaaas..." Pekiknya, saat selimutnya ku tarik kebawah. Benar kan! Dia bahkan langsung berada pada mode galak yang siap mengomel.


"Ayoo, banguun sayang sudah subuh" Ucapku sambil mempertahankan selimut yang coba ia rebut.


"Mas jangan jail deh, aku malu nih" Ucapnya sambil berusaha menarik kembali selimut untuk menutupi tubuh polosnya.


"Malu sama siapa? Perasan mas udah liat semuanya deh" Godaku membuatnya semakin merona. Aku sangat menyukai ekspresi menggemaskan ini. Sisi lain dari dirinya selalu membuatku ingin selalu menyentuhnya.


"Mas ih, aku mau mandi" Ucapnya masih menundukan wajahnya dengan ekspresi cemberut.


Sambil menunggu dia mandi, ku buka pesan-pesan yang belum sempat terbaca sejak semalam. Banyak ucapan selamat dan doa yang di kirim oleh teman-temanku, baik yang berada di Kairo maupun di Indonesia. Aku membalas salah satu pesan dari sahabat karib ku yang berada di Kairo, namanya Hamzah. Dia merupakan salah satu pengurus yayasan Indonesia yang berada di sana. Hampir semua mahasiswa Indonesia yang kuliah di Kairo mengenal sosok Hamzah ini.


Hamzah : Assalamualaikum Ust. Zidane, Barakallahu lakuma wa baroka alaikuma wa jama'a baina kuma fii khair. Semoga pernikahannya langgeng dan segera di karunia anak-anak yang sholih dan sholehah. Alhamdulillah akhirnya ketemu jodoh nya juga. Aku kira akan susah move on gara-gara di tinggal nikah sama Hana. Salam buat istri semoga Sakinah, Mawaddah, Warohmah. Amin.


Bunyi pesan Hamzah cukup menggelitik. Bagaimana mungkin aku tidak bisa move on dari wanita yang pernah ku taksir sementara istriku memiliki segalanya walaupun aku harus lebih bersabar dalam mengajarkan ilmu Agama padanya. Wanita yang di maksud Hamzah bernama Hana, dia mahasiswa Indonesia yang cukup cerdas dan mandiri. Dia berhasil kuliah di Kairo karena beasiswa yang di terimanya. Selain itu dia merupakan wanita pekerja keras, yang memenuhi kebutuhan hidupnya dengan menjual berbagai macam makanan khas Indonesia yang cukup di gemari oleh mahasiswa dari Indonesia maupun dari luar Indonesia. Masakannya sangat enak, mampu mengobati kerinduanku pada masakan ibu kala itu.

__ADS_1


Kemandirian nya itulah yang sedikit banyak mencuri perhatianku. Ku dengar ia berasal dari keluarga yang cukup manpu, namun penampilan dan pembawaannya sangat sederhana. Aku selalu memesan makanan buatannya pada saat itu, membuat hubungan kami terbilang cukup dekat. Hamzah cukup mengerti kalau aku tertarik dengan Hana, tapi entah mengapa aku belum memiliki kemantapan hati untuk mengutarakannya. Tadinya aku ingin langsung bicara serius dengannya setelah menyelesaikan tugas akhirku, tapi Tuhan berkata lain. Dia terlebih dahulu di pinang oleh orang lain. Sebagai seorang muslim, haram hukumnya meminang di atas pinangan saudaranya. Sehingga ku putuskan untuk melupakannya. Meski sulit, aku selalu berdoa agar di pertemukan dengan Hana lain di Indonesia.


Bukannya di pertemukan oleh sosok lain yang menyerupai Hana, Allah justru memberiku seorang Shafa. Seorang wanita yang kini mengisi relung hatiku yang terdalam. Shafa Azura, istriku yang cantik, unik dan antik. Dia yang selalu memberikan kejutan di luar prediksiku.


Shafa yang terlahir dari keluarga kaya yang ku fikir hanya bisa berfoya-foya, nyatanya memiliki jiwa sosial dan hati yang sangat tulus. Aku tersentak ketika mengetahui dia selalu berdonasi untuk Palestina dalam jumlah yang tidak sedikit. Aku saja yang selalu menjadi tamu atau narasumber dalam diskusi yang membahas tentang konflik di Palestina masih jauh di bandingkan donasi yang di berikan istriku.


Kejutan ke dua adalah, dia yang ku ketahui selalu keluar masuk salon untuk merawat dirinya dengan budget yang tidak sedikit, ternyata memiliki keahlian memasak seperti wanita pada umum nya. Ku pikir tangan indahnya itu hanya bisa memegang kuas make up ternyata juga ahli memegang pisau dapur. Masakan Shafa sangat enak dan cocok di lidahku. Berkatnya, aku yang tadinya tidak menyukai makanan manis, menjadi suka, terutama puding strawberry buatannya.


Kejutan ketiga yang membuatku semakin mencintainya dan tak ingin melepasnya walau sedetik adalah, dia yang selalu berpenampilan terbuka, bergaul dengan lawan jenis tanpa adanya batasan, nyatanya mampu menjaga dirinya dan kehormatannya. Aku yang tadinya ragu, terutama saat ia bertanya apakah aku masih mau menerimanya, seandainya dia sudah tidak suci lagi. Pertnyaan itu membuatku yakin bahwa aku bukanlah orang pertama yang menyentuhnya.


Ku coba untuk melapangkan hatiku menerimanya, berusahaa ikhlas atas apa yang telah Allah berikan kepadaku. Namun lagi-lagi dugaan ku melesat, saat aku mendengar jeritan dan isaknya pada malam di mana aku mengambil kehormatannya, membuatku yakin bahwa akulah orang pertaman yang menyentuhnya. Hal itu di perkuat dengan noda merah yang tertinggal di atas sprei yang habis kami gunakan.


Sejak malam itu rasanya aku tak rela jika harus jauh darinya, apalagi melihatnya bersama dengan pria lain seperti pak Rudi. Jangan bilang kini aku menjadi suami yang possesive, karena aku selalu merasa panas jika ada orang lain yang menatapnya apalagi dekat dengannya. Dan memang seharusnya seperti itu bukan? Aku harus melindungi istriku dari dosa yang mungkin tak di sadarinya.


Kekhawatiranku kini bertambah, setelah melihat sosok yang semalam menyumbangkan lagu pada resepsi kami. Aku melihat perubahan raut wajah Shafa ketika lagu itu di nyanyikan. Pasti ada sesuatu yang pernah terjadi di antara mereka. Dan, ah aku baru ingat pria itu memanggilnya dengan sebutan FARA. Sebuah panggilan yang baru pertama kali ku dengar. Mungkinkah dia orang dari masa lalu istriku?


Entah kejutan apa lagi yang akan aku dapatkaan darinya. Yang pasti dialah wanita terbaik yang Allah kirim untuk melengkapi hidupku. Makmumku, tulang rusuk ku. Semoga dia bisa menjadi ladang pahala untukku.


.

__ADS_1


.


.


__ADS_2