
Semua terdiam saat Shafa mendekati daddy nya. Mereka tidak mengira bahwa wanita hamil itu sejak tadi berada di situ mendengarkan kalimat demi kalimat yang terlontar dari bibir daddy nya.
Shafa menatap daddy nya dengan penuh tanya. Ia yakin ia tidak sedang bermimpi apa lagi salah mendengar. Daddy nya dengan jelas dan gamblang mengatakan bahwa Jeffri Juniawan adalah putranya. Putra kandungnya, yang berarti Shafa memiliki saudara lain, yang berarti Shafa bukanlah anak tunggal di dalam keluarganya. Jeffri Juniawan Eka Putra yang selama ini Shafa kenal dengan nama Jeffri J.E.P ternyata memiliki nama belakang yang sama dengan daddy nya.
Rayyan yang merasa khawatir mendekati istrinya yang kini berdiri tepat di depan daddy nya, laki-laki yang menjadi super hero nya. Daddy hanya bisa menatap Shafa dengan tatapan sendu begitu juga mommy. Entah apa yang harus mereka katakan untuk menjelaskan semuanya pada putri tercintanya itu.
"Sayang, lebih baik duduk dulu" Rayyan merangkul bahu istrinya, tapi shafa sama sekali tak bergeming.
"Katakan Dad! Apa yang barusan Shafa dengar adalah bohong" Ujarnya dengan air mata yang perlahan mulai menetes. Daddy memalingkan wajahnya tak sanggup menatap putri semata wayangnya itu menangis.
"Shafa" Mommy menyentuh bahu Shafa.
"Mom, apa yang sebenarnya terjadi? Daddy bilang kak Jeff adalah anak kandungnya! Itu bohong kan mom?" Ia beralih menatap mommy nya yang semakin terisak. Pada akhirnya, rahasia besar yang selama ini mereka tutupi terkuak juga. Tapi bukan ini yang mereka harapakan, bukan di situasi seperti ini. Mereka memang berencana mengatakannya tapi nanti, setalah Shafa melahirkan. Tapi sepertinya takdir berkata lain. Kebenaran itu terkuak lebih cepat sebelum waktunya.
Mommy menggeleng sambil menutup mulutnya agar tak terdengar tangis pilunya.
"Tidak nak, itu benar. Jeffri adalah kakak kamu....Hiks..hiks" Mommy memeluk Daddy yang berada di dekatnya. Sakit rasanya mengatakan hal itu. Tapi kenyataan tak bisa di pungkiri bahwa Shafa dan Jeffri memiliki darah yang sama yang mengalir dalam tubuhnya.
"Kenapa? Kenapa kalian tega membohongi Shafa. KENAPA?" Teriak Shafa yang sudah tak tahan dengan sesak di dadanya. Bagaimana mungkin selama 25 tahun ini ia hidup dalam kebohongan besar keluarganya. Ia yang di kenal sebagai anak tunggal nyatanya memiliki kakak yang juga berada di sekitarnya. Ia membayangkaan betapi sakitnya Jeffri melihat keluarnya, namun ia hanya bisa memandangnya dari jauh tanpa bisa merengkuhnya.
"Sayang tenang, ingat kandunganmu" Rayyan mengusap usap bahu Shafa menenangkan istrinya yang sedang emosi. Rayyan tahu keadaannya pasti akan seperti ini. Sebuah kebohongan akan selalu menyisakan luka bagi orang yang di bohongi.
__ADS_1
"Apa kamu juga sudah tahu mas?" Shafa berbalik menatap Rayyan dengan tatapan mengintimidasi membuat Rayyan kelabakan. Shafa juga pasti menuntut penjelasan darinya.
"Jawab!!! Apa kamu juga sudah tahu bahwa kak Jeff adalah kakakku?" Bentak Shafa dengan mata memerah. Ia yakin Rayyan pasti mengetahui semuanya, terbukti dari perubahan sikapnya yang biasa saja saat Shafa memeluk Jeffri. Jika tidak, dia pasti akan marah atau menceramahinya dengan dalil-dalil yang kerap ia keluarkan.
"Kita bicara di tempat lain ya" Rayyan berusaha membujuk istrinya tersebut.
"Shafa..." Suara Daddy membuat Shafa kembali berbalik ke arahnya.
"Maafkan daddy nak. Daddy ... "
"Dokter...dokter...!!!" Seorang perawat yang keluar dengan tergopoh gopoh menarik perhatian semua yang berada di tempat itu.
"Siapakan ruangan operasi sekarang!" Titah dokter Marco tegas kepada perawat tersebut.
"Tapi dok kondisinya..."
"Aku bilang SEKARANG!!!" Bentak dokter Marco, membuat perawat tersebut kaget dan langsung bergegas menuju ruang operasi.
"Harsha! Lakukan apa yang harus kau lakukan" Dokter Marco menepuk bahu sahabatnya itu. Daddy mengangguk!
Saat Daddy hendak melangkah mengikuti dokter Marco untuk berganti pakaian operasi Shafa menahan lengan daddynya.
__ADS_1
"Tolong selamatkan kak Jeff Dad" Ucapnya dengan air mata berlinang. Daddy langsung memeluk Shafa dan mencium keningnya beberapa kali sebelum masuk kedalam ruangan di mana Jeffri berada.
Sementara itu Aini yang terlihat lebih tenang menuntun mommy Shafa untuk duduk di kursi yang lebih nyaman. Ia sendiri menangis namun terlihat lebih tegar dari ke dua wanitaa yang ada di dekatnya. Shafa memeluk Rayyan sambil menangis sejadi-jadinya. Rayyan tidak bisa berbuat apa-apa selain membisikan kalimat-kalimat yang menenangkan sambil mengusap punggung istrinya.
Tak berapa lama pintu ruangan tempat Jeffri berada terbuka. Fanny segera berdiri, ia ingin melihat dengan mata kepalanyaa sendiri kondisi Jeffri saat itu. 4 orang polisi berseragam serba hitam berbadan kekar dengan senjata lengkap keluar di ikuti oleh 2 orang perawat dan dua dokter. Perawat tersebut mendorong brangkar yang di atasnya tergeletak seorang pria tampan dengan beberapa kabel yang melekat pada tubuhnya. Di dada sebelah kirinya nampak sebuah perban putih yangbsudah berubah warna menjadi merah.
Fanny segera menghampiri perawat tersebut. Menatap wajah pucat yang selama ini melindungi keluarganya meski keberadaannya sendiri sering terabaikan.
"Jeffri bertahanlah nak!" Ucapnya dengan isak tangis yang begitu memilukan. Shafa sendiri hanya bisa memandang wajah pucat tersebut dari tempatnya saat ini berdiri. Wajah yang ddulu sangat mengesalkan baginya. Ia merindukan Kak Jeffnya kembali seperti dahulu. Menjadi orang yang paling cerewet setelah mommynya dan orang yang paling pengatur seperti daddynya. Kini ia baru sadar mengapa Jeffri dulu begitu keras dan possesive dalam menjaganya, semata-mata bukan karena tugas seperti yang selalu ia ucapkan. Melainkan tanggung jawab. Tanggung jawab seorang kakak terhadap adiknya.
Setelah brangkar Jeffri berlalu dr. Marco dan Daddy Shafa yang sudah berganti pakaian dengan pakaian serba hijau menyusul di belakangnya. Mereka tidak menoleh sama sekali namun terlihat jelas dari tatapan mata Daddy bahwa dia akan berusaha menyelamatkan Jeffri. Mengembalikan apa yang hilang darinya selama ini dan mewujudkan keinginan terbesar pria berumur 31 tahun tersebut.
"Mom, lebih baik kita menunggu di mushola, sekalian Sholat dan berdoa agar semuanya berjalan lancar" Ujar Rayyan yang melihat ibu mertuanya sangat terpuruk.
"Benar bu, lebih baik Sholat dulu dan mencurahkan semuanya pada Allah sang pemilik hidup" Timpal Aini.
Suasana siang yang berselimut awan putih hari itu terasa begitu memilukan bagi keluarga Shafa. Di sini lah mereka berada, di sebuah mushola yang teletak di bagiaan tengah bagunan rumah sakit yang di kelilingi oleh pepohonan hijau yang begitu sejuk nyatanya tak mampu menyejukan hati mereka.
Di tempat ini ada seorang ibu yang tak henti-hentinya berdoa memanjatkan doa untuk kehidupan putranya, meski bukan putra yang terlahir dari dalam rahimnya, namun cinta dan kasih sayangnya begitu tulus meski tak pernah terucap dari bibirnya. Di situ pula ada seorang istri yang berusaha tegar dan kuat, meyakini baahwa suaminya akan kembali di tengah tengah mereka. Ia meyakini janji yang di ucapkan suaminya saat menghalalkannya, bahwa ia tidak akan meninggalkannya. Dan disitu ada seorang adik yang berharap bisa memeluk kakaknya. Kakak yaang selama ini menjaganya meski harus bersembunyi di balik topeng pengawal bayaran daddynya.
"Mommy akan ceritakan kebenaran yang sesungguhnya"
__ADS_1