Jodoh Pilihan Allah

Jodoh Pilihan Allah
Akad


__ADS_3

Setelah mengetahui jenis kelamin janinnya, Shafa semakin bersemangat untuk membeli semua perlengkapan yang di butuhkan. Malam ini ia bersama Rayyan dan juga Zafran berencana membeli semua kelengkapan anak mereka. Ketiganya sudah berada di sebuah pusat perbelanjaan yang khusus menjual perlengkapan bayi.


"Yang ini bagus Mom" Tunjuk Rayyan pada sebuah sweeter tebal yang menyatu dengan celana di sertai dengan kupluk yang bermotif harimau.


"Ih, masa loreng ayah? Ntar di kira kucing garong" Ujar Shafa tak setuju.


"Ini keren Mom. Ayah mau ambil ini satu" Rayyan segera memindahkan sweeter tersebut ke dalam troli belanjaan.


"Mommy pilih ini saja" Ujar Shafa mengambil sweeter yang sama tapi dengan warna putih dengan bagian kupluk yang memiliki telinga panjang seperti kelinci.


Mereka berbelanja mulai dari handuk, popok, baju, celana, gendongan sampai ayunan listrik. Semuanya tak ada yang terlewatkan. Zafran juga memilih beberapa boneka binatang seperti panda, kelinci dan kucing untuk adik dalam kandungan Mommynya.


"Shafa...!!!" Panggil seseorang mengalihkan pandangan Shafa. Ia berbalik dan terkejut melihat siapa yang memanggilnya.


"Karina!" Jawabnya dengan perasaan senang.


Karina berjalan menuju ke arah Shafa di temanai oleh pria yang pernah mengisi relung hati terdalam Shafa. Siapa lagi kalau bukaan Samuel Sinaga.


"Apa kabar?" Mereka berdua saling berpelukan dan bercepika cepiki. Begitu juga dengan Samuel dan Rayyan, mereka saling bersalaman dan bertukar kabar.


"Hai tampan? Siapa dia Fa?" Tanya Karina sambil melihat ke arah Zafran yang tengah duduk di atas troli yang di pegang Rayyan sambil memeluk boneka kucing.


"Ini Zafran. Anak kami" Ujar Shafa.


"Anak?" Karina nampak terkejut.


"Adopted child" Jawab Shafa.


"Oh, I See! Tampan sekali. Oh ya ngomong-ngomong ini sudah berapa bulan?" Tanya Karina sambil mengusap perut buncit Shafa.


"Sudah 25 minggu Rin, Kalau kamu?" Tanya Shafa balik. Perut Karina pun sudah terlihat membesar seperti Shafa.


"Sudah 30 Minggu Fa. Puji Tuhan setelah menikah langsung jadi, nggak pake jeda." Balas Karina sambil tersenyum bahagia.


"Wah, hebat kamu Sam! Langsung gol." Ujar Rayyan sambil menepuk bahu Samuel. Keduanya terlihat akrab.


"Iya dong Ray. Rugi dong jauh jauh honeymoon ke Jepang kalau nggak langsung jadi." Jawab Sam dengan terkekeh.


"Wah berarti ini anak Jepang ya?" Ujar Shafa balik mengusap perut Karina.


"Kalau ini anak Mana?" Tanya Karina balik.


"Anak Aceh tante! Soalnya buatnya pas lagi di Aceh." Balas Shafa disertai tawa renyah. Ia ingat betul jika di hitung dengan usia kandungannya saat ini, maka minggu pertamanya adalah sepulangnya ia dari Aceh. Sepertinya doa yang Rayyan panjatkan di depan perut Shafa saat itu di jabah oleh sang Khaliq.


"Udah USG jenis kelamin belum Fa?" Tanya Karina.


"Udah baru aja tadi siang. Ini cowok dong, seperti keinginan abang Zaf nya. Kalau kamu sendiri gimana?" Ujar Shafa sambil bertanya balik.

__ADS_1


"Anak aku cewek Fa." Jawab Karina dengan senyum mengembang.


"Wah, semoga anak-anak kita nanti tidak mengikuti jejak bapak dan emaknya ya?" Kelakar Samuel membuat mereka semua tertawa, mengingat drama asmara yang pernah terjadi antara Shafa dan Samuel. Harapannya, cukup mereka saja yang merasakan pahitnya cinta beda agama meskipun kini keduanya sudah sama-sama bahagia dengan jodoh yang telah Allah pilihkan.


"Mommy, ada adek juga di pelut tante ini?" Ujar Zafran tiba-tiba sambil menunjuk Karina.


"Iya Sayang. Ada adik cewek di perut tante." Balas Karina sambil mencubit gemas pipi Zafran.


"Zaflan ga suka adek cewek. Pasti cengeng kaya Aila" Ujar Zafran cuek.


"Wah..wah... Kakak Zafran kok gitu sih? Ini adiknya nggak cengeng sayang. Dia kuat kaya mommy Zafran." Balas Karina.


"Mommy tan waktu itu nangis juga. Waktu ayah pelgi sama om baju hitam" Ujarnya.


"Beneran? Ha.ha.ha." Karina dan yang ada di situ tertawa mendengar penuturan Zafran.


"Uuh... Gemez banget sih kakak Zafran ini. Awas ya, nanti kalau besar kalau nggak mau main sama adek cantik, tante cubit loh." Balas Karina sambil mencium pipi Zafran.


"Oh ya kalian sudah makan malam belum? Sekalian barengan yuk?" Ajak Shafa.


"Kami udah makan Fa sebelum kemari." Jawab Samuel.


"Oh, ya udah kalau gitu, kita duluan ya? Sampai ketemu lagi!" Shafa memeluk Karina sebelum berpamitan.


"Jangan lupa kabari aku kalau sudah lahiran ya Rin" Ujar Shafa.


.


.


.


.


.


Pagi ini menjadi hari yang bersejarah bagi Sonya. Hari dimana ia akan melepas status lajangnya dengan pria pilihan papanya. Tak ada raut bahagia yang tergambar di wajahnya. Wajahnya tetap sama, Datar tanpa ekspresi, meski kini ia tengah di rias oleh MUA professional. Sonya mengenakan kebaya berwarna putih dan siger khas sunda di kepalanya. Wajahnya nampak cantik memukau sekalipun tanpa senyuman yang menghias wajahnya.


"Saya tidak mau memakai itu. Tolong pasangkan ini saja." Ujarnya pada perias saat ia hendak memasangkan kalung pelengkap pad alehernya. Sonya memberikan kalung pemberian Briyan semalam kepada wanita yang bertugas sebagai make up artist itu.


"Apa itu Sonya?" Tanya sang mama yang juga berada di situ.


"Kalung Sonya ma" Jawabnya datar. Mama langsung mengambil kalung dari perias wanita tersebut. Ia membelalakan matanya saat melihat kalung putih berbandul susunan berlian berbentuk hati yang di bandrol dengan harga lebih dari 1 milyar tersebut. Sebagai pengusaha perhiasan, ia tentu tahu semua jenis perhiasan yang ada pasaran. Dan kalung yang ia pegang saat ini merupakan salah satu kalung yang baru saja di luncurkan oleh salah satu merk perhiasan ternama. Jumlahnya pun hanya ada 10 buah dengan liontin yang berbeda-beda. Bisa di katakan, milik Sonya adalah satu-satunya yang berbentuk hati.


"Dari mana kamu mendapatkan kalung ini Sonya? Siapa yang memberikannya padamu? Tidak mungkin kamu membelinya sendiri kan?" Tanya mamanya.


"Itu hadiah perpisahan dari Briyan ma" Ucapnya singkat. Ia sebisa mungkin menahan air matanya agar tidak tumpah.

__ADS_1


"B..Briyan? Dia yang memberikan ini padamu?" Tanyanya seolah tak percaya.


"Iya ma."


"Apa sekarang mama baru sadar bahwa Briyan sungguh-sungguh?" Ujar Sonya dengan ekspresi datar.


"Hhh... Semua sudah terjadi Sonya. Tidak perlu kamu sesali. Semua ini pun terjadi karena ulahmu sendiri. Seandainya dulu kamu tidak keras kepala dan mau menuruti kata papa dan mama, semua tentu tidak serumit ini" Balas mama.


"Pasangkan ini di lehernya!" Ujar mama pada perias kemudian kembali duduk di sisi ranjang Sonya.


Dengan hati-hati perias itu memasangkan kalung tersebut di leher Sonya. Sonya menatap berlian yang berkilauan di lehernya dengan perasaan perih.


"Sudah watunya berangkat ma" Ujar Surya mengingatkan.


"Oh iya. Apa semua sudah siap?" Tanya mama Sonya pada perias yang sedang merapikan mahkota Sonya.


"Sudah bu" Jawabnya setelah memastikan semua beres.


"Ayo kita berangkat" Ujar mama sambil menggandeng tangan Sonya. Sonya berjalan dengan di dampingi mama di sebelah kanannya dan Surya, kakak semata wayangnya di sebelah kirinya. Dua orang adik laki-lakinya pun sudah siap menyambutnya di bawah tangga.


Pukul 10.00, Keluarga Sonya telah tiba di sebuah masjid yang terletak di sebuah resort ternama milik rekan bisnis papa Sonya. Tadinya akad nikah akan di selenggarakan di masjid agung, namun hal itu di batalkan karena rekan bisnis papa Sonya menawarkan resort miliknya sebagai tempat pengucapan ikrar suci di hari pernikahan Sonya. Mereka juga telah menyiapkan sebuah kamar khusus untuk Sonya dan suami.


Masjid bernuasa putih dan gold tersebut telihat semakin megah dengan dekorasi yang di dominasi oleh bunga-bunga hidup. Beberapa di antaranya di datangkan langsung dari luar negeri. Pernikahan ini terlihat sederhana tapi penuh dengan kemewahan.


Seorang Pria muda mengenakan jas hitam lengakap dengan dasi dan peci hitamnya telah berdiri di depan pintu masjid.


Itukah yang akan menjadi suamiku? Gumam Sonya saat melihat pria tersebut sepintas.


Sonya menaiki satu demi satu tangga menuju pintu utama masjid tersebut dengan di dampingi mama dan kakaknya. Begitu memasuki masjid hatinya bergetar. Langkahnya terhenti seketika. Air matanya seakan ingin tumpah. Sekuat tenaga ia menahannya saat di lihatnya papanya sudah duduk bersila di sebuah tempat berhadapan dengan seseorang yang terlihat seperti penghulu. Pria berjas hitam itu juga berada di samping papanya.


Sonya mengedarkan pandangan kesekelilingnya. Ia berharap bisa melihat Briyan di tempat itu. Tapi harapannya pupus, karena yang ada di situ hanyalah keluarga dan rekan bisnis papanya serta beberpa orang kameramen yang sedang mengabadikan moment tersebut.


Sonya kemudian di bawa menuju lantai dua masjid tersebut. Akad nikah dilakukan di tempat terpisah. Setelah sah barulah mereka akan di pertemukan. Sonya duduk di sebuah bantal empuk. Beberapa keluarga yang hadir di tempat itu turut menguatkan Sonya dan memberikan nasihat-nasihat penting.


"Kepada rombongan mempelai pria di persilahkan mengambil tempat" Terdengar suara MC memberikan instruksi pertanda akad nikah akan segera di mulai. Sonya tertunduk menahan agar air matanya agar tidak tumpah. Beberapa kali ia mendongak ke atas sambil mengedip-kedipan matanya supaya tidak menangis di tempat itu. Setelah instuksi MC yang terakhir tadi, tidak terdengar lagi suara microfon. Suasana menjadi begitu hening. Sayup sayup terdengar suara seseorang melantunkan ayat ayat Al Quran membuat suasana semakin khusuk. Sonya hanya terdiam dalam lamunannya. Otaknya tidak bisa bekerja dengan baik alias nge blank, Hingga terdengar suara "SAAHH!!!" Yang di ucapkan secara bersaamaan, menyadarkan Sonya bahwa dirinya sudah bukan wanita single lagi.


*Selamat tinggal Briyan!!!


____________________


Berhati-hatilah dengan perasaanmu.


Karena benci dan rindu bedanya sangat tipis


Keduanya, sama-sama ada di hati❤️


~Aksara Citra*~

__ADS_1


__ADS_2