
"Mass...." Aku memberanikan diri menatap matanya. Mata yang begitu tenang dan menghanyutkan.
"Iya, kenapa sayang" Jawabnya lembut. Uggh sumpah dadaku rasanya berdesir mendengar ucapannya yang begitu manis. Rasanya ingin segera ku lahap bibir manisnya itu. Tapi, tahan Shafa! Kamu belum tahu apakah suami kalem mu ini benar-benar sudah tidak marah karena kesalahan fatalmu tadi yang dengan sadar memeluk Jeffri.
"Mmm...Mas maafin aku! Aku tadi kelepasan habisnya aku..." Aku tak melanjutkan ucapanku karena mas Rayyan langsung menyambar bibirku.
"Mmmppph"
"Mas maafin, tapi jangan di ulangi lagi peluk-peluk orang sembarangan" Ujarnya setelah melepaskan bibirnya dari bibirku.
"Jadi beneran di maafin?" Tanyaku memastikan.
"Hmmm" Jawabnya singkat. Huuuh, Alhamdulillah terima kasih ya Allah, suamiku nggak marah.
"Mas, tadi mas ngomongin apa sama daddy?" Tanyaku sambil mencubit-cubit kecil pipinya. Gemeesssss banget sama mas Rayyan. Jangan bilang kalau aku jadi bucin, karena memang itu kenyataannya.
"Ada deh" Jawabnya sambil tersenyum ke arahku.
"Masss.... Apa?" Rengekku manja berharap ia mau membocorkan apa yang mereka bicarakan di dalam tadi. Mas Rayyan mendekatkan bibirnya di telingaku. Aku tersenyum senang akhirnya bujuk rayuku berhasil.
"R a h a s i a" CUP! Bisiknya lalu mengecup pipiku. Aku mendengus kesal sambil memonyongkan bibirku. Ah, palingan daddy menasehati mas Rayyan agar tidak marah karena aku sedang hamil dan harus menghindari stress.
"Mas... Mas tau nggak tadi aku lihat kak Jeff berlutut di depan mommy dan daddy. Mommy menangis memeluk kak Jeff, menurut mas aneh nggak sih, mommy sampai meluk-meluk anak orang gitu" Ujarku. Bayangan tadi kembali mengganggu fikiranku.
"Shafa juga tadi nangis. Meluk Jeffri juga. Menurut Shafa aneh nggak?" Tanya Mas Rayyan balik. Emang dasar ya ini suamiku hobinya membolak-balikkan pertanyaan seperti membolak-balikan hatiku yang lemah ini.
"Ya aku sedih, karena kak Jeff ngomongnya mau pergi dan belum tentu kembali. Itu artinya di akan mati" Jawabku dengan nada kesal.
"Berarti itu juga yang dirasakan Mommy, Kalau Shafa yang dulu sering di buat kesal oleh Jeffri saja sedih apalagi mommy dan Daddy yang selalu mengandalkan Jeffri dalam segala hal termasuk menjaga Shafa" Ujar mas Rayyan. Bener juga sih, aku aja yang dulu sering kesal dan marah sama kak Jeff setiap kali di intai bisa sedih apalagi mommy. Kalau di ingat-ingat lagi, hubunganku dengan kak Jeff seperti kucing dan tikus. Aku sering menjahilinya karena kesal saat dia tidak bisa di ajak kompromi begitu pun dia yang selalu mencurigaiku, meremehkanku dan sering mengejekku. Harusnya aku senang kalau dia pergi, tapi nyatanya aku sedih. Walau dia dulu menjengkelkan, tapi aku tahu dia peduli padaku.
"Mas, aku takut kak Jeff beneran pergi selamanya. Bagaimana nasib istrinya. Dia kan baru saja menikah. Bagaimana dengan Daddy dan mommy, kalau mereka ada madalah serius siapa yang akan membantu" Aku kembali berkaca-kaca membayangkan nasib kak Aini dan anaknya.
"Sayang! Jodoh, maut, rizki manusia sudah di atur oleh Allah. Allah sudah metapkan semuanya sebelum kita lahir di dunia ini, termasuk Ajal. Kita tidak tahu kapan Allah akan memanggil kita dan dengan cara seperti apa. Tapi Allah tahu, kapan hambanya akan kembali, dan bila saat itu tiba, sebagai manusia kita tidak bisa memajukan atau pun memundurkannya walau pun sedetik. Setiap manusia memiliki jatah umurnya masing-masing. Jangan lupa, bahwa sesungguhnya setiap detik yang kita lalui adalah perjalanan menuju kematian. Semakin bertambah usia kita berarti semakin berkurang jatah umur kita. Itulah sebabnya setiap waktu kita harus mengoreksi diri dan mempersiapkan semuanya, karena kematian itu pasti adanya." Terang mas Ray.
"Berarti kak Jeff, bisa saja benar-benar tidak kembali?" Aku menatap dalam mata suamiku.
__ADS_1
"Jika Allah berkehendak!" Jawabnya singkat. Aku semakin gelisah seakan tak terima dengan jawaban mas Rayyan. Aku ingin dia mengatakan bahwa kak Jeff baik-baik saja dan akan pulang dengan selamat.
"Allah berfirman dalam Qur'an surah An Nisa ayat 78:
أَيْنَمَا تَكُونُوا يُدْرِكُكُمُ الْمَوْتُ وَلَوْ كُنْتُمْ فِي بُرُوجٍ مُشَيَّدَةٍ
“Di mana saja kamu berada, kematian akan mendapatkan kamu, kendatipun kamu di dalam benteng yang tinggi lagi kokoh. Artinya apa? Dimanapun kitaa berada jika sudah tiba masanya, pasti kematian itu akan menyapa sekalipun kita berada di dalam benteng yang kokoh. Manusia bisa lari keenyataan tapi tidak akan pernah bisa lari dari kematian" Ujar mas Rayyan.
"Mas, berarti aku bisa saja mati saat melahirkaan nanti?" Taanyaku sambil menatapnya. Mas Rayyan terdiam ia menautkan kedua alisnya.
"Jangaan bicara seperti itu, mas tidak suku! Kita berdoa semoga Allah memberikan kemudahan dan kelancaran pada saat proses persalinan Shafa nanti"" Ujar mas Rayyan sambil memelukku.
"Mas ini bagaimana? Tadi katanya ajaal itu tidak bisa di tunda." Protesku.
"Hmm... Sudah jangan bicara lagi, mas nggak suka" Ujarnya lagi. Jadi ajal bisa datang sewaktu-waktu. Ish, kenapa aku jafi takut. Bagaimana kalau aku tidak bisa melahirkan anak ku dengan selamat, bagaimana kalau aku meninggal saat melahirkan nanti. Ah, bukankah mas Rayyan pernah bilang bahwa seseorang yang meninggal saat melahirkan maka dianggap mati syahid. Duhh... Aku kok jadi nggak tenang gini ya.
"Mas, maafin semua kesalahanku ya? Aku mungkin belum menjadi istri yang berbakti untukmu" Kata-kata itu tiba-tiba saja meluncur dari mulutku.
"Jangan bicara lagi!" Ujarnya masih tetap memeluk tubuhku erat. Bahkan perut besarku ini tidak jadi penghalang baginya untuk tetap mendekapku.
"Dad, apa yang daddy bicarakan pada Rayyan tadi?" Tanya mommy. Daddy Shafa nampak menghela nafas panjang.
"Terpaksa daddy menjelaskan semuanya pada Rayyan...."
"APA..???" Mommy tersentak, terlihat ekspresi gusar di wajahnya.
"Daddy sudah tidak waras? Bagaimana kalau Shafa tahu? Daddy ingin dia Shock?" Ujar Mommy.
"Dengar Daddy dulu mom!" Daddy meraih tangan istrinya yang terlihat marah.
"Daddy memberitahu Rayyan agar dia tidak marah pada Shafa. Mommy tahu yang Shafa lakukan pada Jeffri tadi tentu akan menimbulkan kemarahan besar pada menantu mommy itu. Daddy membrritahunya agar ia tidak salah bertindak yang akan menyakiti Shafa atau membuatnya stress." Terang Daddy.
"Tapi Dad,...."
"Mom, Daddy sudah memberitahu Rayyan agar tidak memberitahu Shafa samai dia melahirkan. Karena saat ini yangbkita jaga adalah kandungannya. Daddy tidak ingin dia stress yang akan berakibat fatal pada janinnya. Nantilah setelah dia melahirkan dan pulih, kita jelaskan semuanya. Dan juga, sudah saatnya dia tahu rahasia besar keluarga kita" Ujar Daddy dengan tatapan sendu.
__ADS_1
Setelah seharian penuh berada di rumah daddynya Shafa dan Rayyan berpamitan untuk pulang ke rumahnya, begitupun Zafran, yang terlihat betah berada di rumah Daddy Shafa, terpaksa ikut pulang karena besok adalah waktunya ia sekolah.
"Mobil Zaflan di bawa juga mommy" Rengeknya ketika hendak masuk mobil.
"Nanti mommy belikan yang baru ya, mobilnya biar disini, jadi kalau Zafran kesini lagi nggak usah bawa mobil-mobilan" Ujar Shafa membujuk Zafran.
"Atau Zafran di sini saja sama opa dan oma ya?" Ujar daddy.
"Zaflan mau sama mommy juga" Rengeknya yang belum mau masuk ke dalam mobil, malah duduk sambil menangis. Membuat Rayyan yang sudah berada di dalam mobil harus turun tangan. Karena Zafran begitu menurut dengan kata-kata Rayyan.
"Anak ayah kenapa nangis disini, Ayo sini. Nanti ayah belikan motor-motor yang bisa dinaikin yah? Kan Zafran sudah punya mobil, nanti ayah belikan motor" Bujuknya sambil meraih tangan Zafran.
"Motol-motol ayah? Kaya motolnya pak Madi ayah?" Tanyanya sambil menatap wajah Rayyan.
"Iya, kaya motor pak madi, nanti Zafran bisa pake main sama Aira di rumah" Ujarnya. Zafran yang tertarikpun langsung mengangguk cepat.
"Zafran mau duduk sama ayah" Ujarnya sambil mengalungkan lengannya di leher Rayyan.
"Iya, Sekarang salim ya sama opa dan oma" Titahnya yang segera di laksanakan oleh bocah kecil itu.
Sepanjang perjalanan Shafa terus saja menegur Zafran yang tak henti-hentinya bertanya ada ayahnya. Posisinya yang berada di pangkuan Rayyan yanh sedang menyetir membuat Shafa khawatir. Ia khawatir kalau suaminya tidak fokus menyetir.
"Nak, Sini pindah sama mommy ya?" Bujuknya untuk yang sekian kalinya.
"Nda mau. Aku mau sama ayah" Jawabnya.
"Nggak papa sayang, lagian udah deket kok" Balas Rayyan.
"Ayah ayo kita beli motol-motolan" Ujarnya mengingat akan janji sang ayah tadi.
"Tanya Mommy dulu ya?" Balas Rayyan sambil menoleh ke arah Shafa.
"Mommy... ayo beli motol-motolan" Ujar Zafran dengan tatapan memohon.
"Oke... Tapi pulangnya, Zafran harus duduk sama mommy, biar ga ganggu ayah" Kawaab Shafa, Zafran pun langsung mengangguk setuju. Mereka berhenti di sebuah toko yang menjual berbagai macam mainan anak-anak, mulai dari yang terkecil hinggaa yang terbesar.
__ADS_1
Rayyan turun dengan menggendong Zafran. Ia berjalan dengan menggandeng Shafa. Shafa menunggu Rayyan dan Zafran memilih mainan di sebuah sofa bundar yang terdapat di dalam toko. Baru saja ia mendudukan tubuhnya di atas Shofa ia melihat seorang yang tak asing baginya mendekat dan kian mendekat menghampirinya.