Jodoh Pilihan Allah

Jodoh Pilihan Allah
Bracton-Hicks


__ADS_3

"Bagaimana dok?" Tanya Rayyan yang masih terlihat khawatir. Maklum saja, ini merupakan pengalaman pertamanya menjadi ayah siaga dalam menemani proses bersalin istrinya.


"Belum ada pembukaan pak. Itu tadi hanya kontraksi palsu. Biasa terjadi pada ibu hamil di trimester akhir. Tandanya tubuh Shafa sedang mempersiapkan diri untuk kontraksi yang sesungguhnya" Ujar dokter Lily setelah memeriksa Shafa.


"Kontraksi palsu?" Rayyan mengerutkan dahinya tak paham dengan maksud dokter.


"Benar pak Rayyan. Kontraksi palsu atau yang sering di sebut Braxton-Hicks memang lazim terjadi pada kehamilan di trimester akhir. Jadi ibu dan bapak harus bisa membedakan mana kontraksi asli dengan kontraksi palsu. Kalau mulesnya dinsertai rasa ingin buang air dan terdapat rembesan cairan dari jalan lahir, itu menandakan kontraksi asli. Jadi jangan buru-buru panik ya pak" Ujar dokter Lily.


"Ketika kontraksi palsu terjadi, biasanya pengencangan hanya terasa di perut bagian bawah dan ************. Sedangkan pada kontraksi asli, pengencangannya akan terasa lebih luas, dimulai dari punggung bawah lalu menjalar ke seluruh bagian perut. Gambaran sensasi kontraksi asli itu seperti kram menstruasi atau rasa mulas yang sangat kuat. Selain itu, kontraksi palsu biasanya juga akan reda atau bahkan hilang jika kamu bergerak atau berjalan. Namun pada kontraksi asli, bergerak atau berjalan justru dapat memperburuk keluhan yang dirasakan" Imbuhnya lagi.


Tadi setelah Shafa mengeluh mules mommy langsung menghubungi dokter Lily serta membawa Shafa ke ruangan yang berada tepat di depan ruangan Jeffri. Ruangan tersebut juga sudah jauh-jauh hari di siapkan daddy untuk proses kelahiran cucunya.


"Bagaimana bu Shafa, apa masih terasa sakit" Tanya dokter Lily.


"Sudah mulai hilang dok sakitnya. Jadi ini saya belum mau melahirkan ya dok?"


"Belum ibu, kita tunggu saja dua sampai tiga hari ke depan" Ujar dokter Lily.


Sementara di dalam ruangan tempat Jeffri di rawat, mereka yang berada di dalam juga harap-harap cemas apakah Shafa benar-benar akan melahirkan atau tidak.


"Opa... Opa aku mau lihat adik!" Zafran sudah tak sabar sedari tadi menanyakan tentang adiknya.


"Sabar ya, mommy mungkin masih berjuang. Zafran doakan mommy ya supaya bisa kasi keluar adik dengan selamat" Ujar daddy sambil menggendongnya. Ia juga merasa sangat khawatir dengan putri kesayangannya tersebut. Pasalnya Shafa adalah tipe anak yang tidak tahan dengan rasa sakit.


Hafiz tiba-tiba turun dari pangkuan bundanya menghampiri Jeffri yang sedang berbaring, ia langsung menarik-narik lengan Jeffri membuatnya kembali membuka mata.


"Ayah, apa aku juga akan punya adik kaya Zafran" Tanya Hafiz polos.


"Iya sayang, Hafiz bilang sama bunda ya. Kalau bunda bilang iya, nanti ayah bikinkan seperti adik Zafran" Mendengar hal itu Hafiz tersenyum dan kembali menghampiri bundanya yang tengah duduk di atas sofa.


"Bunda!" Panggilnya. Ia langsung menghadap di depan bundanya.


"Iya, sayang" Jawab Aini lembut.


"Kata Ayah Jeffri, aku suruh bilang bunda kalau mau adik." Adunya pada bundanya.


"Iya, nanti kalau ayah sudah sehat kembali ya nak" Balas Aini dengan seulas senyuman.


"Ye... Hore...Hore. Opa, Zafran aku juga mau punya adik" Teriaknya kegirangan sementara Zafran masih rewel dalam gendongan opanya karena ingin segera melihat mommynya.


"Opa... Aku mau lihat mommy opa" Rengeknya.


"Belum boleh sayang mommy masih di periksa dokter" Balas daddy yang mencoba menenangkan.

__ADS_1


Ceklek,


Pintu ruangan terbuka, semua menoleh ke arah pintu. Terlihat Shafa masih dalam kondisi perut besar di tuntun oleh suaminya.


"Mommy mana adik ku?" Zafran segera turun dari gendongan daddy dan berlari menghampiri mommynya. Ia meraba-raba perut Shafa yang masih besar.


"Adik belum waktunya keluar sayang" Ujar Rayyan.


"Braxton-Hicks?" Daddy langsung bisa menebak apa yang baru saja Shafa alami.


"Iya dad. Sekarang sudah nggak kerasa lagi" Balas Shafa.


"Jadi kapan adikku mau keluar mom?" Ujar Zafran yang tak sabar.


"Nggak lama lagi kok. Abang sabar ya" Shafa mengusap kepala putranya tersebut.


"Lebih baik kamu pulanglah dulu. Istirahat di rumah" Ujar ayah pada Shafa.


Sebelum berpamitan pulang Shafa kembali menemui Jeffri.


"Kak Jeff, lekas sembuh ya? Semoga anak aku nanti sekuat dan setangguh kak Jeff" Ujar Shafa tersenyum pada kakaknya.


"Kamu juga yang kuat ya dek, kakak selalu mendoakan yang terbaik untuk Shafa" Balas Jeffri. Bahagia rasanya bisa memanggilnya "Dek" Seperti seorang kakak pada umumnya.


"Terima kasih kak Jeff. Aku sayang kak Jeff!" Shafa mencium tangan kakaknya sebelum berpamitan untuk pulang.


"Sayang, Apa beneran belum kerasa sakit atau gimana gitu?" Tanya Rayyan setelah Shafa keluar dari kamar mandi setelah mandi sore.


"Belum mas, masih biasa aja kok. Nanti juga kalau sakit aku bilang" Balasnya.


"Kayaknya melahirkan nggak sakit-sakit amat deh Buktinya aku biasa aja" Imbuhnya dengan menunjukan ekspresi baik-baik saja.


"Amiiin... Semoga saja ya sayang. Mas senang kalau Shafa positive thingking seperti ini" Balas Rayyan.


"Mas tolong ambilkan daster ku di lemari. Yang lengan pendek aja mas" Pinta Shafa. Rayyan segera mengambilkan sesuai dengan permintaan istrinya.


"Dalaman nya sekalian?" Teriak Rayyan dari dalam ruang ganti.


"Iya mas" Balas Shafa.


Setelah beberapa waktu mencari, Rayyan keluar dengan membawa sebuah daster berwarna coklat bermotif batik khas Jogja dengan sepasang pakaian dalam berwarna peach.


"Coba aku lihat dalemanbnya udah benar apa enggak! Jangan sampe mas ngambil daleman waktu aku masih langsing dan seksi" Ujarnya.

__ADS_1


"Nggak mungkin lah sayang. Mas nggak sepolos itu ya. Mas tentu tahu ukuran mu sebelum dan sesudah hamil, jadi nggak mungkin salah" Balasnya.


"Sini mas bantu pakai!" Rayyan meraih handuk di tubuh Shafa, namun tangannya di tahan olehnya karena merasa malu jika suaminya melihat tubuhnya yang sudah tidak berbentuk lagi. Di tambah adanya streachmark di bagian bawah perutnya, membuatnya semakin tidak percaya diri.


"Jangan, aku malu mas. Aku bisa pakai sendiri" Shafa mengambil pakaian dari tangan Rayyan namun dengan cepat Rayyan menyembunyikannya di balik punggungnya.


"Malu kenapa? Pokoknya mas yang pakein!" Ujarnya. Shafa segera menahan handuknya yang hendak di buka oleh Rayyan. Rayyan hanya tak tega melihat istrinya susah payah memakai baju sendiri.


"Mas perut aku ada streachmark nya. Mengerikan! Aku nggak mau mas Ray lihat, ntar jadi illfeel lagi" Ujar Shafa dengan tatapan memohon agar Rayyan mengurungkan niatnya.


"*Il*lfeel?" Rayyan tersenyum mendengar ucapan istrinya yang terlihat begitu takut, streachmark itu sudah seperti aib baginya..


"Dengar ya Shafa Azura istriku yang paling cantik, baik dan seksi tak ada duanya! Mau ada streachmark atau apalah itu mas nggak peduli, bahkan jika seluruh perut Shafa ada streachmark nya, tidak akan merubah rasa sayang mas ke Shafa. Kamu tetap Shafanya mas yang paling seksi." Ujar Rayyan sambil menatap mata istrinya, meyakinkan bahwa dirinya akan tetap mencintainya walaupun fisiknya tak seperti dulu lagi.


"Preet... Gombal! Mana ada seksi perutnya bergaris garis gini. Ini mengerikan mas!!!" Balas Shafa sambil menarik hidung suaminya.


"Lebih mengerikan mana dengan tato lengan Shafa dulu?"


Fix! Gue kalah!!! Batin Shafa.


Shafa langsung terdiam sambil mengerucutkan bibirnya. Untung saja saat ini tattonya sudah hilang, jika tidak maka tingkat keminderannya akan berkali kali lipat.


CUP! Satu kecupan di bibir membuat Shafa langsung menipiskan bibirnya.


Dasar, curi-curi kesempatan!


"Udah sini mas pakaikan. Mas nggak akan nelanjangin Shafa kok. Adab berganti baju itu nggak boleh telanjang bulat tanpa ada kain yang menutup tubuh sayang, begitu juga saat bersetubuh." Ucap Rayyan sambil mengaitkan bra istrinya dari luar handuk.


"Kenapa mas? Perasaan kita kalau lagi "ea-ea" juga kan nggak pake apa-apa." Balas Shafa tanpa malu.


"Tapikan selalu di tutup selimut. Karena makhluk Allah bukan hanya kita saja sayang. Melainkan ada makhluk lain yang kasat mata dan tidak kasat mata yang ikut melihat. Jadi harus di jaga. Dan tidak menyerupai binatang" Balasnya. Ia telah selesai memakaikan pakaian dalam Shafa, kini perlahan mulai melepas handuk yang menutup tubuhnya.


"Dalilnya mana?" Uji Shafa. Karena Rayyan biasa menyampaikan sesuatu di sertai dengan dalil atau kisah kejadian di jaman Rasul dulu.


"Dari ‘Atabah bin Abdi As-Sulami bahwa apabila kalian mendatangi istrinya atau berjima’, maka hendaklah menggunakan penutup dan janganlah telanjang seperti dua ekor himar (Hadis riwayat Ibnu Majah)." Jawab Rayyan.


"Himar itu apa?" Tanya Shafa polos.


"Himar itu keledai sayangku" Jawab Rayyan gemas.


"Nah udah selesai. Sini duduk mas ikatin rambutnya" Rayyan menuntun Shafa menuju meja rias dan mulai menyisir rambut istrinya yang sudah di bawah bahu.


"Jangan di ikat. Aku mau pakai badana" Shafa menarik laci bagian tengah dari meja riasnya dan mengeluarkan sebuah bandana berwarna cream dengan hiasan pita di atasnya.

__ADS_1


"Gimana mas? Unyu kan?" Shafaa menatap wajah rayyan yang tengah tersenyum dari dalam cermin"


"Hm... You are the most beautiful girl in my live" Jawabnya sambil mencium puncak kepala istrinya


__ADS_2