Jodoh Pilihan Allah

Jodoh Pilihan Allah
Mencari Kebenaran


__ADS_3

Hallo... Lama gak jumpa ada yang kangen nggak?😁 Menjelang penerimaan rapor authornya super sibuk banget, jadi maaf upnya suka telat. Oh ya sebelum membaca eps ini, please tekan LikeπŸ‘ ya. 😍😍😍


Happy Reading😘😘


____________________


"Apa yang akan kita lakukan selanjutnya Yo?, Bapak benar-benar ndak habis pikir sama adikmu itu. Bisa-bisa nya dia pergi dari rumah dan pergi ke rumah laki-laki yang sudah beristri. Bahkan sampai menaruh hati padanya! Belum selesai masalahnya dengan Ahmed sekarang dia sudah buat masalah baru lagi!" Ujar Pak Djatmiko sambil mengurut pelipisnya. Ia sngat pusing memikirkan anak bungsunyaa tersebut.


"Tapi Nisa kekeh pak bahwa Suami Shafa tidak salah, Tapi kita tetap harus mencari tahu kebenarannya. Apalagi kejadian yang menimpa Nisa sehingga membuatnya keguguran, itu masuk kategori kriminal." Ujar Aryo.


"Benar Yo, kamu harus cari tahu. Ayah khawatir ada sesuatu di belakang semua ini. Yang pertama Nisa pulang dari Kairo juga lewat keluarga Shafa, begitupula selama Nisa pergi. Dia berada di rumah Shafa. Bapak tidak bisa begitu saja percaya dengan ucapan Nisa. Dia sudah terlalu sering mengecewakan bapak." Balas pak Djatmiko


"Iya pak, Aryo akan segera cari tahu. Bukannya buruk sangka, tapi Aryo takut kalau di belakang, Nisa ternyata punya hubungan dengan suami Shafa apalagi mereka sudah saling kenal di Kairo." Ujar Aryo.


"Ya sudah kalau begitu bapak mau istirahat dulu" Ujar Pak Djatmiko sambil membaringkan tubuhnya di atas kasur.


Setelah berbincang dengan bapaknya, Aryo segera keluar rumah dan memacu mobilnya menuju suatu tempat. Ia berhenti di sebuah rumah kayu yang sangat asri, dengan halaman yang di penuhi dengan tanaman buah buahan. Aryo segera turun dari mobilnya dan menyapa sang empunya rumah yang sedang duduk di sebuah kursi panjang yang berada di teras rumah.


"Assalamualaikum pak." Sapa Aryo pada pria tua yang sudah berumur sekitar 70 tahunan.


"Waalaikum salam, Sopo?" Tanyanya dalam bahasa Jawa.


"Saya Aryo pak, temannya Hamzah" Ujar Aryo yang langsung duduk di sebelah bapak tua itu. Mereka cukup lama berbincang-bincang dan bernostalgia masa-masa SMA Aryo dan Hamzah. Tujuan utama Aryo menemui orang tua Hamzah adalah untuk meminta nomor ponsel Hamzah di Kairo. Setelah mendapatkan apa yang di butuhkan, Aryo segera pamit undur diri dari rumah bapak tersebut.


Aryo kembali masuk ke dalam mobilnya meninggalkan kediaman orang tua Hamzah. Aryo menepikan mobilnya di jalanan yang agak lenggang untuk menelpon Hamzah.


Tut...Tut...Suara panggilan masuk namun belum mendapat jawaban.


"Hallo, Assalamualaikum" Sapa seseorang dari balik telfon.


"Waalaikumsalam, Ini Hamzah?" Tanya Aryo pada lawan bicaranya.


"Benar, ini dengan siapa?"


"Aku Aryo Ham" Jawab Aryo.


"Oalah Aryo! Piye kabare? Ada apa kok tumben kamu nelpon aku?" Tanya Hamzah pada teman lamanya itu.


"Aku baik Ham, ada hal penting yang ingin aku tanyakan tetang adek ku Ham" Ujar Aryo. Sebagai pengurus Asrama Indonesia yang beradaa di Kairo, Hamzah tentu sangat kenal dengan Nisa atau yang di kenal dengan nama Hana di Kairo.


"Tentang Hana? Apa yang mau kamu tanyakan Yo?"


"Kamu kenal mahasiswa yang bernama Rayyan? Senior Adekku Ham?" Tanya Aryo.


"Rayyan? sek..sek!" Hamzah berfikir sejenak.


"Oh, mungkin maksudmu Zidane Ar Rayyan yo?" Ujar Hamzah.


"Iya, apa kamu tahu siapa dia Ham?"


"Yo jelas tau, Dia salah satu mahasiswa program doktoral yang sudah selesai tahun lalu. Sekarang dia di Indonesia kalau ndak salah dia mengajar di salah satu kampus negeri di situ" Ujar Hamzah.


"Ham, apa adek ku pernah ada hubungan dengan laki-laki itu?" Tanya Aryo.

__ADS_1


"Loh..loh ada apa to ini Yo, kok tiba-tiba menanyakaan hubungan Hana dengan ust. Zidane?" Ujar Hamzah.


"Tolong Ham, jawab dengan jujur" Aryo memohon.


"Setahuku sih hanya sebatas hubungan sesama mahasiswa Yo, ust. Zidane memang pernah menaruh hati pada adekkmu, tapi keburu di duluin Ahmed. Lagi pula dia juga saat ini sudah menikah. Memangnya ada apa to Yo?" Ujar Hamzah. Aryo nampak geram mendengar ucapan Hamzah.


"Yo wes kalau gitu Ham, aku tutup dulu. Nanti aku telpon lagi. Assalamualaikum" Aryo mengakhiri panggilannya.


Dia memukul stir mobilnya sambil mengepalkan tangannya.


Jadi, laki-laki itu pernah menyukai Nisa sebelum Nisa menikah dengan Ahmed. Jangan jangan perceraian Nisa dengan Ahmed salah satunya di sebabkan oleh dia. Karena Nisa pulang pun bukan bapak atau ibu yang di hubungi duluan tapi Shafa. Dan Shafa, apa dia sebodoh itu? Aku harus cari tahu lebih lanjut.


Aryo kembali memacu mobilnya membelah jalanan ibu kota. Ia menemui beberapa orang anak buahnya untuk mencari tahu tentang krluarga Rayyan. Karena ia tidak mau bertindak konyol tanpa di sertai bukti yang akurat.


***


"Bri, kapan nih kita pulang? Kok nggak ada perkembangan dari orang tua kita sih? Mereka kayaknya santai-santai aja. Email aku juga nggak ada yang di balas" Ujar Sonya sambil bersandar di bahu Briyan yang sedang nonton tv. Hubungan keduanya sudah sedikit membaik meski masih serik adu mulut tapi mereka sudah nampak bersahabat.


"Ya mana aku tahu Son. Kalau kita balik sekarang, sia sia perjuangan kita selama ini Son." Ujar Briyan.


"Tapi aku udah capek jadi babu kamu Bri. Tiap hari harus nyiapin makan" Ujar Sonya sambil memajukan bibirnya.


"Itung-itung kursus gratis Son, supaya suami mu nanti nggak menderita menderita amat" Ujarnya santai.


"Tau ah" Ia beranjak hendak masuk ke dalam kamarnya.


"Eh Son, malam ini kamu di apartemen sendiri ya. Aku ada janji sama seseorang" Ujar Briyan sambil bersiul siul.


"Yoi gebetan, dia ngajakin ketemuan. Dia ini temanku dulu waktu kuliah, sekarang penampilannya sudah berubah seperti model" Ujarnya sambil senyum-senyum.


"Dasar play boy kampret" Cibir Sonya.


"Biarin... Aku saranin kamu sebaiknya cari pasangan juga Son. Lupain deh tu si Willy" Cep! Brian langsung menutup mulutnya karena keceplosan menyebut nama Willy.


"Tunggu-tunggu" Sonya menyipitkan matanya menatap tajam ke arah Brian. Ia berjalan mendekat sampai tepat berada di depan Briyan.


"Kau bilang apa tadi? Willy?" Tanya Sonya mengintimidasi.


"Enggak. Kamu salah dengar son" Ujarnya sambil menepuk lengan Sonya.


"Kamu kira aku budeg ha? Ya Tuhan!!!" Sonya tersentak sambil menutup mulutnya.


"Jangan-jangan" Dia menunjuk Brian dengan telunjuknya.


"Apa?"


"Waktu itu, kamu ngikutin aku kan? iya kan? pantesan ya, waktu aku pulang kamu masih pake masker. Dasar play boy licik!" Ujar Sonya sambil memukul tubuh Briyan menggunakan bantal sofa.


"Enggak! Enak aja, jangan ke pede an kamu Son " Bantah Briyan.


"Ngaku nggak?? Ayo ngaku!!" Sonya terus memukuli Briyan dengan bantal.


"Ampun Son.. ampun" Tangan Briyan menarik tangan Sonya sehingga ia jatuh ke dalam pelukannya.

__ADS_1


Deg...


Hening!!!


Keduanya saling tatap, pandangan mata mereka bertemu, ada debaran aneh di dalam dada mereka. Jatung mereka berpacu lebih cepat dari biasanya.


"Ehmm" Sonya berusaha mengalihkan pandangannya membuat Briyan gelagapan.


"Aku ke kamar dulu" Ujar Sonya seraya bangkit dari tubuh Briyan. Keduanya terdiam, ada sedikit rasa malu di hati keduanya.


Di kediaman Rayyan, suasananya begitu tenang. Tidak terdengar suara Zafran berceloteh apalagi Shafa yang biasanya berteriak melarang ini dan itu saat Zafran dengan polah lincahnya bermain lari-lari. Sejak pagi, ibu dan anak tersebut tidak keluar dari kamar begitu juga sang ayah.


"Masih pusing mom?" Tanya Rayyan sambil mengelus kepala istrinya.


"Sedikit" Ujarnya. Sambil memeluk Zafran yang meringkuk dalam dekapannya. Sejak semalam Shafa mengalami demam lantaran terlalu lama bermain air bersama Zafran di dalam kolam. Dokter yang memeriksa mengatakan itu hanya demam biasa yang akan sembuh dalam waktu cepat.


"Zafran main sama ayah yuk, Mommy sedang sakit, biar Mommy istrirahat" Ujar Rayyan pada bocah kecil yang setia menemaninya sambil memeluk Mommy tercintanya.


"Zaflan mau temani Mommy" Ujarnya sambil menempelkan telapak tangan di pipi Shafa seperti yang di kerap lakukan Rayyan untuk mengecek suhu badan.


"Apa adek juga sakit Mom?" Tanya Zafran sambil menyentuh perut buncit Shafa.


"Adek nggak papa kok sayang, itu gerak gerak. Berarti dia sehat" Ujar Shafa sambil memperhatikan perutnya yang baru saja mendapat gerakan dari dalam. Di usia kandungan yang telah baru memasuki 6 bulan tersebut, tendangan sang buah hati sudah mulai sering dan lebih terasa. Menurut dokter jenis kelamin janin sudah bisa di deteksu tetapi Shafa dan Rayyan memilih untuk tidak mengetahuinya dulu agar menjadi kejutan.


"Zafran, nanti kalau adek sudah lahir. Zafran harus sayang sama adek ya Nak? Zafran harus jagain adek" Ujar Rayyan yang kini berpindah posisi ke sebelah Zafran.


"Iya yah, kalau ada yang gangguin adek aku malahin dia" Jawabnya dengan semangat.


"Anak mommy memang pinter!" Ujar Shafa sambil mengertkan pelukannya.


"Zafran, Zafran maunya punya adek berapa?" Tanya Rayyan iseng. Zafran langsung memutar tubuhnya berbalik menghadap kepada Rayyan.


"Aku mau lima Ayah!!! Ujarnya penuh semangat smabil mengangkat 5 jarinya.


"Cuma lima? Gampang nanti ayah buatin yah? Yang penting Zafran harus janji, Zafran harus jadi anak pinter dan bisa menjadi contoh buat adek" Balas Rayyan sambil tersenyum melihat putranya sangat bahagia.


Berbeda dengan Rayyan, Shafa malah melotot ke arahnya. Mendengar ucapan Rayyan yang seolah-olah meproduksi anak semudah membalikkan telapak tangan.


"Gampang... Gampang!!! Ayah gampang buat nya. Aku yang susah. Satu aja ngidamnya sering nggak keturutan, gimana kalau lima yah?" Ujar Shafa kesal.


"Mom, banyak anak banyak rejeki Mom. Ayah maunya malah lebih, mumpung Momny masih muda" Balasnya dengan mengedipkan sebelah matanya.


"Ayah, Geniiiiiit!!!!!" Teriaknya sambil melempar bantal ke arah Rayyan. Zafran malah tertawa cekikikan melihat Mommynya menyerang Rayyan.


"Awwww" Shafa memekik membuat Rayyan tersentak seketika.


"Kenapa sayang? Apanya yang sakit?" Ia meraba-raba perut Shafa.


"Anak kamu nendang terus mas, tuh..lihat" Ujarnya sambil menunjukan perutnya yang bergerak.


"Anak ayah, lagi senang ya di dalam?" Ujar Rayyan sambil mengelus lembut dan menciumnya.


"Aku juga mau pegang ayah" Ujar Zafran yang tidak mau ketinggalan ikut meletakan telapak tangannya di perut Shafa. Anak yang berada di dalam perut Shafa terus bergerak seiring dengan usapan lembut yang di berikan oleh ayah dan kakaknya. Mungkin ia juga tengah merasakan kebahagian dari keluarga kecil tersebut.

__ADS_1


__ADS_2