Jodoh Pilihan Allah

Jodoh Pilihan Allah
Taat Pada Suami


__ADS_3

Rayyan merasa malu sekali mengetahui dirinya menjadi bahan perbincangan seisi kampus lantaran istrinya yang mengancam dengan ancaman yang menggelikan. Tapi apa boleh buat, semua sudah terjadi, yang terpenting adalah istrinya tidak marah dan merealisasikan ancamannya.


"Sudah selesai? Tanyaa Rayyan pada Shafa yang baru saja menghabiskan rujak buahnya. Ia mengelap sudut bibir Shafa yang terdapat noda bekas bumbu rujak.


"Sudah"


"Sekarang pulang ya? Setengah jam lagi waktu istirahat Mas selesai. Mas harus lanjut memeriksa proposal penelitian mahasiswa" Ujar Rayyan.


"Aku temenin ya Mas?" Pintanya sambil bergelayut manja di leher Rayyan.


"Nanti mas nggak konsentrasi kalau Shafa temenin. Mas pasti akan lebih sering mandangin istriku yang cantik ini dari pada proposal mahasiswa" Jawab Rayyan dengan sedikit gombalan receh agar tidak menyinggung hati istrinya.


"Kita pulang aja yuk Mas. Kan mas tadi bilang mau meriksa lewat e-mail dirumah" Ujar Shafa.


"Ngga bisa sayang, ini belum jam pulang. Mas nggak mau korupsi waktu. Mas nggak mau makan gaji buta" Jawab Rayyan.


"Ya ampun Mas, cuma sekali doang. Lagian kan kerjanya bisa dari rumah" Balas Shafa.


"Tetap nggak boleh sayang. Mas nggak mau uang yang Mas berikan kepada Shafa menjadi tidak berkah karena mas yang kerjanya nggak bener" Balas Rayyan.


"Mas, kenapa nggak berhenti aja sih jadi dosen. Mas kan udah punya usaha sendiri. Lagian penghasilan dari toko jauh lebih besar dari gaji mas jadi dosen yang menyita banyak waktu" Ujar Shafa yang kini sudah berbaring di paha Rayyan.


"Sayang.... Sebaik-baik manusia adalah yang bermanfaat bagi yang lainnya. Menjadi pengajar itu adalah investasi dunia dan akhirat. Bukan perkara besar atau kecilnya gaji. Tapi bagaimana kita memanfaatkan ilmu yang kita miliki agar menjadi berkah dan bermanfaat bagi orang lain. Shafa tau? Ketika kita meninggal dunia semua harta yang kita miliki tidak ada artinya dan tidak bisa menolong kita. Semuanya terputus kecuali 3 hal" Ujar Rayyan sambil mengusap kepala istrinya.


"Apa itu mas?" Tanya Shafa penasaran.


"Yang pertama adalah ilmu yang berguna. Yang kedua adalah Sodaqoh Jari'ah dan yang ketiga adalah doa anak yang Shaleh. Jadi tujuan Mas mengajar itu bukan hanya untuk mendapat materi tapi juga sebagai bekal dinaakhirat kelak" Jelas Rayyan dengan penuh kelembutan agar mudah di terima oleh istrinya.


"Kalau gitu aku mau ngajar lagi Mas, biar dapat pahala dan masuk surga juga." Ujar Shafa antusias.


Rayyan tersenyum kemudian mengecup bibir istrinya sekilas.


"Wanita itu makhluk Allah yang sangat mulia. Wanita bisa memasuki surga dari pintu manapun yang ia mau apabila ia melaksanakan 4 hal, yaitu mengerjakan Sholat, berpuasa di bulan Ramadhan, Menjaga kemaluaannya dan mentaati suaminya" Jelas Rayyan.


"Wah, aku selalu Sholat, puasa juga, Menjaga ******** juga kecuali sama Mas Rayyan dan aku nurut kok sama Mas Rayyan. Berarti aku bisa masuk surga dong mas?" Ujar Shafa bahagia.


"Tapi Shafa perlu tahu, walaupun wanita itu mudah masuk surga, Namun, penghuni neraka sebagian besarnya adalah wanita" Ujar Rayyang membuat Shafa membelalakan matanya.

__ADS_1


"Kok bisa?"


"Karena kebanyakan wanita kufur terhadap suaminya dan mengkufuri kebaikannya. Banyak wanita yang tidak taat dan tidak pernah melihat kebaikan suaminya. Hal itulah yang akan memberatkannya di akhirat kelakml. Kare ridho suami adalah ridho Allah. Bahkan jika ada dua Tuhan yang boleh di sembah, maka yang satunya adalah suami.


Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda:


"Wanita mana saja yang meninggal dunia, kemudian suaminya merasa ridho terhadapnya, maka ia akan masuk surga" (HR. Tirmidzi dan Ibnu Majah; hasan menurut Tirmidzi)." Terang Rayyan.


Shafa langsung bangkit dari tidurnya dan memeluk Rayyan.


"Maas... Maafin aku yah kalau aku pernah nggak dengerin omongan mas Ray. Aku nggak mau masuk neraka Mas." Ujaranya yang semakin mengeratkan pelukannya pada leher Rayyan.


"Iya sayang, iya... Mas selalu maafin Shafa karena Mas juga bukan laki-laki sempurna. Mas juga pernah salah, bahkan kesalahan Mas jauh lebih besar. Jadi kita harus saling menjaga, saling mengingatkan dan memaafkan agar bisa masuk surga bersam-sama." Ujarnya. Shafa mengangguk berulang-ulang tanda setuju.


"Jadi sekarang Shafa pulang ya, Mas telfon pak Madi." Ujar Ray


Shafa langsung menunduk terdiam tak menjawab. Dalam hati ia masih ingin tinggal bersama suaaminya tapi si lain sisi ia takut masuk neraka jika tidak menurut ucapan Rayyan.


Melihat raut wajah istrinya yang menunduk sambil meremas jarinya. Rayyan jadi tidak tega. Shafa terlihat begitu sedih. Senyum bahagianya hilang seketika saat Rayyan menyuruhnya pulang.


"Hmm" Shafa mengangkat wajahnya yang sudah berkaca-kaca menatap Rayyan.


"Pulang ya?" Tanya Rayyan lagi.


Shafa kembali menunduk mengangguk kecil. Ia terlihat mengusap matanya sekilas membuat Rayyan semakin tak tega. Ia meraih tubuh Shafa membawanya kedalam pelukannya. Shafa tak bersuara. Ia berusaha agar tidak menangis di hadapan suaminya.


Apa kamu ingin lebih lama bersama ayah Nak?


"Aku naik grab saja mas" Ujar Shafa.


"Nggak mau nunggu pak Madi aja?" Tanya Rayyan. Shafa menggeleng. Rayyan segera mengambil ponselnya dan memesan kendaran lewat aplikasi tersebut agar bisa lebih mudah ia pantau jika istrinya sudah sampai dirumah.


"Ayo Mas antar sampai depan" Ujar Rayyan. Shafa pun segera mengambil tas ranselnya dan beranjak keluar dari ruangan Rayyan. Rayyan mengantar Shafa sampai di depan gedung dimana mobil pesanannya telah menunggu.


"Kalau sudah sampai, langsung telfon Mas ya?" Pintanya sambil mengusap kepala Shafa. Shafa hanya mengangguk. Sesaat ia menatap wajah suaminya yang sangat ia cintai.


"Aku pulang. Assalamualaikum" Pamitnya setelah mencium tangan Rayyan.

__ADS_1


"Waalaikum salam" Rayyan memandang mobil yang di naiki Shafa sampai hilang dari pandangan kemudian kembali masuk ke dalam ruangannya. Ia juga tetap memantau pergerakan mobil yang di tumpangi istrinya yang saat ini sudah meninggalkan area kampus.


Tok..tok...


"Masuk!" Ujar Ray dari dalam.


"Asslamualaikum Mr. Ray, Bisa kita lanjukan sekarang?" Tanya Vino yanh sudah berdiri di depan pintu.


"Wa alaikum salam, Masuk Vin. Kebetulan istri saya sudah pulang" Ujara Rayyan mempersilahkaan asistennya itu masuk.


Rayyan sudah mulai kembali bekerja memeriksa file-file yang dikirim oleh Mahasiswanya. Kurang lebih 20 menit memeriksa, ia kembali melirik ponselnya yang berada di sebelah laptopnya.


Kok mobilnya tidak bergerak?


Rayyan memperbesar lokasi sekitar titik hijau di aplikasi grab miliknya.


Inikan di depan sekolah SMA, ngapain Shafa di sana? Dia juga bukan alumni sekolah tersebut.


Rayyan kemudian mencoba menghubungi nomor Shafa tapi tidak ada jawaban. Sampai 3 kali ia memanggil namun tetap sama tidak ada jawaban dari istrinyaa tersebut. Ia kembali membuka aplikasi. Di lihatnya titiknya tidak berubah masih berada di sana. Hatinya mulai di selimuti rasa khawatir. Harusnya Shafa sudah sampai rumah.


"Astaga!" Ujar Vino tiba-tiba.


"Kenapa Vin?" Tanya Rayyan.


"Kecelakaan beruntun di depan SMA 63 Mr. Ray" Jawab Vino sambil memandangi layar ponselnya.


"Apa? SMA 63?" Rayyan mengambil ponselnya dan memperbesar lokasi titik kendaraan yang di tumpangi Shafa.


"SMA 63" Lirihnya. Oksigennya seakan di ambil paksa. Ia teringat kembali bagaimana tatapan istrinya saat meninggalkan ruangannya tadi


Shafa....


Secepat kilat ia menyambar kunci mobilnya dan berlari keluar ruangan menuju tempat parkir. Vino yang berada di dalam kaget mendapati Rayyan yang seperti orang kesurupan saat meninggalkan ruangan.


Maafkan aku Shafa.... Maafkan aku...!!!


_____________________

__ADS_1


__ADS_2