
Malam itu, keluarga besar Briyan dan Sonya mengadakan makan malam bersama di restaurant resort tempat diselenggarakannya akad nikah pagi tadi. Briyan pun tampak hadir dengan menggandeng Sonya yang berjalan menunduk. Ia malu bertemu dengan keluarga besarnya juga keluarga besar Briyan. Ia teringat kembali drama anatara ia dan papanya beberapa waktu lalu yang membuatnya menangis semalaman, bahkan terbersit keinginan untuk bunuh diri.
"Cie pengantin baru malu-malu" Suara Surya, kakak kandung Sonya berhasil mencuri perhatian yang menimbulkan gelak tawa di antara mereka.
"Iya, Cieh yang nggak jadi minggat ke LA" Sahut Bastian adik Briyan yang meledek kakaknya menambah riuh suana hangat malam itu.
"Awas kamu!" Ujar Briyan pada adiknya sambil mengepalkan tangan. Ia malu menjadi bahan bullyan para keluarga.
"Jadi ini semua rencana papa?" Tanya Sonya pada papanya yang tengah duduk tenang di sebelah mamanya.
"Bukan! Ini semua rencanaa kalian, kami orang tua hanya mewujudkan keingin kalian" Jawab papa Sonya santai.
"Maksud papa?"
"Kan kalian berdua yang merencanakan untuk kabur demi pembatalan perjodohan ini. Tapi setelah kami amati, kalian justru terlihat saling mencintai. Akhirnya papa dan papa mertuamu sepakat untuk mempercepat segalanya. Meskipun harus dengan sedikit sandiwara. Ha.ha.ha." Ujar papa Sonya di sertai tawa ringan.
"Jadi papa sama papa mertua sebenarnya sudah tau keberadaan kami?" Briyan nampak terkejut dengan kenyataan yang baru saja di dengarnya.
"Kamu lupa siapa kami Bri? Menemukan kalian berdua adalah hal kecil. Kami memiliki mata di segala penjuru. Bahkan kami tau apa saja yang kamu lakukan di dalam apartemenmu" Ujar Papa Briyan tak kalah santai.
"APA???" Teriak keduanya bersamaan.
"Ah, jangan terkejut seperti itu. Papa hanya memasang CCTV di ruang depan bukan kamar kalian. Dan dengan itu kami tahu bahwa kalian berdua sudah saling mencintai" Imbuh papa Briyan.
Untung aku nggak ngapa-ngapain Sonya. Kalau iya, bisa habis aku.
"Lalu, kenapa bodyguard papa mertua memukuli Briyan waktu itu? Dan kenapa harus memainkan sandiwara yang menyakitkan seperti kemarin? Hampir saja Briyan bunuh diri" Ucap Briyan kesal yang justru di tertawai oleh keluarga mereka.
"Itu atas permintaan papa Bri, kamu harus di beri pelajaran karena telah membawa lari anak gadia orang" Sahut papa Briyan.
"Dan soal sandiwara, papa hanya ingin menguji seberapa besar cinta kalian. Apakah cinta sesaat atau cinta yang sesungguhnya. Lagi pula kalian berdua sudah berani ngerjain kami para orang tua, jadi apa salahnya jika kami ngerjain balik" Ucap papa Sonya.
"Ih... Papa ngeselin" Ujar Sonya sambil mengerucutkan bibirnya. Ia tidak menyangka dirinya dikerjai habis-habisan oleh papanya sendiri.
"Kalau kami tidak melakukan ini, kalian pasti masih bergelut dengan perasaan kalian dan saling jual mahal satu sama lain" Imbuh papa Sonya.
"Ya, sudah. Semuanya sudah jelas, sekarang kita mulai makan malamnya" Ajak papa Briyan yang sudah merasakan keroncongan pada perutnya. Malam itu juga mereka membicaran rencana resepsi yang telah di atur sejak beberapa hari lalu. Resepsi Briyan dan Sonya akan diselenggarakan 4 hari lagi yang bertempat do resort dimana mereka berada saat ini. Jadi, selama 4 hari ke depan mereka akan tetap berada di resort tersebut.
"Apakah ada teman-teman kalian yang mau di undang?" Tanya papa Sonya di sela-sela makan malam mereka.
"Teman teman di kampus Sonya pa, jangan lupa. Nama-namanya nanti Sonya kirimkan" Ujar Sonya.
"Bagaimana denganmu Bri? Apakah kamu akan mengundang mantan-mantanmu untuk hadir di pernikahanmu? Pasti blangko undangannya tidak akan cukup." Tanya kakaknya dengan nada meledek.
"Kakak!" Sela Briyan yang terlihat kesal.
"Aku tidak akan mengundang mereka, kecuali..."
"Kecuali apa Bri?" Sonya melirik Briyan yaang terlihat sedang berfikir. Sonya bukanlah tipe wanita pencemburu buta. Ia tidak akan marah sebelum mendengar penjelasan terlebih dahulu. Baginya apa yang telah Briyan lakukan sudah cukup membuktikan kesungguhannya.
"Kecuali putri pak Harsha Juniawan. Karena Briyan mengenal baik suami dan mertuanya" Jawabnya singkat. Meski sebelum pergi ke Singapura hubungan antara Briyan dan Rayyan sempat memanas, namun pada kesempatan ini ia ingin menunjukan bahwa ia telah melupakan Shafa meski belum sepenuhnya lupa.
"Oh ya Bri, besok kita kerumah temen aku ya? Aku ingin mengundang mereka secara langsung" Ujar Sonya.
__ADS_1
"Siapa Sonya?" Tanya mama Sonya. Setahu mereka Sonya tidak memiliki banyak teman di sini. Karena sejak SMA hingga kuliah dia berada di luar Jakarta.
"Teman dosen ma, yang sering nasehatin dan bantuin Sonya. Kebetulan Sonya akrab dengan istrinya yang lagi hamil. Kabar terakhir yang Sonya dengar istrinya sempat mengalami kecelakaan mobil. Sonya belum sempat melihatnya. Jadi pengen sekalian tau kabarnya" Ujar Sonya.
Setelah makan malam usai, Sonya dan Briyan kembali menuju kamar mereka. Ada perasaan canggung yang menyelimuti hati Sonya. Apalagi setelah melihat kondisi kamar yang kembali rapi dengan kelopak mawar berbentuk hati yang menjadi ciri khas tempat tidur pengantin baru.
"Mmm...Bri" Panggilnya pelan saat telah berada di dalam kamar bernuansa putih itu.
"Apa Son" Jawab Briyan yang tengah melepas kemeja panjangnya dan menggantinya dengan kaos biasa.
"Son...Son... Udah jadi suami manggilnya bagusan dikit kenapa sih Bri?" Balas Sonya yang terlihat kesal.
"Kamu sendiri panggil aku apa tadi?" Tanya Briyan balik sambil menghampiri istrinya yang sedang duduk di pinggiran ranjan. Sonya terdiam.
"Coba ulangi, tadi panggilnya apa?" Briyan menatap wajah Sonya, sedangkan Sonya menunduk antara malu dan gugup.
"Aku harus panggil apa? Kak, Bang, Mas, atau apa?" Ujar Sonya sambil mengangkat wajahnya.
"Aku panggil cinta saja ya? Karena sekarang kamu satu-satunya cinta aku" Ujar Briyan dengan gombalan khasnya. Soal berkata-kata manis dia jagonya.
"Terus aku panggil apa?" Tanya Sonya.
"Terserah kamu cinta, asal jangan panggil nama. Atau sayang aja deh. Karna cinta dan sayang adalah dua hal yang tidak bisa dipisahkan. Sama kaya kita" Jawab Briyan membuat Sonya semakin tersipu dengan ucapan ucapan manisnya.
"Mulut kamu manis banget sih Bri...eh sayang." Ujarnya menjadi salah tingkah.
"Manis? Memangnya kamu pernah coba?" Tanya Briyan yang membuat Sonya gugup seketika. Apalagi saat wajah Briyan semakin mendekat hingga terasa hembusan nafasnya menyapu kulit wajah Sonya.
"E...eh... Mau ngapain?" Sonyaa yang gugup berusaha menjauhkan wajahnya. Ia masih belum siap untuk hal yang lebih intim.
"Bri...eh sayang... Aku malu, kamu liatinnya jangan gitu dong!" Balas Sonya sambil tangan kanannya memalingkan wajah Briyan.
"Malu? Aku ini suami kamu loh sekarang. Kenapa harus malu?" Tanyanya sambil membelai lembut pipi Sonya.
"Aku belum terbiasa"
"Mulai sekarang harus terbiasa" Balas Briyan.
"Eh Sayang, kak Vina tadi kasi aku sesuatu. Kita buka sama-sama yuk" Ujar Sonya mengalihkan perhatian Briyan. Sonya segera beranjak mengambil sebuah box berukuran sedanh pemberian kakak iparnya.
"Apa ya isinya?" Gumam Sonya mulai membuka pita yang mengikat box tersebut.
"Whatt???" Mata Sonya langsung melotot saat mengetahui isi dari kotak tersebut. Sesuatu yang sangat jauh dari ekspektasinya. Berbeda dengan Sonya Briyan justru tersenyum bahagia.
"Kak Vina memang yang terbaik. Cinta, ayo coba. Aku pengen lihat. Pasti cantik banget" Ujar Briyan sambil meraih ligerie berwarna merah tersebut.
"Nggak!!! Aku nggak pernah make kaya ginian sayang" Ujarnya.
Kak Vina apa-apaan sih, ngasih baju kurang bahan kaya gini. Ini mah sama aja aku telanjang.
"Ayolah, Cuma aku ini yang lihat. Mau yah..yah?" Desak Briyan yang pada dasarnya gemar melihat wanita cantik dan seksi terlebih itu adalah istrinya sendiri.
"Maluu..." Ucap Sonya dengan tatapan memelas.
__ADS_1
"Nggak perlu malu Cintaku. Aku janji, aku nggak akan ngapa-ngapain sampai kamu siap. Karena buat aku, kenyamananmu itu yang paling penting. Adanya dirimu di sampingku saat ini pun sudah cukup membuatku bahagia" Ucap Briyan lembut sambil mengecup kening Sonya.
"Ya udah, aku pake. Tapi janji ya, nggak ngapa-ngapain sebelum aku siap?" Ujar Sonya. Ia merasa tak enak hati setelah mendengar ucapan Briyan.
Yes berhasil. Sabar Briyan, sedikit lagi.
Sonya pun masuk kedalam kamar mandi untuk mengganti pakaiannya. Ia memperhatikan penampilan dirinya di depan cermin kamar mandi. Wajahnya terlihat begitu fresh setelah mencuci muka, ditambah dengan ligerie seksi yang melekat di tubuhnya. Rambut panjangnya ia cepol tinggi le atas, sehingga menampakkan leher jenjangnya yang putih mulus.
Bukankah Briyan dulunya play boy? dia tentu sudah biasa melihat wanita cantik. Apalagi mantan pacarnya yang katanya sudah menikah itu. Dia pasti sangat cantik sampai-sampai Briyan masih mengejarnya sekalipun ia sudah menikah. Aku harus gimana? Gumamnya dalam hati. Terbersit rasa khawatir dalam benaknya saatbmengingat mantan pacar Briyan yang beberapa waktu lalu ia perjuangkan.
Kamu harus buat suamimu tidak berpaling Sonya. Kamu harus buat dia tergila-gila padamu!! Suara hati Sonya memberikan pendapat. Cukup lama ia berada di dalam kamar mandi hingga ia meemberanikan diri keluar dengan tekadnya yang sudah bulat untuk membuat Briyan semakin mencintainya.
Briyan yang sedang duduk santai di sofa sambil menikmati siaran televisi di buat tepana dengan penampilan Sonya yang sangat menggoda.
"Sayang" Paggil Sonya manja sambil mendekat kepada Briyan. Briyan menarik tangan Sonya hingga ia jatuh dalam pangkuannya.
"Cantik" CUP! Ia mendaratkan sebuah ciuman di pipi Sonya. Di luar dugaan, Sonya justru mengalungkan lengannya di leher Briyan.
"Terima kasih" Ujar Briyan sambil tersenyum menatap Sonya.
"Terima kasih untuk apa?"
"Untuk semuanya. Terimakasih sudah mau menerimaku yang penuh dengan segala kekurangan ini" Ujar Briyan dengan tulus.
"Bukan hanya kamu Bri, aku juga. Aku mungkin tidak secantik dan se seksi kekasihmu dulu...."
"Ssttt... Aku tidak ingin mengingat mereka. Bagiku, kini kamu yang tercantik, kamu yang terbaik. Aku tidak butuh orang yang sempurna. Yang aku butuhkan adalah kamu yang mencintaiku dengan sempurna" Ucap Briyan memotong ucapan Sonya.
"Apa kamu benar-benar mencintaiku?" Tanya Sonya.
"Apa masih kurang semua pembuktianku padamu? Haruskan aku mati di hadapan mu baru kamu percaya bahwa aku sungguh-sungguh Sonya" Mata Briyan berubah sayu. Ia takut Sonya meragukan ketulusan cintanya.
"Tidak...tidak!!! Aku tidak mau kehilangan kamu Bri" Sonya memeluk erat leher Briyan. Sudah cukup ia merasa kehilangan Briyan saat papanya mengerjainya. Ia tidak ingin lagi merasakan sakit yang sama untuk yang ke dua kalinya.
"I Love You Sonya Adam, My Wife" Bisik Briyan di telinga Sonya.
"I Love You Too my husband" Balas Sonya.
Wajah mereka kini saling berhadapan menatap satu sama lain. Briyan merasakan sesuatu yang tak bisa lagi ia tahan. Namun ia tidak ingin memaksakan istrinya. Sonya tersenyum melihat wajah suaminya. Ia tahu Briyan sedang menahan hasratnya. Akan sangat berdosa jika ia tidak memberikan haknya kepada pria yang kini telah sah menjadi suaminya.
Dengan perlahan Sonya sengaja menurunkan cardigan transparant yang menutupi bahunya. Kini bagian bahu dan sebagian besar bagian depan tubuhnya terekspose dengan jelas. Melihat hal itu Briyan segera memejamkan matanya sambil mengatur nafasnya yang memburu. Sonya meraih wajah Briyan di hadapannya.
CUP!
Satu kecupan di bibirnya.
"Sekarang aku sudah siap. Lakukan yang menjadi hakmu !!!" Bisiknya membuat Briyan membuka matanya seketika. Ia menyunggingkan senyum seraya mengangkat tubuh Sonya menuju tempat pembaringan yang nyaman.
Briyan mulai mencium bibir Sonya dengan lembut. Sonya membalasnya dan keduanya saling hanyut dalam malam yang penuh dengan kenikmatan. Malam panjang yang mengawali perjalan cinta mereka dalam bingkai rumah tangga.
"Are you ready?" Bisik Briyan setelah melakukan pemanasan yang cukup lama.
Sonya hanya mengangguk dengan tatapan penuh gairah. Briyan pun mulai melakukan apa yang harusnya ia lakukan. Rintihan dan pekikan Sonya mengiringi jalannya percintaan mereka malam itu, hingga keduanya terlelap setelah melaksanakan kewajibannya masing-masing.
__ADS_1
"Thank you my Love" Ucap Briyan sambik mencium pipi istrinya yang telah terlelap.