Jodoh Pilihan Allah

Jodoh Pilihan Allah
Wanita Sempurna


__ADS_3

"Mas nggak ngizinin!" Ujar Rayyan dengan sura tegasnya.


"Tapi mas!"


"Cukup ya Shafa! Mas tidak mau kamu berhubungan dengan Nisa atau semua hal yang ada kaitannya dengan Nisa, Apa belum cukup kamu nangis-nangis gara gara semua hal yang berhubungan dengan Nisa? Masih mau di ulangi kejadian seperti yang kemarin hm? Gimana kalau Nisa menjadikan alasan sakitnya supaya dekat sama mas, atau keluarganya menyalahkan kamu atas apa yang terjadi pada Nisa? Bagaimana kalau Nisa justru histeris dan hilang kendali saat melihatmu? Tolong fikirkan semua itu, jangan hanya mengikuti egomu semata" Ujar Rayyan sambil menatap dalam mata istrinya. Ia bisa melihat genangan bening yang siap tumpah. Bibir Shafa bergetar menahan sekuat tenaga menahan agar air matanya tidak tumpah.


"Lebih baik kamu menangis sekarang di hadapan mas dari pada nanti di belakang mas. Ayo sini kalau mau nangis" Ujar Rayyan sambil mendekap kepala istrinya, menyandarkannya di dadanya. Ia menangis tapi tak bersuara, hanya isakkan isakkan kecil yang terdengar. Rayyan membiarkan Shafa menangis, selagi ia masih mendengarkan kata-katanya. Tak apa sekali kali bersikap egois demi kebaikan bersama.


Setelah Rayyan tak sengaja mendengar percakaan Shafa dan temannya tadi, Amel dan Vira segera berpamitan pulang karena takut melihat Rayyan yang tiba-tiba bersikap dingin. Baru lah setelah Shalat Isya Shafa berani jujur pada Rayyan bahwa dirinya ingin menjenguk Nisa.


"Mas, kitakan ga boleh susudzon" Ujar Shafa lirih setelaj meengusap air matanya.


"Itu bukan suudzon sayang, tapi waspada. Lebih baik kita menjauhi hal-hal yang berpotensi menimbulkan masalah bagi keluarga kita. Sekarang Mas hanya ingin kamu fokus pada anak kita." Ujar Rayyan sambil mengelus kepala istrinya.


"Kalau nelfon boleh ga mas? Aku cuma pengen bilang kalau aku udah nggak marah lagi sama dia" Shafa mendongak menatap Rayyan yang juga tengah menatapnya.


"Cuma sebentar, janji! Kan dokternya bilang dia harus ketemh dengan aku. Kalau nggak bisa ketemu semoga dengan kita ngobrol bisa sedikit membantu pemulihannya mas" Ujar Shafa dengan tatapan memohon.


"Boleh nelfon tapi pake hape Amel atau Vira" Jawab Rayyan.


"Ya ampun mas, sampe segitunya. Cuman nelfon doang" Ujar Shafa yang nampak kecewa.


"Kamu nggak paham Shafa! Mas berusaha melindungi keluarga kita. Kamu tahu gimana sakitnya mas saat kamu mulai meragukan mas ketika Nisa ada di atara kita. Tolong mengertilah." Balas Rayyan.


"Mas hanya ingin hidup tenang bersama mu dan anak-anak kita" Rayyan mendekap erat tubuh Shafa.


Maafin aku mas yang pernah meragukanmu.


"Apa Zafran sudah tidur?" Tanya Rayyan mengalihkan topik pembicaraan.


"Sudah, tadi setelah makan dia langsung minta di kelonin" Ujar Shafa.

__ADS_1


"Sekarang gantian yah?"


"Gantiaan apa mas?" Tanya Shafa.


"Gantian kelonin mas!" Jawab Rayyan sambil tersenyum manis.


"Ya udah cepat baring... Aku nina boboin sini kaya Zafran" Balas Shafa yang gemas dengan suaminya yang ketularan manja. Sejak usia kandungan Shafa memasuki bulan ke 7, Rayyan jadi senang tidur dengan wajahnya iya sejajarkan dengan perut istrinya. Ia kadang mengajak ngobrol janin dalam perut Shafa, kadang melantunkan ayat suci ataupun Sholawat untuk menenangkan anaknya kala gerakannya mulai aktif dan membuat sang ibu kewalahan.


"Sayang...." Panggil Rayyan sambil mencium perut besar Shafa.


"Hmmm" Jawab Shafa sambil mengelus elus rambut Rayyan.


"Shafa bahagiakan menikah dengan Mas?" Tanya Rayyan.


"Mas kok tumben nanya gitu sih? Bukannya biasanya aku yang nanya gitu?" Balas Shafa yang merasa heran dengan sikap suaminya.


"Karena mas akhir-akhir ini banyak mengatur dan melarang Shafa ini dan itu." Ujar Rayyan.


"Shafa harus ingat, apapun yang mas lakukan, semua demi Shafa dan keluarga kita"


"Iya, aku tahu itu. Shafa minta maaf ya mas, kalau Shafa keras kepala dan sering ga dengerin omongan mas Rayyan" Ujar Shafa. Terbersit sedikit rasa bersalah di hatinya saat ia mengabaikan atau membantah ucapan Rayyan.


"Mas selalu maafin Shafa" CUP! Ia mengecup bibir Shafa dan mensejajarkan kembali tubuhnya.


"Mas, Minggu depan kan Zafran pertama masuk sekolah, kita anterin ya. Aku nonton di berita, katanya ASN di beri izin hari pertama anak masuk sekolah" Ujar Shafa.


"Insha Allah sayang. Shafa tau nggak, Sebenarnya mas ingin Zafran sekolah di TK islam setelah lulus paud nanti" Ujar Rayyan.


"Loh kenapa? Kan ada yang dekat mas, TK di tempat sekolah Zafran juga kan bagus, bertaraf internasional juga. Lagian TK Islam kan jauh mas." Balas Shafa yang merasa keberatan dengan usulan Rayyan.


"Sayang, penanaman agama yang baik bagi anak adalah sejak usia dini. Mas hanya ingin menanamkan nilai-nilai agama sejak dini pada anak itu. Bukan hanya untuk masa depannya tapi juga, sebagai bentuk syukur kita karena memilikinya di tengah-tengah kita. Mas ingin dia menjadi penyambung amal kedua orang tuanya yang telah tiada. Mas ingin anak-anak kita jadi anak anak yang Sholeh. Mas tidak ingin mereka seperti mas ketika remaja, karena pergaulan anak-anak semakin hari semakin mengkhawatirkan." Ujar Rayyan.

__ADS_1


"Mas kok mikirnya jauh banget sih? Kan ada kita yang selalu ngawasi mas" Ujar Shafa.


"Tidak Shafa, kita haanya mengawasinya saat di rumah, tapi di luar rumah kita tidak bisa memantaunya 24 jam. Jika pondasi agama sudah tertanam sejak dini, setidaknya mereka bisa lebih berhati-hati dalam berbuat sesuatu. Karena menjadi orang tua itu berat sayang. Kita akan di mintai pertanggung jawaban atas mereka di akhirat kelak" Terang Rayyan.


"Udah tau berat, gitu maunya nambah anak terus!" Gerutu Shafa.


"Sayang, baginda Rasulullah SAW bersabda: Nikahilah perempuan yang pecinta (yakni yang mencintai suaminya) dan yang dapat mempunyai anak banyak, karena sesungguhnya aku akan berbangga dengan sebab (banyaknya) kamu di hadapan umat-umat (yang terdahulu) [Shahih Riwayat Abu Dawud, Nasa’i, Ibnu Hibban dan Hakim dari jalan Ma’qil bin Yasar]"


"Selain itu, jika kita memiliki banyak anak, akan banyak yang mendoakan kita saat kita tiada nanti. Tidak ada yang lebih berharga selain anak-anak yang Sholeh sayang" Terang Rayyan. Shafa mendengarkan dengaan seksama penjelasan dari Rayyan. Ada rasa bahagia ynag membuncah di hatinya karena Allah memberika kesempatan bagi dirinya untuk merasakan menjadi seorang ibu.


"Mas, apa kalau Shafa tidak bisa memberikan anak pada Mas, Mas akan meninggalkan Shafa?" Tanyanya tiba-tiba. Terfikir olehnya, apakah Rayyan akan tetap menyayanginya sekalipun ia tidak bisa mengandung.


"Hush! Jangan berandai-andai Sayang. Ingat! Anak itu bagian dari Risqi Allah yang sudah di atur oleh Nya. Tidak memiliki anak bukanlah aib sayang. Jadi jangan pernah menganggap wanita yang belum di berikan risqi anak adalah wanita yang gagal atau tidak sempurna. Karna nyatanya sayiddah Aisyah R.A istri kesayangan Rasulullah pun tidak memiliki anak. Jadi Shafa nggak boleh nyinyir kalau ada saudara Shafa yang belum di karuniai anak, sebaliknya Shafa harus banyak bersyukur. Karena kita tidak tahu bagaimana perjuangan mereka, usaha mereka dan ikhtiar mereka untuk mendapatkan anak." Terang Rayyan.


"Kan Katanya perempuan itu dianggap sempurna kalau sudah melahirkan mas" Ujar Shafa.


"Kata siapa?"


"Katanya orang-orang mas. Tuh aku lihat di sosmed kalau ada yang habis melahirkan captionnya Alhamdulillah sudah menjadi wanita sempurna" Ujar Shafa mengikuti caption yang sering ia baca di facebook.


"Itukan kata orang bukan kata Allah! Tidak ada manusia yang sempurna sayangku. Mengandung dan melahirkaan memang di ganjar dengan pahala yang sangat besar tapi bukan menjadi dasar kesempurnaan seorang wanita. Wanita yang bisa mendidik anaknya menjadi anak yang Sholeh itu baru wanita hebat tapi ada yang lebih hebat dari itu" Ujar Rayyan.


"Apa itu mas?" Tanya Shafa penasaran.


"Wanita yang tetap bersabar dalam doanya, wanita yang tetap kuat dengan dengan cibiran dan cemoohan orang lain dan wanita yang tetap berbaik sangka pada Allah meski belum di berikan keturunan." Ujar Rayyan.


____________


Sumpah Author sedih banget pas nulis part ini😭😭😭


Please likenya ya❤️❤️❤️

__ADS_1


__ADS_2