
Hujan di luar sudah mulai mereda. Perlahan awan hitam mulai hilang berganti awan putih. Meski belum terlihat sinar mentari, tapi air yang jatuh dari langit sudah mulai berkurang jumlahnya.
Dua sejoli yang baru saja berdamai masish terlelap dalam tidur ppagi singkat mereka. Rayyan masih mendekap erat tubuh istrinya seolah enggan untuk melepasnya lagi. Shafa yang mulai merasakan gerah dan sesak mulai membuka matanya. Padahal tadi ia sama sekali tidak berniat untuk tidur, tapi karena pelukan hangat suaminya ia ikut terlelap.
Waktu sudah menunjukan pukul 12 siang. Cuaca yang mendung di tambah hawa dingin membuat suasana siang itu terasa seperti pagi. Shafa memandang wajah teduh suaminya dengan seulas senyum. Amarahnya yang sejak lama ia simpan perlahan mulai menghilang. Perjuangan yang di lakukan Rayyan selama ini sudah cukup membuktikan bahwa iaa benar-benar menyesal. Dan Shafa bbukanlah manusia tak berhati yang akan terus membiarkan suaminya hidup dalam rasaa bersalah dan penyesalannya. Karena pada dasarnya tak ada manusia yang sempurna. Rayyan pernah begitu sabar menghadapinya di awal pernikahan mereka, yang saat itu jelas-jelas ia sudah menikah namun masih menjalin hubungan dengan kekasihnya. Ia juga kembali mengingat perjuangan Rayyan yang memohon hingga berlutut di hadapan nya.
Ah, rasanya Mommy sudah tidak bisa berlama-lama marah dengan ayah mu Nak.
Shafa berusaha melepaskan pelukan Rayyan, tapi semakin ia bergerak, semakin Rayyan mengeratkan pelukan nya.
"Maas, aku sesak. Gerah! mau lepas." Ujarnya sambil mengusap lembut kepala Rayyan.
"Sebentar lagi ya sayang." Ujarnya.
"Udah Mas, ini sudah siang. Udah jam 12. Sebentar lagi Dzuhur". Ujar Shafa sambil menarik-narik kecil pipi Rayyan yang masih terasa hangat tapi sudah tidak sepanas tadi.
"Mas takut ini hanya mimpi." Ujarnya masih tak membuka matanya.
"Mana ada mimpi indah kayak gini. Mas dari tadi nempel mulu di dada aku, mas bilang kalau ini mimpi? Ayo bangun atau aku buat ini semua hanya mimpi." Ancam Shafa ketus.
"Iya..Sayang iya. Aku bangun, tapi nanti lagi yah?" Pintanya dengan tatapan memohon.
"Hmmm" Jawab Shafa membuat Rayyan tersenyum puas.
CUP!
"Makasih sayang" Ucapnya bahagia setelah mencium bibir istrinya sekilas.Rayyan segera bangkit menuju kamar mandi.
Tuh kan, ayahmu emang cuma modus!
Siang ini Shafa dan Rayyan melewati makan siang berdua di teras belakang. Keduanya sudah terlihat akur bahkan mereka menghabiskan makanan sepiring berdua. Sesekali terdengar suara tawa dari keduanya.
"Alhamdulillah, Mbak Shafa dan Mas Rayyan sudah baikan. Aku harus segera laporan sama ibu Wina" Gumam bi Lastri. Ia pun dengan cepat mengirimkan SMS singkat kepada ibu Rayyan.
Lapor buk, Mas Rayyan dan Mbak Shafa sudah baikan. Sekarang sedang makan berdua di teras belakang! Kirim!
Bi Lastri tersenyum bahagia melihat dua orang majikannya itu kembali seperti semula.
"Mas ingin nya anak kita cowok atau cewek? Tanya Shafa yang tengah berbaring di pangkuan Rayyan.
"Mas ingin nya anak kita sehat! Mau cewek atau cowok sama saja" Jawabnya sambil mencium tangan Shafa.
"Maas ngapain?" Tanya Shafa yang merasakan Rayyan memasukan sesuatu di jari manisnya.
"Jangan di lepas lagi ya Sayang!" CUP!
Rayyan memasangkan kembali cincin berliaan di jari manis Shafa kemudian mencium keningnya.
"Kalau aku nggak lepas pasti udah aku jual" Ujar Shafa.
__ADS_1
"Ssttt...! Jangan bicara itu lagi" Larang Rayyan, Ia tidak mau lagi Shafa mengingat saat-saat menyedihkan waktu itu. Ia baru saja luluh, akan repot jadinya kalau dia mogok bicara lagi. Sebisa mungkin Rayyan tidak memancing hal-hal yang bisa menyebabkaan emosinya naik.
"Maas, Perempuan yang waktu itu siapa?" Tanya Shafa sambil memaikan tali hoodie Rayalyan yang menjulur.
"Bu Sonya maksudnya?" Tanya Rayyan. Ia mulai merasakan hawa-hawa menakutkan dari istrinya.
"Itu teman mengajar Mas di kampus sayang." Jawab Rayyan. Ia harus memberikan jawaban dengan pilihan kata yang pas agar tidak menimbulkan kecurigaan bagi BUMIL yang sangat sensitive ini.
Aku harus belajar banyak sama Ayah! Bagaimana beliau menghadapi ibu dulu!
"Menurut Mas, Apa dia cantik?" Tanyanya lagi, masih memainkan tali hoodie Rayyan, menggulung-gulungnya di telunjuk.
"Cantik, Tapi Shafa jauh lebih cantik. Istriku paling cantik tak ada duanya." Jawab Rayyan. Karena kalau dia jawab cantik saja pasti akan mendapatkan amukan dari Shafa. Kalau mau bilang jelek, sudah pasti Shafa tidak akan percaya karena bu Sonya memang cantik.
"Ouh, jadi cantik ya." Ujar Shafa yang terdengar begitu menakutkan di telinga Rayyan.
"Secantik apapun dia atau wanita lain, nggak akan bisa ngalahin kamu sayang. You are the best deh. Iya kan Sayang, Mommy kita paling cantik kan?" Ujara Rayyan, mencoba peruntungan dengan berbicara pada perut Shafa.
"Mas, Nanti mau di panggil apa sama anak kita? Ayah, Daddy, Papa, atau Papi?" Tanya Shafa. Rayyan sedikit lega Shafa mengganti ttopik pembicaraan.
"Kalau Abi gimana?" Tawar Rayyan.
"Nggak!" Jawab Shafa.
"Kenapa Sayang? Kan Sama saja dalam bahasa Arab artinya ayah." Jelas Rayyan.
"Kebanyakan yang di panggil Abi istrinya ada dua. Mas mau punya istri Dua? Iya?" Balas Shafa ketus. Entah teori dari mana, ia menyimpulkan bahwa yang di panggil abi memiliki istri lebih dari satu.
"Aku bilang enggak ya enggak!" Pangkas Shafa sebelum Rayyan menyelesaikan ucapannya.
"Iya sayang..iya. Enggak" Jawab Rayyan cepat. Ia tidak ingin memperpanjang masa puasanya bila membantah ucapan istrinya.
Oke! Kamu ratu nya sayangku!
"Jadi mau di paanggi apa?" Tanya Shafa lagi yang sudah mulai melunak.
"Ayah saja ya?" Jawab Rayyan cari aman. Shafa langsung mengangguk sambil tersenyum senang.
Huh, selamat!
"Aku mau di panggil Mommy." Ujar Shafa sambil membayangkan anak-anaknya kelak memanggilnya Mommy.
"Ia Mommy.. Iya!" Rayyan menurut saja keinginan istrinya yaang sedari awal menyebut dirinya sebagai Mommy dari janin yang kini tengah di kandungnya.
"Permisi Mas, i..itu ada tamu." Ujar bi Lastri yang merasa tidak enak telah mengganggu kebersaman majikannya di teras belakang.
"Siapa bi?" Tanya Rayyan yang masih enggan beranjak dari pisisi nyamannya menjadi bantal Shafa.
"Anu mas, itu... M..mbak cantik yang waktu itu" Jawab bi Lastri.
__ADS_1
Rayyan langsung mendapat tatapan tajam dari istrinya. Tatapannya lebih menakutkan dari tatapan mata Suzanna.
Ya Allah, mau ngapain bu Sonya kesini lagi.
"Sayang, boleh mas temui? Mungkin ada urusaan yang penting." Rayyan mencoba untuk meminta izin Shafa terlebih dahulu. Ia pun akan pasrah jika Shafa melarangnya untuk menemui Sonya.
"Aku ikut!" Ucapnya ketus. Shafa segera bangun dari posisi berbaringnya dan ikut menemui Sonya.
"Assalamualaikum"
"Waalaikum salan" Jawab Sonya.
"Ada apa bu Sonya?" Tanya Rayyan yang kini duduk di sofa di dampingi sang istri tercinta. Shafa memperhatikan bu Sonya dari bawah sampai atas. Ia mengenakan jeans levis ketat dan tank top putih yang di balut dengan jaket denim. Tubuhnya terlihat begitu indah dan langsing.
"Maaf Mr. Ray dan Ibu, saya menganggu sore-sore begini. Emh, saya mau menitip ini Mr. Ray, mungkin senin lusa saya tidak bisa hadir di kampus. Itu adalah hasil analisis saya terkait project kita." Ujarnya sambil menyerahkan sebuah map coklat.
"Baiklah, nanti akan saya akan sampaikan pada yang lain." Jawab Rayyan.
"Terima kasih Mr. Ray. Kalau begitu saya permisi dulu."
"Kok buru-buru?" Balas Shafa tiba-tiba.
"Iya bu, saya harus menyelesaikan sesuatu dulu." Jawabnya Ramah. Bu Sonya tidak terlihat seperti pelakor yang ingin mencari perhatian. Tapi tetap saja dia adalah wanita cantik yang sedikit mengusik jiwa ke istrian Shafa.
"Baiklah, hati hati di Jalan bu Sonya." Ujar Shafa yang terlihat ramah. Meski belum ada yang tahu bagaimana ekpresinya selanjutnya.
"Terima kasih, Assalamualaikum"
"Waalaikun salam"
Sepulangnya Sonya dari rumahnya, Rayyan merasakan jantungnya berdebar-debar. Bukan karena Sonya tapi karena rasa khawatirnya terhadap istrinya yang super ajaib itu.
"Itu apa Mas?" Shafa menunjuk mam coklat di atas meja.
"Oh ini, analisis project penelitian sayang" Ray sengaja membuka dan menunjukaan isinya pada Shafa agar ia tidak curiga.
"Owh"
"Ayo ke kamar, sudah mau magrib" Ajak Ray merangkul bahu istrinya. Sepertinya semua masih aman terkendali.
"Maaas?" Panggilnya.
"Iya sayang?" Jawab Ray sambil memegang lengan Shafa menaiki tangga.
"Apa bu Sonya langsing?"
Deg!
Rayyan menghentikan langkahnya sambil menatap istrinya.
__ADS_1
_________________
Thankbyou udah mampir.. Like and Votenya jangan lupa ya😍😘❤️