
Setelah kejadian di kelas kehamilan tempo hari, Rayyan menjadi lebih posesif pada istrinya. Ia tidak mengizinkan Shafa mengikuti kelas kehamilan, atau segala hal yang berbau kumpul-kumpul, dia melarang keras untuk itu. Bukannya kejam, Rayyan hanya tidak ingin Shafa terlibat masalah karena tidak bisa mengendalikan sifat cemburunya. Bahkan untuk belanja bulanan pun semua di serahkan pada bi Lastri. Ia cukup menulis daftar barang yang ingin di beli. Tugas Shafa hanya berdiam diri di rumah, mengurus Zafran dan Rayyan. Kendati demikian, Rayyan tidak membiarkaan istrinya berdiam diri di rumah tanpa ada kegiatan yang bermanfaat, ia meminta Rara secara khusus untuk meluangkan waktunya sebagai instruktur privat untuk Shafa, sehingga ia bisa melaksanakan yoga di rumah.
Seiring berjalannya waktu, kandungannya saat ini sudah memasuki bulan ke 8. Perutnya sudah terlihat sangat besar. Ia menjadi mudah lelah.
"Mas... Tadi bu RW kesini, katanya Zafran minggu depan sudah bisa masuk sekolah bersama Aira" Ujar Shafa yang tengah mengeringkan rambut Rayyan.
"Kalau gitu nanti mas minta ibu cariin pembatu satu lagi, karena mbak Yati yang akaan ngantar Zafran ke sekolah" Ujar Rayyan.
"Mas! Kok mbak Yati sih. Aku yang mau ngantar Zafran mas." Ujar Shafa, ia menghentikan kegiatannya dan meletakan handuk di belakang kursi rias
"Sayang perut kamu udah sebesar ini, nggak lama lagi melahirkan. Mas nggak mau kamu capek" Ujar Rayyan sambil mengelus perut shafa yang sudah sangat besar.
"Mas nggak mau aku capek atau takut aku ribut sama ibu-ibu di sana?" Shafaa memicingkan matanya mencoba menerka apa yang sedang di pikirkaan suaminya tersebut.
"Sayang... Jangan suudzon, Mas hanya nggak ingin kamu sama anak kita kenapa-napa" Ujar Rayyan.
"Tapi aku bosan Mas, hampir sebulan di rumah terus, ke Mall juga nggak boleh, pengen makan sesuatu delivery terus. Aku butuh udara segar mas" Rengek Shafa sambil mendusel di dada Rayyan yang tengah duduk di sofa.
"Sekarang cari udara segar yuk?"Rayyan menggandeng lengan istrinya keluar dari kamar.
"Tunggu mas, aku ganti baju dulu. Masa pake daster kaya gini sih" Tolak Shafa.
"Gak perlu, gini aja udah" Rayyan membawa istrinya menuju halaman belakang rumah mereka yang begitu sejuk, di tambah dengan beberapa pohon buah-buahan yang sedang berbuah.
"Kok kesini mas? Bukannya kita mau keluar ya?" Tanya Shafa yang bingung saat suaminya mendudukannya di sebuah kursi panjang di dekat kolam ikan.
"Disini udaranya nggak kalah sejuk sayangku" Ujar Rayyan sambil mencubit pipi istrinya.
"Mas ih, sakit tau. Di cium kek, ini malah di cubit." Ujar Shafa sambil memegang pipinya.
"Sini sini, mas cium sini" Baru saja Rayyan hendak mencium pipi istrinya Zafran sudah berteriak memanggil manggil mereka.
"Mommy...mommy" Teriknya sambil menghampiri Shafa.
"Eh anak mommy sudah ganteng. Siapa yang mandiin tadi?" Tanya Shafa.
"Aku mandi sama bibi Ati mommy"
"Sini, cium Mommy" Ujar Shafa sambil memajukan bibirnya.
"Muacch..."
"Ayah tadi ko detat-detat mommy? Ayah mau cium mommy?" Tanya Zafran polos sambil menatap Rayyan. Rayyan hanya tersenyum mendengar peertanyaan Zafran.
"Iya tuh, ayah mau cium cium mommy Zafran." Ujar Shafa sambil melirik suaminya.
__ADS_1
"Kan ayah sayang sama Mommy jadi ayah cium, kaya ayah sayaang Zafran" Ujar Rayyan sambil mengangkat tubuh Zafran dan mencium pipinya.
"Ayah, kata Aila besok dia mau sekolah. Zaflan juga mau sekolah ayah." Ujar Zafran sambil menatap lelaki yang telah di anggapnya sebagai ayah.
"Iya, Zafran juga nanti sekolah sama-sama Aira" Ujar Rayyan sambil mendudukan Zafran di antara dirinya dan Shafa.
"Benelan ayah? Zaflan udah bisa menghitung seperlti yang mommy ajal lo yah." Ujarnya dengan girang.
"Coba mommy mau dengar, menghitung pakai Bahasa Inggris ya?" Ujar Shafa. Ia selalu mengajar Zafran menggunakan dua bahasa. Indonesia dan Inggris.
Zafran mulai menghitung 1 - 20 dengan Bahasa Inggris. Di usianya yang belum genap 4 tahun, Zafran bisa di katakan cukup cerdas karena mampu menghapal dan mengingat sesuatu dengan cepat. Ia bahkan sudah bisa mengeja huruf dan membaca kata yang terdiri dari dua suku kata.
"Wah, anak ayah pinter ya... Sekarang coba hafalan surat pendek yang ayah ajar, sudah bisa belum?" Tanya Rayyan.
"Yang apa ayah?" Tanya Zafran sambil menatap Rayyan.
"Al Kafirun coba" Jawabnya.
"Yang peltamanya bagaimana ayah?" Tanyanya lagi. Karena ia menghafal dari apa yang sering ia dengar sehingga kurang bisa mengenali nama surahnya.
"Qul ya...." Baru Rayyab menyebutkan bagian awalnya Zafran langsung menyaambungnya dengan lancar meski masih terdapat baanyak kesalahan dalam penyebutan huruf dan tanda baca, namun untuk anak seusianya, itu sudah sangat luar biasa.
"Masya Allah... Semoga Zafran nanti bisa jadi penghafal ya?" Ujar Rayyan sambil mengecup keningnya.
"Oh, jadi anak mommy mau jadi dokter?" Tanya Shafa. Baru kali ini ia mendengar keinginan Zafran.
"Iya mommy, Supaya kalau momny sakit, Zaflan obati mommy sama adek" Ujarnya membuat Shafa terharu. Zafran begitu menyayangi dirinya seperti ibunya sendiri.
"Masa cuma mommy dan adek yang di obati? Ayah enggak?" Goda Rayyan yang merasa di acuhkan.
"Ayah kan ga pelnah sakit. Ayah Zafran kan hebat" Ujar Zafran yang membuatnya semakin gemas padaa bocah kecil itu.
"Ayah nggak sakit karena kalian adalah obat dan penyemangat buat ayah" Sambil memeluk keduanya.
"Mom, ini pohon buahnya yang di pot ayah pindahin ke taman depan ya? Kalau di tanam di tanah bisa cepat besar" Ujar Rayyan sambil menunjuk tanaman buah semasa Shafa nyidam dulu.
"Jangan yah, nanti mati gimana?" Jawab Shafa yang tidak rela pohon pohon buahnya di pindahkan.
"Insha Allah enggak mom, yang mau di pindahin kan yang buahnya udah habis, kalau sekarang di pindahkan, tahun depan kalau mommy nyidam adeknya Zafran lagi kan nggak repot. Kalau di pot terus bisa kerdil" Ujar Rayyan dengan entengnya.
"Mas Rayyan beneran mau buat aku hamil lagi tahun depan? Ini belum mbrojol loh mas, kok enteng banget ngomongnya" Balas Shafa sambil menatap heran suaminya.
"Ya kan rencana sayang. Boleh ya di pindahin?" Tanya Rayyan sambil tersenyum melihat ekspresi istrinya.
"Ya udah iya, tapi jangan sampai mati ya mas" Shafa mengingatkan.
__ADS_1
"Mbak permisi.... Ada mbak Amel dan mbak Vira di depan" Bi Lastri menghampiri Shafa yang tengah bersantai dengan keluarga kecilnya.
"Oh iya, suruh masuk aja Bi" Ujar Shafa yang kemudia berdiri sambil memegang pinggangnya belakangnya. Berjalan pun kini ia harus ektra pelan karena beban berat yang di bawanya.
"Masuk Mel... Vir.. Gue di ruang tengah" Teriak Shafa.
"Ya ampun ibu hamil satu ini. Males banget sih keluar nemuin tamu" Ujar Amel yang langsung menuju ruang tengah begitu mendengar suara Shafa.
"Kalian bawa oleh-oleh nggak?" Todongnya saat mereka baru duduk.
"Cepe deh! Nih, aku bawain kebab turki yang lagi viral" Ujar Vira sambil menyodorkan sebuah kantong.
"Wah thank you! Mmm...wangi banget" Shafa segera membuka bungkusan tersebut dan memakannya.
"Ada apaan kalian kesini? Nggak mungkin kangen kan?" Tanya Shafa sambil memperhatikan wajah kedua sahabatnya itu.
"Loe habisin dulu deh baru cerita" Jawab Amel.
"Udah cerita aja, gue dengerin kok." Jawab Shafa sambil mengunyah makanannya.
"Lo jangan kaget ya?" Ujar Vira sambil menatap Shafa.
"Apa?" Tanyanya penasaran.
"Ini soal Nisa" Vira menggigit bibir bawahnya.
Shafa menghentikan makannya dan menatap Vira.
"Nisa kenapa?" Tanya Shafa.
"Nisa... Dia depresi Fa!" Ujar Vira ragu-ragu.
"Hah? Nisa Stress? Eh maksud gue nggak waras gitu?" Shafa terkejut mendengarnya.
"Ya, dia tiba-tiba nangis dan bicara sendiri. Kayaknya dia merasa bersalah banget sama Lo Fa, dia selalu mengulang-ulang ucapannya. Katanya dia minta maaf sama Lo, dia nyesel dan lain-lain. Keluarganya udah bawa dia ke psikiater. Katanya dia depresi dan salah satu upaya buat nyembuhin dia adalah dengan mempertemukan Lo sama Dia. Supaya dia bisa mengungkapkan semua isi hatinya sama lo Fa" Terang Vira.
"Astagfirullah, Nisa. Sebenarnya gue udah maafin dia Vir, tapi gue nggak yakin boleh ketemu dia. Mas Ray pasti nggak ngijinin. Sedangkan gue mau ke Swalayan aja dia nggak ngijinin apaalagi ketemu Nisa." Ujar Shafa yang sudah berkaca-kaca.
"Kok bisa gitu sih Fa? Memangnyaa Lo habis ngapain?" Tanya Amel.
"Gue habis ribut dengan cewek yang mau deketin mas Ray di tempat Yoga." Jawab Shafa.
"Tapikan ini beda Fa, dia bener-bener butuh Lo. Pak Rayyan pasti bisa ngerti" Ujar Vira.
"Ada apa Vir?" Suara Rayyan yang tiba-tiba menyahut tersebut berhasil mengagetkan 3 sahabat yang tengah berbincang serius.
__ADS_1